Beautiful Villaines

Beautiful Villaines
Bab 24. Ulat Beracun



Roxa menciprati wajahnya dengan air dingin saat beberapa murid yang lain sibuk berbondong-bondong menuju ruang laboratorium. Gadis itu sejenak ingin menenangkan diri sebab sebelumnya merasakan tatapan-tatapan tajam para murid yang seakan menghunus ketika ia sedang berjalan.


Ya, lagi dan lagi Roxa menjadi sumber kegemparan di Hoover sejak berita tentang perdebatannya dengan Deborah di meja makan kala itu merebak bagai virus. Kini, selain julukan ‘wanita jahat yang suka menindas’, ia dianugerahi julukan baru yaitu ‘wanita gila yang haus belaian.’


Astaga! Sebenarnya siapa orang sableng yang menciptakan julukan itu?


Setelah membasuh wajah dan menenangkan diri, Roxa keluar dari kamar kecil sembari menghirup napas dalam-dalam. Ia telah siap untuk kembali ke medan perang, bertarung dengan tatapan tajam para murid yang membencinya.


Sebuah pintu dengan papan kayu bertuliskan ‘Laboratorium’ kini telah bertengger di hadapan Roxa. Berjalan melewati pintu, Roxa disambut oleh pemandangan yang hampir dipenuhi dengan peralatan berupa botol-botol kaca sepesimen yang tertata di atas meja. Sementara di balik meja itu, terdapat para murid yang sudah duduk manis dan menatap sinis ke arahnya.


“Roxa, sini!” Cathie berseru sembari menunjuk kursi kosong yang memang sudah sengaja ia siapkan.


Roxa mengangguk dan berjalan semakin mendekat. Ya, ruangan itu memang ruang laboratorium yang mana Axe pernah membawanya. Sebuah bangunan yang dulu sepi dan masih menguarkan aroma bebatuan yang masih baru kini telah terisi para murid dan dibuka untuk pertama kali.


Menghempaskan bokong di kursi kosong, Roxa tersenyum cerah kepada Cathie. Sementara beberapa murid perempuan lain termasuk anggota Mariposa Beaute justru memutar bola mata jengah saat melihat Roxa yang bersikap biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


Hm, memangnya Roxa harus bersikap bagaimana? Apakah ia harus berjalan sambil kayang? Ataukah duduk sambil menari? Memang jika kita sudah membenci seseorang, maka apapun yang orang itu lakukan akan terlihat salah tak terbantahkan.


“Apa kau tidak lupa membawa bukumu?” Cathie bertanya dengan seraut wajah ceria. Pasalnya, sejak hilang ingatan, Roxa sering melupakan buku mana saja yang harus dibawa.


“Aku membawanya.” Roxa balas tersenyum kemudian mengambil sebuah buku di dalam tas dan meletakkannya di atas meja. Buku kuno dengan ketebalan sekitar lima senti dan bersampul kulit kuda nil berwarna cokelat, hampir mirip seperti sebuah buku kitab. Sementara di bagian sampulnya tertulis ‘Alchemist’ sebagai judul.


Alchemist? Ya, alchemist atau ahli kimia di dunia ini merupakan seseorang yang dapat menyamarkan lumpur menjadi emas, menaklukkan kematian dengan eliksir atau obat mujarab untuk kehidupan, memanfaatkan kekuatan-kekuatan alam hingga membuat keajaiban, serta mempraktisi sihir alami dan menguraikan simbol-simbol kuno.


Dan kini, para murid itu akan mempelajarinya pada seseorang yang tepat, Liam Demente de Dias, seorang alkemis hebat yang memiliki bakat sihir alami yang kuat. Meskipun begitu, hanya sedikit orang yang mengetahui kehebatannya karena sosoknya telah terkubur oleh rumor-rumor buruk yang ada. Rumor tentang kekejaman dan kebengisan seorang Pangeran Neraka.


“Kau lihat? Dia sedang bersiap-siap mengibaskan ekornya.”


“Wanita haus belaian itu pasti akan berusaha menarik perhatian.”


“Apa kau yakin Guru Axe mau dengannya?”


“Ayolah! Siapa yang percaya dengan omong kosong itu.”


“Ya, kudengar dia memang sudah gila.”


Suara-suara sumbang yang terdengar begitu menyebalkan seketika berdengung di penjuru ruangan. Kebencian mereka kepada Roxa memang telah mendarah-daging dan menyebar seperti tumor yang kian lama kian membesar.


