
Tiara membolak-balik kado berbentuk hati dengan sampul berwarna kuning berhias pita pink itu sambil menebak-nebak kira-kira siapa pengirimnya. Tak ada keterangan lain selain kertas kecil bertuliskan 'Happy Birthday, Tiara' pada salah satu sisinya. Pagi tadi saat ia datang, Abdul menyerahkan kado itu padanya, tapi bilang tidak tahu siapa yang memberi. Karena harus mulai bekerja, Tiara tidak langsung membukanya, setelah jam kerjanya selesai barulah ia membukanya.
Makin penasaran dengan isinya, Tiara memutuskan membukanya. Tiara ternganga, matanya membulat melihat isi kotak tersebut. Ada sebuah boneka kucing kecil berwarna putih, dan sebuah gantungan kunci berbentuk hati lengkap dengan tulisan 'love'.
Bukan. Bukan itu yang membuatnya ternganga, tapi kotak kecil transparan yang ada dipelukan boneka kucing tersebut. Tiara meraih kotak transparan itu, membukanya dan matanya berbinar takjub. Sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk mahkota ia tarik keluar dari kotak itu.
Siapapun pengirimnya, orang itu tentu sangat mengenalnya, karena semua hal dari kado tersebut menggambarkan dirinya, kotak kado dengan warna favoritnya, juga boneka kucing. Pengirimnya tentu tahu kalau ia suka kucing. Lalu liontin mahkota yang merupakan arti dari namanya.
"Bapak memberimu nama Tiara yang artinya mahkota, dengan harapan agar kamu menjadi mahkota bagi keluarga dan bagi suamimu nanti," kata Pak Anto suatu hari.
Mata Tiara berkaca-kaca, merasa tersentuh dengan hadiah tersebut. Tiara mengeluarkan semua isi kotak tersebut, mencari sebuah petunjuk tentang pengirimnya. Tiara menemukannya, selembar kertas berwarna pink, terlipat rapi di bawah boneka itu. Tiara membukanya. Beberapa detik kemudian, keningnya berkerut dengan mata memicing.
Jaga hatimu untukku, dan jadilah ratu di istana yang akan kubangun.
Ia membaca kata-kata yang tertulis di kertas itu sekali lagi. Darahnya berdesir dan ia merasakan pipinya menghangat. Apakah ini sebuah lamaran? Tapi siapa? Batin Tiara dipenuhi tanda tanya.
"Ciee, yang dapet kado!"
"Mampus!" Tiara terlonjak, kemudian menggerutu kesal, "Mas Dhika!"
Dhika hanya menyeringai, salahnya juga yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan gadis itu.
"Dari siapa?" tanya Dhika.
"Nggak tahu. Nggak ada nama pengirimnya," jawab Tiara sekenanya, kemudian memunguti hadiah-hadiah itu, mengembalikannya ke dalam kotak dan memasukkannya ke dalam tas.
"Nih, hadiah buat kamu," ujar Dhika seraya mengeluarkan kotak persegi bersampul warna coklat dari balik punggungnya, lalu menyerahkannya pada Tiara. "Selamat ulang tahun, ya. Moga panjang umur, sehat selalu, murah rezeki, dan cepat dapat jodoh," ucapnya.
"Amin! Makasih loh, Mas. Kirain Mas nggak ingat," kekeh Tiara.
"Ya ingat, dong. Kamunya aja yang sering ngelupain Mas," kata Dhika dengan nada menyindir.
"Ngomong-ngomong, ini isinya apa?" Tiara mengguncang pelan kotak tersebut.
"Buka aja."
Tiara pun membuka tutup kotak tersebut sambil menebak-nebak isinya. Mata bulat Tiara langsung berbinar saat melihat isinya. Sehelai dress berwarna navy dengan paduan brukat berwarna abu-abu muda pada bagian dada hingga lengannya yang sebatas siku. Tiara menempelkan dress tersebut di tubuhnya, seharusnya dress tersebut panjangnya di atas lutut, tapi karena tingginya jauh dari model jadi panjangnya sedikit di bawah lutut, tapi tetap tampak cocok di tubuhnya.
"Eh, ini Mas yang beliin?" tanya Tiara masih dengan mata berbinar.
"Iya. Dibantuin Mbak Rena, sih. Kata Mbak Rena, kamu suka banget sama baju itu. Jadi Mas kepikiran aja buat ngasih itu sebagai hadiah buat kamu," jelas Dhika.
