Beautiful Villaines

Beautiful Villaines
Bab 6. Aku Harus Memilikinya



Sebuah bangunan berdinding tipis dan tinggi dengan plang kayu bertuliskan ‘The Casino Royal’ kini telah ada di hadapan Liora dan Anne. Terlihat sebagian besar penduduk yang hilir-mudik memasuki tempat perjudian sekaligus tempat hiburan yang cukup terkenal tersebut.


Tidak hanya rakyat biasa yang bebas menikmati tempat itu, tetapi beberapa bangsawan diam-diam juga sering memasukinya. Well, meskipun tidak sedikit dari mereka yang berusaha menyamar dan menyembunyikan jati diri karena tidak ingin memberi aib pada nama besar keluarga mereka.


Seperti yang dilakukan Liora saat ini!


Dengan jubah hitam yang menutupi gaun mewah yang membalut tubuh serta penutup kepala jubah yang menutupi sebagian wajah dan rambut pirang kemerahan yang indah, kini penyamaran Liora telah sempurna.


Sebelumnya, Liora telah memberikan perintah kepada Anne untuk membawa jubah hitam yang akan digunakan sebagai penyamaran. Ia tidak ingin ada yang mengenalnya dan mengadukannya kepada Duke saat bermain-main di casino.


Tidak hanya itu! Liora juga menyuruh Anne untuk menipu para ksatria agar tidak mengikutinya. Anne beralasan jika Liora ingin mencoba beberapa pakaian di kamar ganti butik, tetapi nyatanya justru kabur melarikan diri.


Ya, berbagai cara Liora lakukan untuk melakukan misinya, yaitu … perburuan pia tampan!


Dan kini, gadis cantik yang terbalut jubah hitam itu sedang berjalan melewati pintu kayu ‘The Casino Royal.’


Pemandangan pertama yang didapat adalah beberapa meja bundar berukuran sedang dengan kursi-kursi kayu dan telah terisi banyak orang yang sedang bersenang-senang sambil minum bir.


Liora terus mengedarkan pandangan dengan wajah antusias dan seksama. Sungguh berbeda dengan Anne yang mengedarkan pandangan dengan seraut wajah takut dan gelisah. Pelayan itu bergidik ngeri saat melihat beberapa pria bertubuh besar yang sedang duduk sambil berkelakar.


“Sebenarnya apa yang ingin Anda lakukan di tempat seperti ini, Lady? Bagaimana jika kita kembali saja?" Anne sudah tidak tahan lagi dan ingin mengajak Liora pergi.


Liora menukikkan sebelah alis, "Bahkan kita masih belum memulainya, Anne. Aku harus menemukannya."


“Menemukan apa?” tanya Anne kebingungan, “tidak ada apa-apa di sini selain pria-pria mengerikan itu, Lady,” imbuhnya dengan wajah sedikit takut.


Liora terdiam beberapa saat. Kepalanya kembali mengedar dan ia berpikir jika yang dikatakan Anne baru saja memang benar. Pria-pria yang ada di sekitarnya hanya berwajah cumi-cumi. Beberapa dari mereka ada yang bertubuh kekar seperti binaragawan, bertubuh pendek, berkulit hitam, berambut keriting, berhidung bengkok, serta bergigi kuning akibat tembakau.


Ternyata mencari pria tampan tidak semudah yang Liora bayangkan. Seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami.


“Hm, benar juga.” Liora bergumam rendah dan membuat Anne berbinar cerah.


“Benar, ‘kan? Bagaimana jika sekarang kita segera kembali, Lady?” ajak Anne dengan penuh semangat.


“Emh, tetapi karena sudah terlanjur di sini, maka kita harus bersenang-senang dulu, Anne.” Pandangan Liora beralih kepada sebuah meja memanjang yang telah dikelilingi orang-orang yang sedang bermain kartu.


Anne mengikuti arah pandang Liora disusul dengan bola matanya yang membulat sempurna. Firasat buruk yang sebelumnya ia rasakan kini hadir kembali. “Jangan katakan jika Anda ingin bergabung bersama mereka?”


Liora menerbitkan seringai, “Maaf, karena aku harus mengatakannya, Anne. Aku memang ingin bergabung bersama mereka, hohoho.” Dengan sigap Liora menarik pergelangan tangan Anne masih dengan senyuman mengembang di bibirnya. "Cepat! Kupastikan kita akan mendapatkan banyak uang."


“Oh, Ladyyyyy ….” Anne merasa lemas seketika meskipun hanya bisa pasrah.


Liora menghempaskan bokong di kursi kosong bersama Anne yang duduk di sebelahnya. Setelah duduk manis, Liora melihat seorang pria paruh baya berambut keriting seperti pegas yang berlaku seperti bandar dalam permainan. Dia bernama Derek.


Sedangkan di meja itu, terdapat dua orang yang bermain yaitu seorang pria kurus berambut golden blonde melawan seorang pria berjubah hitam yang duduk saling berhadapan.


