
Suasana di Toko Roti Gustav perlahan menenang tepat setelah kepergian dua pembuat onar yang sempat membuat kekacauan. Para pelanggan yang beranjak berdiri kala keributan terjadi mulai duduk kembali dan menikmati kelezatan kudapan yang ada di atas meja mereka masing-masing.
Pun Gustav yang juga bertransmigrasi ke dapurnya untuk melanjutkan aktivitas, mengeluarkan roti-roti kering dari panggangan dan menyajikan menu-menu pesanan.
Sementara Roxa yang masih duduk manis di kursinya diam-diam melirik ke arah Dimitri yang mana juga sedang duduk seorang diri tepat setelah kepergian dua pemuda laknat yang sempat membawanya, Troy dan Max. Entah bagaimana nasib dua murid badung itu di luar sana saat berada di tangan Felix. Sepertinya mereka sudah menyesali perbuatannya.
Apakah kalian terkejut melihat wujud Felix yang sesungguhnya? Benar, di balik senyuman menawan yang begitu bersinar dan biasa terlihat di wajah tampan pemuda tersebut, memang terdapat segelumit kegelapan yang tersembunyi dalam dirinya.
Beranjak berdiri, Roxa tiba-tiba memutuskan untuk menghampiri Dimitri. Wajahnya yang babak belur akibat perundungan Troy dan Max masih terlihat jelas.
Sesampainya di kursi yang ada di hadapan Dimitri, Roxa menghempaskan bokong tanpa perijinan. Ia kemudian mengambil sebuah saputangan yang ada di saku gaun-nya kemudian mengulurkannya ke depan, “Untuk membersihkan darah di sudut bibirmu.”
Dimitri tampak sedikit terkejut. Tangannya terulur dengan gugup, “Te-terima kasih,” gagapnya dengan kepala kembali ditundukkan.
“Pasti rasanya perih. Apakah mereka memang sering memperlakukanmu seperti ini?”
Dimitri kembali terkejut saat mendengar Roxa yang mengajaknya berbicara dan bersimpati kepadanya. Pasalnya, selama ini teman-teman lainnya hanya besikap abai dan tidak memedulikannya. “Kupikir hal seperti ini sudah bukan rahasia lagi. Tidak ada target bully bagi mereka yang sebaik diriku,” gumamnya dengan suara hampir tertelan.
Terjadi keheningan untuk sesaat.
Roxa menatap Dimitri dalam diam. Ditindas, diremehkan, dan tidak dianggap. Sebenarnya, ia juga pernah merasakan hal serupa saat berada di panti asuhan. Lebih tepatnya saat berada di kehidupan sebelumnya. Ya, ia memang tidak langsung menjalani kehidupan yang nyaman sebagai seorang aktris papan atas, tetapi juga pernah menjalani kehidupan yang tidak mudah.
“Aku tidak akan berkata mengapa kau menerima perlakuan seperti itu begitu saja. Sebab, aku tidak tahu bagaimana situasi yang membuatmu memilih untuk tetap diam dan menahannya.”
Dimitri bergeming, tidak berani menatap Roxa. Benar, ia memang sedang menahan semuanya. Semua perlakuan Troy dan teman-temannya.
Sebagai putra tunggal dari seorang petani yang yang sukses dan berhasil menjadi seorang bangsawan di desa, ayahnya menaruh harapan besar kepadanya. Putraku pasti akan sukses di Akademi Hoover. Putraku ternyata memiliki bakat sihir dan aku akan membagi-bagikan hasil panen. Putra semata wayangku akan pulang membawa keberuntungan. Berbagai kalimat harapan tidak ada hentinya diucapkan oleh ayahnya yang diktaktor, Baron Pedro.
Sebuah kenangan kembali membawanya pada masa sebelum kejayaan keluarganya di Vienna, di sebuah desa tempatnya berasal. Ia pernah merasa sangat beruntung karena sebelumnya sang ibu telah mengajarinya untuk membaca sebab sedikit sekali orang-orang di desanya yang bisa membaca. Buku itu mahal, seperti benda-benda berharga yang dapat dijadikan harta.
