Brother Zone

Brother Zone
Ketakutan Dhika



Menurut sebagian orang, hari Senin adalah hari yang paling menyebalkan, apapun alasannya, begitupun menurut Dhika. Tidak semua hari Senin, tapi ia tidak menyukai hari Senin ini. Karena menurutnya hari ini berjalan begitu lambat. Sudah tiga jam ia hanya bolak-balik melihat arloji yang melingkar di tangannya tanpa tahu harus melakukan apa, dan masih ada kurang lebih empat jam lagi baru ia akan bertemu dengan orang yang membuatnya resah sepagian ini.


Dalam hati Dhika mengeluh dengan peraturan yang dibuat Rena, yang membagi waktu kerja karyawannya menjadi dua shift. Shift pagi dimulai dari pukul delapan sampai pukul tiga, dan shift sore dimulai dari pukul tiga sampai pukul sepuluh malam, kecuali hari Sabtu dan Minggu. Hari Sabtu dan Minggu hanya satu shift dari pukul 10 hingga pukul lima sore. Sedangkan libur bergantian, pada hari Sabtu dan Minggu.


Pasalnya, Tiara mendapat shift sore hari ini dan itu membuat Dhika harus menunggu agar bisa bertemu dengan gadis hitam manis itu. Ingin rasanya ia meminta Rena agar mempekerjakan Tiara dari pagi sampai malam --seperti dirinya-- agar ia punya banyak waktu untuk bersama Tiara.


Tok ... Tok ... Tok


Dhika menoleh ke sumber suara, sambil menebak siapa gerangan yang ada di balik pintu. Sempat terbesit dalam benaknya kalau itu Tiara, tapi segera ditepisnya. Waktu baru menunjukkan pukul sebelas, mana mungkin Tiara datang secepat itu, pikirnya.


"Masuk ... eh, Mbak Rena!" serunya begitu menyadari siapa yang datang.


"Hai, Ka," sapa Rena.


Rena meletakkan kantong yang dibawanya di depan Dhika, lalu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Dhika.


"Mbak kapan pulang?" tanya Dhika.


"Tadi malam," jawab Rena sambil mengeluarkan isi kantong yang dibawanya yang berisi bekal makan siang untuk Dhika.


"Ibu gimana, udah baikan?" tanyanya lagi.


"Udah, makanya Mbak pulang. Kasian Mas Andre kalau ditinggal lama-lama. Oh iya, kamu sudah makan?" Rena balik bertanya.


Dhika menggeleng, "Nggak selera makan," jawabnya asal. Entah perutnya yang memang tidak lapar atau tenggorokannya yang tidak berselera.


Rena mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Dhika, sementara Dhika mengernyit bingung karena ia tidak merasa demam atau tidak enak badan.


"Oh, biasa itu. Kamu terkena demam rindu. Gejalanya biasanya makan tak enak dan tidur tak nyenyak" ujar Rena dengan mimik serius.


"Apaan, sih," dengus Dhika yang disambut Rena dengan seringai jail.


"Kangen Tiara, ya?" Rena makin gencar menggoda adiknya itu. "Oh iya, Ibu titip salam buat Tiara. Kata Ibu, kapan kamu mau bawa Tiara ketemu Ibu," lanjutnya.


"Mbak mulai lagi, deh. Jangan bikin Ibu berharap terus. Mbak 'kan tau, kalau aku sama Tiara nggak ada apa-apa," keluh Dhika.


"Kamu sama Tiara memang nggak ada hubungan apa-apa, tapi kamu nggak mungkin nggak punya perasaan apa-apa." Rena melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Dhika dengan tatapan menuntut.


Dhika terdiam. Tuduhan Rena benar, tapi ia tidak pernah mau mengakuinya. Ia memang menaruh rasa pada gadis itu, tapi ia tak berani berharap bahwa gadis itu juga memiliki perasaan yang sama padanya.


"Mau sampai kapan kamu bersikap pengecut begini, Ka? Apa yang kamu takuti? Takut Tiara menolak? Sampai tua pun kamu nggak akan tau gimana perasaan Tiara kalau kamu nggak pernah bertindak duluan," desak Rena.


Dhika memijat pelipisnya, merasa tak ada gunanya lagi ia menyangkal. Rena seperti mengetahui semuanya meski ia tak pernah bercerita tentang perasaannya pada siapapun.


"Entahlah, Mbak," kata Dhika pelan.


Dhika mengangguk lemah, ia rasa sikapnya pada Tiara sudah menunjukkan bahwa ia begitu menyayangi gadis itu.


"Kalau begitu, perjuangkan," tegas Rena, membuat Dhika balik menatap Rena seolah bertanya bagaimana caranya.