Si pria kurus tiba-tiba menggeram frustrasi karena kalah dalam permainan. Sementara pria berjubah hitam yang memenangkan permainan hanya terlihat sedikit menarik sudut bibir dan menikmati sebatang cerutu yang dihisap. Ekspresi dan wajah pria itu tidak terlihat jelas karena tertutup oleh jubah hitam yang ia kenakan.


“Baiklah, adakah yang ingin bermain lagi?” Derek berdiri dan meninggikan suara.


Hening. Tidak ada yang menjawab. Beberapa orang di meja itu hanya saling melempar pandang seolah tidak ada lagi yang ingin bermain. Mereka sepertinya takut dikalahkan oleh si pria berjubah hitam.


“Aku ingin bermain!” Tiba-tiba suara lantang seorang gadis terdengar hingga pusat perhatian seketika tertuju kepadanya.


Well, tentu saja kalian sudah tahu siapa sang empu suara tersebut. Itu adalah suara milik Liora sekaligus Roxana.


"Baiklah, Nona. Apa kau ingin memperkenalkan dirimu dulu?”


Liora sedikit terkejut. Apakah aturan dalam permainan memang harus memperkenalkan diri dulu? Lalu apa gunanya penyamaran yang ia lakukan? Ia tidak ingin identitasnya sebagai putri dari bangsawan Duke Shancez diketahui orang.


“Tidak. Aku tidak ingin memperkenalkan diri karena aku orangnya sedikit pemalu.”


“Baiklah. Kau akan bermain dengannya." Derek mengarahkan pandangan kepada pria berjubah hitam yang sebelumnya memenangkan permainan, "Dia adalah Axe.”


Axe? Seingat Liora, tidak ada nama itu di dalam film ‘The Villain’s Dead’ yang ia bintangi. Hm, pria itu hanyalah orang tidak penting yang bahkan namanya saja tidak ada di daftar pemeran figuran. Ya, itulah yang Liora pikirkan.


Beranjak bangkit, Liora kini pindah di kursi milik si pria kurus yang sebelumnya kalah dalam permainan ditemani Anne yang berdiri di belakangnya untuk memberikan dukungan.


Kini, Liora dan Axe duduk saling berhadapan dan siap memulai permainan.


"Bisa kita mulai sekarang?" Derek memandangi Liora dan Axe secara bergantian.


Liora mengangguk mantap. Sedangkan Axe hanya mengisap batang cerutunya lalu mengembuskan asapnya ke depan secara perlahan, tepat kepada Liora yang duduk di depan.


Dahi Liora seketika berkerut samar, ‘Tidak sopan! Angkuh sekali pria itu!’


“Semangat, Lady! Anda pasti menang! Ayo! Semangat-semangat!” Anne berbinar cerah dengan wajah antusias. Ia juga mengepalkan sebelah tangan penuh tekad.


Liora membuang napas kasar, “Ke mana perginya gadis yang tadi begitu ketakutan saat kuajak ke mari?”


Anne hanya menyengir kuda dan terus memberikan semangat kepada Liora. Tampaknya pelayan itu mulai merasakan euforia dan keseruannya sendiri.


Kini, dua tumpuk koin chip berwarna orange atau biasa disebut sebagai labu yang bernilai satu koin setara dengan satu keping koin emas, disajikan di atas meja. Masing-masing tepat berada di depan Liora dan Axe.


Liora mulai mengintip kartu yang didapat; King Sekop dan King Hati.


Derek kemudian membuka tiga kartu yang sebelumnya disajikan di atas meja; King Keriting, As Hati, dan As Wajik.


Liora diam-diam melirik Axe untuk melihat ekspresi pria tersebut. Ia ingin menebak kartu apa yang didapatkan dari guratan ekspresinya. Kecewa atau justru terlihat senang? Namun, percuma saja karena wajahnya tertutup oleh penutup kepala jubah hitam sialan itu.


Axe tiba-tiba memberi isyarat untuk menaikkan taruhan menjadi sepuluh tumpuk koin chip berwarna orange. Sedangkan Liora seketika berdecak kesal karena sudah bisa menebak kartu apa yang didapatkan oleh pria tersebut. Tentu saja Axe mendapat kartu yang bagus karena berani menaikkan taruhannya.


Dan ternyata … dugaan Liora benar!


"Four of a kind!" Derek meninggikan suara saat melihat empat kartu As dan satu kartu King yang didapatkan oleh Axe.


Sesi pertama dimenangkan oleh Axe. Semua tumpukan chip koin yang bernilai belasan keping koin emas telah menjadi miliknya.


Liora menghela napas panjang hingga permainan kembali dilangsungkan.


Sesi kedua berakhir dengan hasil yang sama. Axe menjadi pemenang.


Sesi ketiga menyusul dan tetap memperoleh pemenang yang sama.


Sesi keempat menyusul dan lagi dan lagi menjadikan Axe sebagai pemenangnya.


Kini, pria misterius berjubah hitam itu sedang merasa di atas awan karena mendapat kemenangan telak.


