Brother Zone

Brother Zone
Kejutan yang Gagal



Spontan Tiara memandang marah pada Dhika. Ya, ia memang menyukai Rian, tapi hanya sebatas teman. Ia senang berteman dengan Rian karena Rian lebih nyaman diajak bicara. Rasa sukanya bukan seperti perasaannya pada Dhika. Ada banyak alasan yang membuatnya tidak bisa menuruti permintaan Dhika kali ini, bukan karena ia lebih mementingkan Rian.


Tiara awalnya hanya menjadikan Rian sebagai alasan untuk menghindari Dhika, tapi mendengar tuduhan Dhika membuat emosinya tersulut. Kalaupun tuduhan Dhika benar, apa hak laki-laki itu untuk marah? Alih-alih berpikir untuk menyangkal, Tiara justru menantang Dhika dengan mengakui kalau ia menyukai Rian.


"Mas sendiri 'kan yang bilang, kalau Ara harus belajar membuka hati. Sekarang, Ara mau mulai belajar membuka hati, kenapa Mas malah nggak suka?" tantang Tiara dengan suara bergetar. Sebisa mungkin ia berusaha meredam emosinya.


Ingin rasanya ia berteriak, memaki Dhika yang tak pernah tahu bagaimana tersiksanya ia dengan perasaannya sendiri. Susah payah ia berusaha menguburnya dalam-dalam, sebisa mungkin ia menghindar dari Dhika, walau kenyataannya semakin ia menghindar, justru ia semakin tersiksa.


"Nggak masalah kalau kamu dekat dengan siapapun, tapi jangan Rian! Apa karena Rian punya segalanya, jadi kamu lebih memilih Rian!?" balas Dhika. Ia tak bisa lagi menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap Rian.


"Ara mau deket sama siapapun itu hak Ara, Mas. Mas sendiri juga punya pacar 'kan? Dan Ara nggak mempermasalahkan itu, karena itu hak Mas!" Nada bicara Tiara meninggi, membuat beberapa rekan kerja yang bersiap-siap hendak pulang menoleh ke arah mereka.


Sesaat keduanya tersadar, sedang berada di tempat yang tidak tepat. Namun, Tiara seolah tak peduli. Emosi yang dipendamnya terasa meluap-luap dadanya naik turun menahan marah. Ini pertama kalinya Tiara bertengkar dengan Dhika. Biasanya jika benar-benar kesal dengan laki-laki itu ia hanya diam.


Dhika menatap Tiara tajam. Dadanya juga naik turun, bukan karena marah, tapi karena sesak mendengar kata-kata Tiara. Rasanya sakit, seperti sebuah tinju baru saja menghantam dadanya. Tiara benar, ia bukan siapa-siapa bagi Tiara. Hanya seorang pengecut yang bahkan mengakui perasaan sendiri pun ia tak berani.


"Mas, Ara nggak mau nantinya di-cap sebagai perusak hubungan orang lain. Jadi, mulai sekarang Mas nggak usah terlalu deket-deket Ara lagi. Ara menghargai perasaan pacar Mas, jadi Mas juga harus ngerti perasaan pacar Mas sendiri," ujar Tiara pelan, emosinya sudah sedikit teredam.


"Ra, dengerin penjelasan Mas dulu ...."


"Maaf, Mas," potong Tiara sebelum Dhika menyelesaikan ucapannya. "Ara nggak mau ribut sama Mas cuma soal kayak gini. Nggak enak dilihat sama yang lain. "Tiara meraih tasnya sambil mengusap airmata yang hampir tumpah di sudut matanya. "Ara pulang dulu," pamitnya lalu berjalan cepat keluar dari ruang khusus karyawan.


Dhika mengacak rambutnya gusar. Ia mengerang pelan, menyadari kebodohan yang sudah dilakukannya. Dengan langkah lebar ia menuju ruangannya. Tak lama kemudian, terdengar suara dentumam pintu yang ditutup kasar, membuat beberapa karyawati yang belum pulang terkejut.


***


Hampir tengah malam, Dhika akhirnya sampai di Malang, di rumah ibunya. Sebenarnya ia berencana pulang besok pagi, tapi karena ia gagal untuk mengajak Tiara, akhirnya ia putuskan untuk pulang malam itu juga. Dengan membawa perasaan kecewa, Dhika keluar dari mobil, lalu melangkah gontai sambil menenteng sebuah paper bag yang berisi hadiah untuk ibunya.


