
Menjelang pukul sembilan, Tiara pamit untuk pulang ke kost-annya. Dhika juga minta izin pada Pak Anto untuk mengantar Tiara. Dhika melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena suasana jalanan cukup ramai karena memang malam Minggu.
Sepanjang perjalanan Tiara hanya diam, pertanyaan Dhika hanya ditanggapi sekadarnya. Dhika menyadari keanehan Tiara, walaupun sebenarnya ia bisa menebak apa yang membuat gadis cerewet itu berubah pendiam. Sejujurnya, ia juga kaget mendengar pernyataan Pak Anto tadi. Tiara akan dijodohkan, apa itu artinya ia benar-benar tidak punya kesempatan lagi untuk memiliki gadis itu? Padahal, ia baru saja memberanikan diri berjuang untuk mendapatkan gadis itu. Satu hal yang membuatnya sedikit lega, Tiara tidak langsung menyetujui perjodohan itu, artinya ia masih punya peluang.
Dhika membelokkan motornya ke sebuah cafe pinggir jalan tak jauh dari kost-an Tiara, tempat mereka biasa nongkrong. Tiara sedang malas berdebat, jadi ia hanya menuruti saja saat Dhika menyuruhnya turun.
Setelah memesan segelas cappucino untuk dirinya dan lemon tea --minuman favorit Tiara--, Dhika menarik Tiara untuk duduk. Ia sengaja memilih posisi di sudut agar lebih leluasa mengobrol.
"Mas perhatiin, dari tadi kamu lebih banyak diam. Kamu sakit?" Dhika mengulurkan tangan, memeriksa kening Tiara, tapi tidak ada gejala kalau gadis itu sedang demam.
"Ara nggak apa-apa, kok. Cuma capek aja."
"Ya udah, kalau gitu minum dulu, udah tuh kita pulang."
Tiara hanya mengangguk lalu menyeruput lemon tea-nya. Cukup lama keduanya terdiam, memilih menikmati minuman masing-masing.
"Ra, Mas boleh tanya sesuatu?" Dhika akhirnya buka suara.
"Tanya apa?" kata Tiara tanpa menatap Dhika, sibuk mengaduk minumannya.
"Bima itu siapa?"
"Bapak cerita, ya?" Tiara balik bertanya.
"Nggak. Mas nggak sengaja dengar Bapak nyebut namanya kemarin pagi," jelas Dhika.
Tiara tak langsung menjawab, berulangkali ia menghela napas, lalu kembali menyeruput minumannya, sementara Dhika menunggu dengan sabar.
"Mantan kamu, ya?" tebak Dhika karena Tiara tak juga menjawab.
"Udah ah, malas bahas itu," jawab Tiara enggan.
"Coba ceritain singkatnya aja, Mas pengen tau," desak Dhika.
"Huft." Tiara menghela napas kasar sebelum memulai ceritanya. "Dia teman Ara waktu SMA. Dari kelas satu kita sekelas, tapi cuma temanan doang. Di semester akhir kelas tiga dia nyatain perasaannya. Ara yang waktu itu masih naif soal cinta dan sebenarnya juga suka sama dia, akhirnya terima dia. Setelah lulus, dia ngelanjutin kuliah ke Jakarta, dan minta Ara buat nunggu sampai dia lulus kuliah. Tapi, dua tahun kuliah di Jakarta dia tiba-tiba nggak ada kabar lagi, terakhir dia pulang bawa cewek yang dia kenalin sebagai pacarnya. Udah, semua berakhir gitu aja," cerita Tiara.
"Kamu sakit hati?"
"Dikit. Lebih ngerasa bodoh aja sih. Kok bisa-bisanya Ara percaya sama orang kayak gitu. Ara berharap banget kalau dia bakal jadi yang pertama sekaligus yang terakhir di hidup Ara. Ara udah bayangin kedepannya gimana, eh ternyata ...." Tiara tersenyum miris.
"Jadi, sekarang udah move on nih?"
"Ara bahkan udah lupa gimana wajahnya," kata Tiara santai.
"Setelah itu, kamu pernah jatuh cinta lagi?" Dhika menatap Tiara lamat-lamat, seperti mencoba membaca pikiran gadis itu.
"Pernah."
"Oh, ya? Ceritain juga, dong, orangnya gimana," kata Dhika. Sebenarnya ia tidak terlalu peduli siapa orangnya. Ia hanya ingin tahu, lelaki seperti apa yang bisa membuat Tiara jatuh cinta. Apakah kriteria gadis itu ada pada dirinya?
"Malas bahasnya, orangnya nyebelin soalnya," jawab Tiara enteng. Sepertinya sifat asli Tiara sudah kembali.
"Nyebelin gimana?"
"Nyebelin, nggak peka, tukang PHP, suka semaunya dan masih banyak lagi, deh," oceh Tiara.
"Kok, kamu bisa suka sama orang begitu?"
"Nah itu. Kalau dipikir-pikir, Ara bodoh banget, kan? Udah, ah, Mas udah kayak wartawan aja nanya mulu. Pulang, yuk, udah malam. Besok pagi harus antar Bapak ke stasiun, kan?"
Sebenarnya, masih ada banyak yang ingin ditanyakan Dhika seputar kisah cinta gadis itu, tapi Tiara sudah beranjak lebih dulu setelah menghabiskan minumannya. Setelah membayar minumannya, Dhika menyusul Tiara yang sudah berdiri di parkiran.
***
"Pak, belum tidur?" sapa Dhika pelan, takut mengejutkan.
