Brother Zone

Brother Zone
Dipanggil Sayang



Untuk beberapa saat keduanya hanya saling tatap dengan pikiran yang berkecamuk di kepala masing-masing. Tiara dengan degub dada yang berpacu, gelisah menunggu tanggapan laki-laki itu atas ucapannya tadi. Tiara memberanikan diri bertaruh, jika memang laki-laki berwajah dingin di depannya itu tidak menunjukkan sedikitpun tanda cemburu, ia akan menyerah. Ia tidak akan mengharapkan cinta laki-laki itu lagi. Sudah cukup rasanya, tiga tahun ia tersiksa seperti ini.


Sedangkan Dhika bingung harus bereaksi bagaimana. Haruskah ia melarang Tiara, tapi apa haknya? Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya bahwa ia cemburu? Jangankan mendengar pengakuan Tiara barusan, mendengar Rian menggoda Tiara saja sudah cukup untuk membuat hatinya panas. Sayangnya, Dhika tak punya keberanian untuk mengatakannya. Entahlah, jika menyangkut perasaannya pada Tiara, Dhika adalah orang yang sangat pengecut.


Dhika berusaha mengendalikan perasaannya, mencoba terlihat sebiasa mungkin. Dengan senyum lembut ia mendekati Tiara yang masih mematung di tempatnya. Tangan besarnya menepuk pelan pundak Tiara, lalu beralih mengusap lembut puncak kepala gadis berambut ikal itu.


"Nggak masalah kamu mau dekat dengan siapapun, tapi hati-hati. Kita nggak tau hati orang. Mas cuma nggak mau kamu kecewa nantinya," ucap Dhika lembut.


Tiara hanya mengangguk pelan sambil menahan perih di dadanya. Ia sudah menebak apa yang dikatakan Dhika barusan, tapi tetap saja ia kecewa. Apa memang tidak ada tempat baginya di hati lelaki itu?


Kadang terpikir olehnya untuk menyatakan perasaan lebih dulu, toh itu bukan sesuatu yang salah. Namun, setelah ia pikirkan lagi, ia justru takut kalau hal itu akan membuatnya kehilangan laki-laki penyuka warna biru itu. Ia cukup tahu diri. Siapalah dirinya yang hanya seorang gadis desa. Jangankan menjadi pendamping hidup Dhika, berdiri berdampingan saja ia merasa tidak cocok.


Setelah Dhika berlalu, Tiara menghela napas kasar, berharap perasaannya pada laki-laki berkulit sawo matang itu akan ikut terhempas.


***


Suasana di dalam minimarket terlihat lengang. Sebagian karyawan sedang bergantian makan dan salat Maghrib. Di sudut ruangan, ada sofa panjang yang biasa ditempati Dhika untuk menerima tamu. Tampak Dhika duduk di sana, sedang menunggu antrian salat sambil membaca berita dari ponselnya.


Sedang Tiara sedang duduk malas-malasan di meja kassa. Nyeri perut karena "Kedatangan tamu" membuatnya lesu dan tidak mood melakukan apa-apa. Ia hanya memandangi layar ponsel yang ia biarkan tergeletak di atas meja. Mengabaikan tanda panggilan masuk yang entah untuk keberapa kalinya


"Ra, itu HP-nya bunyi melulu. Angkat!" suruh Dhika, merasa terganggu dengan suara dari ponsel Tiara yang berdering terus-menerus.


"Malas ah," jawab Tiara dengan nada kesal. Setelah panggilan itu berakhir, Tiara meraih ponselnya lalu mematikan nada deringnya.


"Siapa, sih, yang nelpon, kok nggak diangkat?" tanya Dhika sambil berjalan mendekati Tiara.


"Orang gila. Nggak tau dapet nomor HP Ara dari mana. Ditanya namanya nggak mau ngaku, bilangnya 'masa lupa'. Mana manggilnya sayang-sayang. Hih!" Tiara bergidik geli sekalius ngeri.


"Biasanya cewek malah senang kalau dipanggil sayang." Dhika menyandarkan punggungnya di rak, tangannya didekap ke dada, sedang matanya terkunci pada wajah gadis mungil itu, seolah sedang membaca pikiran gadis itu dari raut wajahnya.


"Iya, kalau yang manggil emang orang yang disayang juga," gerutu Tiara.


"Kalau Mas yang manggil 'sayang', gimana?" goda Dhika sambil menggerakkan sebelah alisnya. Ia sengaja menekankan kata sayang untuk melihat reaksi gadis itu.