Dimitri masih belum lupa momen menyenangkan di antara membuka bungkus paket ulang tahunnya di musim semi dan menemukan apa yang ada di dalam bungkus tersebut—sebuah buku dengan bau tinta dan kertas yang menggelitik lubang hidungnya saat ia membuka lembar pertama. Hal itu membuatnya sangat senang.
Ya, buku dan belajar adalah dua hal yang paling Dimitri sukai. Dan kini, ia hanya ingin terus membaca buku dan mempelajari hal-hal baru di akademi. Ia juga tidak ingin kedua orangtuanya berurusan dengan keluarga Troy yang memiliki pengaruh cukup besar, Count Benjamin, aristrokat terkenal yang merupakan salah satu donatur tetap.
Tentu saja keluarganya yang hanya bangsawan kelas rendah di pedesaan tidak ada apa-apanya. Menurutnya, balas dendam paling sempurna adalah membuktikan kepada mereka dengan menjadi seorang alkemis hebat nantinya.
“Dimitri?” Roxa membuyarkan lamunan Dimitri.
“Ya?”
“Aku hanya ingin mengatakan, jika hal yang paling penting adalah menikmati hidupmu.”
Dimitri mengernyit, “Mak-maksudmu?”
Roxa tersenyum, “Maksudku, kau harus menjadi bahagia apapun yang terjadi. Berdayakan dirimu. Kau perlu percaya diri karena satu-satunya hal yang dilakukan mereka yang mengganggumu adalah menghilangkan kepercayaan dirimu. Tidak ada yang pantas menerimanya. Termasuk kau, Dimitri. Percayalah, dirimu berharga lebih dari apapun,” ujar Roxa panjang lebar yang mendadak menjadi bijak dan siap membuka biro konsultan.
Dimitri tertegun. Pandangan matanya terkunci kepada Roxa yang mana juga sedang menatapnya dengan seraut wajah penuh keyakinan. Ia seolah melihat jelmaan malaikat yang sesungguhnya dalam diri gadis cantik tersebut. Meskipun saat ini adalah pertama kalinya mereka berbicara, tetapi ia bisa meyakini jika semua rumor buruk tentang Roxa hanyalah sekadar rumor belaka.
Detik berikutnya, kedua sudut bibir Dimitri tertarik ke atas, tersenyum tipis. “Ya. Aku akan lebih percaya diri lagi. Terima kasih.”
Roxa tersenyum ceria, “Bagus! Kau pasti bisa melaluinya. Omong-omong, apa kau sudah memiliki kelompok untuk pelajaran Guru Axe?”
Roxa justru berbinar cerah, “Bagaimana jika berkelompok denganku? Kebetulan di kelompok kami hanya ada aku, Felix, dan Cathie.”
“Hah? Bo-bolehkah aku bergabung dengan kalian?” Dimitri sedikit terkejut dengan bola mata membeliak.
Roxa mengangguk mantap, “Tentu saja boleh. Menurutku kau adalah murid yang rajin dan pintar. Itu justru hal yang menguntungkan kami, hohoho,” ujarnya sembari tertawa tidak anggun seolah telah berhasil memenangkan lotre. Tentu saja dengan adanya Dimitri, pekerjaan alkemis yang sulit itu akan menjadi lebih mudah. Hanya tersisa beberapa pekan bagi kelompok mereka untuk menemukan rumput emas yang dijadikan sebagai tugas.
“Terima kasih.” Dimitri bergumam pelan sembari kembali menundukkan kepala. Pipinya bersemu merah. Ini adalah pertama kalinya ia merasa diterima dan dihargai. Meskipun begitu, ia tidak pernah berani untuk berpikir jika bisa menyesuaikan diri dengan Roxa, Felix, dan Cathie. Ia merasa rendah diri.
“Bagaimana jika kita bersulang? Merayakan hari pertama kita dalam berteman.” Roxa berujar ceria.
“Te-teman?” Lagi dan lagi Dimitri dibuat terkejut. “Apakah kau menganggapku teman?”
