Beautiful Villaines

Beautiful Villaines
Bab 11. Jodoh Tidak Akan Ke Mana



“A-apa? Cath-Catherine de Jolla?” Roxa membeku di tempat dengan bola mata membulat.


Sedangkan gadis mungil dan menggemaskan yang memeluk Roxa dengan erat mulai melonggarkan pelukannya, “Benar. Aku Cathie, sahabatmu,” ucapnya sekali lagi dengan manik mata berkaca-kaca menyerupai kristal bening.


Ditundukkan kepala Cathie disusul dengan lapisan kristal bening di manik mata indah itu yang akhirnya meluruh dan menjuntai di pipi kemerahannya, “Ini adalah mimpi buruk. Berita tentangmu yang hilang ingatan itu tidak benar ‘kan, Roxa?” lirihnya denial sembari terisak.


“Sayangnya itu memang benar.” Roxa berujar canggung sembari tersenyum kikuk.


Kristal bening di manik mata Cathie semakin menderas. Gadis itu menangis terisak. Pun raut wajahnya yang terlihat begitu sedih seolah dunianya sedang hancur.


‘A-apa ini? Apa dia menangis karenaku?’ Roxa tercengang dengan bola mata semakin membulat sempurna, ‘Tidak. Tunggu dulu! Hal yang lebih penting dari itu semua adalah kenyataan jika dia adalah Catherine, si pemeran utama wanita asli di dunia ini. Aku tahu jika mereka dulunya bersahabat dan lulus dari akademi yang sama, tetapi bertemu dengannya langsung seperti ini tetap saja membuatku terkejut!’ benak Roxa masih dengan sekujur tubuh mematung.


Dalam film ‘The Villaines Dead’ diceritakan tentang tokoh pemeran utama wanita, Catherine de Jolla, yang dulunya bersahabat dengan tokoh pemeran antagonis, Roxana Adelaide.


Kala itu, mereka berdua tersesat di hutan dan diserang oleh monster naga kuat yang sulit dikalahkan. Keduanya menghadapi monster itu dengan seluruh tenaga ditambah kekuatan sihir hingga terseok-seok.


Hingga di detik-detik mereka hampir menyerah dan berada di ambang kematian, datanglah tokoh pemeran utama pria, Liam Demente de Dias, yang membunuh monster itu dengan sangat mudah.


Dua gadis itu pun secara bersamaan jatuh cinta kepada Liam. Namun, Liam hanya tertarik kepada Catherine yang memiliki jiwa murni dan baik hati. Seiring berjalannya waktu, Catherine juga berhasil menyembuhkan trauma dan kutukan Liam.


Hingga akhirnya, cinta para tokoh utama itu pun bersemi dan membara dengan begitu liar seperti api yang tidak bisa dihentikan. Cinta yang sangat panas dan bergairah. Ya, film ‘The Villaines Dead’ memang diadaptasi dari sebuah novel best seller bergenre mature alias 18+ jika kalian tidak mengetahuinya.


Konflik pun dimulai saat Catherine telah lulus dari akademi dan pemilihan Putri Mahkota diadakan. Roxana yang telah memendam perasaan kepasa Liam lantas dibakar cemburu kepada Catherine yang mendapatkan kasih sayang Pangeran tersebut.


Cerita berpusat pada kehidupan di dalam istana yang penuh dengan sandiwara, intrik, dan penghianatan. Takdir buruk pun jatuh kepada pemeran antagonis Roxana yang berusaha membunuh Cathrine, tetapi justru berakhir tewas mengenaskan.


Ya, kurang lebih begitulah alur ceritanya.


Dan kini, di lorong asrama wanita yang ada di Akademi Hoover, Cathrine tengah meneteskan air mata kala mengetahui kenyataan jika Roxa benar-benar tidak mengenalnya.


“Hiks … aku adalah sahabatmu, Roxa. Apa kau sama sekali tidak bisa mengingat diriku? Kau juga tidak bisa mengingat semua kebersamaan kita?” Cathie menatap Roxa dengan ekspresi begitu sedih.


“Lihat! Dia membuatnya menangis lagi! Padahal Cathie begitu memedulikannya.”


“Dasar wanita iblis tida tahu diuntung! Aku tidak ingin berteman dengan wanita sepertinya.”


“Dia benar-benar membuatku merinding dan muak. Kita tidak boleh dekat-dekat dengannya.”


Suara-suara sumbang tiba-tiba terdengar dari para murid perempuan yang kebetulan lewat dan melihat Catherine sedang menangis terisak di hadapan Roxa. Para murid yang berjalan lewat itu memang sengaja berbicara keras-keras agar Roxa mendengarnya.


Sedangkan Cathie yang juga dapat mendengarnya seketika mengusap air matanya dengan kasar kemudian berbalik dan menghadap murid-murid perempuan yang baru saja lewat tersebut, “Tidak! Ini salahku. Kalian jangan menyalahkannya,” ujarnya membela Roxa masih dengan sesekali terisak.


