
“Dia adalah Axe Jhonson, guru baru Alchemis yang akan mengajar sementara di Hoover. Kalian tahu ‘kan jika Miss Penelope, pengajar sebelumnya sedang cuti melahirkan, hohoho.” Prof Magdalena tertawa riang hingga perutnya yang buncit bergerak naik turun mengikuti irama kekehannya.
Tampaknya, tidak hanya para murid yang antusias dan gembira akan diajar oleh seorang guru tampan dan menawan, melainkan guru wanita sekaligus pembawa acara itu juga menantikannya. Pasalnya, seorang profesor pemilik gincu merah merona dan tahi lalat di atas bibir yang mirip seperti Marilyn Monroe itu tidak melepaskan pandangan kepada Axe yang berdiri tepat di sebelahnya.
“Wuah! Dia guru baru kita!”
“Bagaimana ini, dia memiliki sihir abadi selain memiliki wajah yang tampan. Betapa hebatnya dia!”
“Umh, kira-kira berapa umurnya? Dia terlihat sengat muda untuk memiliki kekuatan hebat seperti itu.”
Suara-suara sumbang kembali terdengar bersamaan dengan tepuk tangan yang menggema dari para murid yang ada di bangku penonton. Mereka terpana dan tidak memutuskan pandangan kepada sosok pria yang kini berdiri di atas panggung.
Begitu juga dengan … Roxana.
Namun, mengapa Roxana tidak menyadarinya? Menyadari jika sosok pria itu adalah pria paling berbahaya dan wajib ia hindari apapun yang terjadi. Bukankah jawabannya sudah sangat jelas?
Sama halnya ketika ia yang pertama kali terbangun di dunia ini dan tidak mengenali wajah dari raga yang ia tempati, dan ternyata itu adalah raga dari Roxana Adelaide—pemeran antagonis yang akan berakhir tewas dengan tragis. Saat itu … Dokter Keluarga yang mengatakan jika namanya adalah Roxana dan ia langsung menyadarinya.
Sama halnya ketika ia yang tidak mengenali sosok pemuda tampan yang tiba-tiba menghampiri dan duduk di sampingnya kala ia berada di dalam kereta, dan ternyata pemuda itu adalah Felix Theodore—pemeran utama pria kedua. Saat itu … Felix sendiri yang mengatakan namanya dengan jelas hingga ia langsung menyadari jika pemuda itu adalah second male lead di film ‘The Villaines Dead’ yang sebelumnya ia bintangi.
Sama halnya ketika ia yang tidak mengenali sosok gadis mungil dan menggemaskan yang tiba-tiba memeluknya dengan erat kala ia berada di lorong asrama Hoover, dan ternyata gadis mungil itu adalah Catherine de Jolla—pemeran utama wanita original yang ternyata juga sahabatnya. Saat itu … gadis itu sendiri yang memperkenalkan dirinya hingga lagi dan lagi ia langsung menyadari jika dirinya bertemu dengan pemeran lain yang cukup penting di dunia ini.
Jadi, mengapa Roxana belum menyadari jika Axe adalah Pangeran Neraka? Jawabannya, karena Pangeran itu sendiri yang menyembunyikan identitasnya dan tidak mengatakan namanya yang legendaris yakni Liam Demente de Dias.
Bahkan, para penduduk di Deltora juga tidak ada yang pernah melihat wajahnya. Pun para guru di Hoover yang juga tidak menyadari jika seorang guru sementara yang mereka bawa adalah seorang Pangeran Neraka. Maka dari itu, hal yang wajar jika Roxana juga tidak menyadarinya, ok?!
‘Yeah, pria tampan itu adalah jodohku. Dia harus menjadi milikku apapun yang terjadi.’ Roxa membatin dengan pandangan tidak terputus kepada Axe, sama seperti ratusan gadis lainnya yang sedang terpana.
Tunggu! Ada sesuatu yang sedikit mengganjal. Selain Roxa dan ratusan gadis lain yang sedang terpana, sosok gadis mungil dan menggemaskan yang duduk di samping Roxa juga tidak bisa melepaskan pandangan kepada Axe.
Netra emerald Roxa terbelalak kala melihat Cathie yang tersenyum-senyum sendiri dengan pipi semerah tomat kala menatap Axe di atas panggung. Apakah Cathie juga menyukainya?
