
Menjelang pukul tiga, Tiara dan Rian keluar dari cafe itu. Hampir tiga jam berada di ruangan dengan pencahayaan yang redup dan berwarna-warni membuat pandangan Tiara sedikit mengabur. Tiba-tiba, seorang gadis yang berjalan cepat menabrak Tiara, membuat Tiara terhuyung beberapa langkah ke belakang dan akhirnya jatuh terduduk. Rian dengan cepat menghampiri Tiara dan memapahnya untuk berdiri.
"Tiara, kamu nggak apa-apa?" tanya Rian khawatir.
"Nggak apa-apa." Tiara menggeleng sambil menepuk-nepuk celananya yang terkena debu.
Setelah memastikan Tiara tidak apa-apa, Rian berbalik bermaksud memarahi gadis yang tadi berjalan begitu ceroboh. Namun, alih-alih memarahi gadis itu, Rian malah berdiri terpaku dengan mulut terbuka tapi tak sepatah kata pun terucap sama seperti gadis di depannya. Cukup lama kedua orang itu saling tatap sampai akhirnya gadis bertubuh ramping itu yang buka suara.
"Rian? Kamu Rian, kan?" Gadis berkuncir ekor kuda itu melangkah mendekati Rian.
"Nisa?" bisik Rian. Sepertinya Rian juga terkejut melihat gadis di depannya sampai-sampai tak bisa mengeluarkan suara.
Gadis itu tersenyum seraya mengulurkan tangan. "Apa kabar?" tanyanya.
Rian masih bergeming, tak juga menyambut uluran tangan gadis itu. Tiara yang melihat adegan canggung itu berusaha mencairkan suasana dengan mencolek bahu Rian, tapi sepertinya Rian masih shock.
"Oh iya, maaf, aku udah nabrak kamu. Kamu nggak apa-apa, kan?" Gadis itu beralih pada Tiara.
Tiara menggeleng. "Nggak apa-apa," jawab Tiara.
"Kalau gitu aku pamit dulu, ya. Aku buru-buru, udah telat masuk kerja. Bye!" ucap gadis itu lalu berlari pergi.
Tiara memandangi kepergian gadis itu sampai menghilang di antara bangunan. Kemudian ia beralih pada Rian yang masih menatap arah gadis itu menghilang tadi.
"Rian. Rian, kamu kenapa, sih?" Tiara menggoyang bahu Rian pelan.
Rian menoleh pada Tiara lalu mencoba tersenyum. "Itu Nisa. Cewek yang alamatnya kita cari waktu itu," jelas Rian tanpa diminta.
Tiara menepuk kening pelan. "Trus, kenapa kamu malah bengong? Cepat kejar!" Tiara mendorong bahu Rian.
"Tapi, kamu gimana?" tanya Rian.
"Gampang, aku bisa pulang sendiri," jawab Tiara.
"Jangan. Gini aja, kamu tunggu aku di dalam mobil, aku pergi sebentar," kata Rian sambil menyerahkan kunci mobil pada Tiara, kemudian segera berlari menyusul gadis tadi.
Tiara hanya geleng-geleng melihat kelakuan Rian. Setelah Rian menghilang, barulah Tiara masuk ke dalam mobil. Sambil menunggu Rian kembali, Tiara membuka ponsel yang didiamkannya cukup lama. Ada sebuah pesan whatsaap dari Rani yang membuat Tiara mengernyit bingung.
Udah pada pindah hati, nih, kayaknya.
Malas berpikir, Tiara langsung membalas pesan dari Rani.
Maksudnya?
Dua menit berlalu, baru pesan balasan dari Rani masuk.
Pada pamer foto bareng orang lain.
Tiara makin tak mengerti arah pembicaraan Rani ditambah kalimatnya yang singkat.
Kamu ngomong apa, sih, Rani? Coba jelasin.
Tak lama kemudian balasan dari Rani masuk.
Kamu sama Pak Dhika, udah pada pindah hati, ya? Kamu pasang foto bareng Mas Rian. Mbak Rena pasang foto Pak Dhika bareng cewek lain, sama orang tuanya juga, loh.
"Aku pasang foto bareng Rian?" Tiara berbicara sendiri.
Kemudian buru-buru memeriksa di mana foto itu dan menyadari kalau foto profil WhatsApp-nya sudah berubah menjadi foto yang diambil Rian tadi. Ini pasti kerjaan Rian, batin Tiara, mengingat Rian mengutak-atik ponselnya tadi. Namun, Tiara membiarkan saja foto itu tetap begitu, besok-besok saja menggantinya, pikir Tiara.