“Ck! Cathie yang malang. Kau selalu melindunginya dan menyalahkan dirimu sendiri,” desis salah satu murid yang tidak mengindahkan pembelaan Cathie kemudian benar-benar melenggang pergi.


Cathie kembali menatap Roxa dengan tatapan nanar, “Roxa—“


“Emh, maaf karena aku benar-benar tidak bisa mengenalmu dan membuatmu sedih.” Roxa menyela, “Tapi aku akan berusaha agar mendapatkan kembali ingatanku. Dan untuk saat ini, aku akan pergi ke kamarku untuk beristirahat. Perjalanan hari ini cukup membuatku lelah (termasuk saat tiba-tiba aku bertemu denganmu).”


Cathie bergeming sejenak dengan pandangan tidak terputus kepada Roxa. Ia kemudian mengangguk dengan ekspresi tak terbaca, “Aku akan mengantarmu. Kau pasti juga melupakan jika aku adalah teman sekamarmu.”


Roxa terbelalak, terkejut. Di film itu hanya diceritakan jika mereka bersahabat, tetapi tidak diceritakan detail tentang mereka yang juga tinggal dalam satu kamar di asrama ini.


“Tenang saja. Aku tidak akan mengganggumu hari ini agar kau bisa beristirahat,” imbuh Cathie dengan wajah yang masih terlihat tidak terbaca kemudian berjalan mendahului Roxa.


Masih dengan bola mata terbelalak karena terkejut, Roxa segera melangkah untuk berjalan mengikuti Cathie di belakang.


“Ini adalah kamar kita.” Cathie berhenti tepat di depan sebuah ruang kamar bertuliskan ‘Cathrine & Roxana’ di bagian atas pintu.


Roxa mengangguk canggung, “Terima kasih.”


Dilangkahkan kaki Roxa memasuki sebuah kamar sederhana dengan dua dipan di dalamnya. Satu dipan miliknya dan satu dipan milik Cathie. Ruang kamar itu memang cukup sederhana jika dibandingkan dengan mansion mewah kediaman Duke Shancez.


Seperti yang dijelaskan sebelumnya jika di Hoover semua murid diperlakukan setara meskipun dia adalah Lady dari bangsawan Duke sekalipun. Mereka tidak diperbolehkan membawa pelayan pribadi dan dituntut untuk hidup mandiri dalam artian bisa melayani dirinya sendiri.


“Beristirahatlah. Sebelumnya, aku mengatakan tidak akan menganggumu hari ini, tetapi tidak untuk hari berikutnya.” Cathie tersenyum ceria hingga kedua matanya menyipit seperti bulan sabit.


“Hm?” Roxa justru menatap Cathie penuh tanda tanya. Pasalnya, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Cathie katakan. “Apa maksudmu, Cathie?”


“Maksudku, aku akan terus mengganggumu agar kau bisa segera mengingatku. Sampai jumpa, Roxa.” Cathie berujar masih dengan senyuman ceria kemudian berbalik, berniat meninggalkan Roxa.


Namun, beberapa langkah berjalan, Cathie kembali berbalik dan berlari menghampiri Roxa. Di detik betikutnya, wanita mungil berambut pirang keemasan itu memeluk Roxa dengan erat. “Kau jahat sekali sampai bisa melupakanku. Kau harus segera mengingatku agar kita tidak canggung seperti ini, ok?!”


Roxa terkesiap dengan sekujur tubuh membeku di tempat. Ini adalah kedua kalinya ia dipeluk secara tiba-tiba oleh Cathie. Dianggukkan kepalanya dengan seraut wajah kaku, “I-iya,” cicitnya dengan suara hampir tertelan.


Pintu kamar tertutup.


Roxa seketika menghempaskan tubuh di atas dipan dengan helaan napas panjang. “Huah! Tenang … tenang! Ingat pada rencana awal. Aku tidak boleh berusaha membunuhnya seperti yang dilakukan Roxana di cerita aslinya. Aku juga tidak boleh berhubungan apalagi jatuh cinta kepada Pangeran Neraka sialan itu apapun yang terjadi! Ya, sangat sangat sangat tidak boleh dan haram hukumnya!”


Dikepalkan sebelah tangan Roxa untuk menyemangati diri sendiri dengan seraut wajah yakin, “Kuharap bisa melewati semua ini.”


Dipejamkan kedua mata Roxa untuk beristirahat dan ingin segera terlena dalam mimpi, “Aku benar-benar lelah sekali.”


\~\~\~


“Perhatian! Aku ucapkan selamat datang kembali di Hoover." Prof Magdalena, seorang wanita tambun berambut pendek ikal sedang berdiri di atas panggung dan berpidato dengan bantuan pengeras suara.


