Brother Zone

Brother Zone
Tentang Tiara



Setelah Rena menghilang di balik pintu, Dhika kembali bergulat dengan pikirannya sendiri. Obrolan dengan Rena barusan mulai mengusik pikirannya. Rena benar, mau sampai kapan ia bersikap pengecut seperti ini? Namun, ia sendiri tak tahu bagaimana harus memulai, lebih tepatnya takut.


Dengan malas Dhika meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Membuka aplikasi chat berwarna hijau, lalu mencari kontak Tiara. Setelah menemukannya, ia membuka profilnya, masih dengan foto yang sama, foto Tiara memegang kue tart dengan lilin angka 23 di atasnya. Sudah hampir setahun foto itu tak pernah berganti. Sama seperti perasaannya yang tak ada kemajuan.


Setahun lalu, ia sengaja meminta Rena untuk memberikan sedikit kejutan kecil untuk Tiara, dan setelah itu ia berencana untuk mengungkapkan perasaan yang sudah dipendamnya sejak lama. Namun, lagi-lagi keraguan itu muncul yang makin hari bukannya menghilang, justru makin membesar.


Ingatan Dhika semakin jauh melayang, kembali ke tiga tahun lalu, saat pertama kali Tiara hadir dalam hidupnya. Tak ada yang istimewa, hari-hari pun berlalu begitu saja, bahkan Dhika sendiri tak sadar sejak kapan gadis itu mulai mengisi hatinya.


Tiara adalah gadis sederhana, yang hanya bermodalkan ijazah SMA melamar sebagai kasir di minimarket yang dikelolanya bersama Rena. Sebagai seorang perantau, Tiara sangat mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain, tapi tidak segan untuk membantu. Di awal Tiara bekerja, minimarket Rena belumlah sebesar sekarang yang sudah memiliki banyak karyawan. Dulu, hanya ada tujuh karyawan termasuk staf gudang, itupun harus dibagi dua shift. Terkadang, saat pekerjaan sedang banyak-banyaknya, ia juga harus turun tangan membantu. Mungkin itulah yang membuatnya lebih sering berinteraksi dengan Tiara.


Senyum Dhika tersungging saat ingatannya terhenti pada momen di mana untuk pertama kalinya Tiara memanggilnya dengan sebutan 'Mas' yang selama tiga bulan sebelumnya selalu memanggilnya 'Pak'.


Saat itu, Dhika sedang membantu karyawan lain menata barang-barang di rak. Saat sedang menata mie instan, Dhika tidak memperhatikan merek dari mie-nya, jadi ia menyusun hanya berdasarkan jenisnya saja. Kebetulan saat itu Tiara lewat di belakangnya.


"Duh, Pak, ini tempatnya bukan di sini, tapi di sini," protes Tiara sambil memindahkan mie yang di susun Dhika tadi, ke rak bawahnya.


"Sama saja, sama-sama mie goreng juga," jawab Dhika datar.


"Tapi kan beda brand. Lagian, nih udah ada merek sama daftar harga. Nanti, costumer pada protes harga di rak sama di struk beda," oceh Tiara sambil menunjuk daftar harga.


"Cerewet," dengus Dhika, walau dalam hati ia memuji ketelitian Tiara.


Tiara melirik malas pada Dhika, lalu beranjak. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, ia kembali protes saat melihat barang yang tersusun tidak pada tempatnya.


"Ini Bapak juga 'kan yang nyusun?" tuduh Tiara.


Dhika hanya mengangkat bahu, tak peduli, walaupun memang ia yang menyusunnya.


"Duh, lebih baik Bapak duduk aja, deh, nggak usah bantuin. Malah bikin kerjaan lagi," omel Tiara sambil kembali membetulkan susunan barang.


Dhika berjalan mendekati Tiara. Rasa penasarannya sedikit tergoda untuk bicara dengan gadis berambut ikal itu. Dari semua karyawannya, hanya gadis itu yang dengan begitu entengnya bicara padanya, sedangkan yang lain tampak takut-takut.


"Kok jadi kamu yang memerintah saya. Bos-nya siapa, sih?" sarkas Dhika.


"Ya Bapak," Tiara menoleh pada Dhika sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, "makanya saya bilang Bapak duduk aja," lanjutnya tanpa menatap Dhika.


"Hm, kamu panggil kakak saya Mbak tapi kenapa manggil saya bapak?" Akhirnya unek-unek yang selama ini mengganjal ia keluarkan juga.


"Ya karena Bapak cocok dipanggil bapak. Lagian, yang lain juga pada manggil bapak, kan?" sahut Tiara santai.