“Tentu saja! Mana mungkin aku menganggapmu seorang budak. Lagi pula, makanan dan minumanmu di meja sangat banyak.” Pandangan Roxa tertuju pada beberapa minuman yang ada di atas meja. Minuman bir dan makanan yang begitu banyak dipesan oleh Troy dan sama sekali belum tersentuh. Troy memang sengaja memesan banyak menu untuk menghabiskan uang Dimitri. Bangsat memang.
Dimitri mengangguk cepat. Kebetulan, ia memang membutuhkan teman untuk menghabiskan semua yang sudah terlanjur dipesan. Dan melihat Roxa yang begitu bersemangat, ia juga sedikit dipenuhi dengan aura semangat dan harapan. Ia jadi tidak ingin terlihat tidak berdaya lagi. Seperti yang dikatakan Roxa, ia harus menghargai dirinya sendiri mulai hari ini.
“Bersulang!” Dimitri mengangkat segelas bir dengan senyuman lebar.
“Bersulang!” Pun Roxa yang ikut mengangkat segelas bir dengan wajah ceria. “Selamat datang di kelompok kami, Dimitri.”
“Terima kasih banyak. Aku akan berusaha keras agar nilai alkemis kita menjadi bagus.”
TING!
Terdengar suara dentingan saat dua gelas kaca itu saling bertabrakan di udara. Roxa dan Dimitri kemudian menenggak minuman memabukkan itu secara bersamaan.
Satu gelas bir telah habis. Roxa dan Dimitri minum dengan riang sembari bersenda gurau hingga membawa mereka pada ronde berikutnya.
Tanpa sadar, keduanya telah menghabiskan beberapa gelas bir beserta makanan di atas meja. Mereka seolah sedang merayakan sebuah permulaan yang baru.
“Hey, Dimitri! Bagaimana menurutmu tentang guru alkemis kita? Bukankah dia sangat menyebalkan?” Roxa yang telah mabuk mengajak Dimitri untuk berghibah, membicarakan Axe.
“Umh, guru alkemis kita? Dia keren!” Dimitri tersenyum lebar dan sudah tidak canggung lagi. Sama seperti Roxa, kini ia juga sedang mabuk. “Kelak aku ingin menjadi sepertinya,” imbuhnya.
“Heee?” Roxa melongo. “Lebih baik jangan. Bagaimana bisa lelaki lugu sepertimu ingin jadi sepertinya. Kau hanya sedang tertipu oleh penampilan luarnya saja? Jangan pernah tertipu oleh keindahan, Dimitri! Sebab, keindahan bisa saja mematikan. Aku pernah mendengarnya dari orang yang sangat menyebalkan.” Roxa mendadak beralih profesi menjadi motivator dan memberikan kalimat motivasi yang sebenarnya lebih cocok untuk dirinya sendiri.
Dimitri hanya manggut-manggut. Kesadarannya semakin menurun. Ini adalah pertama kalinya ia menghabiskan alkohol dalam jumlah banyak bahkan sampai sekarang masih terus menenggaknya.
Roxa menenggelamkan kepala di atas meja, “Tapi mengapa aku masih begitu ingin mendapatkannya. Mendapatkan pria menyebalkan, tetapi tampan itu,” gumamnya begitu lirih dengan kepala yang sangat pening karena pengaruh alkohol.
Felix kembali masuk ke dalam toko setelah membereskan Troy dan Max. Pemuda tampan itu kemudian melihat Roxa dan Dimitri yang sudah terlelap dengan kepala tergeletak di atas meja. Terdiam sejenak, ia bertanya-tanya sejak kapan mereka berdua menjadi akrab dan minum bersama.
Dengan penuh perhatian, Felix memutuskan untuk menggendong tubuh Roxa di punggungnya. Sementara untuk Dimitri ..: ia hanya menitipkan pada Gustav sampai Dimitri kembali mendapatkan kesadarannya.
“Loh! Apa aku sedang naik seekor unta?” Roxa yang sedang terlelap di punggung Felix tiba-tiba melantur dan bermimpi mengunjungi Taman Satwa.
\~\~\~