Brother Zone

Brother Zone
Beli Cincin



Setengah berlari Tiara memasuki minimarket, napasnya terengah-engah, keringat bercucuran di keningnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih lima menit, terlambat lima menit. Untungnya belum ada pelanggan, jadi ia bisa segera berganti seragam kerja dan merapikan diri.


"Tumben telat?" sapa Abdul yang baru keluar dari ruang khusus karyawan.


"Iya, ngantar Bapak dulu ke stasiun," jelas Tiara singkat.


Seharusnya ia tidak akan terlambat jika saja tidak lama menunggu angkot. Dhika tiba-tiba saja bilang ada urusan mendadak, jadi ia harus berangkat ke minimarket sendiri.


Setelah rapi dengan seragam biru muda-nya, Tiara keluar dari ruang khusus karyawan. Ia hampir terpekik saat nyaris menabrak punggung seseorang.


"Rian!" serunya tak percaya.


"Hai, Tiara. Akhirnya kita ketemu lagi. Kamu apa kabar?" tanya Rian ramah.


"Baik. Kamu kok ada di sini?"


"Mbak Rena bilang, Dhika katanya ada urusan dan Mbak Rena nggak bisa ke sini, jadi aku yang dimintai tolong suruh antar kunci cadangan," jelas Rian, Tiara hanya mengangguk paham.


Selanjutnya, mereka sudah terlibat obrolan seru. Keduanya akrab dengan cepat. Rian adalah pemuda yang humoris, tak jarang Tiara tertawa dengan guyonannya. Hal yang sangat jarang terjadi saat bersama Dhika. Yang ada justru perdebatan tidak penting. Cukup lama keduanya mengobrol, sampai akhirnya Rian pamit untuk pulang.


"Aku pulang dulu, ya. Ntar sore aku ke sini lagi," pamit Rian. "Oh iya, kamu pulangnya nanti sama siapa?" tanya Rian sebelum beranjak.


"Biasanya sih di antar Mas Dhika. Kadang juga naik angkot," jelas Tiara.


"Hm, kalau aku yang ngantar, gimana? Sekalian ada alamat yang mau aku tanyain ke kamu," tawar Rian. Tiara menimbang-nimbang sebentar lalu mengangguk setuju.


"Oke, sebelum jam pulang aku ke sini lagi. Bye!" kata Rian sembari melambaikan tangan.


***


Keesokan harinya, menjelang pukul tiga, Dhika baru tiba di minimarket. Hari ini penampilannya terlihat santai. Celana jeans biru navy dipadu baju kaos berwarna putih dan sweater, membuat kesan bapak-bapak yang melekat padanya memudar seketika.


Dengan langkah santai ia mendekati Tiara, niat isengnya muncul tapi sayang Tiara sudah lebih dulu menyadari kedatangannya.


"Wih, Mas keren banget," puji Tiara jujur. "Mau ke mana, sih?"


"Ketemu pacar," jawab Dhika asal.


"Kayak punya pacar aja," cibir Tiara.


"Minimarket gimana selama Mas nggak ada? Aman?" Dhika mengalihkan pembicaraan.


"Aman." Tiara berpose 'OK'


"Ya udah, shift kamu bentar lagi selesai kan? Mas tunggu, kita pulang bareng," kata Dhika lalu beranjak ke sofa di sudut ruangan. Mengabaikan tatapan karyawati lain yang terpesona dengan penampilannya.


Lima belas menit kemudian, jam kerja Tiara pun berakhir. Ia menuju ruang khusus karyawan untuk mengambil tasnya. Sementara Dhika yang sudah resah menunggunya sejak tadi langsung berdiri, lalu berpesan kalau ia menunggu di luar.


"Loh, kok naik mobil? Motornya mana?" tanya Tiara saat melihat Dhika sudah duduk manis di balik kemudi sambil bersenandung pelan.


"Di rumah. Mumpung mobilnya belum dibalikin, jadi puas-puasin dulu pakainya," kata Dhika. Tiara hanya geleng-geleng kepala.


"Bahagia bener tuh muka. Ara perhatiin, dari kemarin Mas agak aneh deh," kata Tiara setelah masuk ke dalam mobil.


"Aneh gimana?"


"Ya aneh, jadi rajin senyum. Barusan nyanyi-nyanyi, penampilan juga berubah gini. Ada apa, hayo!?"


"Perasaan kamu aja itu. Oh ya, temenin cari kado dulu, ya," ujar Dhika saat mobil sudah mulai meninggalkan parkiran.


"Iya. Minggu depan dia ulang tahun," jawab Dhika santai, tapi berhasil membuat Tiara melongo, tak percaya dengan jawaban Dhika.


"Pacar Mas Dhika, ya?" tanya Tiara lagi.


