
‘Apakah ini adalah akhir dari segalanya?’ Roxa mematung, tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri.
Empousa itu menatap Roxa yang tampak sedikit takut dengan mata merah yang menyala-nyala. Ia tidak akan membiarkannya lari seperti makhluk burik sebelumnya. Di detik itu juga, ia melangkah maju dengan sepasang kaki yang tidak seimbang, satu kaki keledai dan satu kaki perunggu.
Roxa menjadi gagal fokus saat melihat makhluk berparas cantik itu yang jalan terpincang seperti menderita asam urat. Ia hampir tertawa di situasi yang mana tidak seharusnya tertawa.
“Apa kau sedang mengolok kakiku? Itu tidak sopan tahu!” geram si empousa tidak terima.
“Maaf.” Roxa berusaha mengendalikan tawa dan tidak sarkas, “Tapi bukankah kau akan menyerangku? Jadi apa gunanya aku menjaga sopan santun padamu?”
“Benar juga.” Empousa itu tersenyum menyeringai dan kembali berjalan pincang.
Roxa bersiap mengucapkan mantra yang sebelumnya diberitahu Felix. Biar bagaimana pun dalam tubuh yang ditempatinya terdapat bakat sihir yang kuat. Ya, Roxana Adelaide adalah penyihir hebat. Ia berharap masih ada sisa-sisa kekuatan yang bisa ia gunakan.
“Galleggiare lasaviro morire.” Roxa merapalkan mantra dengan tenang, sekali tarikan napas, dan lantang.
Bum!
Sekujur tubuh empousa itu melebur bagai debu. Roxa terbelalak. Ouh, apakah usahanya berhasil dengan sangat mudah seperti ini? Gadis itu merasa senang dan hampir saja melompat kegirangan. Namun, di detik berikutnya kesenangan itu seketika menghilang saat monster yang telah melebur kembali menggumpal dan kembali ke wujud sebelumnya.
“A-apa?” Roxa tercengang saat melihat monster itu kembali berdiri di hadapan.
Empousa itu tertawa nyaring dan memandangi Roxa dengan mata penuh ejekan, “Ternyata kemampuanmu hanya segitu. Tugasku untuk membunuhmu jadi sangat mudah.”
“Tugas? Membunuhku?” Roxa mengernyit, “Bukankah tugasmu hanya mengukur kemampuan murid karena kau adalah monster peliharaan Piter?”
Empousa itu kembali tergelak dan menggelengkan kepala. Ia tidak menanggapi kecurigaan Roxa kemudian kembali berjalan dengan kakinya yang pincang, “Aku biasanya tidak membunuh wanita dan lebih menyukai darah dan daging seorang pria muda. Tapi tidak untuk saat ini. Aku akan mencincang halus dagingmu dengan cakarku.” Empousa itu menggerakkan giginya yang lapar. Kuku-kukunya memanjang menjadi cakar-cakar hitam yang runcing.
Roxa membeku saat melihat monster itu berjalan semakin mendekat. Ia dapat merasakan firasat buruk akan terjadi pada dirinya. Sedangkan empousa itu justru tertawa puas saat melihat Roxa dilanda keputusasaan.
“Bersiaplah, Gadis Manis. Aku akan memakan dagingmu yang lembut.”
BRAKH!
Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dan menabrak empousa hingga terlindas di permukaan salju. Roxa terkesiap. Pun monster berparas cantik itu yang seketika mejadi gepeng.
Darahnya yang berwarna hitam menggenang dan menyatu dengan lapisan salju bagai es serut cappucino. Namun, lagi dan lagi wujud monster itu kembali seperti semula. Oh astaga! Kuat sekali dia.
Roxa mengarahkan pandangan kepada mobil yang baru saja tiba. Apakah mobil itu datang untuk menolongnya? Siapa sang empu mobil tersebut?
Tak lama, keluar sosok pria yang tinggi menjulang, berambut hitam legam, dan tentu saja wajah yang sangat tampan. Ya, dia adalah Axe.
