
Liora meletakkan serbet yang dilipat dua di atas pangkuan, pertanda telah siap menikmati makanan yang disajikan oleh para koki dan pelayan di ruang makan kediaman Duke Shancez. Hidangan appetizer berupa beef bruschetta yang disajikan kali ini tampak begitu menggugah selera.
Dengan seraut wajah bersemangat, Liora pun menikmati hidangannya penuh tata krama layaknya seorang Putri bangsawan yang elegan dan bermartabat. ‘Hmm, délicieuse,’ benaknya berbinar senang sembari perlahan memotong daging menjadi kecil-kecil untuk menghindari mulut kepenuhan saat digigit.
Well, sebagai aktris papan atas di kehidupan asalnya, ia juga sering melakukan perjamuan makan resmi. Bahkan, tidak sekali dua kali ia diundang ke istana oleh Ratu Inggris. Tentu saja sesuatu tentang tabble manner dan sikap anggun ala bangsawan adalah keseharian.
“Jadi, apakah kepalamu masih sering sakit, Roxa?” Duke Shancez, pria bertubuh kekar dan berkumis tebal membuka perbincangan ringan. Dia adalah ayah kandung dari tubuh yang Liora tempati saat ini.
Liora sekaligus Roxana reflek menyentuh kepala, menekannya pelan, dan sedikit mengernyitkan dahi, “Aku sudah merasa lebih baik meskipun masih belum ada yang kuingat. Maafkan aku, Ayah,” jawabnya dengan seraut wajah merasa bersalah. Sungguh sandiwara yang sangat alami di saat sebelumnya ia begitu bersemangat menikmati makanan.
Tampak guratan kesedihan di wajah Duke meskipun pria separuh abad itu berusaha menyembunyikannya di balik senyuman, “Tidak apa-apa, Roxa. Jangan terburu-buru karena kami akan selalu menunggumu.”
“Benar. Kau adalah sesuatu yang paling berharga bagi kami. Jadi, selama kau sehat dan bahagia, itu bukan masalah.” Joanne, istri dari Duke Shancez sekaligus ibu kandung Roxana menyahut dengan senyuman teduh.
Liora tersenyum sembari mengamati sepasang suami istri tersebut. Ketulusan yang mereka tunjukkan kepada Roxana benar-benar dapat Liora rasakan. Selama hampir satu bulan tinggal di mansion kediaman Duke, mereka berdua selalu memperhatikan Liora dan memastikan hidupnya nyaman tanpa ada sesuatu yang kurang. Duke dan Joanne memang sangat menyayangi Roxana, putri tunggal mereka.
Kisah masa lalu Liora yang kelam tiba-tiba terbuka. Bisa dibilang jika ini adalah pertama kalinya Liora merasakan sesuatu yang dinamakan kehangatan sejak hidup sebatang kara di panti asuhan. Para pengasuh di panti itu begitu abai dan sering menelantarkannya. Mereka sibuk menggelapkan dana sumbangan yang diberikan kepada panti asuhan hingga roti keras dan berjamur yang sering menjadi makanannya.
Dan kini, Liora yang merasa begitu diperhatikan menjadi sedikit iri dan juga canggung. ‘Kau sungguh beruntung, Roxa,’ benaknya.
Diletakkannya sendok dan garpu berdampingan, pertanda Liora telah cukup menikmati makan. Agendanya hari ini adalah pergi ke guild, pusat informasi. Ia ingin mencari informasi tentang Axe—pria misterius yang ingin ia miliki.
Alasan Liora ingin memiliki pria itu mungkin memang terdengar sedikit konyol, yaitu karena ketampanannya. Akan tetapi, sejujurnya Axe juga berhasil menggetarkan hatinya. Suatu getaran asing yang pertama kali ia rasakan cukup membuatnya pernasaran.