Kali ini untuk memastikan, berharap Dhika menjawab 'bukan'. Entah kenapa ia merasa tak rela jika lelaki itu punya pacar. Sepertinya Dhika memang tidak berbohong, perubahan sikap Dhika sejak kemarin cukup membuktikan kalau ada seseorang yang sudah mengisi hati pemuda itu.


"Lebih dari pacar."


Kali ini, Tiara benar-benar dibuat ternganga, sementara Dhika hanya menatapnya penuh arti. Entah kenapa ia merasa tak senang Dhika menyebut perempuan lain. Apakah ia cemburu? Cepat-cepat Tiara menguasai pikirannya. Ia tidak punya hak untuk cemburu. Harusnya ia sadar posisinya di hati lelaki itu.


Setengah jam kemudian, keduanya sampai di sebuah mall. Dhika langsung menuju toko perhiasan, diikuti Tiara di belakangnya. Perasaan Tiara semakin campur aduk, melihat Dhika begitu antusias memilih-milih kalung. Yang membuat hatinya seperti teriris adalah kenyataan bahwa Dhika membelikan perhiasan itu untuk perempuan lain. Untuk menghibur diri, Tiara ikut melihat-lihat cincin yang tertata cantik di etalase. Hitung-hitung cuci mata, pikirnya.


"Kamu mau beli cincin, Ra?" tanya Dhika ketika melihat pandangan mata Tiara yang terpaku pada cincin di etalase.


"Nggak ada duit," jawab Tiara ketus. Mendadak ia merasa kesal sendiri.


"Mas bayarin," sahut Dhika.


"Nggak mau ngutang."


Dhika hanya menggeleng melihat Tiara yang tiba-tiba berubah badmood. Dhika sudah sering melihat perubahan Tiara yang demikian, jadi ia tidak merasa heran lagi.


"Eh, Ra bantu pilihkan yang bagus, dong. Kamu kan perempuan, pasti tahu selera perempuan yang seperti apa," kata Dhika.


Tiara menatap malas pada Dhika, tapi telunjuknya tetap terangkat menunjuk sebuh cincin emas putih berhias permata dengan model sederhana. "Ara suka yang itu," katanya.


"Pak, boleh lihat yang itu," ujar Dhika pada pemilik toko.


Pemilik toko itu pun mengeluarkan cincin yang dimaksud.


"Coba kamu pakai. Bagus, nggak?" ujar Dhika sembari meraih tangan Tiara.


Tanpa menunggu persetujuan Tiara, Dhika memasangkan cincin itu di jari manis Tiara. Pas. Cincin itu melingkar cantik di jari Tiara, seolah cincin itu memang dibuat sesuai ukuran jarinya. Tiara memandangi jarinya yang lentik dengan perasaan campur aduk. Merasa bahagia, mengingat bagaimana Dhika memakaikan cincin itu di jarinya. Namun, sedetik kemudian ia bagai terhempas, mengingat ia hanya jadi pencoba.


Perasaannya semakin tidak karuan dengan pikiran-pikiran yang berkelebat di kepalanya. Ditambah satu kesimpulan yang entah ia dapat dari mana, bahwa Dhika mungkin bermaksud untuk melamar pacarnya. Membayangkan itu membuat dadanya seperti diremas, tapi apa yang bisa ia lakukan selain menahannya.


"Kenapa, Ra?" Dhika meremas pelan jemari Tiara yang masih dalam genggamannya, bingung melihat Tiara yang diam membisu dengan raut wajah yang aneh.


"Eh, nggak. Nggak apa-apa," ujar Tiara sambil menarik tangannya dari Dhika. Cepat-cepat ia melepaskan cincin itu dari jarinya, dan menyerahkannya pada Dhika.


"Trus tadi kenapa kamu geleng-geleng?" Dhika menatap Tiara dengan alis bertaut.


Tiara memusatkan pikirannya, berusaha terlihat biasa saja sambil mencari-cari alasan yang tepat.


"Nggak. Maksud Ara, setelah dipakai cincinnya, Ara jadi nggak suka," jawabnya.


"Tapi Mas suka, kok. Mas ambil yang ini aja," ujar Dhika. Kemudian meminta pemilik toko untuk membungkusnya bersama dengan kalung yang dipilihnya tadi.


Tiara hanya menghela napas pelan. Padahal niatnya bilang tidak suka, supaya Dhika tidak jadi membeli cincin itu. Entah kenapa, ia merasa tidak suka dilibatkan dengan perempuan yang dimaksud Dhika.


"Udah, yuk, pulang. Kamu capek banget kayaknya," ajak Dhika setelah menyelesaikan pembayaran.


Tiara hanya mengangguk pelan. Dhika benar, ia memang capek. Lebih tepatnya hatinya yang capek terus-terusan berperang melawan perasaannya sendiri. Mau sampai kapan ia seperti ini? Tidak. Sekarang ia harus mulai belajar melupakan Dhika. Apalagi pria itu sudah punya tambatan hati, harapannya sudah benar-benar pupus.


Move on, Ra. Move on!


Bersambung.