Beautiful Villaines

Beautiful Villaines
Bab 9. Memori



Roxa tercenung dengan pikiran yang sibuk mengelana. Otak cantiknya mengingat kembali isi novel berjudul ‘The Villain’s Dead’ di mana terdapat sebuah nama yang juga cukup penting yaitu Felix Theodore. Ya, film itu awalnya memang diadaptasi dari sebuah novel best seller yang dilirik oleh seorang sutradara.


Dengan seraut wajah tampan, garis bibir dan senyuman yang memikat, rambut golden blonde yang lurus dan lebat, serta manik berwarna perak yang indah, definisi pria itu begitu sama persis ditambah dengan nama mereka yang juga sama. Tidak salah lagi! Pria itu memang second male lead, pemeran pria kedua, Felix Theodore.


Roxa seperti sedang berhadapan dengan Leonardo DiCaprio semasa muda, pria yang memerankan tokoh Jack dalam film Titanic.


‘Ouh, aku seolah sedang menjadi Rose yang berada di ujung kapal sembari merentangkan kedua tangan bersamanya,’ benaknya yang justru membayangkan adegan di ujung kapal bersama Jack sembari menikmati deburan ombak dan semilir angin syahdu. Beruntung jika hanya semilir angin syahdu yang terhirup. Bagaimana jika bau kecut tidak sedap?


Ok, kita kembali kepada sosok tampan yang tengah duduk di hadapan Roxa!


Felix Theodore, seorang penyihir hebat kedua setelah Liam Demente de Dias. Hal itu menjadikannya sebagai sosok yang begitu diidolakan di Akademi Sihir dan membuatnya merasa cukup terbebani. Bahkan, setelah debut pergaulan kelas atasnya dimulai, Felix juga mendapat perhatian dari para gadis bangsawan yang ingin dekat dengannya.


Selain itu, Felix juga merupakan sahabat Roxa sejak lama sekaligus pria yang juga mencintai Catherine, tokoh pemeran utama wanita. Ya! Dia ditakdirkan sebagai second male lead dan alur cerita tetaplah alur cerita. Pemeran utama wanita akan bersanding dengan pemeran utama pria.


Sedangkan Felix yang melihat Catherine jatuh cinta kepada Liam hanya mampu menyimpan perasaannya dalam diam. Pria itu hanya bisa melindungi Catherine di belakang sebagai bentuk ketulusannya.


‘Ugh! Sayang sekali pria tampan dan baik sepertinya harus berakhir menjadi sadboy.’ Roxa kembali membatin dan semakin sibuk dalam lamunan.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” Suara barithon Felix membuyarkan lamunan Roxa.


“Ah! Ti-tidak.” Roxa tersadar dan praktis kembali menatap wajah Felix.


“Apa kau merasa tidak enak badan? Apa ada yang sakit?” Felix menatap lekat manik mata emerald gadis itu dengan jarak yang begitu dekat.


Roxa mengernyit, merasa sedikit canggung, dan reflek mengalihkan wajahnya, “Semuanya terasa begitu asing. Begitu juga denganmu. Maafkan aku, Felix.”


Melihat Roxa yang berusaha menghindar, Felix lantas menarik kedua sudut bibir dan tersenyum teduh, “Tidak masalah. Kau pasti akan segera mengingatnya.”


“Aku tidak yakin.” Roxa bergumam lirih, tetapi mampu didengar oleh Felix.


“Apa kau mau bertaruh?”


“Bertaruh?”


“Aku bisa membantumu mengingatnya, mengingat kembali hubungan persahabatan kita.” Felix berujar penuh percaya diri sembari mengerling.


Kembali timbul kernyitan di dahi Roxa, “Bagaimana caranya? Bagaimana kau bisa begitu yakin?”


“Kemarikan tanganmu.”


“Apa?”


“Kubilang kemarikan tanganmu. Mengapa kau sangat suka membuatku berbicara dua kali.”