Sedangkan Roxa yang bisa mendengarnya hanya memberikan seraut wajah tidak acuh. Ia telah mempersiapkan diri untuk pertarungan saraf seperti ini. Menurutnya, hal yang harus ia lakukan adalah berusaha untuk tidak menarik perhatian seperti yang mereka katakan. Ia juga harus tetap tenang seperti patung anatomi tengkorak manusia yang berdiri di sana.


Ya, di sudut ruang laboratorium itu memang berdiri sebuah patung anatomi tengkorak manusia dengan posisi kepala menoleh ke arah Roxa seolah sedang memerhatikannya. Detik berikutnya, Roxa memutuskan untuk membuka buka alkemia di atas meja kemudian membacanya dengan seksama.


‘Oh God! Buku macam apa ini?’ Roxa membatin dengan bola mata terbelalak. ‘Mata indahku bisa buta jika terus membacanya. Font tulisan super kecil dengan pembahasan yang sangat tidak menarik!” Meskipun terus mengeluh, Roxa tetap membacanya.


Namun, baru beberapa menit membaca, Roxa merasakan gejala pening disertai mual dan keringat dingin yang hebat. Sepertinya penulisan gaya berat yang ada di dalam buku itu tidak cocok dengan otak cantiknya. Menenggelamkan kepala di atas meja, Roxa berniat meredakan sakit kepala sebelum menutup kembali bukunya.


Hingga berselang cukup lama, terdengar derap langkah seseorang yang memasuki pintu ruangan.


Sebagian besar murid perempuan sontak tidak dapat menahan sudut bibir mereka untuk tidak berkedut lengkap dengan bola mata berbinar.


Ya, pusat perhatian mereka kini tertuju pada sosok bersinar yang baru saja tiba—seorang pria tampan, berambut hitam legam, dan bertubuh tinggi menjulang kini tengah berdiri di depan kelas dengan penuh kharisma.


Pria itu mempersembahkan paras yang membuat jantung para murid perempuan memanas. Tentu saja dia adalah Axe. “Selamat pagi,” sapanya dengan suara berat yang seksi.


“Pagi!” jawab para murid hampir bersamaan.


Sebagian besar murid perempuan tercenung dan mematung, memandangi seorang guru yang masih menyiapkan kertas-kertas dokumen untuk mengajar. Fokus mereka tidak lepas dari pahatan karya seni berupa wajah indah di hadapan.


Mungkin hanya ada segelintir murid yang bersikap biasa saja. Tentu saja mereka adalah murid yang didominasi oleh kaum laki-laki, termasuk Felix yang terlihat tidak tertarik sama sekali.


“Sepertinya aku akan betah berlama-lama tinggal di dalam kelas.” Deborah yang duduk di bangku paling depan berbisik lirih kepada Monica.


“Aku juga. Tapi di sini juga sudah ada murid yang tampan, Felix, dia idolaku. Laki-laki hangat dengan senyuman malaikat.” Monica balas berbisik lirih sembari mengkhayal.


“Ya, aku tahu jika kau memang penggemar setianya. Namun, meskipun dia ramah, dia selalu membangun dinding pembatas untuk para gadis yang menyukainya.”


“Kau benar. Uh! Aku ingin dia melihatku. Sayangnya dia hanya melihat ke arah Cathie dan Roxa. Itu sangat menyebalkan.”


“Ck, mereka berdua memang sama-sama tampan. Tapi aku lebih suka yang dingin dan seksi. Lebih menggoda. Jika kadar ketampanan adalah dosa, sepertinya Guru Axe adalah orang paling berdosa di muka bumi ini.” Deborah kembali mengutarakan kekagumannya dengan pandangan tidak lepas dari seorang guru yang masih berdiri di depan kelas.


Bahkan, tanpa sadar Deborah membuka mulutnya sedikit lebar, seolah sedang mempersilakan seekor lalat untuk masuk dan membangun sarang di sana. Tidak hanya Deborah, sebagian besar murid perempuan yang duduk di meja paling depan juga memperlihatkan ekspresi yang serupa dan tatapan memuja. Oh astaga! Sepertinya mereka sedang lupa diri. Sebenarnya siapa yang haus belaian di sini?


Melihat reaksi tidak biasa yang ditunjukkan para muridnya, Axe lantas berdeham rendah, “Aku akan mulai mengabsen.”


“Troy Benjamin.”


“Hadir.”


“Dimitri Pedro.”


“Hadir.”


“Max Aguiro.”


“Hadir.”


“Felix Theodore.”


“Hadir.”


“Patricia Labrador.”


“Hadir.”


“Monica Pillow.”


“Hadir.”


“Deborah de Grey.”


