
Dengan posisi duduk saling berhadapan dan seorang gadis yang berada di pangkuan, Axe semakin memperdalam cecapan lidahnya yang menyeruak dan memaksa masuk ke dalam bibir madu gadis tersebut.
Roxa tidak ingin berlama-lama terkejut akan reaksi tidak terduga yang terjadi saat ini. Ia membalas dengan membuka mulutnya untuk memberikan akses lebih. Jemari lentiknya menyisip ke rambut hitam legam dan lebat Axe. Ya, ia menerima ciuman itu penuh dengan sukacita.
Axe menarik sudut bibir, menyeringai kala menyadari jika Roxa membalas ciumannya yang sialnya membuatnya bergairah. Ia semakin menyalakan insting predatornya untuk mereguk setiap bulir rasa manis di mulut gadis tersebut.
Bibir mereka saling menyesap. Kedua lidah itu saling menyelinap, menggoda, dan memangsa. Axe mendominasi dengan lidahnya yang terampil dan sesekali memberikan sentuhan lembut di tubuh Roxa. Apakah ini sungguh yang pertama baginya?
Sekujur tubuh Roxa mulai mendamba. Anehnya, ia bisa merasakan gelenyar asing yang tidak pernah ia dapatkan meskipun sudah sering berciuman karena sebuah peran di kehidupan sebelumnya. Pria itu … benar-benar terasa berbeda. Sungguh memabukkan dan mampu membuatnya terbakar.
Ciuman penuh gairah itu akhirnya menuntun Axe berpindah ke leher jenjang Roxa yang sedikit mendongak. Gadis itu merasakan sengatan-sengatan kecil yang membuat bibirnya meloloskan sebuah lenguhan yang terdengar merdu di telinga.
“Ummmh~”
Namun, di detik itu juga kedua bola mata Roxa terbelalak lebar. Ia tiba-tiba tersadar. Bagai mendapat bisikan dari malaikat pelindung, ia mengingat kembali tugasnya ada di dunia ini; mengubah takdir buruk yang akan terjadi.
Bukankah terlalu awal untuk bersenang-senang? Jika kegiatan berbahaya ini diteruskan, maka bisa saja ia kebablasan. Ia tidak ingin berakhir dengan menyerahkan keperawanan. Di era ini kesucian adalah segalanya terutama bagi gadis bangsawan sepertinya.
Dan yang lebih penting dari itu semua … saat ini dia adalah seorang murid dan Axe adalah gurunya!
Bagaimana bisa skandal seorang murid dan guru berjalan begitu cepat, mulus, dan bebas hambatan seperti jalan tol. Setidaknya ia harus memastikan apakah Axe bersedia berada di pihaknya atau tidak. Ya, yang ia butuhkan adalah suami yang akan melindunginya. Bukan partner ranjang, right?
Roxa sedikit mendorong dan menjauhkan dada bidang Axe. “Hentikan!” ujarnya dengan napas terengah dan wajah memerah. Sejujurnya ia sangat menyayangkan jika kegiatan ini harus dihentikan. Mubazir memang.
Axe terdiam sejenak dengan pandangan mata berkabut, “Ke mana hilangnya keberanianmu tadi?” Suara rendahnya yang seksi terdengar lebih serak dari sebelumnya.
“Emh, ada sesuatu yang harus kupastikan terlebih dahulu. Sebuah tanda.” Roxa berusaha memalingkan wajah meskipun masih berada di pangkuan Axe.
“Hm?” Dahi Axe berkerut samar.
“Kita baru saja membuat sebuah tanda. Ciuman itu adalah tanda jika mulai saat ini Guru adalah milikku. (Kau harus berada di pihakku dan melindungiku).”
“….”
Butuh keberanian tinggi bagi Roxa agar bisa menatap netra biru Axe. Mendadak ia merasa gelisah. Ia takut mendapat penolakan untuk yang kedua kalinya.
Senyuman miring tiba-tiba tergelincir di sudut bibir Axe, “Bukan aku yang menjadi milikmu, tetapi kau yang menjadi milikku. (Semua yang kuinginkan selalu kudapatkan).”
Bola mata Roxa sontak berbinar, “Apapun itu … sama saja. Apakah mulai saat ini kita berkencan? (Dengan begitu aku bisa mengubah takdirku).”
Axe sedikit berpikir di balik wajahnya yang tenang, “Haruskah kita melakukannya? (Aku orang yang berbahaya).”
Netra emerald Roxa semakin berbinar cerah. Senyuman indah terlukis di bibirnya. Sungguh malang seorang gadis yang berpikir jika telah mendapatkan apa yang diinginkan—menjauh dari malaikat maut yang akan mengambil nyawanya. Padahal, ia justru mengikat sosok malaikat mautnya sendiri.
Roxa beranjak berdiri, merapikan seragam, kemudian sedikit membungkuk untuk berpamitan, “Sepertinya aku sudah membuat yang lain khawatir karena tidak segera kembali,” Hey! Ke mana saja ia selama ini? Karena sibuk bersenang-senang membuatnya hampir melupakan segalanya, termasuk nasib teman-temannya yang justru sedang sibuk mencarinya.
Axe mengambil gulungan tembakau kemudian menyalakan sihir untuk memantik api, “Ya, pergilah,” ujarnya datar sembari menghirup dalam-dalam sensasi tembakau di tangannya.
Namun, sebelum Roxa melangkah pergi, Axe kembali mengatakan sesuatu. “Aku akan melaporkan kejadian hari ini. Kurasa ada yang perlu diselidiki.”
Roxa mengangguk dengan senyuman cerah di wajahnya yang cantik, “Terima kasih. Aku pergi.”
Di detik berikutnya, Roxa benar-benar berderap pergi hingga keluar dari ruang bawah tanah. Setelah keluar dari laboratorium dan menuju asrama Hoover, Roxa semakin mempercepat langkah hingga berlari terbirit-birit.
Percayalah, berbeda dengan sikap berani yang diperlihatkan, sebenarnya sejak tadi jantungnya terus berdebar dengan menggila. Ia merasa kagum pada dirinya sendiri yang bisa melewati semuanya dan tetap berpura-pura tenang.
Terlebih, saat mengingat detik-detik mereka berciuman penuh gairah. Oh astaga! Ia benar-benar ingin menjerit! Bahkan dinginnya musim dingin di tengah hutan saat ini tidak mampu mendinginkan wajahnya yang memanas.
Roxa juga tidak menyangka dengan kalimat tidak terduga yang telah keluar dari mulutnya. Mereka akhirnya berkencan? Ya ampun! Haruskah ia merayakannya? Mendadak kakinya terasa lemas seperti agar-agar. Darahnya seolah merangkak naik hingga wajahnya memerah.
Di tengah hutan belantara, Roxa terus berlari dan berlari. Jejak langkahnya membekas di jalanan bersalju, ‘Ya, langkah yang kuambil sudah benar! Aku akan mengubah takdir burukku dan menghindar dari malaikat maut sialan itu,’ benaknya dengan bibir melengkung, membentuk senyuman, ‘Selamat tinggal Pangeran Neraka! Aku tidak akan pernah berurusan denganmu!’
Sementara di ruang bawah tanah, Axe mengecap kembali rasa yang tertinggal dari bibirnya, 'Manis ….' Pikirannya tertuju pada seorang gadis yang baru saja meninggalkan ruangan disusul dengan sudut bibirnya yang sedikit terangkat, menyeringai, ‘Dia berusaha menyembunyikan ketakutannya dengan cukup baik. Aku tidak akan melepaskannya.’