
Roxa meniup lembut asap tipis yang mengepul di permukaan cangkir berisi cokelat panas. Bibirnya yang pucat akibat kedinginan perlahan menyesap minuman manis itu hingga sensasi hangat menyebar di tenggorokannya. Saat ini ia memang sedang menggigil kedinginan karena kejadian sebelumnya yang mana ia memaksa masuk ke dalam hutan belantara di malam hari, di musim dingin yang tajam untuk mencari keberadaan Felix dan Cathie.
Belum lagi saat ia tiba-tiba hampir diterkam oleh seekor serigala salju dan beruntung Cathie datang menolongnya. Ia merasa bersyukur karena kedatangan sahabatnya tersebut. Dan untuk serigala itu … mungkin jika dia adalah serigala jadi-jadian layaknya Jacob Black teman baik Bella Swan dalam seri ternama Twilight, maka ia akan rela diterkam dengan penuh sukacita. Ia selalu tidak tahan dengan pesona pria macho dan tampan. Centil memang.
“Wow marshmallow ini sungguh imut saat kuletakkan di atas cokelat. Coba letakkan di atas cokelat panasmu juga, Roxa!” Cathie yang duduk di samping Roxa tersenyum ceria sembari memamerkan manisan kenyal bertekstur busa lembut berbentuk beruang yang masih terapung di atas cokelat panasnya.
Roxa terpaku sejenak saat melihat senyuman manis gadis mungil tersebut. Sangat cantik. Seperti malaikat. Ya, pemeran utama wanita tetaplah pemeran utama wanita. Entah sudah berapa banyak murid laki-laki yang dibuat meleleh karena senyuman itu, seperti marshmellow yang akhirnya juga meleleh di atas cokelat panas.
“Benar-benar dua gadis yang merepotkan.” Felix mendengus pada dua gadis yang tengah duduk bersama di depan perapian yang ada di dalam kamar asrama mereka. Ya, Felix juga ada di kamar itu dan saat ini ia sedang menyusup.
Namun, berbeda dengan keluhannya, tindakan yang Felix berikan justru sebaliknya. Ia meletakkan selimut hangat pada masing-masing punggung Roxa dan Cathie secara bergantian. Tidak hanya selimut, bahkan cokelat panas yang ada di tangan dua gadis cantik itu pun dia yang membuatkan. Bukankah pria itu sungguh peka dan perhatian?
“Mengapa kau sangat baik seperti ibu kandung sendiri, Felix?” Roxa terkekeh dan melayangkan candaan.
Mengabaikan candaan garing itu, Felix duduk di samping Roxa dan menoleh ke arah gadis tersebut. Pandangannya tertuju pada sekujur tubuh gadis itu seolah sedang mengindai tanpa jeda.
Sementara Roxa yang merasa sedang ditatap lekat oleh Felix sontak mengalihkan pandangan ke samping dengan kernyitan di dahi, “Hey! Ada apa?” desisnya dengan wajah kikuk sembari mendekatkan minuman cokelat ke mulut untuk disesap.
“Haruskah aku memeriksanya sendiri dengan tanganku?”
Roxa sontak terbelalak dan tersedak minuman cokelatnya, “Apa yang kau katakan sambil menatap tubuhku seperti itu, Felix? Dasar mesum! Apa kau ingin menyentuh tubuhku sembarangan?” cecarnya heboh masih dengan bola mata membelalak dan ekspresi terkejut bukan main.
Felix justru memberikan ekspresi datar, tidak habis pikir dengan pikiran kotor yang ada di kepala Roxa. “Sepertinya kau sudah terlalu banyak membaca novel dewasamu itu. Aku hanya ingin memeriksa apakah sungguh tidak ada yang terluka. Empousa yang menyerangmu bukan monster peliharaan Piter dan mantra yang kuajarkan pasti tidak berguna.”
Cathie yang sejak tadi ada bersama mereka seketika tertawa dengan tingkah sahabatnya tersebut. Dikepalkan sebelah tangan dengan seraut wajah serius, “Tenang saja, Roxa. Jika ada yang berani macam-macam denganmu maka dia harus melewatiku terlebih dahulu.”
“Hey! Apa yang sedang kalian bicarakan? Kalian seolah menganggapku pria yang benar-benar mesum,” protes Felix dengan sekujur tubuh bergidik. Sungguh penghinaan baginya saat ke-alim-annya diragukan. Terlebih, cukup banyak penggemar dari kalangan gadis bangsawan yang selalu membicarakannya dan ia tidak ingin rumor buruk yang mengatakan jika dia pria mesum beredar.
Roxa tergelak dan mengarahkan pandangan kepada Felix, “Maafkan aku sudah berburuk sangka, Felix. Tapi aku sungguh baik-baik saja. Jangan khawatir,” ujarnya dengan senyuman teduh dan mencoba bersikap tenang.
Namun, jangan terkecoh dengan wajah tenang yang sedang Roxa perlihatkan! Kini, debaran jantungnya justru sedang menggila di luar kendali. Ia sedang mengingat kembali bagaimana bisa ia tidak terluka.
Sebuah memori tatkala Axe mengobati lukanya di ruang sains bawah tanah dengan potion sihir kembali terbuka. Tidak hanya itu! Mereka berdua juga telah berciuman dengan panas dan penuh gairah di ruang sains bawah tanah yang sepi tersebut. Oh astaga! Ia benar-benar ingin menjerit hingga senyuman kecil lolos di bibirnya.
“Apa yang kau pikirkan dengan senyuman mengerikan itu?” Felix menukikkan sebelah alis dan membuyarkan lamunan Roxa.
“Tidak ada.” Roxa menggeleng dengan cepat berhiaskan wajah sedikit panik.
Felix menghela napas panjang, “Kepala sekolah dan Piter mungkin akan menyelidiki kejadian itu. Kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi,” ujarnya menenangkan dan menganggap jika Roxa sedang memikirkan tentang empousa dan merasa takut. Diulurkan sebelah tangannya untuk mengacak ringan pucuk kepala Roxa dengan penuh kehangatan, “Beristirahatlah!”
Sedangkan Cathie diam-diam tidak memutuskan pandangan kepada Felix. Ia merasa ada yang berbeda dari tatapan hangat Felix kepada Roxa. Ia yakin jika itu adalah tatapan lebih dari sekadar kasih sayang kepada sahabatnya.
Felix beranjak berdiri kemudian berjalan mendekat pada perapian sebelum kembali menoleh ke belakang, “Aku pergi.” Dirapalkan mantra untuk menyalakan sihir api yang dimilikinya sebelum masuk ke dalam perapian itu dan bertransmigrasi ke dalam perapian yang ada di dalam kamar asramanya.
\~\~\~