‘Tidak … tidak! Ini tidak benar. Kau sudah ditakdirkan bersama Pangeran Neraka, pemeran utama pria di dunia ini!’ jerit Roxa dalam hati. Ia tidak mungkin mengatakan secara langsung hal yang berkaitan tentang pemeran utama, dunia novel, ataupun dunia film kepada Cathie. Bisa-bisa ia dianggap gadis gila.
‘Maaf, Cath! Untuk pria yang satu ini adalah jatahku. Aku akan menyimpannya untuk diriku sendiri.’ Roxa membulatkan tekad yang sudah bulat sejak jauh-jauh hari. Baik, kita nikmati saja kesalahpahaman ini 🫠
“Membosankan.” Terdengar gumaman lirih dari bibir Felix yang memperlihatkan wajah datar kala mendengarkan berbagai kehebatan Axe yang disampaikan Prof Magdalena. “Apa kau mau pergi dari sini, Roxa?”
“A-apa?” Roxa terbata dengan dahi berlipat samar.
“Acara ini sepertinya masih sangat lama. Mungkin beberapa camilan manis akan membuatmu senang.”
Roxa menimang-nimang dalam hati kemudian menganggukkan kepala, menyetujuinya. Pasalnya, ia membutuhkan waktu untuk memahami semua yang terjadi. Axe yang tiba-tiba menjadi gurunya dan Cathie yang juga menyukainya. Mungkin beberapa camilan manis yang dikatakan Felix akan memberinya ketenangan sekaligus ide untuk langkah selanjutnya.
Menoleh ke kiri, Roxa berbisik lirih kepada Cathie, “Apa kau mau ikut bersama kami untuk menikmati camilan manis, Cath?”
“….”
Tidak ada tanggapan. Cathie masih tidak memutuskan pandangan kepada Axe. Bahkan, netra karamelnya terlihat berbinar-binar dengan tatapan memuja. Tidak salah lagi! Pemeran utama original di dunia ini telah berpaling, pikir Roxa.
Roxa kembali berbisik lirih, “Cath—“
“Ah! Ya? Apa kau berbicara denganku?” Cathie akhirnya tersadar dan menatap Roxa dengan senyuman.
“Apa kau mau ikut bersama kami untuk menikmati camilan manis?” Roxa kembali mengatakan ajakannya.
Cathie menggeleng pelan, “Ehm, tidak. Kalian pergilah. Perutku sedang bermasalah,” ujarnya dengan senyuman dan memperlihatkan barisan giginya yang putih dan bersih. Tampaknya ia masih ingin berlama-lama memandangi Axe.
“Baiklah.” Roxa menggumam.
Felix kemudian mendekatkan kepala di daun telinga Roxa, “Kita pergi,” bisiknya, “sekarang.”
“Bagaimana dengan guru-guru dan murid di belakang yang bisa melihat kita? Jika kita pergi, mereka akan bertanya-tanya apa ada yang salah.” Roxa mendadak meragu.
Felix tersenyum tipis, “Bukankah kita sudah sering melakukannya? Menyelinap adalah keahlianmu. Kau yang lebih sering mengajakku kabur dan membolos.”
Roxa tercengang, ‘Mungkin lebih tepatnya keahlian Roxana yang asli. Apa dia juga sering membolos?’ benaknya sembari menatap kebingungan ke arah Felix.
“Ayolah, kita harus pergi.” Felix tiba-tiba beranjak berdiri sembari menundukkan kepala karena posisi tubuhnya yang jangkung.
Roxa mau tidak mau ikut berdiri dan mengekor di belakang Felix. Mereka berdua berjalan mengendap-ngendap kala Prof Magdalena masih berbicara tentang keunggulan guru baru mereka.
Tak lama, mereka berdua akhirnya berhasil meninggalkan aula. Namun, diam-diam terdapat netra biru Axe yang sejak awal telah mengindai pergerakan Roxa tanpa jeda. Mulai dari gadis itu yang sibuk berbisik-bisik hingga mengendap-ngendap pergi bersama Felix. Sudut bibirnya pun tertarik ke atas dan memberikan seringai tipis.
\~\~\~
“Ke mana kau akan membawaku, Felix?”
“Ruang marching band.”
“Hah?”
“Aku meletakkan tasku di sana.”
“Oh, apakah kau anak band atau semacamnya?”
“Begitulah. Drummer. Aku suka memukul.”