Di kehidupan sebelumnya, selama Liora bermain peran dengan beberapa para aktor tampan, ia hanya menikmati wajahnya saja. Tidak ada satu orang pun dari mereka yang berhasil membuatnya berdebar.
Akan tetapi, Axe berbeda meskipun memiliki sifat dingin dan cukup menyeramkan. Jika ada Eva, mungkin ia akan memaksa menejernya itu untuk mendapatkan nomor pribadinya atau mungkin alamat emailnya bagaimana pun caranya.
“Oh, ya, Liora! Apa kau sudah membalas surat yang dikirim dari akademi?” Joanne bertanya dengan wajah berbinar cerah.
“Surat?” beo Liora sedikit melebarkan mata. Memang cukup banyak surat yang menggunung di meja kamarnya, tetapi ia sama sekali tidak menyentuhnya.
Sebab, Anne mengatakan jika sebagian besar surat itu berasal dari para bangsawan yang mengucapkan selamat karena Roxana telah kembali sadar. Liora sangat malas menanggapi mereka semua karena semua itu hanyalah basa-basi dan tanda kesopanan yang ditunjukkan kepada Duke Shancez belaka.
Well, sejak awal sudah dijelaskan jika sebagian besar gadis bangsawan tidak ada yang menyukai sosok Roxana yang angkuh, pendiam, dan misterius. Mereka selalu menggosipkannya di belakang dan menghindarinya jika bertemu di jamuan pesta.
“Maaf, aku belum sempat membacanya.” Liora berkata jujur dan sedikit tersenyum kaku.
Joanne terlihat sedikit kecewa, “Lalu apa kau akan kembali ke akademi sihir tahun ini?”
“Hah? Kembali ke akademi sihir?” Liora menautkan kedua alis.
“Sayang, sepertinya Roxa juga melupakan hal itu.” Duke menatap istrinya dengan wajah yang terlihat sedih.
“Maafkan aku, Ayah. Tapi bisakah kalian menceritakan semuanya padaku? Menceritakan semua yang terjadi sebelum aku hilang ingatan.”
Duke mengambil napas panjang sebelum mulai menjelaskan, “Sebelumnya kau sudah menjadi murid akademi selama satu tahun sebelum jatuh ke sungai. Akademi Hoover, itu adalah sekolah sihir terkemuka yang diperuntukkan untuk kaum bangsawan. Mereka telah mengetahui bakatmu dalam sihir dan kau juga sangat bersemangat saat mempelajarinya.”
‘Hm, jadi hal-hal supranatural tidak masuk akal seperti itu juga ada di sini. Saat itu ‘pria tampan calon suamiku’ juga memilikinya,’ benak Liora yang bisa-bisanya menyematkan julukan kepada Axe seenaknya.
“Roxa ….” Joanne membuyarkan lamunan Liora.
“Ya!” Roxa praktis menatap lekat wajah ibunya.
Baik, mulai detik ini kita akan mengubah panggilan Liora menjadi Roxa agar lebih mudah, right?
“Kami harap kau bisa kembali ke akademi dan bertemu dengan teman-temanmu. Mungkin dengan begitu, kau bisa mendapat kembali ingatanmu.” Joanne menambahkan dengan tatapan yang begitu dalam.
Roxa terhenyak. Saat ini ia benar-benar tidak bisa menolak. Bagaimana pun, ceritanya harus tetap berjalan. Roxana Adelaide memiliki bakat yang cukup hebat dalam sihir. Jika ia menggunakannya dalam hal yang benar yaitu tidak mencoba membunuh pemeran utama wanita, bukankah nasib buruk juga tidak akan terjadi kepadanya? Terlebih, kekuatan itu juga akan berguna untuk melindunginya dan juga keluarganya jika dibutuhkan.
“Jadi, kapan aku harus bersiap, Ibu?”
