
Dering telepon memaksa Tiara untuk membuka mata, tapi sepertinya matanya masih enggan terbuka. Dengan mata terpejam ia meraba-raba sekelilingnya, mencari benda yang menjadi sumber suara. Setelah menemukannya, ia membuka sedikit matanya, mengintip untuk melihat nama sang penelepon. Matanya langsung terbuka lebar saat melihat nama Rian terpampang di layar. Sedikit heran, untuk apa Rian meneleponnya pagi-pagi begini?
Tiara melirik jam yang menempel di dinding yang menunjukkan waktu pukul 10. Ia segera bangun dan mengumpulkan kesadaran. Berdehem sebentar --agar tidak ketahuan kalau ia baru bangun tidur --sebelum menjawab telepon yang berdering untuk kedua kalinya.
"Halo."
"Tiara, kamu di mana? Kamu nggak kerja?" rongrong orang di seberang telepon.
Tiara mengernyit bingung, tidak biasanya Rian menanyakan pekerjaannya. "Aku libur hari ini," jawab Tiara.
"Oh, pantas. Dari tadi aku tungguin, tapi kamu nggak datang-datang."
Jawaban Rian membuat Tiara makin tidak mengerti. "Emang kamu di mana?"
"Aku di minimarket."
"Ngapain?"
"Dhika menghilang. Kita semua lagi panik nyariin dia."
"Hah! Menghilang? Kok bisa?" Kening Tiara berkerut, tak percaya.
"Entahlah, nomornya nggak bisa dihubungi. Dia nggak ada menghubungi kamu atau bilang dia ke mana?" tanya Rian lagi.
Tiara menggeleng pelan walau ia tahu Rian tidak bisa melihatnya. Namun, otaknya bekerja tanpa diperintah. Pikirannya langsung kembali ke kejadian kemarin sore. Apa karena pertengkaran mereka kemarin membuat Dhika benar-benar marah lalu menghilang untuk menenangkan diri?
"Trus, sekarang gimana?" tanya Tiara.
"Aku bercanda," ujar Rian dengan nada serius. Suaranya terdengar seperti menahan tawa yang akhirnya pecah menjadi gelak.
"Ih, dasar!" dengus Tiara. Ia juga tidak langsung percaya begitu saja. Bagaimana mungkin orang sebesar Dhika bisa menghilang? Lagipula, ini bukan hal baru, Dhika memang sering tiba-tiba menghilang dan muncul beberapa hari kemudian dalam keadaan baik-baik saja. Namun, tadi ia mulai sedikit panik juga, takut seandainya Dhika benar-benar menghilang.
"Tapi beneran, Dhika nggak ada di sini. Makanya aku ke minimarket untuk antar kunci cadangan," jelas Rian.
"Oh," Tiara hanya ber oh ria.
"Oh, iya, mumpung kamu libur, temanin aku ke suatu tempat, yuk," ajak Rian.
"Ke mana?"
"Ada deh. Kamu siap-siap aja, sejam lagi aku jemput," ujar Rian yang mau tak mau disetujui oleh Tiara.
Padahal niatnya akan tidur sepuasnya hari ini. Tadi malam, ia kesulitan tidur dan akhirnya malah menonton serial drama hingga subuh. Setelah subuh barulah ia tidur. Itulah sebabnya kenapa ia belum juga terjaga padahal sudah pukul 10. Dengan malas Tiara bangkit dari tempat tidur, bergegas bersiap diri sebelum Rian datang menjemputnya.
***
Tiara dan Rian berjalan beriringan memasuki sebuah cafe yang dilengkapi dengan ruang karaoke di pinggiran Kota Pahlawan itu. Seorang pria berseragam hitam putih langsung menyambutnya. Rian menyerahkan selembar kertas pada pria itu, membacanya sebentar dan langsung menuntun mereka menuju salah satu ruangan di lantai dua.
Pria itu membukakan pintu, menampakkan ruangan besar bernuansa putih dengan design interior minimalis. Satu set sofa berwarna krem yang dilihat dari bentuknya saja sudah membuat Tiara menebak kalau sofa itu pasti empuk. Lengkap dengan AC dan alat karaoke dengan TV LCD berukuran besar.
“Ayo, Ra,” ajak Rian lalu mendahului Tiara untuk masuk.
Ragu-ragu Tiara melangkah masuk, dalam hatinya bertanya-tanya, untuk apa Rian mengajaknya ketempat seperti ini. Ia bukan tidak pernah menginjakkan kaki di tempat karaoke, tapi hanya berdua dengan laki-laki merupakan pertama kali baginya.
