
Felix menggesekkan ujung ibu jari dan jari telunjuk, meneliti senyawa debu yang mencurigakan di jari tangannya. Itu adalah jejak empousa berwarna putih yang menumpuk bagai sekarung tepung di atas lapisan salju. Alih-alih mencair, jejak monster itu justru memancarkan asap hitam sebelum menghilang sepenuhnya.
“Makhluk itu sudah musnah.” Felix telah memastikan kemudian beranjak berdiri.
“Ouh, astaga! Bukankah ini jejak dari ban mobil?” Cathie tiba-tiba memekik terkejut saat kepalanya menunduk dan menemukan permukaan salju yang terbelah berpola.
Felix menghampiri dan ingin memastikan sendiri, “Benar. Jejak mobil yang samar-samar dan hampir menghilang.”
“Jika begitu mari kita berpencar!” Piter memberi perintah dengan seraut wajah serius, “Troy bersama teman-temannya mencari di sisi hutan bagian utara. Felix, Cathie, dan beberapa murid lain di sisi hutan bagian selatan. Sedangkan sisanya mencari di sisi lainnya. Aku akan kembali ke Hoover untuk melaporkan kejadian ini kepada kepala sekolah dan mengambil tindakan,” imbuhnya yang tidak akan membiarkan masalah ini begitu saja. Empousa itu bukan monster peliharaanya dan tentu saja semua ini sangat mencurigakan.
Para murid mengangguk hampir bersamaan dan mulai melakukan pencarian.
Beberapa jam berselang, di sisi hutan bagian selatan. Cathie berjalan beriringan di samping Felix sedangkan beberapa murid lain berjalan di belakang dan fokus mencari. Namun, belum ada hasil. Mereka sama sekali tidak melihat tanda beberadaan Roxa. Hanya ada kesunyian dan hawa dingin yang menusuk tulang.
“Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya.” Cathie bergumam lirih dengan ekspresi begitu khawatir. Kedua tangannya gemetar dan bibirnya memucat. Ia merasa kedinginan sekaligus ketakutan secara bersamaan.
“Tidak akan ada hal buruk yang terjadi dengannya.” Felix berujar datar dengan kepala mengedar.
“Sepertinya dia tidak ada di sekitar sini.” Billie, murid laki-laki yang ikut dalam pencarian tiba-tiba angkat suara.
“Sebentar lagi kita sampai di hutan terlarang. Bukankah sudah saatnya kita kembali?” Irish, murid perempuan yang berjalan di samping Billie juga ikut angkat bicara.
Cathie menatap Felix dengan lekat. Terlihat jelas jika lelaki itu enggan menghentikan pencarian. “Tidak apa, kalian kembali saja biar aku dan Felix yang meneruskannya.” Cathie mempersilakan mereka pergi. Ia tidak ingin menahan mereka agar tetap tinggal karena kini mereka sudah hampir sampai di hutan terlarang. Sekadar informasi, tidak ada murid yang diperbolehkan memasuki area hutan berbahaya tersebut.
Felix menoleh ke arah Cathie dan berhenti pada bibir gadis itu yang terlihat memucat pertanda sudah kedinginan. Tubuh mungil Cathie juga terlihat gemetar dan tidak sekali dua kali dia bersedekap sembari menggosok lengannya.
“Sebaiknya kau ikut pergi bersama mereka. Biar aku yang mencari Roxa.” Felix akhirnya kembali bersuara. Pemuda yang biasanya bersikap hangat dan tersenyum ramah itu mendadak menjadi pendiam dengan ekspresi tak tenang.
“Bagaimana mungkin aku bisa tenang sementara Roxa belum ditemukan?” Cathie menolak dengan bibir gemetar.
Felix menghela napas panjang, “Kau sungguh keras kepala. Kembalilah bersama mereka.”
Cathie memaksakan senyuman agar Felix percaya jika ia baik-baik saja, “Bukankah kau juga begitu? Aku tidak akan kembali sebelum menemukan sahabatku.”
Menghela napas panjang, Felix akhirnya menyerah, “Baiklah, kita istirahat sebentar.”
“Tidak perlu, Felix.” Cathie kembali menolak sembari menggeleng dengan wajah sedikit panik. Ia tidak ingin Felix menghentikan pencarian hanya karena dirinya.
“Jangan keras kepala lagi dan pikirkan juga dirimu sendiri. Di dekat sini ada gubuk milik seseorang yang kukenal. Aku akan menyuruhnya membuatkan minuman hangat untukmu.” Felix berujar penuh perhatian dan membawa Cathie dengan tatapan hangat seperti yang biasa ia lakukan.
