
Axe menahan senyuman saat dapat menebak jika makian dan sumpah serapah kini sedang ditujukan kepadanya. Baginya, sangat mudah mengetahui apa yang ada di pikiran Roxa karena gadis itu memang begitu ekspresif.
Sementara Roxa terpaksa meng-iya-kan apa yang diperintahkan. Ia memberikan tatapan tajam kepada Axe seolah ingin memakannya bulat-bulat—dalam arti yang sesungguhnya. Entah dendam apa yang dimiliki guru itu hingga bersikap begitu menyebalkan kepadanya.
Beranjak berdiri, Roxa akhirnya meninggalkan teman-temannya yang duduk manis di kursi mereka masing-masing dan berjalan menuju lemari kaca yang terletak cukup jauh dari tempat duduknya berada.
Sesampainya di lemari kaca, Roxa memasang sepasang sarung tangan yang sempat diberikan Axe kepadanya. Perlahan ia membuka kompartemen paling atas lemari kaca tersebut. Detik berikutnya, ia sedikit terkejut saat kompartemen itu telah terbuka, ‘Kupu-kupu?’
Ya, sebuah spesimen yang dimaksud Axe sebelumnya adalah seekor kupu-kupu bersayap jingga yang cemerlang, berurat dengan garis-garis hitam, dan terdapat bintik-bintik putih yang berkilau dan sedikit timbul. Makhluk yang sangat indah.
Roxa tanpa sadar memandangi keindahan kupu-kupu di hadapannya dengan begitu lekat dan tubuh bergeming. Itu adalah kupu-kupu terindah yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Apakah kupu-kupu itu juga berasal dari dunia baru?
“Meskipun mereka terlihat indah, tetapi bisa saja mematikan.” Tiba-tiba terdengar suara yang begitu dalam dari arah belakang Roxa.
Berjungkit terkesiap, Roxa seketika menoleh ke belakang dan kembali terkejut saat melihat Axe yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya dengan jarak begitu dekat.
“Aku hanya ingin sedikit mengapresiasi keindahannya saja.” Roxa mencicit dengan suara hampir tertelan. Ia merasa gugup karena guru itu hanya menyisakan jarak sekitar dua puluh senti saat berdiri di belakangnya, begitu dekat bahkan ia merasakan tubuh bagian belakangnya hampir bersentuhan. Tidak hanya itu, ia juga dapat mengendus aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuhnya dan begitu menggairahkan.
“Bukan berarti hal itu tidak berbahaya. Justru keindahan adalah hal yang paling berbahaya.” Suara Axe yang rendah terdengar begitu sensual di telinga Roxa. Mereka berdua sedang mencuri waktu untuk berbicara saat murid yang lain sibuk dengan ulat beracun di atas meja.
“Apakah ini sebuah peringatan?” Roxa bertanya dengan suara tertahan.
“Kau bisa mengartikannya demikian.” Sebenarnya, peringatan yang keluar dari mulut Axe saat ini terkandung makna tersirat di dalamnya. Kupu-kupu itu sama seperti dirinya. Seorang pria yang diberkahi keindahan visual tak terbantahkan, tetapi bisa saja berbahaya. Ya, sesuatu yang terlihat indah memang bisa saja mematikan.
Roxa buru-buru meraih tang yang akan digunakan untuk mengambil kupu-kupu, “Meskipun berbahaya, tetapi aku harus tetap mengambilnya. Ini semua berkat seseorang yang berjasa besar membawaku ke sini,” ujarnya menyelipkan sindiran kepada Axe. Meskipun gugup, ia harus berpura-pura tenang.
“Haruskah aku memberi balasan atas kebaikanmu?”
“Balasan? Sepertinya tidak buruk.” Roxa menjawab asal kemudian mulai mengambil seekor kupu-kupu menggunakan tang dengan gerakan begitu berhati-hati. Selain karena mengandung racun, ia juga tidak ingin merusaknya.
Axe sedikit merendahkan kepala, mendekatkan bibir, kemudian berbisik lebih lirih di daun telinga Roxa, “Bagaimana dengan balasan yang sama seperti saat itu? Kau menyerangku dengan ciumanmu atas kebaikanku.”
Di detik itu juga, gerakan tangan Roxa yang sedang menjapit kupu-kupu menggunakan tang berhenti seketika. Bola matanya membeliak sempurna. Sekujur tubuhnya membeku. Rasa malu sontak membuncah saat ia dapat mengingat kembali perbuatannya kepada Axe, duduk di pangkuannya dan menciumnya dengan ganas.
Mengingat hal itu, Roxa dapat merasakan hawa panas yang sontak menyebar dan memenuhi wajah cantiknya. Ia yakin jika wajahnya kini sudah memerah seperti cabai keriting yang siap dipetik. Ia sungguh tidak berani menoleh ke belakang dan memperlihatkan wajahnya yang merona kepada Axe.
“Ingatlah untuk tidak merusaknya. Bawa kupu-kupu itu ke alat pembesar di meja kerja. Aku akan menunggumu di sana.” Axe sedikit menyeringai sebelum kembali menegapkan tubuh kemudian berbalik meninggalkan Roxa yang masih mematung bersama keterkejutannya.
