Brother Zone

Brother Zone
Jadi Istri



Baru saja ia akan menanggapi kata-kata Dhika, tiba-tiba Pak Anto muncul dari arah depan.


"Loh, Nduk. Kamu kok di sini? Ndak kerja?" tanya Pak Anto sedikit kaget.


"Masuk sore, Pak. Ara ke sini bawain makanan untuk Bapak. Duduk, Pak, kita sarapan sama-sama. Mas Dhika juga," ujar Tiara seraya menyendokkan nasi untuk bapaknya.


Ketiganya pun makan tanpa ada yang bersuara. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar begitu nyaring. Seperti degub jantung Tiara yang berdetak tak beraturan, masih memikirkan ucapan Dhika tadi. Apa maksud Dhika bicara seperti itu?


Bilang, ya, sama pembantunya, Mau jadi istri Mas, nggak?


Kata-kata itu terngiang lagi di telinga Tiara. Dalam hati dia mengeluh, jelas-jelas ia tidak punya pembantu, lalu siapa yang dimaksud Dhika untuk jadi istrinya? Apa secara tidak langsung permintaan itu untuk dirinya?


Tiara hampir tersedak dengan pemikirannya sendiri. Buru-buru ia meraih minum sambil berusaha mengenyahkan pikirannya sendiri sebelum ia berkhayal lebih jauh.


"Enak, ya, Pak," ujar Dhika sembari melirik Tiara.


"Iya. Sejak kapan kamu bisa masak, Nduk?" tanya bapaknya.


"Sejak tinggal di Surabaya. Baru belajar sih, Pak. Hehehe," kekehnya.


"Bagus. Udah bisa jadi istri itu," ujar bapaknya, sementara Dhika menghentikan kunyahannya demi melihat reaksi Tiara.


"Ih, Bapak. Kok malah jadi ke sana bahasannya." Tiara memanyunkan bibirnya, sementara Dhika hanya tersipu.


"Lah, bener to, Nak Dhika?" tanya bapaknya meminta pendapat.


"Iya, Pak," jawab Dhika singkat. Tak berani bicara banyak karena dilihatnya Tiara menatapnya dengan tatapan mengancam.


Selanjutnya, tak ada lagi yang bicara sampai makanan di piring masing-masing hampir tandas. Tiara mempercepat makannya. Setelah makanan di piringnya habis, ia membawa piringnya ke tempat cuci piring dan mencucinya. Sementara Dhika yang juga sudah selesai makan, pamit untuk bersiap diri.


Setelah selesai mencuci piring, Tiara kembali duduk disamping bapaknya yang belum beranjak dari tempatnya. Hening, suasana terasa kaku sampai akhirnya Pak Anto mulai bicara dengan nada serius.


"Nduk, kamu ini tinggal satu-satunya anak Bapak yang belum menikah. Bagaimana pun juga, Bapak mencemaskan kamu. Setiap orangtua pasti ingin melihat anaknya menikah, punya anak dan melihat keluarga anaknya bahagia, seperti kakakmu yang sekarang sudah punya anak dua. Udah saatnya kamu berpikir ke sana, Nduk?" ujar bapaknya. Ada nada memohon dalam bicaranya.


Tiara tertunduk, tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, ia ingin mewujudkan keinginan bapaknya, bukan cuma keinginan bapaknya, tapi keinginan dan impiannya juga. Di sisi lain, ada luka yang belum sepenuhnya sembuh di hatinya dan ia takut luka itu akan berdarah lagi. Jauh di dalam lubuk hatinya juga sudah ada nama seseorang yang ia harapkan akan menemaninya mewujudkan impian itu.


"Maaf, Pak. Mungkin lain kali kita bahas hal ini." kata Tiara pelan, ia sedang tidak ingin membahas hal itu.


"Nduk, kamu selalu menghindar kalau Bapak bahas hal ini. Ini bukan karena Bima, kan?" Pak Anto menatap Tiara penuh selidik.


Cepat Tiara menggeleng, "Dia bahkan udah nggak ada di pikiran Ara lagi," jawab Tiara.


"Kamu memang sudah melupakannya, tapi tidak kekecewaanmu padanya. Bapak tahu, kamu takut untuk punya perasaan pada laki-laki karena takut kecewa lagi."