Bagaimanapun juga, ia baru mengenal Rian, ia tidak tahu bagaimana sifat dan hati Rian. Siapa tahu Rian akan berniat buruk. Pikiran Tiara mulai melantur ke mana-mana lagi, entah sejak kapan dia jadi overthinking begini. Tiara kembali teringat perkataan Dhika yang melarangnya untuk dekat dengan Rian. Apa Rian memang bukan laki-laki baik-baik?
“Ayo, duduk. Kok malah bengong,” ujar Rian karena Tiara hanya berdiri di tepi sofa.
Dengan canggung Tiara mendaratkan bokongnya di sofa, sedang Rian mulai membuka buku menu.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Rian sambil menggeser buku menu ke hadapan Tiara.
“Apa aja, deh. Samain sama kamu juga nggak apa-apa,” jawab Tiara. Ia sama sekali tidak bisa memikirkan apa yang ingin ia makan, perasaannya mendadak tidak enak.
“Oke.” Rian menutup buku menu, bertepatan dengan pria yang tadi mengantar mereka kembali memasuki ruangan.
Rian bangkit dari duduknya, menghampiri pria itu. Rian berbisik pada pria itu seperti menjelaskan sesuatu, sementara pria itu hanya mengangguk berkali-kali. Rian mengacungkan jari jempol yang diikuti oleh pria itu, kemudian keluar dari ruangan. Tiara tak bisa mendengar obrolan Rian dengan pria itu, membuat otaknya semakin berpikir macam-macam. Jangan sampai Rian benar-benar berniat buruk padanya, pintanya dalam hati.
“Oke, sambil nunggu pesanannya datang, kita nyanyi-nyanyi dulu,” kata Rian lalu mulai memilih lagu.
Lampu utama padam, berganti dengan lampu temaram yang berkelap-kelip dengan berbagai warna. Rian asyik sendiri dengan lagu yang dinyanyikannya, sementara Tiara sama sekali tidak bisa menikmati lagunya. Bahkan ketika Rian menawarkannya untuk bernyanyi, Tiara menolaknya dengan alasan ia tidak bisa bernyanyi. Namun, tiba-tiba gelap, tapi Tiara masih bisa mendengar suara orang-orang bernyanyi dari ruangan lain. Jika memang ada pemadaman listrik, tentu ruangan lain juga akan mati, tapi kenapa sepertinya hanya ruangan ini saja yang mati lampu?
“Mati lampu, Ra. Kamu tunggu di sini sebentar, ya,” kata Rian. Tanpa menunggu persetujuan Tiara, Rian keluar dari ruangan.
Rasa takut mulai menyerang Tiara. Tiara bukan orang yang takut gelap, tapi kali ini ia benar-benar takut. Takut kalau Rian memang punya niat jahat dan Rian sengaja memadamkan lampunya. Dalam hati Tiara mulai menyesal tidak mendengarkan ucapan Dhika waktu itu. Mau minta tolong pada Dhika pun ia rasa tidak bisa saat ini, karena kata Rian Dhika tidak bisa dihubungi. Atau jangan-jangan karena Rian tahu Dhika tidak akan bisa menolongnya, makanya Rian mulai menjalankan niat buruknya? Tiara tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Ia sudah ingin menangis karena takut.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka. Ruangan mulai sedikit disinari cahaya dari lilin yang di bawa Rian. Lalu, lampu yang semula padam, satu persatu mulai menyala dengan berbagai warna, disusul sebuah lagu yang sangat akrab di telinga Tiara.
Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday Tiara.
Bertepatan dengan lagu berakhir, lampu utama pun menyala. Ruangan yang semula redup, kini terang kembali, menampakkan sosok Rian yang berdiri di depannya sambil memegang sebuah kue lengkap dengan lilin angka 24 di atasnya. Tangis yang tadi hampir tumpah, kini benar-benar tumpah. Bukan karena takut, tapi lega sekaligus terharu dengan apa yang dilakukan Rian.
“Selamat ulang tahun, Tiara. Do’a terbaik untuk kamu,” ucap Rian.
"Makasih," balasnya.
Tiara mengusap air matanya, lalu tertawa pelan. Lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri dengan segala pikiran buruknya tadi. Jika memang Rian membawanya ke sini dengan niat memberinya kejutan, maka Rian menang. Kejutan dari Rian benar-benar membuatnya kehabisan kata-kata.
“Kamu nangis, Ra?” tanya Rian, sedikit bingung melihat Tiara yang tersenyum sambil menahan tangis.
“Nggak, kok. Oh iya, kamu kok tahu ulang tahun aku?” tanya Tiara setelah merasa tenang.
“Kan calon pacar, harus tau dong.”
Bersambung.