Mendengar hal itu, Joanne lantas tersenyum bahagia, “Empat hari lagi adalah pembukaan tahun ajaran baru. Karena Hoover berada di benua paling utara, maka kau harus menyebrangi separuh daratan Inggris dari kediaman kita yang ada di perbatasan Ibu Kota. Kau bisa berkemas sekarang sebab besok pagi kau sudah harus memulai keberangkatan.”
‘Besok? Itu tandanya aku tidak bisa megunjungi guild hari ini. Yah, bagaimana lagi,’ benak Roxa menyayangkan hancurnya agenda yang telah dibuat untuk mencari calon suaminya. Well, jika tidak bisa menemukannya saat ini, mungkin ia bisa menemukannya di kemudian hari. Ah! Atau mungkin mencari calon suami yang lain di akademi sihir. Hm, cepat sekali gadis itu berubah pikiran dan mengubah rencananya.
Menatap Duke dan Joanne secara bergantian, Roxa mengangkat kedua sudut bibir, memberikan senyuman hangat, “Baik, Ayah, Ibu. Aku akan menyiapkan keberangkatanku.”
\~\~\~
Roxa tidak menyangka jika akan melakukan perjalanan terlamanya secepat ini setelah terbangun di tubuh Roxana Adelaide. Terlebih, ia akan pergi ke tempat yang begitu mustahil ada di kehidupan asalnya, Akademi Sihir.
‘Aku seolah menjadi Harmione Granger dalam seri Harry Potter,’ benak Roxa sembari mengetuk-ngetuk ujung jarinya di bingkai jendela kereta.
Omong-omong tentang seri Harry Potter, kali ini Roxa juga merasakan hal serupa yaitu pergi menuju Akademi Sihir menggunakan kereta. Bedanya, bukan kereta sihir ‘Hogwarts Express’ melainkan kereta biasa yang akan membuat tubuh memantul-mantul seperti pegas jika jalanan tidak rata. Di ruang tempat duduk Roxa saat ini juga hanya ada dirinya sendiri, tidak ada Harry, Ron, dan Harmione.
Melihat pemandangan yang ada di luar jendela, sudah tiga jam lamanya Roxa duduk di dalam kereta dan hampir mati kebosanan. Diambilnya sebuah buku novel roman yang ada di tas koper yang telah disiapkan oleh Anne untuk menikmati waktu selama perjalanan.
Sebelumnya, Anne hanya memasukkan buku sejarah dan perkembangan hukum yang biasa dibaca oleh Roxana asli hingga Roxana palsu alias Liora menyuruhnya untuk mengganti semua dengan bacaan novel roman. Bayangkan saja akan semengerikan apa Roxana palsu membaca buku-buku membosankan itu di saat dirinya hanya menyukai novel roman bergenre mature.
Pintu tempat duduk Roxa tiba-tiba terbuka saat ia sibuk membaca bacaan panas dan membayangkan adegan penuh gairah yang ada di novel tersebut.
Di ambang pintu, netra emerald Roxa bersirobok pada sosok pria berwajah menawan dengan rambut golden blonde yang tersenyum ramah kepadanya. Pria itu kemudian berjalan mendekat dan langsung duduk di sampingnya.
“Akhirnya aku menemukanmu, Roxa. Kukira kau akan duduk di ruang paling ujung seperti biasa,” ujarnya sembari menaruh koper yang dibawa di bawah tempat duduk.
“Si-siapa ya?” Roxa bertanya dengan terbata dilengkapi dengan wajah kikuk. Dia sungguh tidak mengenal siapa gerangan pria tampan yang sepertinya kenal dekat dengannya.
Pria itu terdiam sejenak dan menatap Roxa dengan netra peraknya yang indah dalam-dalam, “Sepertinya berita tentang kau hilang ingatan memang benar. Mengapa kau tidak membalas suratku? Aku Felix Theodore, sahabatmu.”
Roxa terbelalak, ‘Fe-felix Theodore? Bukankah dia adalah second male lead dalam film The Villain’s Dead?’
\~\~\~