Empousa yang telah pulih menatap Axe dengan demam kegairahan. Monster itu mengubah wujudnya menjadi sesosok wanita yang lebih cantik dari sebelumnya. Sepasang kaki aneh yang sebelumnya berbentuk sebelah kaki keledai dan sebelah kaki kuningan, kini berubah menjadi sepasang kaki mulus dan jenjang seorang wanita. Bahkan, tubuhnya kini memberikan aroma bagaikan mawar dan bulu binatang yang bersih, bau yang aneh tapi entah bagaimana bisa begitu memabukkan.
Empousa memang memiliki kemampuan muncul dalam berbagai samaran bentuk yang berbeda-beda, bisa menjadi hewan atau sebagai perempuan muda yang sangat cantik menggoda. Dan, tentu saja tujuannya kini adalah menggoda pria tampan yang baru saja datang, Axe.
“Wow! Segar sekali! Sungguh pemandangan yang menyegarkan.” Empousa itu berdesis genit, “Kemarilah, Sayang! Beri aku ciuman!” imbuhnya sembari memanyunkan bibirnya yang seksi. Sosoknya berdenyar—kadang-kadang monster, kadang-kadang seorang wanita yang sangat cantik. Monster itu kemudian menjilat bibirnya dengan lapar. "Darahmu pasti nikmat dan dagingmu juga pasti sangat lezat. Aku ingin merasakanmu."
Sedangkan Axe hanya mengernyit jijik. Kedatangannya memberikan atmosfer penuh tekanan hingga dinginnya musim salju menjadi semakin dingin. Pria itu kemudian berjalan menghampiri Roxa yang masih terdiam di tempat.
“Apa kau datang untuk menolongku, Guru?” Roxa berujar sopan dan mengingat jika pria itu adalah gurunya.
“Tidak,” jawab Axe singkat dengan senyuman formalitas.
Roxa mengernyit, “Lalu?”
“Aku gurumu. Aku akan mengajarimu.” Axe mengambil sebuah pisau kecil dan memberikannya kepada Roxa, “Tusuk di bagian jantungnya dan ucapkan mantra yang sebelumnya kau pelajari,” imbuhnya memberi penjelasan dengan nada datar.
Roxa tercengang dan menatap Axe dengan tatapan kosong. Jika hanya merapalkan mantra dari kejauhan mungkin ia bisa melakukannya. Namun, jika harus menghampiri dan menusuk jantung monster itu dengan tangannya sendiri, sepertinya ia harus berpikir-pikir lagi.
“I-iy … tidak! Aku tidak takut!” Roxa tiba-tiba meralat ucapannya, “Aku akan mencobanya. Aku akan menusuk jantung monster itu,” imbuhnya penuh keyakinan dan mau tidak mau menerima pisau yang diberikan Axe.
Axe menarik kedua sudut bibir, tersenyum tipis.
Sedangkan Roxa mengambil napas dalam dan bersiap untuk menyerang. Langkahnya kemudian berlari menghampiri seonggok monster di hadapannya tersebut.
Namun, saat hendak menusuk jantung empousa itu, tangannya justru ditepis dengan cakar panjangnya yang hitam. Roxa terhempas cukup keras dengan suara debaman yang cukup nyaring. Akan tetapi, ia tidak menyerah begitu saja.
Roxa berdiri dengan sempoyongan kemudian kembali berlari. Dengan sekuat tenaga, ia kembali mencoba menusukkan pisau ke jantung monster tersebut.
“Akh!” Roxa berteriak saat cakar panjang monster itu berhasil melukai lengannya. Tubuhnya kembali terhempas hingga ia mengaduh kesakitan. Netra emeraldnya menatap Axe yang mengerutkan kening saat melihatnya terjatuh.
Menggemeratakkan gigi, Axe kini memberikan tatapan tajam kepada empousa. Awan hitam menakutkan tiba-tiba memenuhi langit-langit hutan belantara.
