Beautiful Villaines

Beautiful Villaines
Bab 7. Liam Demente de Dias



Semilir angin membelai daun-daun rumput yang membumbung tinggi. Genangan air danau yang begitu tenang dan jernih. Dan, sekumpulan angsa putih yang berenang dengan anggun. Semua itu seolah menjadi saksi akan pertemuan antara sepasang pria dan wanita yang baru saja terjadi.


Pria itu jatuh tepat di atas tubuh sang wanita di hamparan rumputan. Kini, keduanya telah memperlihatkan wajah asli yang sesungguhnya.


Bukankah adegan saat ini terasa begitu klise seperti yang biasa terjadi dalam novel romansa? Yeah, Liora pun merasakannya. Dari sekian banyak adegan syuting yang pernah ia lakukan di kehidupan asalnya, baru kali ini ia merasa terhanyut dalam situasi tidak terduga yang ada di depan mata.


Terlebih, saat mata cantiknya itu melihat seraut wajah tampan yang benar-benar tidak sopan!


Darahnya berdesir. Hatinya bergetar tak terkendali. Jantungnya seakan memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh. Sungguh perasaan asing bagai tarikan magnet yang begitu kuat dan membuatnya tidak bisa melepaskan pandangan barang sedetik.


‘Oh, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?’ Liora tercenung tanpa memutuskan pandangan pada pria tampan yang masih berada di atasnya. Netra emeraldnya kemudian beralih kepada rahang tegas pria tersebut, “Emm, rahangnya juga sangat seksi!” Liora tanpa sadar mengeluarkan suara.


Axe, pria yang memenjarakan tubuh Liora seketika mengerutkan kening saat dapat menangkap apa yang dikatakan wanita asing tersebut. Rahang seksi? Astaga! Bagaimana bisa ada wanita yang begitu mesum dan langsung menilai rahangnya. Dengan cepat ia beranjak berdiri dan disusul oleh Liora yang juga ikut berdiri.


“Untuk apa kau mengikutiku?”


“Aku? Mengikutimu?” Otak cantik Liora yang sebelumnya loading karena terhipnotis ketampanan kini telah kembali mendapatkan kesadaran, “Ah, gadis bangsawan! Bagaimana bisa kau mengetahuinya?” Liora menanyakan kembali saat sebelumnya Axe menyebutnya gadis bangsawan kurang kerjaan.


Axe berdecak, “Jadi karena itu kau mengikutiku?”


“Ya! Bahkan kau juga menuduhku sebagai gadis bangsawan yang kurang kerjaaan (meskipun aku memang kurang kerjaan).”


Dikerutkan kening Liora dengan air muka kesal, “Jadi, katakan bagaimana kau bisa mengetahui identitasku? Apakah kau adalah mata-mata yang ditugaskan mengintai keluarga Duke Shancez?” Liora justru membeberkan identitasnya sendiri.


Menghela napas panjang, pria berjubah hitam itu hanya mempersembahkan seraut wajah datar, “Bukankah sudah sangat jelas, seorang gadis yang pergi ke tempat kotor dan menyembunyikan identitasnya saat bermain hanya seorang gadis bangsawan.”


Liora terdiam, ‘Hm, benar juga.’


“Jangan mengikutiku lagi jika kau tidak ingin kabar duka terdengar dari keluargamu.”


Liora terbelalak, “Apa kau akan membunuhku?”


“Hal itu sangat mudah untuk dilakukan.” Suara yang tenang dan datar itu mampu membuat siapapun merasa terintimidasi dan bergidik ngeri.


Bukannya takut, sudut bibir Liora justru berkedut melihat ekspresi dingin pria tersebut.


‘Lihat! Bahkan tatapan dinginnya begitu alami dan sangat seksi. Bagaimana mungkin aku takut? Dia hanyalah rakyat biasa yang bahkan namanya saja tidak ada dalam daftar pemain figuran,’ benak Liora yang telah membuat kesimpulan.