Saat ini … sedang dilangsungkan kegiatan orientasi yang khusus dihadiri oleh murid akademi semester dua. Prof Magdalena yang berdiri di atas panggung itulah yang bertugas melakukan salam penyambutan serta berbicara tentang segala macam kegiatan hebat yang akan berlangsung di Hoover.


Roxa duduk di barisan paling depan dan mendengarkan dengan begitu seksama. Sedangkan di samping kanannya, ada Felix yang justru tidak ada hentinya menguap dan hampir saja tertidur, “Membosankan.”


“Aku juga merasakannya.” Roxa menjawab lirih.


“Tapi kau sejak tadi mendengarnya dengan begitu serius.”


“Tidak. Aku hanya sedang melamun.”


Felix tergelak, begitu juga dengan Roxa yang ikut terkekeh dengan candaan garingnya.


Sedangkan di samping kiri Roxa, ada Cathrine yang menautkan kedua alis saat melihat Roxa dan Felix tertawa bersama, tanpa dirinya.


“Hei, apa yang kalian berdua bicarakan? Mengapa tidak mengajakku?” dumel Cathie dengan eskpresi yang terlihat begitu menggemaskan.


Felix tersenyum, “Tidak ada hal penting yang kita bicarakan, Cath.”


“Kau berbohong, Felix.” Cathie mendelik dengan bibir mengerucut.


“Sayangnya aku tidak berbohong.” Felix berujar dengan tatapan teduh. Netra peraknya yang indah menatap Cathie berhiaskan senyuman menawan.


“Felix! Roxa milikku!” ketus Cathie posesif dengan mata melotot dilengkapi dengan jemari yang menggamit lengan Roxa.


Roxa terkesiap, ‘Lah! Felix itu menyukaimu, Cath. Mengapa kau justru merebutkanku dasar cantik-cantik tidak peka!’ batinnya menjerit. Pasalnya, ia telah mengetahui alur cerita jika Felix diam-diam akan menyukai Cathie.


Sedangkan Felix hanya tergelak, “Ya, tidak ada yang bisa mengambilnya darimu.”


“Hei, diamlah!” Seorang murid laki-laki yang duduk di bangku belakang tiba-tiba berdesis mengingatkan.


“Maafkan kami, Dude.” Felix mengerling santai kemudian menghadap ke depan dan mulai mengikuti jalannya acara dengan seksama.


‘Hm, aku merasa jadi seperti penghalang di antara dua sejoli ini. Haruskah aku duduk menyempil di pojokan saja?’ Roxa kembali membatin ketika merasa tidak nyaman duduk di antara Felix dan Cathie. Ia sudah seperti obat nyamuk bakar.


‘Ah! Seandainya aku memiliki pasanganku sendiri. Pria tampanku … di mana kau berada saat ini?’ Roxa hanyut dalam lamunan.


“Baiklah. Kita akan menyambut guru baru yang akan mengajar kalian di Hoover.” Suara Prof Magdalena menggema dan membuyarkan lamunan Roxa.


“Guru baru?”


“Tidak sembarangan orang bisa masuk dan menjadi guru di Hoover.”


“Wuah! Aku sangat penasaran!”


Terdengar keributan dari para murid yang berkasak-kusuk.


“Tenang-tenang!” Prof Magdalena tersenyum lebar, “Kalian memang kedatangan seorang guru Alchemis yang hebat dan tampan. Dia juga memiliki sihir abadi yang hanya ada beberapa orang beruntung di dunia yang memiliki. Sungguh kehormatan bagi Hoover bisa mendapatkan orang berbakat sepertinya,” imbuhnya berbinar-binar sembari bertepuk tangan disusul para murid yang juga ikut bertepuk tangan dengan meriah.


Di detik berikutnya, bola mata Roxa membulat sempurna. Tidak hanya Roxa yang terkesiap melainkan sebagian besar murid perempuan yang juga terpana dan sulit mengedipkan mata.


Bagaimana tidak? Di atas panggung … berdiri sosok pria yang begitu tampan dan bersinar seperti matahari, tubuh atletis dan tinggi menjulang, bibir tipis kemerahan dengan dagu berbelah, manik mata berwarna biru sebiru saphire yang berkilau bagai rasi bintang, serta rambut hitam legam yang lebat dan lurus.


‘Ya Tuhan, Allah, Yesus, Sang Hyang Widhi, Budha, nenek moyang! Bukankah dia adalah Axe?’ Roxa membeku di tempat kala melihat sosok familiar tersebut.


Ya, pria yang berdiri di sana memang sosok yang pernah Roxa temui sebelumnya—pria perjubah hitam yang bermain di casino bersamanya sekaligus pria yang terjatuh di atas tubuhnya.


Sudut bibir Roxa berkedut, tidak dapat menahan senyuman, ‘Umh … jodoh memang tidak akan pergi ke mana!’


\~\~\~