Sementara itu … beberapa murid perempuan yang masih berada di belakang Cathie dan Felix diam-diam menatap iri akan kedekatan mereka. Tidak sedikit yang mengagumi Felix. Begitu juga dengan sifat baik Cathie yang bagaikan saintess juga mampu menyentuh siapa saja. Mereka beranggapan jika Felix dan Cathie adalah pasangan yang sempurna. Perpaduan di antara mereka begitu menyilaukan mata.
Ya, begitulah yang telah tertanam di benak para murid akademi. Dan kini … para murid yang masih berdiri sambil menggigit jari karena melihat kedekatan Cathie dan Felix itu akhirnya memilih untuk kembali ke asrama dan membiarkan mereka pergi.
\~\~\~
Sebuah mobil antik berwarna hitam berhenti di depan bangunan berdinding tipis dan tidak terlalu tinggi. Ternyata Axe membawa Roxa ke sebuah bangunan yang terletak tidak jauh dari akademi. Membuka pintu mobil, Axe menundukkan kepala dan bersiap untuk menggendong Roxa.
“Biarkan aku berjalan sendiri, Guru. Yang terluka adalah lenganku, bukan kakiku,” tolak Roxa dengan suara mencicit, hampir tertelan. Ia sudah lelah dipermainkan oleh debaran jantungnya sendiri dan tidak ingin organ berukuran sekepalan tangan manusia itu melompat keluar dari rongga dadanya. Bahkan tanpa sadar ia juga memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona wajahnya yang memerah saat Axe mencondongkan kepala dan begitu dekat dengannya.
Mendengar hal itu, Axe kembali menegapkan tubuh, “Baiklah jika itu yang kau inginkan.”
Mereka akhirnya berjalan beriringan dan memasuki sebuah bangunan sepi yang masih menguarkan aroma bebatuan yang masih baru.
Sebuah laboratorium. Ya, ternyata di dalamnya hampir dipenuhi dengan peralatan berupa botol-botol kaca sepesimen yang tertata di atas meja. Mereka terus berjalan masuk hingga sampai di depan pintu dengan papan kayu bertuliskan ‘Ruang Sains Bawah Tanah.’
‘Wah, nama tempatnya keren! Aku ingat dia akan mengajar alchemis. Apa ini akan menjadi tempat mengajarnya?’ Roxa membatin tanpa berkedip. Sesekali ia juga meringis saat merasakan luka di tangannya yang berdenyut perih.
Axe membuka pintu yang langsung disuguhi oleh sebuah tangga menurun. Ia turun terlebih dahulu dan diikuti Roxa di belakang.
Setelah sampai di dasar tangga, Roxa terbelalak sempurna. Sekujur tubuhnya terpaku di tempat. Netra emeraldnya mengedar dan berusaha untuk menangkap semua pemandangan yang ada.
Pertama, Roxa melihat lantai kotak-kotak berwarna hitam dan putih terbentang seperti sebuah papan catur raksasa. Lalu ia melihat awetan burung-burung mati yang bergelantungan dari kasau-kasau. Beberapa diawetkan dari bulu mereka yang gemerlapan, dan yang lainnya terkuliti hingga ke kerangkanya.
Roxa kemudian menoleh ke arah kanannya dan melihat serangkaian grafik daun yang diperinci dengan teliti; akar-akar, bunga-bunga, dan lukisan-lukisan anatomi. Di antara grafik-grafik itu, ada sebuah diagram tengkorak manusia dan sistem otot.
Pandangan gadis itu kemudian beralih pada ruang-ruang dinding yang terisi rak-rak dan laci-laci yang menjulang dari lantai hingga ke langit-langit. Sekumpulan awetan mamalia berjejer di atasnya. Seperti awetan kelinci bertelinga panjang, rubah, tupai, luak, dan seekor anak beruang.
Tidak hanya itu! Terlihat juga makhluk-makhluk yang berwujud tidak biasa; seekor monyet berwajah biru dan kepala binatang beruang tetapi bermotif belang-belang hitam putih menyerupai seekor zebra. Apakah mereka monster yang diawetkan?
‘Wah! Aku seperti berada di sebuah museum yang diisi berbagai hal luar biasa dan tidak masuk akal. Semua yang ada di sini seperti lambang kerja seumur hidup.’ Lagi dan lagi Roxa berdecak kagum dan tidak berhenti mengedarkan pandangan.
“Sampai kapan kau akan berdiri di situ?”
Roxa terdasar hingga pandangannya bersirobok kepada sosok pria tampan yang sudah menunggunya. Pria itu berdiri di samping kursi kayu mahoni yang kosong.
Axe menarik kedua sudut bibir, tersenyum jahat tetapi memikat, “Kemarilah! Aku akan mengobati lukamu.”
\~\~\~