
"Rian!"
"Iya, iya. Aku bercanda," sahut Rian diiringi kekehan. Ia meletakkan kue tersebut di depan Tiara. "Sini HP kamu," lanjut Rian.
"Buat apa?" Kening Tiara berkerut tak mengerti, tapi ia tetap mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Rian.
Rian menerimanya dan mengutak-atiknya sebentar, lalu menghadapkan layar ponsel pada Tiara. Tiara makin bingung karena Rian malah menunjukkan fotonya bersama Dhika yang menjadi foto profil akun whatsapp-nya. Fotonya yang belepotan krim sambil memegang kue tart dengan angka 23 di atasnya. Di sebelahnya Dhika berdiri gagah sambil merangkulnya. Sudah setahun foto itu tidak terganti sejak Dhika memasangnya.
"Ini foto waktu kamu ulang tahun kan? Di sini ada tanggal waktu kamu foto, jadi aku tebak kalau itu pasti hari ulang tahun kamu. Walaupun kayaknya hari ini udah lewat sehari," jelas Rian sembari terkekeh.
"Oh." Tiara manggut-manggut paham.
"Gimana? Suka kejutan dari aku?" Rian memainkan alisnya, menggoda Tiara.
Tiara hanya mengangguk sembari tersenyum. Tiba-tiba ia teringat ulang tahunnya tahun lalu, Dhika bersama Rena memberikannya kejutan kecil. Sekarang, entah di mana Dhika berada. Ah, kenapa pula ia malah mengingat laki-laki itu? Apa ini yang dinamakan Rindu?
"Oke, sekarang tiup lilin dan potong kuenya dulu," suruh Rian.
Tiara pun bersiap meniup lilin dengan perasaan bahagia, walaupun ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya bahagia. Mungkin kejutan kecil dari Rian ini. Sebelum meniup lilin, Tiara memejamkan mata sambil dalam hati berharap semoga ia bisa menemukan orang yang bisa menemaninya melewati setiap ulang tahunnya. Bersama-sama dalam suka dan duka hingga rambut sama memutih. Sementara Rian, mengabadikannya dengan memotret menggunakan ponsel Tiara.
Dengan sekali tiupan lilin pun padam. Dilanjutkan dengan pemotongan kue. Pelan-pelan Tiara memotong kue dan meletakkannya di piring kecil lalu menyerahkan potongan pertama tersebut pada Rian.
"Makasih, udah bikin kejutan ini buat aku," ucap Tiara.
Rian menerima potongan kue tersebut dengan senyum tulus. Rian kemudian memotong kue tadi menjadi potongan kecil, menusuknya dengan garpu lalu menyodorkannya pada Tiara. Melihat kue yang terulur padanya, Tiara menghentikan kegiatannya memotong kue lalu menatap Rian dengan tatapan 'apa maksudnya' walaupun ia jelas tahu maksud Rian.
"Ayo, buka mulut," kata Rian, mengerti maksud tatapan Tiara.
Ragu-ragu Tiara membuka mulutnya. Perlahan ia merasakan getaran samar merambat dari dada menuju pipinya. Setelah menerima suapan itu, Tiara memalingkan wajah, menyembunyikan senyum malu-malu yang terukir di bibirnya.
"Tiara."
Tepat saat Tiara menoleh, suara jepretan kamera menyambutnya. Ternyata Rian sudah memasang pose dua jari sembari tersenyum lebar di sebelahnya dan ekspresi aneh Tiara yang berusaha menyembunyikan senyuman sudah terpampang di layar ponselnya.
"Rian! Hapus ih," kata Tiara berusaha merebut ponselnya dari Rian, tapi Rian dengan sigap menghindar.
"Kenapa dihapus? Fotonya bagus gini, kok," kata Rian sambil memandangi foto hasil jepretannya tadi.
Rian mengabaikan Tiara yang sedang memanyunkan bibir. Ia mengutak-atik ponsel Tiara sebentar lalu mengembalikannya lagi sambil tersenyum jail. Entah apa yang baru saja dilakukannya pada ponsel Tiara.
"Nggak usah manyun, ayo lanjut makan. Oh iya, fotonya jangan dihapus, ya," kata Rian diiringi senyum penuh arti.