"Eh, Nak Dhika. Bapak masih belum ngantuk," katanya.
Ragu-ragu Dhika duduk di salah satu kursi, perasaan gugup menyerangnya. Rasanya lebih hebat daripada saat sidang skripsi waktu kuliah dulu. Sepanjang perjalanan pulang dari mengantar Tiara tadi ia sudah memikirkan dan mengatur kata-kata yang ingin diucapkannya, tapi sekarang kata-kata itu seolah lenyap dari kepalanya.
"Bapak besok jadi pulang?" tanya Dhika membuka pembicaraan.
"Insya Allah jadi."
"Kenapa buru-buru sekali, Pak?"
"Bapak ndak bisa lama-lama, ada sawah yang menunggu digarap," kekeh Pak Anto. "Bapak ke sini cuma mau jenguk Tiara, rasanya dua hari ini cukup untuk mengobat rindu," lanjutnya.
"Biar saya antar ya, Pak," tawar Dhika.
"Ndak perlu, Nak Dhika. Bapak bisa tinggal di sini saja sudah cukup merepotkan. Lagipula, Nak Dhika juga kerja, kan," tolak Pak Anto halus.
"Ndak merepotkan, kok, Pak. Saya justru senang kalau Bapak mau tinggal lebih lama lagi di sini. Saya jadi punya teman," kata Dhika tulus. Kini Dhika tahu, darimana Tiara mewarisi sifat "tak suka merepotkan" itu.
"Terima kasih, Nak Dhika." Pak Anto tersenyum. "Bapak minta maaf, kalau selama di sini Bapak sudah merepotkan. Tiara juga pasti banyak merepotkan Nak Dhika, kan? Dia sering cerita kalau Nak Dhika selalu mengantarnya pulang. Terima kasih, sudah menjaga Tiara selama dia di sini," kata Pak Anto dengan suara bergetar.
"Nggak perlu berterima kasih, Pak. Saya ikhlas melakukannya," kata Dhika. "Dan kalau Bapak nggak keberatan, saya mau minta izin dari Bapak," kata Dhika dengan kepala tertunduk menatap jemari yang bertaut.
"Izin untuk?" Pak Anto menatap Dhika lamat-lamat.
"Jika diizinkan, saya ingin menjaga Tiara seumur hidup saya, Pak," kata Dhika tanpa berani menatap Pak Anto.
Pak Anto tak menjawab, ia mencoba mencerna ucapan Dhika tadi. Meski ia sudah paham arah pembicaraan Dhika, ia tidak bisa langsung menyimpulkan.
"Maksud Nak Dhika?" Akhirnya ia memutuskan bertanya.
"Saya ingin menjadikan Tiara istri saya, Pak," jawab Dhika mantap. Akhirnya ia memberanikan diri menatap Pak Anto. Perasaannya harap-harap cemas menunggu jawaban Pak Anto.
"Tunggu sebentar, Bapak rasa ada yang janggal di antara kalian. Tiara bilang, kalian tidak ada hubungan apa-apa, tapi kamu bilang ingin menjadikan Tiara istri. Apa ada yang kalian sembunyikan dari Bapak?" tanya Pak Anto dengan tatapan menyelidik.
"Tiara benar, Pak. Kami memang nggak punya hubungan apa-apa, tapi saya menyayangi Tiara, Pak," jelas Dhika.
"Lalu Tiara ke kamu, bagaimana?"
"Saya juga nggak tahu, Pak," jawab Dhika lemah.
Pak Anto terkekeh, "Kamu ini bagaimana toh Nak Dhika, mau ngelamar orang tapi ndak tau gimana perasaanya." Pak Anto geleng-geleng kepala.
"Saya nggak tau, karena saya belum berani tanya ke Tiara langsung," jawab Dhika malu-malu.
Tanpa bertanya pun sebenarnya Pak Anto sudah bisa menebak bagaimana perasaan anaknya pada pemuda di depannya ini. Dari cara Tiara yang terdengar begitu bahagia saat bercerita tentang Dhika di telepon, ia sudah merasa kalau anaknya menyimpan rasa, meski Tiara tak pernah mengakuinya.
"Nak Dhika, Bapak tidak bisa menjawab permintaan kamu sekarang, semuanya kembali pada Tiara, keputusan ada padanya. Kalau kamu memang bersungguh-sungguh dengan niatmu, InsyaAllah Bapak izinkan. Bapak tidak ingin ada keterpaksaan, Bapak harap kamu mengerti dan ikhlas jika Allah berkehendak lain," ujar Pak Anto.
Dhika mengangguk berulangkali. Ia bagai mendapat kekuatan, tekadnya lebih kuat sekarang untuk mendapatkan hati Tiara. Setidaknya ia tidak sendirian, ia sudah mengantongi izin dari Bapak Tiara dan dukungan dari Rena. Rena benar, sampai kapanpun ia tidak akan tahu perasaan Tiara padanya kalau ia tidak bergerak.
"Terima kasih, Pak." Dhika menjabat tangan Pak Anto lalu menciuminya. "Saya mungkin nggak bisa berjanji apa-apa, tapi saya akan usahakan, Pak," kata Dhika mantap.
"Bapak percaya sama kamu, Nak Dhika." Pak Anto menepuk-nepuk punggung Dhika.
Pak Anto tersenyum simpul. Sepertinya tujuan utamanya menemui Tiara tak berjalan sesuai rencana. Sepertinya besok ia harus menyiapkan alasan untuk menolak perjodohan yang direncanakannya.
Bersambung.