“Ba-baiklah.” Diulurkan tangan Roxa secara perlahan. Ekspresi keheranan terlihat jelas di wajah cantiknya meskipun ia tetap dengan patuh menuruti perintah pria tersebut. Sebenarnya apa yang akan dilakukannya?


“Berkonsentrasilah dan pejamkan kedua matamu.” Felix berujar serius sembari menggenggam telapak tangan Roxa dengan sebelah tangannya.


Roxa pun dengan patuh mengikuti apa yang diperintahkan. Dipejamkan kedua matanya hingga manik mata emarldnya yang indah tertutup sempurna. Ia mulai berkonsentrasi.


Detik demi detik berlalu tanpa terjadi sesuatu. Hingga tiba-tiba, ia dapat melihat sebuah gambaran layaknya kaset yang berputar di otak. Sebuah pemandangan asing yang tampak seperti sebuah hutan belantara. Salju turun deras hingga menyelimuti daratan dan sebagian pohon-pohon besar yang tinggi menjulang.


“Wuah! Apa yang baru saja kulihat?” Roxa tiba-tiba membuka mata dan menatap Felix dengan raut wajah terkejut.


Felix juga ikut terkejut saat Roxa tiba-tiba membuka matanya, tanpa aba-aba dan perintah darinya. “Memori. Baru saja yang kau lihat adalah memori.”


‘Hm, memori? Memori Roxana Adelaide yang sesungguhnya?’ Roxa membatin dengan pandangan tidak terputus kepada Felix.


Di detik ini juga, Roxa benar-benar percaya jika hal di luar nalar yang berkaitan dengan magis di dunia ini memang nyata adanya. Luar biasa! Ia sampai tidak mampu berkata-kata.


“Pejamkan kembali matamu dan mari kita lanjutkan.” Felix memberi perintah dengan senyuman.


Roxa yang masih dipenuhi keterkejutan mengangguk perlahan kemudian kembali dengan patuh memejamkan kedua mata. Hingga akhirnya, sebuah ingatan tiba-tiba merasuk di kepala.


✨✨✨


Suasana dan latar yang terlihat seperti hutan belantara. Salju yang turun deras di pagi hari yang cerah. Pepohonan yang tinggi menjulang dan terselimuti oleh lapisan putih. Dan, hawa dingin yang begitu menusuk ke dalam tulang. Ya, itu semua yang kini sedang merasuk di kepala Roxa. Sebuah bayangan yang begitu menakjubkan berputar layaknya kaset.


“Aaaargggh! Pergi kau, Sialan!” Seorang gadis berpakaian seragam akademi memekik saat baru saja jatuh terduduk di atas lapisan salju. Dia adalah Roxana Adelaide yang baru saja memasuki semester pertamanya di Akademi Hoover.


Saat ini, di depan matanya ada sesosok monster beruang yang menatap tajam ke arahnya. Badan besar layaknya beruang pada umumnya, bulu lebat berwarna putih, serta kedua mata merah menyala-nyala pertanda jika dia adalah klan monster.


“Hocus Pocus!” Roxa membaca sebuah mantra dengan nada bergetar ketakutan. Akan tetapi, tidak ada perubahan. Monster itu tetap mengaum keras dan berjalan ke arahnya dengan wajah lapar.


BRUKKH!


Tiba-tiba seseorang melempar kepala monster itu dengan batang kayu. Ya, orang itu adalah Felix dan saat ini juga merupakan semester pertamanya berada di akademi. Felix sedang berjalan-jalan di hutan untuk mencari kayu bakar hingga akhirnya mendengar suara jeritan.


Monster beruang pun berbalik dengan wajah semakin marah. Erangannya begitu nyaring dan dengan cepat berlari menghampiri sosok pengganggu tersebut. Dengan gerakan kilat monster itu melayangkan cakaran ke arah Felix yang jatuh terlentang, bersiap untuk mencabik-cabiknya.


Namun, Felix berhasil menghindar dengan bergulung-gulung di atas salju hingga cakaran itu mendarat di punggungnya.


