Brother Zone

Brother Zone
Kedatangan Pak Anto



Tiara berjalan cepat menuju ruang tunggu. Kereta yang membawa bapaknya sudah tiba sejak setengah jam yang lalu. Karena Dhika bersikeras ingin ikut menjemput bapaknya, jadilah ia terlambat, karena harus menunggu Dhika mengambil mobil di rumah Rena lalu menjemputnya di kost-an baru ke stasiun.


"Bapak!" panggil Tiara begitu matanya tertuju pada laki-laki renta bertubuh kurus dibalut kemeja batik lengan pendek.


Laki-laki berumur hampir 60 tahun itu menoleh, tersenyum, kemudian melangkah pelan ke arah Tiara. Tiara mempercepat langkah, tak sabar ingin memeluk sosok yang selalu dikaguminya itu. Setengah berlari ia menghambur ke pelukan bapaknya.


"Bapak! Ara kangen Bapak," ujar Tiara setengah terisak.


"Bohong kamu, Nduk. Kalau memang kangen, kenapa ndak pulang?" ujar bapaknya lembut, dengan logat Jawa yang kental sambil menepuk-nepuk pelan punggung Tiara.


"Bapak." Gadis itu mengentakkan kakinya manja.


Dhika tersenyum gemas melihat tingkah Tiara. Ternyata, di balik sifatnya yang cerewet dan mandiri itu, Tiara punya sisi manja juga, pikir Dhika. Pak Anto pun tampak sangat menyayangi dan memanjakan putrinya. Tiba-tiba Dhika merasa merindukan sosok seorang ayah. Ia merindukan ayahnya yang sudah lebih dulu dipanggil Sang Pencipta tujuh tahun yang lalu. Diam-diam Dhika menyeka sudut matanya yang mulai berair, merasa terharu dengan pertemuan bapak dan anak itu.


Pak Anto terkekeh pelan, "Bapak juga kangen sama kamu, Nduk. Makanya Bapak bela-belain ke sini," ujarnya seraya mengusap lembut rambut putri bungsunya itu.


"Bapak sehat, kan?"


"Alhamdulillah, Bapak sehat," ucap Pak Anto. Tiara tersenyum lega.


"Oh, iya, Pak. Kenalin, ini Mas Dhika, bos Ara," ujar Tiara begitu menyadari ia mengabaikan Dhika. Ia sengaja menekankan kata 'bos', agar bapaknya tidak berpikir macam-macam.


"Pak, saya Dhika," ujar Dhika seraya menjabat tangan bapak Tiara dengan kedua tangan lalu menciumnya.


Tiara terperangah, tidak menyangka Dhika akan bersikap demikian pada bapaknya. Namun, ia juga sedikit lega, setidaknya ia tidak merasa khawatir lagi karena bapaknya harus tinggal di rumah Dhika. Tadinya ia ragu untuk menerima bantuan Dhika, selain takut merepotkan, bapaknya dan Dhika tidak saling mengenal, ia takut bapaknya tidak nyaman. Untunglah Pak Anto tidak protes dan Dhika juga sepertinya menerima Pak Anto dengan baik.


"Ayo, Pak," ajak Dhika seraya mengambil bawaan juga tas Pak Anto.


"Eh, ndak usah, Nak Dhika." Pak Anto menolak halus.


"Biar saya bawain, Pak. Ini berat, loh," kata Dhika sembari mengangkat kantong yang entah apa isinya.


Pak Anto pun tak banyak bicara lagi. Tiara sudah banyak bercerita tentang Dhika di telepon tadi malam. Termasuk memintanya untuk tinggal di rumahnya saja. Dalam hati ia memuji kebaikan pemuda itu, tapi juga sedikit curiga kalau ada sesuatu di antara anak dan lelaki yang katanya bosnya itu. Kalau hanya sebatas karyawan dan bos, tentunya tidak sampai memberi tumpangan seperti ini, pikir Pak Anto.


"Pak, kita makan siang dulu, yuk. Udah waktunya makan siang ini," kata Dhika sambil membuka pintu mobil untuk Pak Anto, Pak Anto hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.


"Langsung ke rumah Mas aja, deh. Mas kan harus balik ke minimarket lagi. Biar Ara aja yang beli makanan untuk Bapak nanti," sela Tiara.


"Mas udah bilang sama Abdul kalau baliknya agak lama. Lagian, keburu lapar kalau tunggu sampai rumah. Tinggal ikut aja kok bawel banget sih," kata Dhika. Ia memelankan suara pada kalimat terakhir.