"Harganya mahal loh, Mas." Tiara teringat harga dress itu yang hampir separuh gajinya. Ia melihatnya di katalog milik Rena. Ia sempat berpikir untuk membelinya, tapi karena harganya yang mahal, ia mengurungkannya.
"Nggak apa-apa sekali-kali," sahut Dhika.
"Jangan seneng dulu. Ini nggak gratis tau," balas Dhika.
"Ih, Mas Dhika! Mending nggak usah ngasih kalau gitu. Yang utang lah, yang nggak gratis lah. Sekarang, Ara mau bayar pake apa coba? Udah ah, Ara nggak mau terima apapun lagi dari Mas," omel Tiara sembari melipat kembali dress itu dan memasukkannya kembali ke kotak lalu menyerahkan pada Dhika.
"Gitu aja ngambek," cibir Dhika.
Tiara tak menanggapi, hanya bibirnya yang mengerucut, membuat Dhika makin gemas.
"Mas mau, kamu pake dress itu besok. Temenin Mas ketemu orang yang spesial," lanjut Dhika serius.
"Pacar Mas Dhika?" tebak Tiara. Seketika Tiara merasa tertampar, bagaimana mungkin ia bisa lupa akan fakta itu.
"Nanti juga tau," sahut Dhika.
Tiara menatap Dhika tajam. Apa sih yang ada di pikiran laki-laki itu? Apa maksud laki-laki itu dengan selalu memperlakukannya begitu istimewa, tapi di sisi lain laki-laki itu punya orang yang lebih spesial.
Sekarang, laki-laki itu malah mengajaknya bertemu dengan orang spesial itu. Apa laki-laki itu tidak pernah berpikir bagaimana perasaannya saat melihat orang yang disukainya bersama orang lain? Katakanlah ia cemburu. Ya, ia memang cemburu. Mendengar Dhika menyebutnya orang spesial saja sudah membuatnya cemburu. Apalagi harus melihatnya langsung.
Seketika bayangan tentang semua kemungkinan yang akan terjadi saat bertemu orang spesial itu, berkelebat di pikiran Tiara. Bagaimana ia harus bersikap di depan mereka nantinya? Bagaimana ia mencoba bersikap biasa saja, meski dalam hatinya terasa seperti diremas. Bagaimana tanggapan orang spesial itu tentangnya? Tak masalah jika orang itu bisa menerimanya dengan baik. Tapi bagaimana jika sebaliknya, orang itu justru tidak menyukainya atau lebih parahnya ia di-cap sebagai pengganggu dalam hubungan mereka.
Tidak. Tiara menggeleng sambil terus mengatakan tidak dalam hatinya. Ia tidak boleh bertemu orang itu. Ini demi kebaikan hubungan Dhika dan orang itu, terutama kebaikan perasaannya sendiri. Ia tak bisa membiarkan hatinya terluka dengan rasa cemburu pada orang yang sudah milik orang lain.
"Ra!"
Panggilan Dhika menyentak Tiara dari lamunan. Tiara tergagap, kemudian berusaha mengembalikan fokusnya.
"Melamun lagi. Akhir-akhir ini, Mas perhatiin kamu sering banget melamun. Mikirin apa, sih?" lanjut Dhika karena Tiara tak menyahut.
"Eh, nggak mikirin apa-apa, kok, Mas. Cuma lagi ngingat, besok ada waktu apa nggak," jawab Tiara beralasan.
"Jadi gimana, besok ada waktu, nggak?" tanya Dhika dengan raut penuh harap. Akhir-akhir ini susah sekali meminta waktu gadis itu. Entah memang sibuk atau sengaja menghindarinya.
"Besok, ya. Kayaknya, kalau besok nggak bisa. Udah ada janji sama Rian soalnya," jawab Tiara.
Sebenarnya ia tidak ada janji dengan siapapun, tapi hanya itu alasan yang terlintas di pikirannya sekarang. Meski merasa bersalah karena harus berbohong.
"Kamu sekarang lebih mentingin Rian, ya," ujar Dhika dengan nada iri.
"Bukannya gitu, Mas, tapi ...." Tiara tak bisa melanjutkan bicaranya. Ia bingung harus bicara apa. Haruskah ia mengatakan hal yang sebenarnya?
"Karena kamu suka sama Rian, jadi kamu lebih mengutamakan Rian sekarang."
Bersambung.