
“A-apa itu, Felix?” Roxa terbelalak.
Pasalnya, di sebuah bilik tersembunyi yang ada di dalam ruang marching band itu terdapat sosok bertubuh besar, berbulu putih, dan bermata merah menyala-nyala. Itu adalah sebuah penampakkan familiar yang mirip seperti monster beruang yang pernah Roxa lihat di memori yang diberikan Felix. Bedanya, kini ia melihat secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Sungguh berbeda dan kenyataanya bahkan lebih menyeramkan.
‘Oh, God! Penampakan monster itu seperti menggunakan efek CGI kualitas super. Bahkan di abad 21 tampilan tidak masuk akal seperti itu bisa membuktikan supremasi kecanggihan teknologi visual.’ Roxa membatin dengan sekujur tubuh mematung. Pikirannya masih loading bahkan ia belum sempat mengedipkan mata.
“RAAAAWRRR!” Erangan nyaring monster beruang itu seketika membuyarkan lamunan Roxa hingga membuatnya mencelat dan duduk di pangkuan Felix.
Apa? Ya, Roxa tanpa sadar duduk di pangkuan pemuda tampan itu dengan kedua tangan mengalung di lehernya.
“Ya Tuhan! Kita dalam bahaya, Felix! Apa kita akan mati di sini?” Roxa memekik panik dan histeris.
Tercenung! Alih-alih terkejut karena ada monster, Felix justru terbelalak saat tiba-tiba seorang gadis duduk di pangkuannya lengkap dengan jemari lentik yang mengalung di lehernya.
Tentu saja sejak awal Felix telah menyadari sebuah kejanggalan yang ada dalam diri Roxa. Pasca insiden terjatuh dari sungai, sosok sahabatnya itu memang telah banyak berubah. Namun, ia sungguh tidak menyangka jika perubahan itu akan cukup mengejutkan. Bahkan, sejak saat itu ia tidak mampu mengalihkan perhatiannya dari Roxa.
“RAAAAWRRR!” Kembali monster beruang itu mengerang dan memperlihatkan giginya yang tajam dan runcing.
Roxa semakin panik dan mempererat lilitan tangannya di leher Felix hingga pemuda tampan itu tercekik dan mendelik. Felix pun praktis tersadar dari lamunan dan mulai menenangkan.
“Betty! Tenanglah!”
Di detik berikutnya, pupil mata merah monster beruang itu memudar dan berubah warna menjadi hitam. Sosok itu telah kembali normal dan berguling-guling, bermain sendiri seperti seekor kucing rumahan yang jinak.
“Be-Betty? Apa namanya Betty?” Roxa bergumam masih dengan wajah menegang.
“Ya, aku memberinya nama itu karena ternyata dia betina.”
“Lalu bagaimana dia bisa ada di sini?”
“Entahlah. Selama ini aku menitipkannya pada Piter.”
“Hm, begitu rupanya.”
“Ya.” Felix bergeming sejenak dengan ekspresi yang terlihat sedikit ragu untuk mengucapkan sesuatu, “Emh … lalu bisakah kau sedikit menjauh? Situasi sudah aman dan dia telah normal seperti beruang pada umumnya.”
Roxa seketika menautkan kedua alis kemudian mencebikkan bibir, “Meskipun dia sudah kembali, tetapi tetap saja menyeramkan, Felix! Hewan buas tetaplah hewan buas. Yang tidak menyeramkan hanya boneka beruang, kau mengerti?” protesnya enggan mengangkat bokong dari paha Felix apalagi melonggarkan lilitan tangannya.
Brakh!
Pintu ruang marching band tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan sosok pria paruh baya bertubuh tinggi besar dan berambut gondrong. Pria itu mengambil napas tersengal-sengal, kelelahan karena habis berlari. Pupil hitamnya kemudian mengedar dan berhenti kepada Betty disusul dengan helaan napas lega, “Fyuhhh … kau di sana rupanya.”
“Hi, Piter!” Felix menyapa dengan senyuman canggung.
Ya, pria itu adalah Piter, salah satu guru di Hoover yang mengajar ilmu pertahanan kepada monster. Pria itu yang selama ini merawat Betty dan cukup banyak monster lain yang dipelihara.
Dengan penampilan sedikit berantakan, rambut gondrong sedikit gimbal, dan jenggotnya yang juga panjang, cukup membuktikan jika dia tidak sempat merawat diri karena sibuk merawat para monster peliharaannya.
Jika kalian ingin membayangkannya mirip seperti Hagrid yang ada di seri Harry Potter, boleh saja! Namun, sepertinya ia lebih mirip seperti Flying Dutchman di seri Spongebob karena sedikit rambutnya ada yang dikepang. Asal kalian tidak membayangkannya seperti Peppy saja karena pelawak itu jenggotnya yang dikepang.