“Hey! Apa kau tidak tahu aku adalah putri tunggal Duke Shancez? Membunuh bangsawan tersohor sepertiku hukumannya tentu tidak biasa. Nyawamu saja mungkin belum cukup menjadi hukumannya.” Liora berkacak pinggang, bersikap jemawa penuh kuasa. “Bagaimana jika kita melakukan transaksi?”


“Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan?” Axe mengangkat sebelah alis.


“Mari kita berkencan. Itu adalah transaksi yang kutawarkan. Dengan begitu, aku akan memaafkan kekurang-ajaranmu.”


“….”


Terjadi keheningan untuk sesaat.


Axe hanya bergeming seolah membeku di tempat. Hanya terdengar suara sekumpulan angsa di dalam danau yang menggericau.


Liora mengernyit, “Mengapa diam saja? Apa kau menolakku? Aku membutuhkan pria sepertimu (karena kau tampan).”


“….”


Masih terjadi keheningan. Axe benar-benar tidak menyangka jika akan menghadapi seorang wanita yang menurutnya gila.


“Sepertinya di Ibu Kota kalimat minta ingin dibunuh sudah berganti menjadi sangat panjang seperti itu. Tapi aku akan mengampunimu karena kau tidak waras.” Axe menjawab dengan ekspresi kaku. Pria itu kemudian berbalik dan berniat meninggalkan wanita aneh yang baru saja ditemuinya tersebut.


Kerutan di dahi Liora semakin dalam. Dengan sigap ia menghentikan langkah Axe dengan menarik sebelah tangannya, “Kau berani menolakku? Atas dasar ap—AKKKKHH!” Liora tiba-tiba memekik saat merasakan sebuah sengatan yang menjalar di tangannya. Sangat perih dan panas. Jika ia tidak melepaskan tangannya mungkin sekujur tubuhnya bisa hangus terbakar.


“A-apa ini?” Liora menatap keheranan kepada tangannya sendiri, “A-apa kau manusia listrik?”


Axe kembali terdiam. Sebelumnya, pria itu memang menghantarkan sihir api yang dimilikinya kepada tangan Liora yang berani menyentuhnya. “Sepertinya putri Duke benar-benar memiliki penyakit serius,” tandasnya yang kemudian berbalik dan melenggang pergi dari hadapan gadis yang masih dipenuhi keterkejutan.


Pandangan Liora masih belum terputus pada jemari lentiknya yang gemetar, “Apa di dunia ini kekuatan super benar-benar ada?”



Terdapat sebuah ruangan mewah yang didominasi dengan warna hitam dan emas. Nuansa kelam bercampur elegan melebur di ruangan tersebut. Di dalamnya, terdapat seorang pria berjubah hitam yang sedang duduk di peraduan dengan segelas anggur merah di sebelah tangannya.



Pria itu sesekali menggoyang pelan gelas kacanya sembari menyesapnya secara perlahan. Sementara di depannya, terdapat selusin bandit yang tengah bersimpuh, memohon ampun dengan tubuh gemetar ketakutan.



"Saya menunggu perintah Anda, Pangeran." Enzo, seorang ksatria melipat sebelah kakinya di hadapan Pangeran tersebut.



Ya, kalian tidak salah dengar!



Sosok itu … memang seorang Pangeran. Pria bernetra biru yang bersembunyi di balik jubah hitam sekaligus pria yang sebelumnya terjatuh bersama Liora adalah Liam Demente de Dias, sosok yang dikenal sebagai Pangeran Neraka.




Pun Liora yang juga tidak mengetahui wajah dari sosok Pangeran tersebut. Ia tidak memiliki pengetahuan apapun tentang para pemain di dunia ini. Semua gambaran dalam mimpi yang seperti pertunjukan opera sebelumnya begitu samar dan tidak menampakkan wajah dengan jelas.