“Hadir.”


“Hadir.”


“Roxana Adelaide.”


“….” Hening. Tidak ada jawaban.


“Roxana Adelaide.”


“….” Masih tetap hening. Tidak ada jawaban.


Axe menukikkan sebelah alis. Pandangan matanya mengedar dan menangkap sesuatu yang sejak tadi dia abaikan. Pemandangan itu berupa seorang gadis yang menenggelamkan kepala di atas meja.


Demi Neptunus! Kita melupakan nasib Roxa yang sebelumnya terkena gejala sakit kepala usai membaca buku.


Oh Tuhan! Bisa-bisanya gadis itu tidak menyadari kehadiran sosok yang begitu bersinar dan sejak tadi membuat jantung teman-temannya berdebar.


Axe menyeringai kala menyadari tingkah gadis bernama lengkap Roxana Adelaide tersebut. Well, sejak awal gadis itu memang cukup berani. Berani memberikan penawaran konyol di hari pertama mereka bertemu, berani duduk di pangkuannya dan menciumnya di hari kedua mereka bertemu, dan berani mengatakan kepemilikan atas dirinya. Dan saat ini, ia berani mengabaikan keberadaanya.


Tuk!


Sebuah pena mendarat mulus di kepala Roxa. Axe yang melemparnya.


Kepala cantik Roxa seketika terangkat disusul dengan kelopak mata yang perlahan terbuka. Ternyata sejak tadi ia sedang tertidur.


Dengan tatapan sayu dan ekspresi wajah polos, Roxa mengambil pena yang sempat mendarat di kepalanya sebelum melihat ke sekeliling yang mana juga sedang melihatnya.


Menoleh ke depan kelas, ia kembali terkesiap hingga kedua matanya membeliak sempurna. Sungguh ia baru menyadari jika Axe ternyata sudah datang dan kini sedang berdiri sambil menatapnya dengan seraut wajah datar.


Niat hati ingin tetap tenang seperti patung tengkorak manusia yang berada di ujung sana, Roxa justru menjadi pusat atensi yang tidak dapat dihindari.


Menoleh ke samping, Roxa berbisik lirih kepada Cathie, “Apa? Kenapa? Ada apa? Mengapa mereka semua melihatku?”


“Katakan kehadiranmu, Roxa. Dia sedang mengabsen.” Cathie balas berbisik lirih dengan seraut wajah kikuk dan takut.


“Hadir!” Roxa reflek berseru dengan lantang, tanpa rasa berdosa.


“Terlambat.” Axe menanggapi dengan datar.


“Ter-terlambat?” Roxa menautkan kedua alis.


“Kau terlambat menjawab sekitar lima menit. Jadi aku akan menganggap kehadiranmu tidak ada.” Axe kembali menjawab dengan wajah tanpa ekspresi.


“Bagaimana bisa begitu?” Roxa melayangkan protes dengan ekspresi kebingungan.


“Bisa saja, karena aku adalah gurunya. Dan itu adalah hukumanmu.” Axe tetap mempersembahkan ekspresi yang sama seperti sebelumnya, datar.


“Hukuman?” beo Roxa masih tidak terima.


“Ya, jika kau keberatan, kau bisa meninggalkan ruangan.”


Roxa akhirnya menyerah meskipun dengan seraut wajah kesal, “Baiklah. Akan saya terima hukumannya.”


Axe sedikit menyeringai kemudian kembali mengabsen.


Sedangkan Roxa masih mempertahankan wajahnya yang kesal, ‘Dasar guru sialan! Mengapa sikapnya begitu menyebalkan? Bukankah kita sudah berciuman? Apa dia sedang memberi peringatan agar aku berhenti mendekatinya? Benar, aku hampir melupakan jika sejak awal kelebihannya hanya terletak di wajahnya saja. Perangainya buruk. Sangat buruk!’ benaknya bertubi-tubi dengan kedua alis menyatu bagai ujung pedang yang saling bertautan.


Murid-murid yang ada di ruang kelas diam-diam terkekeh geli saat melihat pertunjukan yang baru saja terjadi. Begitu juga dengan Deborah yang tidak dapat menahan bibirnya untuk tidak tersenyum gembira. Gadis itu merasa jika kekhawatiran dan cemburunya selama ini sia-sia. Sesuai dugaannya, Roxa hanya mengatakan omong kosong. Guru Axe tidak mungkin mau dengan gadis sepertinya.