Roxa yang melihat Felix dalam bahaya lantas mengambil batang kayu berukuran cukup besar yang sebelumnya dilempar ke kepala si monster beruang, “Hei! Siapapun namamu, tangkap ini!” pekiknya sebelum melemparkan batang kayu tersebut.


Felix menangkapnya dan bersiap menyerang dengan bantuan sihir di ujung batang. Diayunkan kuat-kuat batang itu dan ditusukkan kepada pundak monster dalam sekali serangan. Darah monster pun bercucuran. Akan tetapi, monster itu tidak mudah tumbang, tetap meronta dan mengaum dengan nyaring.


“Hocus Pocus!” Sentuhan terakhir Felix merapalkan mantra yang sebelumnya juga diucapkan Roxa.


Namun, mantra itu bukanlah untuk membunuh melainkan untuk menjinakkan. Monster beruang yang sebelumnya dipenuhi amarah, perlahan menenang hingga tertidur. Warna merah di matanya telah berubah menjadi hitam, kembali seperti seekor beruang normal pada umumnya.


Felix melipat sebelah kaki kemudian mengulurkan tangan secara perlahan untuk mengelus lembut bulu putih beruang yang terkapar di hadapannya.


“Apa kau tidak apa-apa?” Felix menoleh ke belakang, menatap Roxa yang kini sedang berjalan ke arahnya.


Datar. Hanya seraut wajah datar yang ditunjukkan Roxana, “Seharusnya kau tidak usah membantuku. Punggungmu terluka.”


“Tidak masalah.”


“Aku tidak suka melihat seseorang terluka hanya karenaku.”


Felix meyunggingkan senyum, “Bukan itu yang harus kau katakan di saat seperti ini. Kau hanya perlu mengatakan terima kasih. Lalu untuk punggungku, bukankah kau bisa membantuku mengobatinya?”


Roxa tidak menjawab dan masih tetap menunjukkan wajah datar meskipun kedua tangannya kini sedang gemetar. Ia melihat punggung Felix yang mengeluarkan darah segar dan bekas cakaran beruang yang menembus seragam akademi hingga kulitnya. Hal itu benar-benar membuatnya takut sekaligus merasa bersalah.


Felix yang menyadari jemari Roxa sedang gemetar lantas beranjak berdiri, “Mantra itu … kau harus mengucapkannya dengan berirama agar mengesankan tekanan kuat yang eksotis. Dengan begitu, mantranya akan berhasil.”


Roxa sedikit melebarkan mata kemudian memalingkan wajah dengan cepat, “Aku tahu. Tapi kau tidak usah memberitahuku karena yang terjadi baru saja hanyalah sebuah kesalahan,” ujarnya sedikit angkuh.


Felix terkekeh, “Baiklah,” jawabnya kemudian berbalik dengan kedua tangan menyeret kaki beruang.


“Ke mana kau akan membawanya?”


“Piter. Kudengar rumahnya ada di sekitar sini. Dia adalah guru yang mengajar di Hoover semester akhir. Mungkin dia bisa mengobatinya.”


“Menjadi terlalu baik terkadang juga cukup merepotkan,” cibir Roxa meskipun ia juga ikut membantu menyeret kaki beruang dengan kedua tangannya.


Felix tersenyum, “Felix. Namaku Felix,” ujarnya memperkenalkan diri saat mereka bersama-sama menyeret kaki beruang.


“Oh,” jawab Roxa singkat, tanpa minat.


“Roxana Adelaide putri dari Duke Shancez, benar?” tebak Felix tepat sasaran.


“Aku hanya sempat mendengarnya.” Felix menjawab santai dengan senyuman.


Tidak terpengaruh senyuman itu, Roxa tetap mempertahankan ekspresi datar, “Kau pasti mendengar namaku dari para murid yang menggosipkanku di belakang.”


Felix sedikit terkejut saat mengetahui Roxa yang ternyata menyadari jika dirinya menjadi perbincangan hangat oleh para murid akademi. Pasalnya, mereka membicarakannya bukan dalam konotasi positif melainkan konotasi negatif.