Dhika mengetuk pintu pelan, beberapa kali ia mengetuk tapi tak ada sahutan. Wajar saja, jam segini ibunya tentu sudah tidur. Akhirnya Dhika memutuskan untuk menelepon untuk memberitahu ibunya bahwa ia ada di luar. Tak lama kemudian, Fatimah muncul dengan wajah kaget bercampur khawatir.


"Dhika, kok pulang malam-malam begini? Katanya besok pagi baru mau pulang?" rong-rong Fatimah sambil menatap Dhika dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Dhika hanya tersenyum menanggapi omelan Fatimah. "Udah nggak sabar mau ketemu Ibu," jawabnya asal. "Ini untuk Ibu, selamat ulang tahun, Bu," ucapnya seraya menyerahkan paper bag yang dibawanya tadi lalu menyalami Fatimah, menciumnya takzim.


"Karena Dhika sayang Ibu," jawab Dhika seraya menggandeng ibunya masuk ke rumah dan menuntunnya ke sofa di ruang tamu.


"Kamu mau makan? Atau mau Ibu buatkan teh?" Fatimah menawarkan.


"Dhika udah makan di jalan tadi," bohongnya.


Padahal sejak siang ia tidak pernah makan apapun selain air putih. Pertengkarannya dengan Tiara tadi membuat selera makannya hilang.


"Kamu baik-baik aja kan, Nak?" Fatimah tampak khawatir.


Dhika nggak apa-apa, Bu. Cuma capek aja karena pulang kerja langsung ke sini. Mungkin masuk angin," jawab Dhika berusaha tersenyum.


"Mau ibu kerokin?" tawar Fatimah.


"Nggak usah, Bu. Dhika mau langsung ke kamar aja, mau istirahat. Ibu juga istirahat, ya," jawab Dhika lalu beranjak menuju kamar.


Fatimah tak banyak bicara lagi, tapi ia dapat menangkap sesuatu yang tidak baik-baik saja di wajah putranya itu. Apalagi sampai pulang malam-malam begini, ia bisa memastikan anaknya itu sedang ada masalah. Ia sudah hapal kebiasaan putranya itu, jika perasaannya sedang tidak baik-baik saja, Dhika pasti pulang.


Sementara itu di kamar, Dhika menghempaskan tubuhnya ke kasur, matanya menatap langit-langit kamarnya yang bercat putih, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Ia mengacak rambutnya, frustrasi. Rencana kejutan yang ia susun serapi mungkin ternyata gagal yang justru membuatnya bertengkar dengan Tiara.


Dhika mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dengan bentuk hati dari saku celananya. Ia membukanya, menampakkan sebuah cincin emas putih lengkap dengan diamond di atasnya. Tiara sendiri yang memilihnya saat ia mencari hadiah untuk ibunya. Ia sudah merencanakan sebuah kejutan untuk Tiara. Dimulai dengan hadiah kecil tadi pagi, lalu besok ia berencana membawa Tiara untuk bertemu ibunya sekaligus merayakan ulang tahun kedua wanita itu yang ternyata cuma beda sehari dan terakhir ia akan mengungkapkan perasaannya dan melamar gadis itu.


Namun, semuanya hanya tinggal rencana. Karena kebodohannya juga, Tiara akhirnya salah paham dengan menganggap bahwa selama ini ia punya pacar. Pantas saja gadis itu selalu menghindarinya. Lalu, bagaimana ia harus merebut hati gadis itu kembali? Sedangkan gadis itu seperti memasang sebuah tembok tak kasat mata di antara mereka.


Sama halnya dengan Tiara. Gadis itu masih berguling-guling di atas kasur dengan mata yang enggan terpejam. Pikirannya masih berkelana ke kejadian tadi siang. Ragu apakah tindakannya benar, tapi juga sedikit lega karena apa yang selama ini mengganjal di hatinya akhirnya tumpah juga.


Sekarang, ia bingung bagaimana berhadapan dengan Dhika besok. Apakah ia harus minta maaf karena berkata sedikit kasar? Atau ia harus bersikap biasa saja seolah-olah tidak ada yang terjadi?


Tiara mengacak rambutnya. "Argh. Besok aku harus gimana!?"


Bersambung.