Tiara tertunduk, hatinya membenarkan ucapan Pak Anto. Kekecewaannya pada sosok lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu masih membekas di hatinya. Penantian yang berujung penghianatan membuatnya takut untuk punya perasaan pada laki-laki. Ditambah dengan perasaannya pada Dhika yang membuatnya merasa terkatung-katung tak tentu arah hingga terkadang ia berpikir bahwa mencintai hanya akan membuatnya kecewa.


"Kecewa itu pasti selalu ada, tapi tidak selamanya hanya kecewa yang dirasakan. Ada saatnya kamu akan bahagia, dan di antara bahagia itu juga pasti ada terselip kecewa. Itu kembali padamu, seberapa mampu kamu melupakan kekecewaan itu dan menikmati bahagianya. Yang harus kamu lakukan hanyalah melupakan. Lupakan semua kekecewaan yang pernah kamu rasakan dan mulailah harapan baru yang lebih baik. Kecewa juga mengajarkan kita untuk tegar, dan belajar menerima sesuatu yang tak sesuai harapan," nasihat Pak Anto.


Tiara mengangkat kepalanya, kemudian mengusap jejak air mata yang membasahi pipinya. Sifat yang paling dikagumi Tiara dari bapaknya adalah kelembutannya, kesabarannya dan kebijakannya. Bapaknya itu selalu bisa menenangkan keresahan hatinya.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tiara sudah sampai di kontrakan Dhika. Tangannya menenteng bungkusan yang berisi sayuran dan bahan untuk memasak. Senyumnya terkembang begitu melihat bapaknya sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi.


"Assalamu'alaikum," ucap Tiara kemudian mengulurkan tangan untuk menyalami bapaknya.


"Wa'alaikum salam, Nduk," balas Pak Anto, seraya menyambut uluran tangan Tiara.


"Sendiri aja, Pak? Mas Dhika mana?" Tiara celingak-celinguk mencari keberadaan Dhika.


"Lagi mandi," jawab bapaknya, sementara Tiara hanya manggut-manggut.


"Pak, Ara ke dalam dulu, ya. Bikinin sarapan buat Bapak."


Tanpa menunggu persetujuan bapaknya, Tiara sudah beranjak masuk. Sambil bersenandung pelan ia menuju dapur, meletakkan belanjaannya, kemudian memeriksa apa yang bisa dibuatnya untuk sarapan. Setelah memeriksa, akhirnya ia putuskan untuk membuat nasi goreng.


Dalam hati Tiara memuji rumah Dhika yang tergolong rapi dan cukup lengkap untuk ukuran seorang pemuda lajang. Piring-piring tersusun rapi di dekat tempat cuci piring. Wajan dan panci digantung berjajar di dinding dekat rak piring. Ada kulkas satu pintu berdiri di dekat pintu penghubung dapur dan ruang nonton, berdampingan dengan dispenser dan magic com.


Masih asyik bersenandung, tak menyadari Dhika yang baru keluar dari kamar mandi, sudah ada di belakangnya, hanya menggunakan celana pendek selutut dan kaos oblong. Asyik memandangi Tiara sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Hm." Dhika berdehem, agar tak mengejutkan gadis itu.


Tiara menoleh cepat, "Eh, Mas Dhika. Maaf, Ara ngacak-ngacak dapur Mas nggak ngomong-ngomong," ujarnya menyeringai.


Mengabaikan ucapan Tiara, Dhika berjalan menuju meja makan, kemudian menyeruput kopi yang tadi ditinggalkannya yang sudah mulai dingin. Duduk di sana sambil menatap Tiara dengan senyum penuh arti.


"Pagi-pagi gini lihat cewek cantik di dapur tuh, berasa kayak punya istri," ujarnya seolah pada diri sendiri.


Tiara menatap tajam ke arah Dhika, sementara yang ditatap hanya duduk santai sambil kembali menyeruput kopinya.


"Bangun woi! Mimpi mulu!" Tiara menanggapi, meski ada gemuruh dalam dadanya. Samar-samar ia merasakan wajahnya memanas membayangkan seandainya itu benar-benar kenyataan.


Dhika menatap Tiara dengan senyum jail, "Mimpi dulu boleh, dong."


Dhika bangkit, kemudian berjalan ke tempat cuci piring untuk menaruh gelas yang sudah kosong. Sebelum beranjak, ia mendekati Tiara lalu berbisik, "Kali aja kamu mau bantu mewujudkannya."


Bersambung.