Beautiful Villaines

Beautiful Villaines
Bab 21. Simbol Ouroboros



Beberapa waktu berselang setelah kepergian Roxana di ruang sains bawah tanah. Ruangan sunyi dan temaram itu kini sedang kedatangan tamu baru. Dia adalah Corbis, penyihir agung sekaligus pimpinan menara sihir yang selama ini menjadi pengabdi setia Liam.


Berjalan mendekat, Corbis sedikit terkejut kala melihat sosok Pangeran yang sedang dalam penyamaran itu memiliki aura yang cukup berbeda dari biasanya—aura cerah dan bersahabat. Padahal, biasanya hanya aura dingin dan suram yang diperlihatkan oleh Pangeran tersebut.


Jujur saja, terkadang Corbis juga merasa cukup tertekan saat berhadapan dengan Liam. Salah bicara dan membuat suasana hatinya buruk bisa berakibat fatal. Lidah pria tua itu mungkin akan dicopot dan tidak dapat bertemu lagi dengan barisan giginya yang belum ompong dan juga amandelnya sendiri.


Jadi, melihat suasana hati Liam yang sedang baik seperti saat ini, merupakan suatu hal yang amat langka. Ia berpikir jika hal baik baru saja terjadi. Lebih tepatnya, hal mendebarkan memang baru saja terjadi di ruang sains bawan tanah tersebut.


“Selamat malam, Your Highness.” Corbis memberi salam sembari menunduk dengan sopan.


“Ya, duduklah.” Liam menggerakkan kepala, isyarat supaya Corbis duduk di kursi mahoni kosong yang sebelumnya diduduki oleh Roxana. “Apa kau membawanya?” tanyanya berhiaskan wajah datar.


Corbis mengangguk kemudian mengambil sesuatu di balik jubah putih yang dikenakan, sebuah bola kristal yang menjadi pedoman akan kutukan yang dimiliki Liam.


Meletakkan bola itu di atas meja, Corbis meneliti perubahan warna yang terjadi pada bola tersebut, “Berwarna merah, sama seperti sebelumnya,” ujarnya serius sebelum tiba-tiba mengernyit saat melihat ada sesuatu yang berubah. Ia membenarkan posisi kacamata berantai di pangkal hidung untuk semakin memperjelas penglihatan, “Sebelum saya datang kemari, saya yakin masih belum ada tanda di dalam bola ini. Tapi mengapa tiba-tiba muncul sebuah tanda?” gumamnya bertanya pada diri sendiri dengan dahi berkerut samar.


Liam memiringkan sedikit kepala dengan tatapan puas akan kemunculan tanda yang datang, “Tanda apa yang kau dapatkan kali ini?”


“Saya melihat simbol lingkaran berupa ular yang menggigit ekornya sendiri. Hmm ….” Corbis berdeham cukup lama sebelum bola matanya membeliak sempurna, “Ini adalah simbol ouroboros!” serunya dengan intonasi 5/10 desibel lebih tinggi dari sebelumnya.


Liam menukikkan sebelah alis, “Jadi, apa arti dari simbol itu?”


Mengambil napas panjang, Corbis bersiap untuk menjelaskan, “Ouroboros merepresentasikan keabadian dan pengulangan yang tak berujung. Jika dikaitkan dengan simbol yang pertama kali kita dapatkan yaitu ‘wanita’ maka ada suatu hal yang harus Pangeran lakukan bersama wanita itu lagi dan lagi. Ya, sebuah pengulangan yang tak berujung,” jelasnya sebelum terdiam sembari mengernyitkan dahi, ‘tapi apa yang harus Pangeran lakukan kepada Lady itu?’ benaknya yang belum mengetahui apa yang baru saja terjadi di ruang bawah tanah tersebut—mereka berciuman dengan penuh gairah.


Well, keputusan Liam untuk masuk ke dalam Hoover dan menyamar sebagai guru memang berasal dari saran Corbis guna mendekati Roxana. Namun, siapa sangka jika ciuman yang mereka lakukan sebelumnya mendatangkan tanda baru di bola kristal. Kini ia yakin jika gadis itu memang ada kaitannya dengan kutukan yang selama ini ia derita.


“Hm, sepertinya tidak buruk.” Liam berujar rendah dengan sudut bibir sedikit terangkat, menyeringai. Jemari panjangnya mengetuk-ngetuk sandaran lengan kursi mahoni yang diduduki dengan pikiran mengelana.


‘Sebenarnya apa yang telah Pangeran kejam itu lakukan?’ Corbis membatin sembari menggaruk rambut putihnya yang memang gatal sebelum bola matanya kembali membulat sempurna, ‘Penyiksaan! Apakah dia telah melakukan penyiksaan pada Lady yang malang itu? Ya, bahkan dia adalah orang yang bisa mencekik lehermu sambil tertawa,’ benaknya berburuk sangka.


“Terasa halus.”