Di saat yang sama, Dhika juga tengah menikmati makan siang bersama ibunya di sebuah cafe. Seharusnya, hari ini ia tengah merayakan ulang tahun ibunya bersama Tiara di halaman belakang rumahnya. Namun, rencananya hancur berantakan dan acaranya pun batal.
Berhubung ia sudah terlanjur memesan kue dan tidak enak jika dibatalkan, akhirnya ia mengubah tempat acaranya menjadi di cafe sepupunya, Mitha. Acara pun hanya seadanya. Hanya makan siang dan potong kue biasa. Sebenarnya, Dhika sudah malas memikirkan soal ulang tahun ini, hanya saja ia tidak ingin ibunya kecewa, jadi ia berusaha terlihat bahagia agar ibunya juga bahagia.
Hanya Saka, anak Mitha yang berumur empat tahun, yang tampak sangat bahagia dengan acara ulang tahun ala kadarnya itu. Bocah laki-laki itu terlalu semangat menyanyikan lagu ulang tahun untuk Fatimah. Bahkan ikut membantu sang nenek meniup lilin dan memotong kue. Lalu menyuapi Fatimah, Mitha dan Dhika bergantian.
Setelah kegiatan suap-menyuap itu, ganti Mitha yang beraksi dengan berfoto ria. Tak lupa mengabadikan momen keluarga tersebut. Mitha memanggil seorang karyawannya untuk membantunya mengambil gambar. Ia mendudukkan Saka di pangkuan Fatimah, lalu menarik Dhika untuk berdiri di belakang berdampingan dengannya.
Puas berfoto, Mitha kembali duduk di kursinya sambil melihat-lihat hasil tangkapan kameranya tadi. Selanjutnya, ia sudah sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Sementara Dhika dan Fatimah melanjutkan makan. Mitha menghela napas lega sambil meletakkan ponselnya di atas meja, seolah ia baru saja selesai melakukan tugas.
"Kenapa?" tanya Dhika melihat Mitha senyum-senyum sendiri.
"Ada, deh," jawab Mitha sok misterius lalu ikut melanjutkan makannya.
Dhika tak bertanya lagi. Ia juga mengeluarkan ponselnya, mengaktifkan data seluler yang di-nonaktif-kannya sejak tadi malam. Ia sengaja me-nonaktif-kannya untuk menghindari orang-orang di minimarket menghubunginya. Benar saja, setelah jaringan internetnya terhubung, rentetan pesan langsung memenuhi ruang chatnya. Ia mulai membuka satu persatu chat yang masuk. Dimulai dari Abdul yang mengirim 20 pesan yang hanya berisi huruf P. Dhika hanya geleng-geleng, kemudian membalas chat Abdul, memberitahukan bahwa ia di rumah ibunya sekarang.
Kemudian pesan dari Rena yang masuk sejak tadi malam, yang menanyakan keberadaanya. Dhika sudah menjelaskannya tadi pagi lewat telepon, jadi ia tidak perlu membalas pesan Rena lagi. Terakhir pesan dari Rian. Kening Dhika berkerut, sedikit heran kenapa Rian mengiriminya pesan. Dhika pun membukanya.
Dhika, Lo di mana? Makan siang, yuk, sekalian rayain ulang tahun Tiara. Gue udah pesan tempat, nih.
Alis Dhika bertaut. "Rian mau rayain ulang tahun Tiara?" batinnya.
Bicara soal Tiara, ia baru sadar kalau tidak ada chat sama sekali dari gadis itu. Biasanya sehari tak bertemu, gadis itu akan menanyakan keberadaanya. Apa gadis itu masih marah jadi tidak menghubunginya?
Tiba-tiba, mata Dhika tertuju pada chat Tiara. Foto profil pada kolom chat Tiara sepertinya sudah berubah. Jempol Dhika menekan foto itu, foto itu pun membesar. Jantung Dhika langsung mencelos melihat foto Rian yang tersenyum lebar, sementara Tiara tampak menahan senyum di sebelahnya. Di depan mereka terhidang sebuah kue tart lengkap dengan lilin angka 24 serta makanan dan minuman lainnya.
Dhika menghela napas berat. Seharusnya ia yang bersama Tiara, tapi kenyataannya gadis itu terasa begitu jauh darinya sekarang. Ia merasa seperti tersingkir dari hati dan kehidupan gadis itu. Apakah posisinya sudah benar-benar tergantikan oleh Rian?
Bersambung.