Beautiful Villaines

Beautiful Villaines
Bab 23. Bestie (?)



“Roxa, apa yang kau katakan sebelumnya itu benar?” Cathie bertanya dengan suara rendah. Gadis mungil berambut pirang keemasan itu sedang berbaring dengan posisi miring dan menghadap ke arah Roxa.


“Perkataan mana yang kau maksud, Cath? Perkataan jika aku sengaja menggodanya? Atau perkataan jika dia adalah milikku?” Roxa menarik kedua sudut bibir, tersenyum tipis. Semburat ketenangan tersebar di wajah cantik itu kala melihat rasa keingintahuan dari sahabatnya yang sedang berbaring saling berhadapan dengannya.


Ya, kini posisi tubuh Roxa juga sedang berbaring miring dengan netra emerald tertuju kepada Cathie. Mereka sama-sama berada di atas dipan dengan sebuah meja kayu yang menjadi pembatas di antara kedua dipan tersebut. Sementara di atas meja kayu itu, terdapat cahaya lilin di dalam wadah kuningan yang menjadi sumber penerangan selain kobaran api di dalam perapian.


“Semuanya.” Cathie kembali bersuara rendah. Ia merasa ragu untuk menanyakan hal yang sengaja disembunyikan. Ia memang mengetahui berita mengejutkan itu dari Deborah. Meskipun begitu, ia tetap ingin mengetahui keberanarannya dari Roxa.


“Semua yang kukatakan di meja makan memang benar (lebih tepatnya aku tidak sengaja menyerangnya dengan ciumanku dan memaksanya menjadi milikku).” Roxa menanggapi masih dengan senyuman dan ekspresi tenang.


“Emh, begitu ya ….” Kini gumaman yang lebih lirih terdengar dari mulut Cathie.


“Maaf karena tidak memberitahumu sejak awal jika saat itu dia sempat menolongku. Apa kau marah, Cath? Sejak tadi kau terlihat tidak bersemangat dan terus bersuara rendah.”


“Mengapa aku harus marah? Aku hanya merasa sedikit cemburu.”


Di detik itu juga, ketenangan yang sejak tadi diperlihatkan oleh Roxa mulai goyah, terlihat dari ekspresi matanya yang terbelalak. “A-apa? Kau cemburu padaku? Apa kau juga menyukai guru itu sama seperti Deborah dan murid yang lain?”


Cathie menghela napas dalam disusul dengan sebelah tangannya yang reflek memukul ringan lengan Roxa, “Aku cemburu padanya, Roxa! Bisa-bisanya dia merebutmu dariku.” Kini suara Cathie 1/10 desibel lebih tinggi dari sebelumnya.


“Ah\~” Roxa seketika bernapas lega dan kembali tersenyum.


“Sudah sering kukatakan jika apapun yang terbaik untukmu maka aku akan mendukungmu, Roxa. Dan jika ternyata dia adalah pria brengsek yang membuatmu terluka, maka kembalilah padaku.” Cathie tiba-tiba mengubah raut wajah yang biasanya kalem menjadi penuh amarah, membayangkan sosok guru baru itu berani menyakiti sahabatnya.


Roxa semakin berbinar. Ia juga tidak menyangka jika sahabat polosnya itu ternyata juga bisa mengumpat dan memperlihatkan ekspresi marah meskipun tetap terlihat menggemaskan baginya. “Terima kasih.”


“Terima kasih untuk apa?” Cathie kembali memusatkan perhatian kepada Roxa.


“Kau selalu berada di pihakku saat tidak ada satu pun yang mendukungku. Sebenarnya aku tidak mengerti mengapa mereka begitu membenciku dan terus membicarakanku. Percayalah, aku merasa bersyukur karena setidaknya aku tidak sendiri di sini.”


Sebelah tangan Cathie kembali terulur dan reflek memukul ringan lengan Roxa, “Apa yang kau katakan? Sejak kapan kau sendiri? Apa kau melupakan keberadaan Felix?“


“Apa kau juga akan menyembunyikan hal itu darinya? Kehebohan di meja makan tadi pasti akan tersebar dan dia juga pasti akan mendengar. Setidaknya kau juga harus menjelaskan sendiri padanya. Meskipun dia selalu tersenyum dengan wajah malaikatnya itu, tetapi kuyakin dia merasa khawatir.”


“Ya, ya, baiklah! Aku akan menjelaskan padanya nanti. Kupikir hari ini kau lebih cerewet daripada biasanya, Cath. Bahkan kau juga sudah bisa mengumpat. Apa kau tertular kebiasaan burukku?”


“Hah? Benarkah?” Cathie kembali memasang wajah polos sembari tercenung.


Roxa sontak terkekeh saat melihat Cathie yang justru megintrospeksi dirinya sendiri. Beranjak duduk, jemari lentiknya mengambil selimut tebal di atas dipan kemudian menyampirkan di tubuh agar merasa lebih hangat lagi, “Sepertinya aku sudah mengantuk. Aku tidur dulu, Cath.”


“Ya, aku juga akan tidur karena besok pelajaran pertama dimulai pukul enam pagi. Selamat tidur, Roxa. Semoga mimpi indah.”


“Mimpi indah untukmu juga.”


Kedua gadis itu mulai memejamkan mata dan mencoba terlelap dalam tidurnya. Suasana kamar dengan pencahayaan temaram itu mendadak begitu sunyi saat percakapan mereka berhenti.


“….”


“….”


“….”


“Cath, apa kau sudah tidur?”


“Belum, ada apa?”


“Omong-omong siapa yang akan mengajar kita besok?”


“Bukankah aku selalu menyuruhmu untuk mencatat jadwal yang memang sering berubah-ubah? Besok yang mengajar kita adalah guru yang kau sukai dan ingin kau jadikan milikmu. Guru Axe.”


Roxa membuka kelopak matanya seketika, “A-APA?”