Liora terus menerus kalah dan hanya bisa menggigit bibir bawah. Netra emeraldnya memandangi tumpukan koin emas miliknya yang raib begitu saja. Lebih tepatnya, koin-koin milik Duke Shancez.


Padahal, gadis itu sudah sesumbar kepada Anne dengan mengatakan akan membawa banyak uang. Apakah di balik kekalahannya ada hikmah yang bisa dipetik jika kita tidak boleh sesumbar?


"Kau kalah." Axe berujar rendah sembari mengisap batang cerutu berhiaskan wajah datar.


Liora tertegun sejenak saat pertama kali mendengar suara pria berjubah hitam tersebut. Suara yang terdengar begitu dalam, sedikit serak, dan seksi. Meskipun suaranya enak didengar dan begitu sopan masuk ke telinga, tetapi bagi Liora dia adalah pria yang angkuh dan menyebalkan.


“Ya, siapapun juga tahu jika aku kalah. Kenapa harus diperjelas lagi?” Liora mencebik kesal dan justru menjawab sewot.


“Ck!” Pria itu hanya berdecak sembari meraup semua keping koin emas yang berhasil didapatkan.


“Mari kita bermain lagi!” Liora tiba-tiba mencetus dengan wajah serius meskipun semua orang yang sebelumnya ada di meja sudah pergi. Mereka berpikir permainan telah berakhir karena Axe sudah memasukkan semua koinnya.


“Aku tidak memiliki waktu lagi untukmu.” Pria itu menjawab dengan nada datar.


Liora mengernyit, “Dasar sombong! Apa kau takut jika aku berhasil mengalahkanmu?”


“….”


Terjadi keheningan untuk sesaat.


Tanpa ada yang tahu, pria berjubah hitam itu justru menyeringai, “Aku hanya tidak ingin berurusan dengan Nona bangsawan kurang kerjaan sepertimu,” jawabnya kemudian melenggang pergi begitu saja.


Liora membeku di tempat. Ia merasa jika aliran darahnya merangkak naik ke wajah hingga wajahnya memerah dan mendidih. Sejak awal, ia sudah terprovokasi.


“Nona bangsawan? Dari mana pria sialan itu mengetahuinya, heh?” Liora tiba-tiba beranjak berdiri dan bersiap untuk melangkah.


Namun, Anne dengan sigap menghentikan langkah Liora, “Anda ingin pergi ke mana, Lady?”


"Aku akan mengikutinya.”


“A-apa? Tidak bisakah Anda tidak pergi? Lebih baik kita pulang saja, Lady!”


“Tidak bisa! Harga diriku terluka! Dia tidak boleh mengalahkanku begitu saja!” Liora meninggalkan Anne yang ditelan kepanikan saat ditinggalkan sendirian. Malang sekali nasib pelayan tersebut.


\~\~\~


Liora terus berjalan hingga tanpa sadar telah sampai di sebuah hamparan rumput yang luas dan terletak di samping danau. Langkah jenjang dari postur tinggi pria itu, membuat Liora cukup kesulitan untuk mengejarnya dari belakang.


Menghentikan langkah, Liora kini mengedarkan pandangan. Hanya terlihat bunga-bunga rumput yang tersapu angin dan membumbung tinggi. Air danau yang tenang di mana terdapat kumpulan angsa yang berenang.


“Ugh! Ke mana dia pergi? Mengapa tiba-tiba menghilang? Apakah dia siluman?” Liora bermonolog masih dengan kepala berkeliling.


“Apa kau sedang mencariku?" Tiba-tiba terdengar suara berat dan seksi yang begitu mengejutkan dari arah belakang Liora.


Liora sontak terkesiap dan dengan cepat menoleh ke belakang. Akan tetapi, tampaknya ia harus menerima sebuah tragedi yang tidak dapat dihindari. Terdapat sebuah batu berukuran cukup besar tepat di belakang kakinya hingga membuatnya terjungkal ke belakang.


Tidak ingin jatuh sendirian, Liora justru menarik kerah jubah pria di hadapannya. Malang tak dapat ditolak dan mujur tak dapat diraih. Pria itu ikut terjatuh tepat di atas tubuh Liora.


Tidak hanya sampai di situ! Penutup kepala jubah hitam yang dikenakan si pria misterius itu terlepas. Pun penutup kepala yang Liora kenakan juga ikut terlepas. Kini, keduanya telah menunjukkan wujud asli yang sesungguhnya.


Liora mengerjap-ngerjapkan kelopak mata yang dinaungi bulu mata lentik kala memandangi ukiran wajah seorang pria yang begitu tampan dan tegas seperti matahari, bibir tipis kemerahan yang memberikan warna cerah di kulitnya yang pucat, manik mata berwarna biru sebiru saphire yang berkilau bagai rasi bintang, serta rambut hitam legamnya yang tersapu angin.


Di bawah kungkungan dada bidang pria tersebut, Liora menjerit dalam hati, ‘Ya ampun! Ketampanannya sungguh tidak sopan! Pria itu … aku harus memilikinya!’


\~\~\~