Brother Zone

Brother Zone
Mencari Masa Lalu



Rian memelankan laju mobilnya saat memasuki sebuah perumahan di daerah Rungkut. Matanya menyapu sisi kanan setiap rumah yang mereka lewati, mencari nomor rumah yang sesuai dengan nomor yang tertulis di kertas yang dipegangnya, sementara Tiara memeriksa sisi sebelah kiri.


Beberapa hari lalu, Rian meminta Tiara untuk membantunya mencari alamat, itulah kenapa mereka ada di sini sekarang.


"Stop, Yan," kata Tiara saat melihat sebuah rumah minimalis, ada angka 9 tertulis di salah satu sisi pagar.


"Yakin ini rumahnya?" tanya Rian ragu.


"Dari nomornya sih, iya," jawab Tiara.


"Ya udah, kamu tunggu di sini, biar aku yang turun," kata Rian. Tiara hanya mengangguk setuju.


Rian turun dari mobil dan melangkah mendekati pagar. Ia melihat ada bel di dekat pintu masuk. Sebelum memencet bel, ia menoleh pada Tiara, seolah meminta persetujuan. Setelah Tiara mengangguk, barulah ia menekan tombol bel tersebut. Tak lama kemudian, seorang wanita berusia sekitar 35 tahun berlari tergopoh-gopoh keluar dan menghampiri Rian. Setelah beberapa menit mengobrol, akhirnya Rian pamit dan kembali ke mobil dengan raut kecewa.


"Gimana?" todong Tiara saat Rian memasuki mobil.


"Orangnya nggak ada," jawab Rian lesu lalu mulai menjalankan mobilnya.


"Emangnya itu rumah siapa, sih?" tanya Tiara ingin tahu.


"Teman," jawab Rian singkat.


"Teman atau teman?" goda Tiara.


Rian terkekeh, "Teman, beneran," kata Rian dengan pose swear.


"Aku nggak percaya. Cuma teman kok sampai segitunya, bela-belain nyariin jauh-jauh dari Makassar ke Surabaya."


"Soalnya, dia udah bawa kabur sesuatu yang sangat berharga buat aku," kata Rian berlagak serius.


"Dia maling?" tanya Tiara polos.


Rian tertawa, "Iya, dia maling hati aku trus main kabur gitu aja. Kurang ajar banget, kan?"


"Oalah, soal cinta toh." Tiara manggut-manggut. "Jadi ke sini tuh mau mengejar cinta yang belum selesai."


"Bukan, kok. Dia sahabat aku waktu kuliah di Jakarta, Dhika kenal orangnya. Ada sedikit kesalahpahaman yang belum di selesaikan. Makanya aku cari dia," jelas Rian.


"Oo." Lagi-lagi Tiara manggut-manggut. "Kalau nggak ketemu sama orangnya, gimana?"


"Ya udah, aku cari yang baru. Barangkali kamu mau jadi gantinya," ujar Rian diiringi kekehan.


"Rian, aku serius!" kesal Tiara.


"Oke, oke." Rian menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya, berpose "ok".


Rian tersenyum, ia senang bertemu dengan Tiara yang mau menjadi temannya selama di sini. Walaupun sebenarnya ia bisa saja meminta bantuan Dhika, tapi sahabat lamanya itu sepertinya masih belum memaafkannya.


"Oh iya, kamu sama Dhika gimana?" tanya Rian.


Tiba-tiba ia ingin tahu tentang hubungan Dhika dan Tiara, ia yakin ada sesuatu di antara mereka.


"Maksudnya Mas Dhika? Gimana apanya?" Tiara mengernyitkan dahi.


"Udahlah, nggak usah rahasia-rahasiaan sama aku. Kalian ada hubungan kan?" desak Rian.


"Beneran, nggak ada apa-apa," jawab Tiara berkeras.


"Aku sama Mas Dhika tuh cuma sebatas Bos dan karyawan, nggak lebih," jelas Tiara.


"Oke, aku percaya. Aku cuma mau bilang, Dhika itu orang yang kalau udah sayang sama satu cewek, dia bakal serius dan setia sama cewek itu. Pesan aku, jaga dia baik-baik dan jangan kecewain dia. Kalau udah kecewa, sulit baginya untuk maafin orang itu," kata Rian, seolah pesan itu untuk dirinya sendiri.


Tiara mengalihkan pandangannya ke sisi jalan raya, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Kenapa orang-orang selalu beranggapan kalau dia punya hubungan dengan Dhika? Padahal faktanya Dhika sudah punya orang lain yang disayangi dan akan menjaganya.


"Beruntungnya cewek yang dapetin hati kamu, Mas. Semoga dia nggak pernah ngecewain kamu dan bisa bahagiain kamu," ucap Tiara dalam hati walaupun hatinya perih.