“Wah, biasanya pemain drummer yang terlihat menonjol. Pantas saja kau cukup populer dan banyak gadis yang mengidolakanmu.”
Felix terdiam dan sedikit mengernyitkan dahi.
“Ah! Aku hanya mengetahuinya dari Cathie. Katanya kau cukup populer.” Roxa tertawa kering dan langsung memperbaiki ucapannya. Ia hampir melupakan kenyataan jika ia sedang hilang ingatan dan pengetahuan tentang Felix yang populer ia tahu dari alur film.
Felix menanggapi dengan senyuman ramah seperti biasa dan tetap berjalan bersama Roxa.
Sesampainya di ruang band, Roxa duduk di bangku yang ada di balik piano kuno. Sedangkan Felix mengambil sesuatu di dalam tas yang ia letakkan di bangku drum kemudian berjalan beberapa langkah dan duduk di samping Roxa, di balik piano kuno.
“Makanlah. Croissant kesukaanmu.”
“Hm, terima kasih.” Roxa tersenyum dan langsung memakannya dengan riang.
“Aku juga memiliki beberapa permen dengan rasa-rasa tidak biasa di dalam tasku. Apa kau juga mau?”
Alis mata Roxa terangkat sebelah. Mendadak ia mengingat permen jebakan Jelly Bertie Botts di serial Harry Potter yang memiliki rasa aneh dan menjijikkan.
“Apakah rasa tidak biasa yang kau maksud adalah rasa kaos kaki basah, rasa rumput, rasa telur busuk, dan semacamnya?” Roxa menjawab asal dan tersenyum miring.
“Bagaimana kau bisa tahu?” Felix terbelalak dan berpura-pura terkejut, “Apa kau sungguh mau mencobanya? Terakhir kali teman sekamarku mendapatkan rasa odol.”
Roxa seketika mengubah ekspresinya menjadi datar, “Ambil saja untukmu. Terima kasih banyak.”
Felix terkekeh. Pria itu kemudian menikmati camilan manis bersama Roxa.
Beberapa menit terlewati dengan keheningan yang tercipta.
Pikiran Roxa mulai terbang mengelana. Ya, tujuan awalnya mengendap-ngendap pergi adalah menjernihkan pikiran sekaligus memahami semua yang tiba-tiba terjadi. Apa yang harus ia lakukan? Melakukan pengejaran tanpa ampun kepada Axe? Apakah ia harus mengkhawatirkan Cathie yang juga menyukainya? Biar bagaimanapun Axe adalah pria satu-satunya yang membuatnya berdebar. Ia tidak ingin membiarkan kesempatannya lolos dari strategi menghindari kematian dengan tragis.
“Apa kau mau mendengarkanku bermain piano?” Felix tiba-tiba membuka suara dan memecah lamunan Roxa.
“Umh, apa kau bisa melakukannya? Lakukan saja.” Roxa tersenyum ramah, mempersilakan.
Berbalik, jemari panjang Felix mulai menari-nari di atas tuts piano hingga menghasilkan alunan nada classical dan vintage yang begitu ramah di telinga. Begitu menenangkan dan membuat pikiran menjadi damai. Roxa tidak menyangka jika ternyata Felix sehandal ini bermain piano. Pemuda itu memang memiliki pesona yang mampu menghanyutkan.
Felix menghentikan jemarinya saat ia telah menyelesaikan beberapa lagu. Pandangan pria itu kembali kepada Roxa yang duduk di sampingnya. “Bagaimana? Apa kau terpana melihatku bermain?” Felix terkekeh geli sembari berujar jemawa.
“Yeah, sedikit.” Roxa menjawab sekenanya. “Jadi, berapa banyak gadis yang telah kau buat meleleh, Felix? Apa sudah ada gadis yang kau sukai?” Roxa menyiku lengan Felix dengan candaan. Ia sengaja mamancing karena ingin tahu apakah Felix sudah menaruh hati kepada Cathie atau belum.
“Ehm … sepertinya baru-baru ini ada yang menarik perhatianku.”
“Benarkah?” Roxa terbelalak. Jiwa gosipnya seketika meronta-ronta.
Felix tersenyum menawan hingga kedua matanya menyipit seperti bulan sabit.
Namun, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari erangan yang memekakkan telinga disusul dengan suara debaman dari benda keras yang terjatuh.
Roxa dan Felix terkesiap dan menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
Bola mata Roxa terbelalak, “A-apa itu, Felix?”
\~\~\~