Tiara tak langsung menjawab, lebih tepatnya bingung harus menjawab apa. Ini bukan kali pertama Dhika menyebutkan kata "sayang" padanya. Kadang, saat mereka sedang berdebat, entah sengaja atau kelepasan, Dhika sering memanggilnya "Tiara sayang" dan itu selalu berhasil membuat dadanya berdesir dan wajahnya terasa memanas. Demikian pula sekarang. Tiara menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir desiran hangat yang terasa menjalari seluruh pembuluh darahnya.


"Kenapa?" tanya Dhika saat melihat ekspresi Tiara yang aneh.


Tiara menggeleng cepat, "Nggak apa-apa ... Ya elah, nih orang ngeyel banget sih, udah dikacangin juga," gerutu Tiara, melihat ponselnya kembali menyala, menampilkan panggilan dari nomor yang sejak tadi menerornya.


"Boleh Mas angkat?" Dhika menatap Tiara, meminta persetujuan.


"Angkat aja."


"Telepon dari siapa, Sayang! Sini, biar aku yang ngomong," ujarnya dengan nada yang dibuat semesra mungkin.


Tiara melotot kaget lalu dengan cepat menoleh kiri kanan, takut terdengar oleh orang lain. Ia hendak protes, tapi kembali terdiam saat Dhika meletakkan telunjukknya di bibir.


Dhika meraih ponsel Tiara, kemudian berkata, "Halo!"


Tak ada sahutan, lalu sambungan telepon terputus.


"Dimatiin. Besok-besok, kalau dia nelpon lagi, bilang sama Mas," kata Dhika sambil menyodorkan ponsel Tiara.


Dhika menatap tiara, lalu menggeleng diiringi senyum yang sulit diartikan. Dalam hati ia mengeluh, apakah hati gadis itu sebegitu tertutupnya, jangankan orang lain, dirinya yang sudah tiga tahun mengenal Tiara saja seperti tidak punya celah untuk masuk.


"Kok ngelihatnya gitu banget, sih?" protes Tiara.


"Kamu itu aneh. Pantas aja jomblo terus, cowok mau PDKT tapi kamu cuekin begitu," ujar Dhika dengan nada meledek.


"PDKT sih PDKT, tapi nggak gitu juga. Ilfeel tau nggak. Kenal juga nggak, udah bilang cinta, sayang, apalah, kesannya kok kayak harga cintanya tuh murah banget gitu. Lagian nih ya, cinta itu datangnya bukan kayak ojol, lima menit pesan langsung nongol. Cinta itu perlu waktu, setidaknya untuk saling mengenal," jelas Tiara panjang lebar.


"Sok tahu soal cinta," cibir Dhika.


"Bukan sok tahu, tapi berpendapat."


"Mas setuju sama pendapat kamu. Tapi kalau menurut Mas, cinta itu hadir tanpa diundang, dan pergi tanpa di usir. Cinta itu butuh keberanian. Keberanian untuk menyatakan cinta, keberanian untuk menerima, keberanian untuk menjalani cinta itu sendiri," balas Dhika. "Sayangnya aku nggak punya keberanian itu," lanjutnya dalam hati.


"Wah, kata-katanya si Mas ini," sela seseorang.


Tiara dan Dhika serempak menoleh, dilihatnya seorang wanita sedang menjinjing keranjang yang berisi barang belanjaan.


"Eh, Mbak. Mau bayar, ya. Maaf, keasyikan ngobrol, jadi nggak merhatiin Mbaknya." Tiara cepat-cepat berdiri, merasa tidak enak karena lalai.


"Nggak apa-apa, kok," sahut wanita itu sembari tersenyum.


Tiara pun mulai menghitung belanjaan wanita itu dengan pikiran tak menentu. Banyak hal yang tiba-tiba mengisi otaknya, berdesakan seolah berebut untuk didahulukan. Sementara Dhika, tanpa suara ia melangkah menuju lantai dua untuk melaksanakan kewajibannya. Mengadu pada Tuhan mungkin dapat sedikit mengurangi kekalutan yang mendadak melanda hatinya.


Sebelum menjejakkan kaki pada anak tangga, Dhika menoleh pada Tiara, menatapnya lama seolah berusaha menembus isi kepala gadis itu.


"Coba saja aku punya keberanian seperti itu," gumanya pelan.


Bersambung...