***


Keesokan harinya, setelah pekerjaannya selesai, Tiara cepat-cepat menuju ruang khusus karyawan untuk mengambil tasnya. Seharusnya ia sudah bisa pulang sejak 15 menit yang lalu, tapi ada seorang kasir yang baru mulai masuk kerja hari ini dan masih butuh bimbingan, jadi Tiara harus mengajarinya sebentar.


Di depan pintu Tiara berpapasan dengan Dhika. Tiara hanya berbasa-basi sebentar lalu pamit dan buru-buru keluar dari minimarket, sementara Dhika terus mengawasi Tiara sampai akhirnya Tiara memasuki mobil.


"Sorry, ya, nunggu lama," Tiara menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang lalu memasang seat belt.


"Nggak apa-apa, santai aja." Rian mulai menyalakan mobil. "Ngomong-ngomong, nggak apa-apa nih aku jemput kamu terus? Kayaknya ada yang nggak suka, tuh." Rian menoleh ke arah Minimarket.


"Udahlah, cuekin aja. Lagian, apa haknya buat marah. Pacar bukan, suami bukan, cuma bos juga," kata Tiara sedikit kesal.


Rian terkekeh, "Ini yang nggak peka bin gengsi ketinggian siapa, sih? Kelihatan jelas kali, kalau Dhika tuh cemburu." Rian geleng-geleng kepala.


"Cemburu? Cowok nggak peka kayak gitu emang tau cemburu?" tanya Tiara sewot. Senyum Rian terkembang, pancingannya tepat sasaran.


"Kamu juga suka kan sama dia?" tuding Rian.


Tiara terdiam. Dalam hati ia mengeluh, kenapa sih Rian selalu mengungkit-ungkit hubungannya dengan Dhika. Tiara sudah bertekad untuk melupakan Dhika, tapi Rian justru selalu mengingatkannya.


"Kalian berdua tuh sama aja, nggak peka bin gengsi ketinggian, tau nggak. Saling suka tapi nggak ada yang nyadar, dan gengsi ketinggian jadi nggak ada yang mau ngaku. Sampai ayam jadi kambing juga nggak bakal bertemu itu perasaan." Rian tertawa mengejek.


"Dari mana coba kamu punya kesimpulan kalau sebenarnya kita saling suka?"


"Tiara, aku punya mata. Oke, aku buka aib sama kamu, aku ini penakluk cewek, berhadapan dengan cewek tuh makanan sehari-hari buat aku. Aku bisa ngelihat gimana cewek kalau bener-bener suka sama cowok ..."


"Oh, playboy ternyata," komentar Tiara tanpa sadar, tapi Rian sama sekali tidak tersinggung.


"Jangan bahas aku dulu, kita bahas kamu sama Dhika dulu," protes Rian. "Aku juga pernah ngelihat gimana Dhika saat dia bener-bener jatuh cinta dan aku ngelihat itu saat dia sama kamu," lanjut Rian.


Tiara menggigit bibir, hatinya ingin percaya bahwa yang dikatakan Rian benar, tapi otaknya dengan tegas menyangkal, laki-laki itu jelas-jelas punya wanita lain. Dhika sendiri mengakuinya, menyebutnya lebih dari pacar. Bisa jadi mungkin mereka sudah bertunangan dan akan segera menikah.


Otaknya memaksa untuk berpikir positif. Bisa jadi Dhika melarangnya untuk dekat dengan Rian karena tau sifat playboy Rian, bukan karena cemburu atau seperti yang dikatakan Rian.


"Oh iya, kamu pernah bilang kalau kamu sama Mas Dhika dulu sahabatan, tapi kenapa sekarang kayak orang musuhan?" tanya Tiara. Tiba-tiba rasa ingin tahunya timbul.


"Dhika nggak cerita apa-apa tentang aku atau masa lalunya?" Rian balik bertanya, membuat kening Tiara berkerut.


Tiara menggeleng ragu. "Nggak ada. Kalian ada masalah?" tanya Tiara lagi.


"Baguslah kalau Dhika nggak pernah cerita dan belum saatnya kamu tahu. Tapi, percaya sama aku, Dhika itu cowok yang baik, jadi aku minta kamu jaga dia baik-baik juga, dan aku janji suatu saat nanti aku akan cerita sama kamu," balas Rian.


Tiara hanya manggut-manggut, walau ia tidak begitu mengerti maksud Rian. Dhika sering bercerita tentang masa lalunya, tapi tidak pernah ada nama Rian dalam ceritanya. Sebenarnya, ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya tentang Dhika dan masa lalunya bersama Rian, tapi ia sendiri bingung mau bertanya apa, jadi ia putuskan menunggu Rian untuk menceritakan semuanya.


Bersambung.