Si wanita angkuh tidak tahu terima kasih, wanita dingin dan sombong, wanita kaku tidak pernah tersenyum, hingga wanita iblis yang kebetulan berparas cantik. Ya, berbagai julukan itu tersemat kepada Roxa yang selalu menyendiri seolah pilih-pilih teman.


“Aku memang sering mendengarmu dari mereka, tetapi ternyata kau tidak seburuk yang mereka katakan. Seharusnya aku melihatmu sendiri sejak awal.”


“Tidak ada gunanya melihatku karena tidak ada yang ingin berteman denganku.”


“Jika begitu, maukah kau berteman denganku? Menjadi sendirian sepertinya cukup membosankan.”


Roxa terbelalak dan sedikit terkejut. Ini adalah pertama kalinya seseorang mangajaknya berteman setelah mendapatkan perilaku angkuh darinya.


“Berteman denganku akan lebih membosankan. Lupakan saja.” Roxa menjawab dingin dengan kedua tangan yang masih menyeret kaki beruang dengan napas berat, kelelahan.


“Tapi tidak dengan berteman denganku karena aku cukup menyenangkan.” Felix tidak menyerah dan mengerling jenaka.


“Aku tidak butuh kebaikanmu. Cukup berikan saja kebaikanmu pada beruang ini.”


“Tapi kau memiliki hutang padaku.”


Roxa mengernyit dan menatap Felix penuh tanpa tanya. Hutang apa? Seingatnya ia tidak pernah merampas koin emas milik pemuda tersebut.


“Mengobati punggungku. Aku begini karena menolongmu.”


“Oh.” Roxa kembali melenturkan wajah dan memberikan ekspresi datar, “Ya, aku akan mengobatimu.”


“Kau juga akan membantu membawa beruang ini pada Piter?”


“Ya.”


“Dan mengobatiku di rumah Piter?”


“Ya.”


“Dan menjadi temanku?”


“Ya. Ah! Tidak!”


Felix terkekeh, “Kau sudah menyetujuinya, Roxa. Mulai hari ini kau adalah temanku.”


✨✨✨


Sepasang kelopak mata yang dinaungi bulu mata lentik kini telah terbuka. Netra emerald yang indah kini kembali terlihat dengan pupilnya yang bergetar. Tatapannya terkunci kepada pria di depannya.


“Wuah! Hebat!” Roxa bergumam rendah. “Apa yang kau lakukan baru saja adalah sihir?”


“Ya, itu sihir.”


Roxa terdiam, memaku, dan membisu. Ini adalah pertama kalinya ia melihat keajaiban meskipun saat pertama kali tiba di dunia ini dan terbangun di tubuh Roxana juga merupakan sebuah keajaiban.


Baru saja … Felix telah memperlihatkan sebuah memori di mana pertama kali mereka bertemu hingga akhirnya menjadi teman dekat.


“Apa kau bisa memperlihatkan yang lain? Seperti bagaimana hubunganku dengan kedua orangtuaku dan teman-teman yang lain.”


“Tidak bisa. Aku hanya bisa menunjukkan gambaran di mana ada aku di dalamnya. Dalam artian, memori yang kau lalui bersamaku.”


“Ah, begitu rupanya.” Roxa mengangguk-angguk sedikit kecewa sebelum kembali berbinar cerah, “Tapi tetap saja, baru saja yang kau lakukan luar biasa, Felix!” ujarnya sembari bertepuk tangan. ‘Tidak heran jika dia akan menjadi penyihir terhebat kedua setelah pemeran utama pria.’


Sedangkan Felix justru terdiam dan mengamati Roxa sesaat.


Roxa yang merasa ditatap lekat menjadi salah tingkah, “Ada apa? Ada yang salah dengan ucapanku?”