Tiara hanya memanyunkan bibir, lalu masuk ke dalam mobil. Tak ada gunanya berdebat dengan Dhika, toh pada akhirnya ia selalu kalah.


Tak hanya makan siang, Dhika juga mengajaknya belanja beberapa keperluan untuk Pak Anto. Menjelang pukul dua, mereka mengantar Pak Anto ke rumah Dhika karena Tiara juga harus siap-siap untuk berangkat kerja. Waktu liburnya masih lusa, jadi ia hanya bisa menemani bapaknya sebentar.


"Bapak nggak apa-apa, ya, tinggal sendirian dulu, soalnya Ara harus kerja," kata Tiara, meski sebenarnya ia masih ingin menemani bapaknya.


"Iya, ndak apa-apa."


"Bapak istirahat aja dulu, nggak usah sungkan, anggap aja rumah sendiri," sambung Dhika.


Setelah berpamitan, Dhika dan Tiara pun berangkat.


***


Esok harinya, dengan langkah buru-buru, Tiara memasuki gang menuju kontrakan Dhika. Ia menenteng sebuah bungkusan besar berisi makanan yang ia bawa dari kost-annya. Pagi-pagi sekali ia sudah terjaga, demi memasakkan makanan untuk bapaknya.


Ia mempercepat langkah, tak sabar ingin bertemu bapaknya. Karena semalam ia tidak sempat mampir dan langsung pulang ke kost-annya. Dari kejauhan ia melihat Dhika yang sedang mencuci motornya.


"Assalamu'alaikum," sapa Tiara begitu sampai di depan kontrakan Dhika.


"Wa'alaikum salam. Eh, Tiara ke sini sama siapa?" tanya Dhika.


"Naik ojek tadi."


"Kenapa nggak minta jemput?"


"Ngerepotin. Oh iya, Bapak mana?" tanyanya sembari menoleh kiri kanan.


"Baru masuk. Mau mandi katanya," jawab Dhika, kemudian kembali melanjutkan mengelap motornya.


"Mas, Ara pinjam piringnya, ya."


"Ambil aja sendiri di dapur," sahut Dhika tanpa menoleh, fokus dengan motornya.


Keasyikan Dhika terganggu karena suara gaduh yang berasal dari dapurnya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang dilakukan Tiara di dalam. Rasa penasarannya semakin tergoda begitu mencium aroma makanan yang membuat cacing di perutnya berunjuk rasa. Ia melangkah masuk, menuju dapur. Dilihatnya Tiara sedang sibuk menata piring dan makanan di meja makan.


"Aromanya enak banget!" seru Dhika.


"Mampus!"


Ia lupa bahwa Tiara anti pada suara-suara yang mendadak. Alhasil, umpatan khas lagi-lagi keluar dari bibir tipis nan mungil berpoles lipstik tipis itu. Ditambah tatapan tajam seperti akan menerkamnya. Dhika hanya terkekeh sambil mengangkat dua jari membentuk huruf V.


Tanpa menunggu aba-aba, Dhika menarik kursi dan memposisikan diri di balik meja. Cacing-cacing di perutnya sudah semakin brutal, menuntut untuk diberi makan.


"Ini kamu yang masak?" tanyanya pada Tiara yang sedang menyendok gulai ayam ke mangkuk.


"Bukan. Pembantu di rumah yang masak," jawab Tiara asal.


Dhika tersenyum simpul mendengar jawaban Tiara. Tatapannya terpaku pada wajah Tiara. Entah kenapa, melihat Tiara yang sedang sibuk berkutat dengan piring-piring, terlihat lebih cantik dengan rambut ikalnya yang digelung asal. Makin lama menatap Tiara, khayalan Dhika makin jauh melayang.


Ia membayangkan setiap pagi Tiara yang masih menggunakan daster dan rambut dicepol asal akan sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya juga anak-anak mereka. Tiara akan menyiapkan bekal untuk makan siangnya di tempat kerja. Ketika ia pulang, secangkir kopi hangat dan camilan sudah menyambutnya. Juga makan malam dan berkumpul bersama keluarga. Sungguh, ini adalah bagian kecil dari kehidupan yang diimpikannya bersama Tiara.


"Heh, senyum-senyum sendiri." Tiara menjolak pelan bahu Dhika.


Dhika tersipu lalu menggeleng pelan, menyadari lamunannya yang sudah ke mana-mana. Untuk mengusir khayalannya, Dhika menuang air pada gelas dan meneguknya pelan lalu berkata, "Eh, Ra, bilang, ya, sama pembantunya, mau jadi istri Mas nggak? Mas lagi cari calon istri yang pinter masak, nih."


Bersambung.