
Dalam hati Dhika mengeluh, apa yang salah dengan jawabannya. Ia menjawab jujur, ia memang merindukan gadis itu. Sehari saja tak melihat senyuman dari bibir mungil itu, rasa seperti ada yang kurang dari hidupnya. Namun, setiap rasa yang berusaha ia ungkapkan selalu dianggap gurauan oleh Tiara.
"Jadi, mau sampai kapan berdiri di sini? Tunggu kering?" kata Tiara yang mulai gerah dengan cuaca yang panas.
"Oke, oke, kita jalan. Oh iya, kamu udah makan? Kalau belum, kita makan dulu," kata Dhika sambil menyerahkan helm --yang selalu dibawanya-- pada Tiara.
"Belum, sih. Mas udah makan?" Tiara balik bertanya.
"Udah, tadi kebetulan ketemu teman dan diajak makan. Tapi, kalau kamu mau bandarin Mas makan, nggak apa-apa makan lagi," gurau Dhika.
"Langsung pulang aja, deh. Ara makan di kost-an aja nanti," kata Tiara sambil menaiki motor.
"Oke," jawab Dhika singkat dan mulai menjalankan motornya.
Namun, baru beberapa ratus meter motor melaju, Dhika membelokkan motornya ke sebuah warung pinggir jalan. Ia dan Tiara sudah biasa makan di sana. Di warung tersebut tersedia berbagai menu khas Surabaya, seperti rujak cingur, rawon, sop, soto, bakso, mie ayam, sate dan lain sebagainya yang semuanya memiliki citarasa yang khas.
"Kok kita ke sini?" tanya Tiara.
"Biasanya kalau kita ke sini, mau ngapain?"
"Makan."
"Ya udah, ngapain tanya lagi," kata Dhika sambil melepas helm.
Tiara pun tak banyak bicara lagi. Percuma berdebat dengan Dhika, Dhika akan tetap memaksanya. Ia mengekor di belakang Dhika dan memasuki warung yang cukup ramai itu. Warung itu memang selalu ramai, karena selain menu yang banyak pilihan, harganya juga terjangkau.
"Kamu mau makan apa?" tanya Dhika setelah mereka mendapatkan tempat duduk.
"Sate aja, deh, kayaknya," jawab Tiara.
"Minumnya?"
"Es teh aja."
Dhika melambaikan tangan pada seorang pelayan. Dengan sigap pelayan itu menghampirinya.
"Sate satu, es teh satu, es campur satu." Dhika menyebutkan pesanannya.
"Kok pesan makannya cuma satu?" kata Tiara setelah pelayan tersebut pergi.
"Yang belum makan 'kan cuma kamu," jawab Dhika.
"Ih, kalau tau gitu nggak usah mampir aja tadi," kesal Tiara.
"Bawel amat, sih. Tinggal makan aja, kok," kata Dhika, sedang Tiara hanya memanyunkan bibirnya.
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun tiba. Dhika menyodorkan sate dan es teh untuk Tiara, kemudian langsung menyeruput es campurnya.
"Kalau tau Mas mau pesan es campur, Ara juga pesan es campur aja tadi," sesal Tiara.
"Ya udah, pesan aja lagi."
"Trus, ini siapa yang mau makan?" Tiara memandangi makanannya yang belum terjamah.
"Ya kamu makan juga," jawab Dhika santai.
"Ara nggak serakus itu kali."
"Ya udah, sini tukaran," kata Dhika, bermaksud menukar es campur nya dengan sate.
"Nggak usah. Ara makan ini aja. Es campurnya nanti beli dibungkus aja," kata Tiara seraya mulai menyantap makanannya dengan wajah masam.
Dhika mencolek pipi Tiara dengan telunjuk, lalu memajukan tubuhnya dan berbisik, "Kamu lagi PMS, ya?"
Tiara mendelik tajam, "Ngapain, sih, tanya-tanya," dengus Tiara.
"Berarti benar, pantesan kamu sensian banget hari ini," sahut Dhika yang berhasil membuat gadis bertubuh mungil itu semakin memanyunkan bibir.
Dhika hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat Tiara. Gadis berusia 23 tahun itu selalu saja membuat Dhika gemas. Ia suka melihat sisi imut Tiara yang ditunjukkan hanya padanya.
Tanpa sadar, Dhika menyendok es campurnya lalu mengarahkannya ke mulut Tiara. Tiara menghentikan suapan satenya, lalu menatap Dhika seolah bertanya "apa maksudnya?".
Dengan ragu Tiara membuka mulut. Wajahnya tiba-tiba terasa hangat. Otaknya memproses perlakuan Dhika tadi dengan tidak biasa. Ia makan es campur dari sendok Dhika, bukankah itu berarti secara tidak langsung bibirnya menyentuh ... cepat Tiara menggeleng, menepis pikiran kotornya sendiri.