Selesai mengabsen, Axe kembali menatap para murid yang mana juga sedang menatapnya dengan antusias, “Pelajaran kita hari ini adalah konversi racun. Di sana, sudah ada peti kayu yang akan kita gunakan dalam pelajaran,” ujarnya dengan pandangan tertuju pada sebuah peti yang sejak awal sudah disiapkan di dalam ruang laboratorium. Lebih tepatnya di samping patung anatomi tengkorak manusia yang berdiri di ujung sana.


“Roxana.” Axe kembali mengalihkan pandangan kepada Roxa.


“Ya?” Roxa sedikit terkejut. Jujur saja, ketika mendengar namanya keluar dari mulut pria itu, ia merasakan sesuatu yang menggelitik. Semacam debaran yang menggila. Padahal, ia sedang kesal.


“Bisakah kau mengembalikan penaku? Kau pasti tahu seberapa berharganya pena itu.”


Roxa hampir melupakan sebuah pena yang sebelumnya mendarat mulus di kepala cantiknya. Bola matanya terbelalak saat melihat pena berwarna pucat keemasan yang terlihat tidak asing. Ya, itu adalah pena yang bisa berubah menjadi sebilah pedang perunggu sepanjang satu meter. Bilah pedang yang berkilauan dengan cahaya pucat keemasan, Pedang Eltoc, pedang pemberian dewa sekaligus pedang yang pernah menusuk jantung empousa.


Sebelah tangan Roxa seketika tremor saat menyadari benda langka yang begitu berharga itu ada di tangannya. Bisa-bisanya guru itu melemparnya dengan pena yang bisa saja membuat kepalanya pecah dan otaknya keluar.


Dengan seraut wajah penuh keterkejutan bercampur kekesalan, Roxa beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Axe yang berdiri di depan kelas. Ia mengulurkan sebelah tangan untuk mengembalikan pena lengkap dengan bonus tatapan mata laser yang spesial diberikan kepada guru menyebalkan tersebut.


“Roxana.” Axe kembali memanggil saat murid perempuan itu baru berbalik dan berniat untuk kembali ke tempat duduknya.


Sedangkan Roxa lagi dan lagi merasakan desiran menggelitik saat mendengar namanya disebut oleh guru tersebut. Sebenarnya, mengapa jantungnya selalu menggila dan mengabaikan sikap guru itu yang super duper menyebalkan?


“Ada apa lagi, Guru?” Roxa tersenyum cerah, berusaha menyembunyikan apa yang dirasakan.


“Bawa peti kayu itu ke mari,” titah Axe sembari menunjuk sebuah peti yang sempat ia jelaskan tadi.


Sementara desiran menggelitik yang Roxa rasakan hilang seketika. Kini, gadis itu mengangkat sebelah alis dengan ekspresi kebingungan, “Mengapa harus saya?” tanyanya sembari mengangkat bahu dengan kedua tangan seolah sedang menahan nampan, tidak mengerti dengan situasi yang terjadi.


“Karena kau sedang dihukum.” Axe menjawab dengan senyuman formalitas, tanpa rasa berdosa.


Hidung Roxa kembang kempis menahan amarah. Lagi dan lagi Axe memamerkan kehebatannya dalam membuatnya kesal. Sungguh, mulut ajaibnya sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah.


Akan tetapi, jika dia membantah, maka dia akan diusir. Jika dia diusir, maka dia tidak bisa mengikuti pelajaran. Jika tidak bisa mengikuti pelajaran, maka nilai alkemis-nya akan jelek. Jika nilainya jelek, maka masa depannya akan suram. Jadi kesimpulannya, mengumpat dan membantah bisa mengakibatkan masa depan suram.


Dengan wajah masam, Roxa pun terpaksa menuruti dan segera berjalan menuju ujung ruang laboratorium yang mana sudah ada patung tengkorak yang sedang menunggunya di sana.


Namun, saat hendak meraih peti kayu di samping patung tengkorak tersebut, bola mata Roxa sontak membeliak sempurna. Sekujur tubuhnya bergidik geli bercampur jijik. Bagaimana tidak? Ia melihat lusinan ulat bulu yang sedang menggeliat-geliut di dalam peti. Apakah ulat-ulat itu akan digunakan sebagai bahan eksperimen?


Roxa kembali melayangkan pandangan kepada Axe, “Guru, apakah ulat ini sungguh tidak berbahaya?”


“Ulat itu beracun. Kadar gatal dalam bulunya mungkin akan sedikit mematikan.”


Roxa terbelalak. Dengan wajah mengetat, ia kembali memberikan tatapan mata laser kepada Axe dan sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengumpat, ‘Dasar guru sialan! Apakah dia sengaja?’


\~\~\~