Jempolnya berakhir pada icon status, mencari status Rena. Seperti yang dikatakan Rani. Status Rena menampilkan foto Dhika berdampingan dengan seorang wanita cantik bersama seorang wanita yang dikenali Tiara sebagai ibunya Dhika dan seorang anak kecil, tampak seperti sebuah keluarga yang bahagia. Apakah dia wanita beruntung yang menjadi orang spesial di hati Dhika?
***
Dengan napas terengah-engah akhirnya Rian berhasil menyusul Nisa, bertepatan dengan gadis itu akan memasuki sebuah butik.
"Nisa!" panggil Rian.
Nisa menghentikan langkah dan berbalik. Dilihatnya Rian tengah mengatur napas. Nisa hanya berdiri mematung di tempatnya sampai akhirnya Rian melangkah mendekatinya.
"Bisa bicara sebentar," kata Rian.
"Sorry, aku udah telat masuk kerja." Nisa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Lima menit," kata Rian, mengangkat lima jarinya.
"Ya udah, mau ngomong apa?" Nisa menoleh ke arah tempat kerjanya, takut kalau tiba-tiba bosnya muncul.
"Banyak. Jadi nggak mungkin aku ngomong di sini sekarang. Kapan kamu ada waktu?" tanya Rian.
"Nggak tau, aku sibuk kerja dan pulang malam," jawab Nisa mulai tak sabar.
"Kamu pulang jam berapa? Biar aku jemput," lanjut Rian.
Belum sempat Nisa menjawab, seorang wanita bertubuh gemuk sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan tidak suka.
"Nisa!" panggilnya.
Cepat Nisa menoleh, lalu berbalik pada Rian. "Sorry, aku harus kerja," ujar Nisa lalu berlari memasuki butik.
Rian ingin mencegah tapi Nisa sudah masuk. Dipandanginya pintu butik dengan perasaan tak menentu kemudian berbalik meninggalkan butik tersebut dengan langkah gontai.
Sore harinya, setelah mengantar Tiara pulang, Rian kembali ke butik tersebut. Memutuskan menunggu sampai Nisa pulang kerja, walaupun ia tidak tahu jam berapa Nisa pulang. Sambil menunggu, Rian memesan secangkir kopi di sebuah cafe yang berada tepat di depan butik.
Dua jam berlalu dan masih belum ada tanda-tanda kalau Nisa akan muncul. Matahari pun sudah kembali ke peraduan, meninggalkan semburat merah yang makin lama makin memudar. Rian menyeruput kopinya yang sudah dingin lalu beranjak dari duduknya. Bosan menunggu tanpa kejelasan, ia memutuskan bertanya pada barista cafe, kapan butik di depan akan tutup.
Setelah mendapatkan informasi bahwa butik akan tutup pukul 10, yang artinya masih kurang lebih tiga jam lagi, Rian melangkah menuju mobilnya terparkir. Memutuskan menunggu di dalam mobil saja. Tiga jam yang terasa seperti tiga tahun. Detik-detik berjalan begitu lambat dan menyiksa. Entah berapa puluh kali sudah Rian hanya bolak balik mengecek arlojinya dan hanya bisa menghela napas pasrah tiap kali melihat waktu hanya berlalu beberapa menit saja.
Hampir menyerah, akhirnya tiga jam yang menyiksa itu terlewati. Tak lama kemudian, satu persatu lampu butik pun padam disusul beberapa orang gadis keluar dari sana. Rian memindai satu persatu orang yang keluar, mencari apakah ada Nisa di antara gadis-gadis itu. Rian menemukannya. Gadis itu berjalan bersama wanita gemuk tadi sore. Rian terus mengawasi, mencari waktu yang tepat untuk menemui Nisa. Tampak Nisa saling berpamitan dengan teman-temannya dan berjalan sendirian.
Rian berlari cepat menghampiri Nisa. "Nisa!" panggilnya.
Gadis itu menoleh dan tampak kaget melihat Rian. "Rian?" gumamnya.
"Bisa kita bicara?"
Gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya. "Tapi ini udah malam, aku udah mau pulang," jawab Nisa.
"Biar aku antar, sekalian bicaranya di dalam mobil aja," ujar Rian.
"Nggak perlu. Kita bicara lain kali aja. Permisi," balas Nisa lalu tanpa meminta persetujuan Rian ia berjalan cepat meninggalkan Rian.
"Nis, Tunggu! Rian mengejar Nisa dan langsung menyambar lengan Nisa.
"Rian, lepas." Nisa meronta, Rian pun melepaskan pegangan tangannya. "Aku rasa, nggak ada yang perlu dibicarain. Bukannya masalah kita udah selesai?" kata Nisa sinis.
Rian menggeleng. "Bagi kamu mungkin udah selesai, tapi bagi aku belum. Aku mau tanggung jawab."
Bersambung.