Dhika yang melihat ekspresi aneh Tiara akhirnya bertanya, "Kenapa, Ra?"
"Nggak. Nggak apa-apa, rasanya aneh habis makan sate trus minum es campur," jawab Tiara cepat, mencoba sesantai mungkin padahal jantungnya sudah seperti arena pacuan kuda.
Dhika hanya tersenyum lalu keduanya fokus menikmati makanan masing-masing. Sesekali Dhika masih mencuri pandang pada Tiara, tapi Tiara seperti tidak peduli dan fokus dengan makannya. Sepuluh menit berlalu, sate di piring Tiara sudah tandas, begitu pun dengan es campur Dhika.
"Udah selesai makannya?" tanya Dhika.
"Udah," jawab Tiara singkat sambil menghabiskan es tehnya lalu bangkit dari duduknya.
Namun, baru saja Dhika dan Tiara akan beranjak, seorang cowok datang menghampiri keduanya.
"Tiara, Dhika!" seru cowok itu sambil memandangi keduanya bergantian.
"Loh, Yan, Lo kenal Tiara?" tanya Dhika kaget.
Cowok itu terkekeh pelan, "Nggak juga. Kita juga baru kenalan di toko buku tadi," jawab Rian. "Ya, kan, Tiara?"
Tiara mengangguk, "Mas Dhika kenal Rian?" Tiara beralih pada Dhika.
Dhika mengangguk, "Rian ini adiknya Mas Andre yang Mas jemput tadi malam," jelas Dhika, sedang Tiara hanya manggut-manggut.
"Tiara ini ...." Rian menggantung ucapannya, ia menatap Dhika dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Adek gue," jawab Dhika cepat sebelum Tiara duluan menjawab, ia yakin Rian pasti mengira bahwa Tiara adalah pacarnya.
"Bukan, kok. Aku karyawan di minimarketnya," sahut Tiara.
"Oh, kok bisa kebetulan gini, ya. Ngomong-ngomong, boleh dong kapan-kapan gue main ke minimarket?" Rian menatap Dhika dan Tiara bergantian.
"Boleh," jawab Dhika singkat. "Sorry, Yan, gue duluan, ya. Gue harus balik ke minimarket lagi. Tiara, ayo!" kata Dhika cepat, sedang Rian hanya mengangguk sembari memandang heran pada Dhika.
Setelah selesai membayar makanannya, Dhika melangkah cepat menuju motornya, membuat Tiara tertinggal di belakang.
"Kok buru-buru, sih, Mas? Ara baru mau pesan es campur untuk dibungkus," kata Tiara.
"Beli es campurnya besok aja, ya. Mas harus balik ke minimarket lagi," kata Dhika beralasan, Tiara hanya mengangguk paham.
Sebenarnya bukan itu alasannya, ia hanya ingin membawa Tiara pergi secepatnya dari hadapan Rian. Entah kenapa ia tidak suka dengan fakta bahwa Rian sudah mengenal Tiara. Dan sebelum Rian lebih banyak bertanya lagi, ia memutuskan pergi.
Tanpa banyak bicara ia menjalankan motornya, menembus jalan kota Surabaya yang panas. Sepanas hatinya saat ini. Kemunculan Rian benar-benar mengacaukan mood-nya.
"Mas, katanya mau balik ke minimarket, tapi kenapa arahnya malah ke kost-an Ara?" protes Tiara saat menyadari arah jalan mereka.
"Mas antar kamu pulang dulu," jawab Dhika datar.
"Ngapain repot-repot, sih. Ara bisa pulang sendiri," kata Tiara tapi tak ditanggapi oleh Dhika.
Beberapa menit kemudian, keduanya sampai di kost-an Tiara. Tiara turun dari motor dan melepaskan helm-nya lalu menyerahkannya pada Dhika.
"Ya udah, Mas balik ke minimarket dulu, ya. Sampai jumpa besok," pamit Dhika.
Tiara merasa ada yang aneh dengan Dhika. Selama perjalanan lelaki itu banyak diam, dan sekarang, senyum yang biasa dipamerkan lelaki itu pun tak terlihat.
"Mas baik-baik aja?" tanya Tiara hati-hati.
Dhika tergagap, "Baik. Mas baik-baik aja," jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
Sebenarnya Tiara masih ingin bertanya tentang Rian, karena sejak kemunculan Rian tadi membuat Dhika mendadak berubah. Namun, melihat Dhika yang seperti ini membuatnya mengurungkan niat.
"Ya udah, Mas hati-hati di jalan," pesan Tiara.
Dhika hanya mengangguk lalu kembali menyalakan motornya. Ia masih sempat melambaikan tangan pada Tiara sebelum berlalu. Selama dalam perjalanan, bayang-bayang Rian memenuhi kepalanya. Kehadiran Rian benar-benar mengusik ketenangannya. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh seperti tergores kembali.
Bersambung.