Sementara Roxa yang masih tidak dapat menggerakkan tubuhnya seketika berusaha keras untuk mendapatkan kembali kesadarannya. Pria itu … benar-benar memiliki lidah yang berbahaya.
‘Jantungku. Sepertinya aku perlu mengasuransikan jantungku.’
Beberapa menit berselang, Roxa berhasil memindahkan kupu-kupu dari kompartemen paling atas lemari kaca ke bawah permukaan lensa pembesar yang terletak di meja kerja Axe, di depan kelas.
Sementara Axe berdiri di samping Roxa bersama para murid lainnya yang sudah berkumpul dan berkerumun mengelilingi meja tersebut. Mereka memusatkan perhatian kepada objek pengamatan, seekor kupu-kupu yang baru saja Roxa bawa dengan susah payah.
Axe menekankan sebelah matanya ke rim silinder pengamat untuk melihat kupu-kupu itu lebih dekat. “Ini adalah seekor kupu-kupu yang sudah mati,” gumamnya rendah sebelum mengambil sebuah botol kaca yang sudah disiapkan. Botol kaca berukuran kecil dan berisi cairan berwarna hijau yang pekat.
Kini, Axe menuangkan satu tetes potion berwarna hijau pekat itu ke permukaan tubuh kupu-kupu tersebut.
Lima detik … potion mulai menyebar di sekujur tubuh kupu-kupu, tetapi tidak ada yang terjadi.
Sepuluh detik … masih tidak ada perubahan pada kupu-kupu tersebut. Para murid yang sedang berkerumun memerhatikannya dengan seksama.
Lima belas detik … tetap tidak ada yang perubahan. Para murid mulai bertanya-tanya sebenarnya apa fungsi potion tersebut. Apakah eksperimen yang ingin ditunjukkan guru mereka gagal?
Dua puluh detik … tiba-tiba terlihat tanda getaran di sayapnya, seperti sebuah sentakan kehidupan. Para murid mulai memasang wajah menegang dengan tatapan tidak percaya. Apakah kupu-kupu yang sudah mati itu sungguh bergerak? Ayolah, sesuatu yang telah mati tidak mungkin hidup kembali dan itu sudah merupakan hukum kehidupan.
“Ini tidak mungkin!” Troy, murid tambun sekaligus murid paling badung tiba-tiba berteriak heboh. “Pasti hanya ilusi sihir semata,” imbuhnya yakin dengan wajah meremehkan.
“Kau bisa melihatnya sendiri untuk memastikannya. Mendekatlah pada kaca pembesar.” Axe menanggapi dengan santai.
Troy yang terkejut sekaligus tidak percaya seketika menerobos mendekat dan menabrak teman-temannya. Ia juga tidak meghiraukan umpatan beberapa teman lainnya yang kakinya terinjak olehnya.
Troy kemudian menggeser posisi Roxa dengan tubuhnya yang tambun hingga ia berada di samping Axe dan di hadapan kaca pembesar. Sungguh murid yang tidak tahu tata krama!
Tak berlama-lama, murid pembuat onar itu langsung mendekatkan sebelah mata ke rim silinder pengamat untuk memastikan sendiri apa yang terjadi.
Bergerak.
Ya, sayap kupu-kupu itu sungguh bergerak meskipun dia masih tidak bisa terbang.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” Troy bermonolog masih dengan tatapan tidak percaya sembari menegapkan kembali tubuhnya.
Para murid yang lain ikut terkejut dan menatap takjub kepada sosok guru mereka yang seolah sedang membuat keajaiban.
Begitu juga dengan Roxa yang praktis mengarahkan netra emerald-nya kepada Axe. Ia sulit menyadari batasan fakta dan non fakta yang dianut oleh pria tersebut. Bahkan, alkemis elit sekalipun masih belum ada yang bisa membangkitkan sesuatu yang sudah mati.
‘Sebenarnya darimana datangnya pria dengan kemapuan tidak masuk akal itu?’ Roxa membatin dengan tatapan tidak terlepas dari Axe.
“Apakah tetes cairan yang kecil itu benar-benar bisa membuat kupu-kupu hidup kembali?” Dimitri membuka suara dan membuyarkan lamunan Roxa.
“Belum sepenuhnya, karena eksperimenku kali ini masih belum sempurna. Untuk itu, aku akan mengajak kalian untuk menyempurnakannya bersama.”
“Ba-bagaimana kami bisa membantu, Guru?” Dimitri kembali membuka suara dengan raut wajah yang begitu antusias. Di detik itu juga, ia menjadikan Axe sebagai panutannya dan kelak ingin menjadi seorang alkemis hebat seperti gurunya tersebut.
“Rumput berwarna emas yang hanya tumbuh di Air Terjun Menari. Aku membutuhkannya untuk menyempurnakan formula. Jadi, tugas kalian adalah menemukan rumput itu dan bagilah beberapa kelompok. Sesuaikan sendiri dengan jumlah murid yang ada di dalam kelas.”
“Baik, Guru,” jawab para murid hampir bersamaan.
“Lalu kita lanjutkan pembahasan ini di pertemuan selanjutnya.”
\~\~\~