“Halus? (Apakah dia menyayat kulitnya yang halus?)” Keringat dingin mulai menetes di dahi keriput pria tua tersebut.


“Lembut dan kenyal.”


“Lembut dan kenyal? (Apanya yang lembut dan kenyal?)” Pria tua itu mulai kebingungan.


“Juga … manis.”


\~\~\~


Para murid berkumpul di aula makan Hoover yang luas. Aula makan itu dipenuhi dengan aroma daging asap yang dipanggang. Meja panjang para murid juga telah terisi dengan daging rusa panggang, babi hutan liar, dan keranjang-keranjang roti yang terbuat dari tepung terbaik.


Sedangkan di tengah-tengah meja itu, terdapat beberapa piring perak besar berisi babi yang masih bayi dan diisi dengan daging burung merpati di dalamnya. Selain itu, terdapat beberapa piring besar salad dan buah-buahan bagi murid vegetarian.


Kini, mereka sedang melakukan kegiatan makan malam bersama. Tidak hanya para murid yang sedang berada di aula itu, tetapi juga para guru yang sedang menikmati makan malam.


Suasana di meja makan para guru cenderung terasa lebih tenang jika dibandingkan dengan suasana di meja makan para murid yang cukup berisik.


Ya, para guru di Hoover memang selalu menjunjung tinggi wibawa dan keagungan mereka. Meskipun telah terjadi insiden terkait hal yang menimpa Roxana, mereka tetap menutup mulut dan mencoba menyelidiki dalam diam. Biar bagaimanapun, Roxana adalah putri dari bangsawan berpengaruh, Duke Shancez, dan pihak dari akademi tidak ingin Duke menjadi terlalu khawatir akan keselamatan putrinya.


Kita beralih pada meja makan para murid! Terdapat dua meja besar untuk para murid di aula tersebut. Satu untuk murid laki-laki dan satu untuk murid perempuan. Langkah Roxa tertuju pada meja perampuan sebelum melihat sebuah lambaian tangan. Itu adalah Cathie yang memanggilnya.


“Kemarilah, Roxa!” pekik Cathie sembari menunjukkan bangku sebelah yang kosong.


Tanpa berpikir panjang, Roxa semakin berjalan mendekat. Namun, langkahnya menjadi sedikit ragu saat melihat sekumpulan murid perempuan yang duduk di sekitar Cathie. Mereka adalah murid-murid perempuan yang cukup terkenal, Mariposa Beaute.


Kelompok itu digawangi oleh murid-murid tercantik dan cukup populer di Hoover. Sekadar informasi, Cathie adalah salah satu dari mereka. Karena kecantikan dan pamor baik yang dimiliki Cathie, mereka merekrutnya sebagai anggota. Namun, tidak dengan Roxana.


Ya, meskipun Roxana berasal dari keluarga bergengsi dan memiliki kecantikan tak tertandingi, tetapi ia juga memiliki pamor buruk di kalangan para murid. Terlebih, karena sikap angkuh, pendiam, dan misterius, membuatnya semakin dijauhi dan dianggap tidak bisa berbaur dengan yang lainnya. Namun, tidak dengan Cathie yang selalu berada di sisinya dan tidak pernah meninggalkannya.


“Selamat malam, Roxa. Bagaimana kabarmu?” Deborah, pentolan dari Mariposa Beaute menyapa dengan senyuman. Tentu saja senyuman palsu yang diperlihatkan. Dia adalah seorang putri dari Viscount Cortis yang cukup terkenal di Ibu Kota.


“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya.” Roxa menjawab sekenanya dan mulai menikmati makanannya.


Deborah menarik sudut bibir, tersenyum penuh arti, “Kudengar dari pamanku, saat itu kau ditolong oleh seorang guru. Apakah itu benar?” tanyanya dengan raut wajah antusias. Sekadar informasi, Paman gadis itu adalah salah satu guru di Hoover, Jeremy Grey.


Sebenarnya berita tentang Roxa yang ditolong Axe sudah mulai beredar dan sedang hangat-hangatnya. Rumor di Hoover memang begitu cepat menyebar dan menjadi santapan hangat oleh para penikmatnya. Terlebih, rumor itu berkaitan dengan Axe, guru baru mereka.


Beberapa murid perempuan yang mendengar pembicaraan Deborah sontak berkasak-kusuk di meja makan. Mereka merasa tertarik dengan obrolan yang sepertinya akan menyenangkan.


Roxa menghela napas panjang. Sejujurnya ia tahu hal ini akan terjadi. Ia yakin jika berita tentang dirinya yang ditolong Axe tidak mungkin tertutup lama. Ia hanya ingin makan dengan tenang. “Ya, kau benar,” jawabnya enggan dan terpaksa.


Deborah semakin tersenyum lebar. Diambilnya sebuah cookies kemudian digigitnya masih dengan senyuman cerah. “Oho, maukah kau menceritakan detailnya kepada kami, Roxa?”


\~\~\~