Monster itu seketika terbelalak saat merasakan sebuah kekuatan sihir yang benar-benar kuat. Ia menatap sosok pria tampan yang sedang marah itu dengan sekujur tubuh gemetar. Mendadak nalurinya memberi sinyal bahaya, “Kekuatan ini … a-apa kau Raja Iblis?”
Axe tidak menanggapi dan justru mengambil sebuah pena di sakunya kemudian membuka penutupnya. Pena itu secara mengejutkan berubah membesar hingga menjadi sebilah pedang perunggu sepanjang satu meter. Bilahnya berkilau dengan cahaya pucat keemasan. Itu adalah Pedang Eltoc—pedang pemberian dewa.
Pria itu lalu berlari dan menyerang dengan cepat, seperti seorang Raja Iblis yang masuk ke arena pertempuran. Ia menggunakan sihir api yang dimilikinya hingga membawa tubuhnya terbang rendah sejajar dengan si empousa. Pedang itu berhasil mengkoyak dada dan menusuk jantung monster tersebut.
Roxa gemetar dan terkesiap saat melihat adegan sadis di depan matanya hingga monster itu benar-benar hancur bagai sekarung tepung dan tak bisa kembali lagi ke wujud semula.
“Dia benar-benar hebat.” Roxa bergumam.
Di detik berikutnya, Axe kembali mengubah pedangnya dalam wujud pena kemudian berjalan menghampiri Roxa. Ya, saat ini, Roxa masih dalam posisi jatuh tersungkur.
Netra biru Axe tertuju pada lengan gadis itu yang masih mengucurkan darah segar akibat serangan empousa. Pria tinggi itu lantas menekuk lutut untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Roxa, “Kita harus pergi. Aku bisa membuatmu tidak merasakan apapun saat mengobatinya,” ujarnya dengan kedua tangan yang menggendong Roxa.
Jarak tubuh mereka kini begitu dekat. Netra emerald Roxa praktis terbelalak sempurna saat tiba-tiba tubuhnya berada dalam gendongan pria tersebut. Bahkan, indra penciumannya juga dapat menghirup aroma maskulin dari perpaduan citrus dan wood yang begitu menyegarkan.
Kembali debaran yang menggelitik memenuhi diri Roxa. Meskipun pria itu hanya memberikan seraut wajah datar tanpa ekspresi saat menggendong tubuhnya, tetapi jantungnya tetap saja tidak tahu malu dan berdebar dengan begitu kuat.
“Mengapa kau ingin mengobati lukaku, Guru? Bukankah sebelumnya kau bilang hanya ingin mengajariku?” Roxa berusaha mengendalikan ekspresi agar tetap terlihat tenang.
Axe menyeringai, “Selain mengajari, tugas seorang guru adalah merawat muridnya yang terluka.”
\~\~\~
Cathie tersenyum gembira saat telah selesai melawan makhluk setengah manusia setengah burung, harpy. Partnernya kali adalah Felix dan tentu saja hal itu membuatnya tidak kerepotan karena kemampuan sihir yang dimiliki Felix cukup hebat.
“Good job, Felix! Monster itu tumbang hanya dengan sekali serangan.” Cathie bertepuk tangan berhiaskan senyuman ceria.
Felix tersenyum menawan seperti biasa, “Kita harus segera kembali.”
Cathie mengangguk dan berjalan bersama.
Sesampainya di pekarangan, Felix dan Cathie mengernyit saat melihat kehebohan dari para murid dan Piter yang sedang berkumpul. Mereka juga merasakan suatu ketegangan seolah sedang terjadi sesuatu yang buruk.
Troy yang terengah-engah seperti kehabisan napas kini membuat keributan.
“Apa yang terjadi, Piter?” Felix berdiri di samping Piter.
“Roxa. Dia melawan empousa dan itu bukanlah monster peliharaanku.”
Di detik itu juga, pupil mata Felix mengecil, “Di mana sekarang dia berada?”
\~\~\~