"Cara kamu manggil bapak tuh kayak ngeledek saya," balas Dhika.


"Nggak ah, saya nggak ngeledek bapak." Tiara menggeleng cepat. "Saya manggil bapak ya karena wajah bapak emang udah kayak bapak-bapak. Soal kenapa manggil Mbak Rena mbak ya karena Mbak Rena yang minta," jelasnya.


Dhika berkacak pinggang, menatap tajam pada Tiara. "Umur saya dengan kamu hanya selisih lima tahun, Tiara, saya belum setua bapak kamu, jadi berhenti panggil saya bapak," kata Dhika lalu berbalik, kembali ke tempatnya menyusun mie instan.


"Terus saya panggil apa?" tanya Tiara polos.


"Terserah," sahut Dhika tanpa menoleh.


"Dipanggil bapak nggak mau, ditanya jawabnya terserah, udah kayak cewek PMS aja," omel Tiara dengan suara pelan sambil kembali menyusun aneka bumbu.


Wush!


Bumbu penyedap rasa yang akan disusunnya tadi sudah jatuh berserakan di lantai. Sementara ia berdiri kaku sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang. Ia menoleh pada Dhika yang sudah memandanginya dengan tatapan menantang.


"Huft." Tiara menghela napas lega, setelah menyadari apa yang terjadi.


Ini bukan pertama kalinya bosnya itu nyaris membuat jantungnya copot. Sialnya, ia punya kebiasaan buruk jika terkejut. Ia akan berteriak menyebut apa yang terlintas di kepalanya, atau dengan umpatan khasnya. Tiara berjongkok, memunguti bumbu-bumbu yang berserakan tadi.


"Mampus!" Lagi-lagi ia hampir berteriak karena tiba-tiba Dhika sudah berada di depannya saat ia berdiri.


"Kamu bilang apa tadi?" Dhika menatap Tiara tajam.


"Hah? Bilang apa?" Tiara balik bertanya, sedikit linglung karena terkejut tadi. "Oh, masako!" seru Tiara setelah fokusnya kembali. Ia menunjukkan sebungkus masako pada Dhika.


"Bukan. Yang sebelumnya," kata Dhika dengan tatapan mengintimidasi.


"Hehehe." Tiara terkekeh padahal dalam hati ia berdo'a semoga bosnya itu tidak marah.


"Udahlah, lupain. Hm, tapi boleh juga tuh. Mas, tapi nggak pake ako." Dhika melirik masako yang dipegang Tiara.


"Maksudnya manggilnya mas?" tanya Tiara memastikan.


Dhika hanya mengangguk dengan senyum kaku.


"Siap, Mas!" seru Tiara dengan pose hormat.


Mendengar panggilan baru itu membuat sudut bibir Dhika tersungging. Ditambah kekonyolan Tiara barusan membuatnya geleng-geleng kepala sambil menahan senyum. Sebelum gadis berkulit kuning langsat itu berulah lagi ia memutuskan pergi dari hadapan gadis itu. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, gadis itu sudah memanggilnya lagi.


"Mas!"


Dhika menoleh, menatap Tiara dengan sebelah alis terangkat.


"Tau apa yang bikin Mas kayak bapak-bapak?"


"Hm?" Dhika berbalik, melipat kedua tangan di dada, menunggu jawaban Tiara.


"Jarang senyum," jawab Tiara singkat lalu beranjak dari tempatnya, berpindah ke rak lain, meninggalkan Dhika yang masih bergeming dengan ekspresi bertanya-tanya.


Tiap kali mengingat momen itu, Dhika tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Setiap kenangan manis yang ia miliki bersama Tiara seperti sebuah hipnotis yang akan membuatnya terus tersenyum. Seperti sekarang. Dhika tidak menyadari seseorang memandanginya dengan tatapan terheran-heran.


"Dhika! Heh, Dhika!"


Dhika gelagapan,"Eh, iya, Dul?" katanya setelah fokusnya kembali.


"Pentesan, digedor-gedor tapi ndak denger, rupanya melamun, mana senyum-senyum sendiri. Mikirin sopo toh?" omel lelaki kurus itu dengan logat Jawa yang kental.


Merasa tertangkap basah sedang senyum-senyum sendiri, Dhika berusaha mempertahankan ekspresinya agar tetap terlihat tenang. Samar-samar senyumnya masih terukir di sudut bibir, kemudian menggeleng menepis bayangan Tiara dari kepalanya.


Tiara ... Tiara ... Kamu benar-benar memenuhi otakku sekarang, batin Dhika.


Bersambung.