Brother Zone

Brother Zone
Mengungkit Kenangan



Mendengar ucapan Rian, tubuh Nisa menegang, merasa seperti baru saja tersengat listrik. Mata bulatnya menatap tajam pada Rian, dadanya naik turun menahan emosi yang perlahan menyeruak.


"Tanggung jawab?" Nisa mengulangi ucapan Rian.


Rian tak langsung menjawab. Ia membukakan pintu mobil untuk Nisa.


"Masuk, kita bicara di dalam. Nggak enak nanti dilihat orang lain," ujar Rian. Nisa pun menurut.


"Aku mau menikah dengan kamu. Aku mau tanggung jawab atas kejadian itu," ucap Rian pelan setelah berada di dalam mobil.


Nisa menggeleng kuat. "Rian, kejadian itu hanya salah paham. Nggak pernah terjadi sesuatu di antara kita, jadi kamu nggak perlu tanggung jawab," jelas Nisa.


"Tapi, ayah kamu menuntut aku supaya bertanggung jawab," balas Rian.


"Kamu bertanggung jawab atau nggak, itu nggak akan merubah anggapan ayahku kalau aku adalah aib keluarga. Kalau kamu bertanggung jawab dan akhirnya kita menikah, itu berarti membenarkan kalau memang ada sesuatu di antara kita," kata Nisa dengan berapi-api.


Rian terdiam, begitu pun dengan Nisa. Untuk sesaat keduanya hanya membisu, larut dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya Nisa yang buka suara.


Nisa menghela napas lelah. "Rian, semuanya udah berlalu, sebaiknya jangan dibahas lagi."


"Tapi, Nis...." Rian tak menyelesaikan ucapannya.


"Udah malam, aku pulang dulu." Nisa mengalihkan pembicaraan.


"Biar aku antar. Ini udah malam, bahaya cewek pulang sendirian," kata Rian seraya menyalakan mobil.


Nisa hendak menolak, tapi mobil sudah berjalan pelan, akhirnya ia hanya menghela napas pasrah. Nisa mencuri pandang pada Rian yang tengah fokus mengemudi. Laki-laki di sampingnya itu memang tak banyak berubah dari segi penampilan. Namun, sikapnya terlihat lebih dewasa daripada dulu saat mereka masih kuliah. Rian yang sok dan tidak pernah serius itu sepertinya sudah menghilang.


Selama dalam perjalanan, tak ada lagi yang bicara. Keduanya seperti terseret oleh pikiran tentang masa lalu. Rian memelankan laju mobilnya saat memasuki sebuah perumahan, membuka kaca mobil dan menekan klakson saat melewati pos penjaga komplek. Bunyi klakson menyentak Nisa dari lamunan. Ia baru sadar kalau mereka sudah sampai.


"Kamu kok tau aku tinggal di sini?" tanya Nisa saat mobil Rian berhenti di depan rumah bernomor sembilan.


"Aku udah beberapa kali ke sini, nyari kamu," jawab Rian.


"Nyari aku?"


Nisa tak percaya Rian benar-benar mencarinya. Apakah laki-laki itu benar-benar merasa bersalah sampai-sampai mencarinya ke sini?


"Aku dengar dari teman-teman kosan kamu, katanya kamu ke Surabaya. Kukira kamu cuma jalan-jalan atau liburan, ternyata kamu emang sengaja ninggalin aku. Aku cari info tentang kamu ke mana-mana dan akhirnya aku dapat alamat kamu. Itulah alasan kenapa aku ada di sini sekarang," jelas Rian panjang lebar.


Mata bulat Nisa membesar, makin tak percaya penjelasan Rian. Sebegitu pentingkah dirinya bagi pemuda yang dulu menjadi sahabatnya itu.


"Setelah kamu pergi, hidup aku berantakan. Kehilangan dua sahabat terbaik seperti kamu dan Dhika membuat hidup aku kehilangan arah. Kuliah aku nggak selesai, dibuang dari keluarga dan nyaris mati karena overdosis obat tidur," lanjut Rian dengan senyum miris.


Entah kenapa, mendengar cerita Rian membuat dada Nisa terasa sesak. Hatinya tersentuh. Emosi yang tadi menyeruak mendadak padam, berganti iba akan nasib Rian. Nisa menepuk-nepuk bahu Rian pelan sebagai ungkapan bahwa ia dapat merasakan apa yang dirasakan Rian. Sama seperti ketika dulu ia sering menjadi sandaran dan tempat Rian mengadu.