“Maaf, dia lepas dari pengawasan karena aku sibuk membantu persiapan orientasi tadi. Sepertinya dia merindukanmu, Felix,” ujar Piter seraya mengambil sesuatu di saku celananya. Itu adalah sebuah batu mana berwarna merah.
“Aku memang sibuk akhir-akhir ini.” Felix menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal masih dengan seraut wajah kikuk.
Piter menanggapi dengan sunggingan senyum kemudian kembali mengarahkan pandangan kepada monster beruang di hadapannya, “Come on, Betty! Masuklah dan aku akan membawamu kembali!”
Di detik berikutnya, monster itu mengecil dan melebur masuk ke dalam segumpalan batu kecil berwarna merah tersebut. Piter lantas memasukkannya ke dalam saku celana.
Sedangkan Roxa yang melihat adegan tidak masuk akal itu kembali dibuat ternganga. “Wuahh!” gumaman lirih lolos dari bibir ranumnya masih dengan seraut wajah takjub.
“Baiklah. Jika begitu aku pergi dulu. Jangan lupa besok ada mata pelajaranku. Kalian berdua bisa berkumpul di hutan bersama para murid yang lain.”
Felix dan Roxa mengangguk hampir bersamaan.
Sebelum meninggalkan ruang, Piter tiba-tiba menoleh ke belakang dan menatap Roxa, “Oh ya, Nona Manis. Meskipun kau sudah sangat nyaman duduk di pangkuannya, tetapi yang kukhawatirkan monster dalam diri pemuda itu terbangun. Itu akan sangat berbahaya,” desisnya terkekeh geli kemudian benar-benar melenggang pergi.
Di detik itu juga, bola mata Roxa kembali terbelalak lebar dan hampir keluar dari songketnya, “Ah! Maafkan aku, Felix. Aku hanya terkejut karena tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ada monster mengerikan seperti tadi,” cecarnya menjelaskan dengan sekali tarikan napas. Bisa-bisanya ia khilaf dan tidak sadar sejak tadi duduk nyaman di pangkuan Felix.
“Tidak masalah.” Felix menjawab dengan nada datar, tetapi dengan wajah yang dipalingkan.
Ada apa dengannya? Ya ampun! Tampaknya Felix sedang menyembunyikan semburat merah yang menyebar di wajah dan daun telinganya. Apakah dia sedang merona?
“Galleggiare lasaviro morire.” Felix kembali membuka suara dan kini telah berani menatap netra emerald Roxa.
“Huh?” Roxa mengernyit dengan bahasa asing yang baru saja didengar.
“Itu adalah mantra penyerangan yang harus kau ucapkan saat ada monster mengerikan seperti tadi. Kurasa kau harus mengingatnya karena besok adalah mata pelajaran Piter yang dipenuhi monster.” Felix menjelaskan dengan seraut wajah serius.
Roxa mengangguk dengan wajah tidak kalah serius, “Gall … gall … apa tadi? Gallileo Galilei?” tanyanya dengan ekspresi mirip seperti orang dungu.
‘Oh astaga susah sekali pelafalannya! Ingin menyelamatkan diri dari nasib tragis, tetapi karena kebodohan ini bisa-bisa aku mati sebelum episode pertama film itu dimulai!’ benak Roxa ingin menyerah.
Felix justru menarik kedua sudut bibir, tersenyum lembut, “Aku akan mengucapkannya berulang kali sampai kau berhasil mengingatnya,” ujarnya penuh kesabaran.
\~\~\~
Keesokan harinya, Roxa berbondong-bondong berjalan bersama puluhan murid yang lain menyusuri tengah hutan bersalju. Dengan seragam Hoover yang berwarna serba ungu dan hitam, mereka tampak seperti sekumpulan terong yang sedang berjalan.
“Ini adalah pelajaran pertama kita setelah liburan cukup lama. Aku sangat menantikannya.” Cathie yang berjalan di samping Roxa berujar dengan senyuman ceria sembari bertepuk tangan. Pipinya yang merah semakin merah karena suhu dingin di hutan bersalju tersebut.
Roxa balas tersenyum, “Ya aku juga menantikannya,” jawabnya sekenanya sebelum ia tiba-tiba terdorong ke depan dan hampir jatuh tersungkur.
Seorang murid laki-laki tanpa sengaja menabraknya dari belakang, “Maafkan aku,” gugupnya dengan wajah ketakutan.
Dengan kacamata tebal, murid itu kembali berjalan mendahului Roxa sebelum mendapat lemparan bola es dari seorang murid laki-laki lain di belakangnya, “Hey, Bocah Tolol! Mau kabur ke mana kau?”
\~\~\~