Bahkan, sebelumnya Liora juga tidak mengetahui raga siapa yang ia tempati dan ternyata justru raga pemeran antagonis di dunia ini. Niat hati ingin menghindari Pangeran Neraka bagaimana pun caranya, Liora justru mengejar malaikat mautnya sendiri dengan tidak tahu malunya. Bahkan, gadis itu juga mengajaknya berkencan saat pertemuan pertama mereka terjadi. Sungguh ironi.



"Penggal kepala mereka dan kirimkan potongan kepala itu pada seseorang yang ada di balik semuanya!" titah Liam dengan senyuman jahat yang memikat.



Enzo mengangguk mantap, "Baik, Pangeran." Ditariknya sebilah pedang dari selongsongnya kemudian diayunkannya pedang itu ke udara hingga satu persatu kepala bandit itu menggelinding di permukaan lantai marmer istana.



Suara pekikan dan jeritan ketakutan sontak memenuhi ruangan tersebut. Liam menghilangkan nyawa mereka semua seolah sedang membunuh serangga. Pangeran itu justru menenggak anggur merah di tangannya bersamaan dengan darah segar yang mengalir di bawah kakinya seolah sedang tidak terjadi apa-apa.



Ya, Pangeran Neraka tetaplah Pangeran Neraka!



Di detik berikutnya, Liam menjentikkan jari, memanggil sosok pria tua berjubah putih dan berambut putih panjang penuh uban yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Pria itu adalah Corbis, penyihir agung sekaligus pimpinan menara sihir di Kekaisaran Deltora.



“Saya menghadap Anda, My Lord.” Corbis menunduk dengan sopan.



“Aku ingin kau menyelidiki sesuatu, tentang putri dari keluarga Duke Shancez.”



Corbis sedikit terkejut. Ini adalah pertama kalinya Pangeran itu memberikan perintah untuk menyelidiki seorang wanita. Ya, mereka yang telah melihat wajahnya selalu tergoda untuk mendekatinya. Namun, sayangnya mereka semua justru berakhir dengan kehilangan nyawa.



“Setelah bersentuhan dengannya, aku sama sekali tidak merasakan apa-apa. Kekuatan sihir api itu tidak menyiksaku.” Liam menjelaskan dengan wajah datar dan pikiran mengelana pada kejadian sebelumnya.



Saat itu … Liora berhasil menyentuhnya. Menyentuh tangannya saat berusaha menghentikannya. Namun, keajaiban seolah terjadi dan ia tidak merasakan sesuatu yang menyakitkan seperti yang biasanya terjadi. Kekuatan sihir api yang seharusnya melalap dirinya, justru tidak bereaksi apa-apa. Hal itulah yang membuatnya membiarkan Liora tetap hidup dan melepaskan wanita tersebut.



Enzo bergeming untuk berpikir sejenak, “Saya dengar dokter keluarga di kediaman Duke Shancez sedang mengajukan penelitian ke menara sihir tentang penyakit langka amnesia. Sebelumnya, putri dari keluarga itu jatuh ke sungai dan tidak sadarkan diri selama satu minggu,” jelas Corbis yang tentu saja mengetahui berita tersebut. Dia adalah pemimpin menara sihir sekaligus pria yang ditugaskan mengobati dan meneliti kutukan yang diderita Liam.



“Hm, jadi itu yang membuatnya aneh.” Liam bergumam dengan pandangan kosong.



“Aneh?” Corbis memastikan pendengarannya.



“Lebih tepatnya sedikit gila.”



Corbis terbelalak. Ia cukup terkejut karena ini juga pertama kalinya Pangeran itu memberikan penilaian kepada seorang wanita, meski penilaian negative.



“Saya akan meyelidikinya lebih lanjut. Biar bagaimanapun ini kondisi langka di mana Anda tidak merasakan trauma saat bersentuhan dengan wanita. Jadi, saya akan melakukan yang terbaik.”



Liam mengangguk datar, “Dan selidiki juga tentang manusia listrik karena aku baru pertama kali mendengarnya.”



Corbis kembali terbelalak. Banyak sekali yang harus diselidiki. Tentu saja ia tidak mengetahui kata-kata asing tersebut. “Baik, My Lord.”