"Tapi, Mbak ...."


Sejujurnya Dhika benci dengan keraguan yang selalu muncul tiap kali ia ingin memperjuangkan perasaannya. Bahkan ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya selalu ragu.


"Kamu takut Tiara nggak membalas perasaan kamu? Dhika, kamu kenal Tiara bukan dua tiga hari, tapi tiga tahun," Rena mengacungkan tiga jarinya, "masa kamu nggak bisa merasakan perasaannya ke kamu seperti apa. Peka sedikit jadi cowok," kata Rena, seolah bisa membaca pikiran Dhika.


Dalam hati Dhika mengeluh, walaupun mereka sudah saling kenal dan dekat selama tiga tahun, tapi ia selalu merasa Tiara seperti memasang tembok tak kasat mata di antara mereka. Selain itu, ia punya ketakutan sendiri, ia takut tidak bisa membahagiakan Tiara.


"Nggak sesimpel itu, Mbak. Aku bukan remaja lagi, yang sekadar ingin pacaran. Aku ingin ini nantinya sampai ke jenjang yang lebih serius. Untuk sampai ke tahap itu, masih ada banyak hal yang harus aku persiapkan. Masih ada banyak hal yang aku takuti," kata Dhika, walaupun ia sendiri tidak tahu pasti apa yang membuatnya terlalu takut.


Apalagi sejak kemunculan Rian dua hari lalu, membuat ketakutan yang selama ini berusaha ia bunuh, bak sebuah teror yang kembali menghantuinya. Bahkan semalam ia tak bisa tidur karena bayang-bayang masa lalu yang pahit itu terus bergelayut di matanya.


Kehadiran Rian seperti memutar kembali kejadian lima tahun lalu. Ditambah dengan fakta bahwa Rian sudah mengenal Tiara, membuatnya makin takut kalau kejadian itu akan terulang kembali.


"Ka, kalau kamu butuh teman cerita, Mbak akan ada buat kamu. Nggak perlu sembunyiin apapun dari Mbak. Kamu percaya Mbak, kan?" ujar Rena lembut. Ia tidak banyak bertanya lagi, menunggu Dhika bersedia menceritakan sendiri semua masalahnya.


Dhika hanya tersenyum sembari mengangguk pelan. Seperti mendapat sedikit kekuatan. Setelah Rena menikah, Dhika merasa seperti kehilangan sosok kakak yang sejak kecil selalu jadi tempatnya mengadu, tapi ternyata kakaknya itu masih tetap perhatian padanya.


"Oke, kalau gitu Mbak pulang dulu. Tadinya Mbak mau ketemu Tiara, eh taunya dia shift sore, ya udah besok-besok aja, deh," kata Rena seraya bangkit dari duduknya.


"Mbak ngapain mau ketemu Tiara?" tanya Dhika curiga.


"Mau ngelamar dia buat kamu," ceplos Rena.


"Mbak!" kesal Dhika.


"Bercanda. Biasalah urusan perempuan." Rena mengibaskan tangannya di udara, seolah menepis ekspresi tegang di wajah Dhika.


"Mbak, jangan cerita apapun sama Tiara, please," mohon Dhika.


Rena hanya tersenyum kecut lalu berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu. Sebelum melewati pintu, Rena menoleh, menatap iba pada adik satu-satunya itu. Entah apa yang membuat pria yang dulunya penuh semangat itu berubah menjadi seperti orang yang tak punya tujuan hidup. Walaupun keadaan Dhika sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, dibanding saat pria itu baru pulang setelah hampir lima tahun tinggal di Jakarta untuk menimba ilmu.


Berbulan-bulan Dhika seperti tak punya jiwa. Tak pernah semangat melakukan apapun dan menarik diri dari dunia luar. Hari-harinya hanya dihabiskan di rumah, dan bekerja sebagai freelancer, sampai-sampai membuat ibunya cemas. Saat ditanya apa ia punya masalah, Dhika hanya menjawab tidak ada apa-apa. Rena yang iba melihat adiknya, berusaha membuat Dhika melupakan masalahnya.


Saat itu Rena berpikir, mungkin dengan menyibukkan Dhika dengan pekerjaan akan sedikit mengalihkan pikiran Dhika. Akhirnya Rena memutuskan untuk membuka sebuah minimarket dengan meminta bantuan Dhika. Setahun kemudian, usaha Rena membuahkan hasil. Dhika tidak terlalu terlihat sedih lagi, hanya sikap diamnya yang belum hilang. Tak lama kemudian, Tiara hadir di antara mereka yang perlahan membawa kembali jiwa Dhika yang hilang.


Bersambung.