Rian mengangguk dan ikut tersenyum. "Kamu nggak marah dengan kejadian itu?" tanya Rian lagi.


"Siapa bilang aku nggak marah? Aku marah, tapi akhirnya aku memutuskan untuk memaafkan semuanya dan memulai hidup baru," kata Nisa.


"Maafin aku, Nis. Kamu benar, memaafkan semuanya memang jalan terbaik, tapi aku tahu memaafkan nggak semudah itu. Aku juga masih ingin memperbaiki kesalahan aku, terutama persahabatan kita. Kita masih sahabat, kan?" Pandangan Rian menerawang jauh. Teringat seorang sahabatnya yang tampaknya masih enggan memaafkannya.


"Aku udah maafin kamu sejak lama dan sampai kapanpun, kamu tetap sahabat aku." Nisa tersenyum tulus.


"Makasih, Nis. Oh iya, besok kamu ada waktu nggak?" tanyanya kemudian.


"Kalau siang mungkin ada, soalnya sore aku harus kerja," jawab Nisa.


"Oke, besok jam 10 aku jemput, bisa kan?" Rian memastikan.


Nisa tampak berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. Tak ada salahnya menuruti ajakan Rian, pikirnya. Anggap saja sebagai pertemuan dengan sahabat lama. Walaupun ada sedikit kekhawatiran di hatinya mengingat gadis yang ditabraknya tadi sore. Setelah berbasa-basi sebentar, Nisa keluar dari mobil Rian dan melambaikan tangan sebelum memasuki rumah.


***


Tepat seperti waktu yang dijanjikan Rian, pukul 10 esok harinya, Rian menghentikan mobilnya di depan rumah Nisa. Rian turun dari mobil dan melangkah santai menuju pagar. Dengan tidak sabar Rian memencet bel di sisi pagar. Tak lama kemudian, seorang wanita yang pernah ditemuinya tiap kali ia datang mencari Nisa, muncul di balik pintu.


Wanita itu membukakan pagar dan mempersilakan masuk, tapi Rian menolak dan memilih duduk menunggu di teras, sementara itu wanita tadi masuk untuk memanggil Nisa. Hampir sepuluh menit, akhirnya Nisa keluar.


Nisa tetaplah Nisa yang khas dengan kaos oblong yang dua ukuran lebih besar dari ukurannya dipadu jeans dan sepatu kets. Itu sudah menjadi style-nya sejak jaman kuliah dulu. Namun, Rian merasa nyaman melihat Nisa yang seperti ini.


"Udah siap?" tanya Rian. Nisa mengangguk, kemudian Rian berjalan mendahului Nisa, sementara Nisa mengekor di belakang.


"Kita mau ke mana?" tanya Nisa ketika mobil sudah meninggalkan komplek.


"Terserah kamu. Aku kangen masa-masa kita kuliah dulu, sering keluyuran nggak jelas. Kayaknya seru aja sih kalau diulangi," kata Rian sembari terkekeh.


"Makan, main, apa ajalah," sahut Nisa, ikut mengingat kenangan mereka dulu.


"Ke mall aja dulu, yuk. Kita main dulu, udah itu baru makan."


Nisa mengangguk setuju. Rian pun melajukan mobilnya menuju salah satu mall di kota Pahlawan itu. Sesampai di sana, mereka langsung menuju area permainan. Mereka memainkan apa saja, layaknya anak kecil yang diajak orang tuanya bermain. Bermain dan tertawa tanpa beban dan melupakan semua masalah sejenak.


Puas bermain, Rian mengajak Nisa menuju salah satu restoran seafood di mall itu. Tanpa bertanya lagi, Rian langsung memesan seporsi cumi asam manis pedas lengkap dengan nasi untuk Nisa. Sedangkan untuk dirinya ia memesan udang, cah kangkung dengan nasi dan dua gelas es jeruk. Itu adalah menu favorit mereka dulu. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Nisa pamit untuk ke toilet sebentar.


Dalam perjalanan kembali dari toilet, dari kejauhan Nisa melihat seorang laki-laki yang tidak asing baginya sedang melihat-lihat jam tangan. Tanpa sadar kaki Nisa melangkah menuju orang tersebut.


"Dhika?"


Bersambung.