Felix menggeleng kemudian tersenyum tipis, “Kau sesenang itu hanya karena melihat kenangan bersamaku? Sepertinya setelah musibah itu terjadi kau menjadi sosok yang cukup berbeda.”


“Berbeda?” Roxa terbelalak. “Tidak ada yang berbeda dariku. Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Ini semua hanya karena aku yang tidak bisa mengingat semuanya.” Roxa berujar datar sama persis seperti gambaran sosok angkuh Roxa asli yang ia lihat dalam memori sebelumnya. Ia kini sedang kembali menguji bakatnya dalam akting.


Tidak ada tanggapan.


Felix tetap terdiam dan mengamati Roxa dalam-dalam. Entah apa yang ia perhatikan, tetapi hal itu membuat Roxa sedikit gelisah.


‘Apakah dia menyadarinya? Menyadari jika aku bukan Roxana yang sesungguhnya?’


Kekehan tiba-tiba terdengar dari mulut Felix, “Aku hanya tidak menyangka jika hilang ingatan bisa mengubah seseorang menjadi pribadi yang sedikit tidak terduga.


“Mak-maksudmu?” Roxa kebingungan.


“Biasanya selama perjalanan kau akan selalu berdiam diri dan menikmati buku-bukumu.”


“Ah, aku tetap menikmati bukuku.”


“Bukan buku yang membosankan melainkan novel roman? Itu … sedikit di luar dugaan.”


Di detik itu juga, bola mata Roxa menyalak lebar dan hampir keluar dari songketnya. Buru-buru ia menyembunyikan bukunya di belakang badan. Wajahnya memerah manahan rasa malu, “I-ini … pe-pelayanku yang salah memasukkannya. A-aku hanya merasa sedikit penasaran dan membacanya karena tidak ada lagi yang bisa kubaca.”


Felix tersenyum elegan, “Ya, tidak apa-apa.”


Roxa bernapas lega karena sepertinya Felix mempercayai kebohongannya. Ia tidak ingin Felix berpikir buruk tentangnya karena membaca novel roman. Lebih parahnya lagi, yang ia baca adalah novel dewasa terlarang bergenre 21+++.


Sungguh ia tidak berniat menghancurkan pamor Roxana asli yang elegan dan berkelas menjadi Roxana palsu yang mesum dan bringas. Ayolah, bukannya memperbaiki takdir, ia justru akan memperburuk takdir.


“Terkadang aku juga penasaran dengan Duke yang bermain dengan pelayannya. Itu yang tertulis dalam judul dalam buku itu. Apa itu novel panas?


JDERRRR!


Roxa kembali membelalak lebar. Ternyata sejak tadi Felix telah membaca judul buku yang dia bawa. “Tidak, Felix. Sepertinya kau sudah salah paham. Aku tidak mengerti apa maksud dari buku ini. Otak suciku tidak bisa menjangkaunya.”


“Tapi otak sucimu sudah membacanya hingga hampir di halaman terakhir.” Kekehan dari mulut Felix kembali terdengar.


“Apa kau kini sedang mengejekku?” Roxa mulai mengerutkan kening, kesal.


Sedangkan Felix justru terpingkal dan semakin ingin menggoda gadis tersebut.


Sebelumnya, meskipun Roxana asli sering bersikap pendiam dan angkuh kepadanya, tetapi Felix juga masih gemar menggodanya karena ia tahu jika isi hati gadis itu tidak sedingin dan semenyeramkan kelihatannya.


Roxa mengerutkan kening dengan wajah mencebik kesal. Ini pertama kalinya seseorang berani mengejeknya dan menertawakan dirinya tepat di depan matanya. Ia bergeming dan hanya melihat Felix yang terus tertawa dengan tubuh memantul-mantul karena jalanan tidak rata.


“Hentikan, Felix! Percayalah, kau sungguh menjengkelkan.”


“Oh, tidak. Maafkan aku. Tapi bolehkan aku meminjam bukumu? Pfffftttttt!”


“Sepertinya kisah pertemanan kita sudah cukup sampai di sini.”


\~\~\~