
“Tidak mau.” Roxa menjawab dengan nada datar dan seraut wajah lempeng.
“A-apa?” Deborah terperangah.
“Aku bilang, aku tidak mau berbagi cerita denganmu.” Roxa tetap menjawab dengan nada dan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Di detik berikutnya, ia menyunggingkan senyum tipis, “Aku lebih tertarik dengan daging merpati ini. Sangat lezat jika aku menikmatinya dengan tenang,” imbuhnya yang tentu saja bermakna sedikit sindiran. Sekali lagi, ia hanya ingin menikmati makanannya dengan tenang.
Deborah membeku di tempat dengan tatapan geram. Wajahnya yang terlihat jahat semakin mengetat dengan kernyitan di dahinya yang lebar seperti lapangan. Bibirnya bergumam rendah, “Meskipun sedang hilang ingatan, keangkuhannya masih tetap sama.”
Roxa tetap menikmati makanannya, tanpa memedulikan sindiran Deborah dan beberapa murid perempuan yang saling berkasak-kusuk di meja makan.
Cathie yang duduk di samping Roxa tiba-tiba berwajah muram, “Tolong jangan mengganggunya, Deborah.”
“Ouh, Cathie … aku tidak mengganggunya. Aku hanya ingin menyapa sekaligus memastikan rumor yang ada. Tapi lihat betapa menyebalkan sikapnya itu!” Deborah mencebik kesal.
Roxa seketika menghentikan gerakan mulutnya dalam mengunyah makanan sembari membatin, ‘Rumor? Kali ini rumor apa lagi yang telah mereka buat?’
Sedangkan Cathie masih terlihat muram, “Semua rumor itu tidak benar. Roxa bukan wanita yang mudah merayu dan berpura-pura lemah hanya untuk menarik perhatian seorang pria.”
“Ya ampun! Kau terlalu naif, Cath!”
Well, saat ini Roxa memang sedang menjadi subjek kecemburuan bagi para murid perempuan di Hoover. Tentu saja karena Guru Alex yang menolongnya saat tragedi empousa sebelumnya.
Meskipun Roxa berasal dari keluarga bangsawan kelas atas, tetapi tidak sedikit murid yang membencinya dan terus membicarakannya di belakang. Awalnya, para murid itu merasa segan mendekati Roxa yang merupakan putri bangsawan Duke yang memiliki reputasi tanpa cela.
Namun, karena sikap Roxa yang angkuh, pendiam, dan misterius, menjadikan dalih bagi mereka untuk menjauh dan enggan berteman dengannya. Terlebih, sejak berita tentang Roxa yang sering menyakiti hati Cathie merebak bagai virus. Mereka semakin gencar mengucilkannya dan menganggapnya sebagai wanita jahat yang suka menindas.
Begitu juga dengan kelompok Mariposa Beaute yang sengaja tidak merekrutnya dan hanya mengambil Cathie saja. Padahal, jika dilihat dari kadar kecantikan yang dimiliki Roxa, seharusnya dialah yang menjadi ikon kecantikan di circle pertemanan mana pun.
Yah, tetapi siapa yang peduli dengan semua hal itu? Roxa tidak memedulikan rumornya yang buruk dan tidak berniat untuk memperbaikinya. Pun Roxana Adelaide yang asli juga tidak memedulikan masalah pertemanan dan rumor buruk yang beredar tentangnya hingga ia lulus dari akademi dan cerita aslinya dimulai.
Kembali di situasi di mana Deborah tersenyum miring kemudian menenggak minuman jeruk di atas meja. Ekor matanya terus melirik ke arah Roxa seolah tidak ingin melepaskan tangkapan ikan yang sudah tersangkut kail pancing. “Emm, sebenarnya aku hanya merasa malu, Cath,” gumamnya sembari menghela napas panjang.
“Malu? Mengapa kau harus malu?” Cathie mengernyit, tidak mengerti.
“Tentu saja aku malu karena ada murid penggoda di sekolah kita!”
“Murid penggoda? Siapa yang kau maksud? Bisa kau mengatakannya dengan jelas?” Mariana, anggota Mariposa yang lain ikut menimpali sembari tersenyum tipis.
“Haish, apa kalian sungguh tidak tahu? Tentu saja dia yang sengaja menggoda guru baru kita.” Deborah akhirnya meledakkan bom atom yang sejak tadi ia tahan masih dengan ekor mata melirik ke arah Roxa. Tentu saja tujuannya saat ini adalah mempermalukan Roxa. “Apa kalian tidak merasa ada yang aneh? Bukankah bakatnya dalam sihir selama ini cukup hebat? Bagaimana bisa ia tidak bisa mengalahkan empousa meskipun monster itu bukan peliharaan Piter? Kurasa dia hanya berpura-pura lemah agar mendapat pertolongan dari Guru Axe. Sungguh tidak tahu malu!”
“Astaga! Benar juga!” Mariana berpura-pura terkejut padahal ia sedang menyembunyikan kekehannya.
Deretan para murid perempuan yang kini masih berada di meja makan sontak memusatkan perhatian kepada Roxa.
“….”
Terjadi keheningan saat Roxa tidak segera menjawab. Biasanya, jika Roxana Adelaide yang asli dihadapkan dengan situasi seperti ini, ia lebih memilih untuk diam dan tidak ingin repot-repot menjelaskan kepada mereka kemudian melenggang pergi begitu saja. Hal itu justru semakin menjadi pembenaran akan rumor tentangnya.
Namun, tidak dengan Roxana palsu alias Liora. Ia tidak ingin tinggal diam dan memilih untuk sedikit bermain-main dengan para murid menggemaskan yang sedang memancingnya saat ini.
Jika diingat-ingat, dalam skenario film, Deborah adalah salah satu kandidat dalam pemilihan Putri Mahkota sama sepertinya. Dia didiskualifikasi di babak pertama karena melakukan kecurangan dan sejak awal dia yang suka berbicara buruk tentang Roxa di belakang.
Tersenyum manis, Roxa mengarahkan netra emerald-nya kepada Deborah, “Sayangnya, semua tuduhanmu itu tidak benar, Deborah. Sejak hilang ingatan, kemampuanku juga ikut menghilang dan aku sangat menyayangkan hal itu. Siapa yang ingin menjadi lemah dan tidak berdaya sepertiku?” Ucapan Roxa saat ini adalah sebuah kejujuran karena sebenarnya ia juga tidak ingin menjadi gadis tidak berguna di dunia ini. Sepertinya ia harus berlatih keras agar memiliki kemampuan sihir yang hebat seperti Roxana yang asli.
Deborah terdiam sembari mengerutkan kening. Ia tidak menyangka jika Roxa akan membantahnya. Padahal, selama ini apapun yang ia katakan Roxa akan diam saja.
“Ah! Kuucapkan terima kasih juga kepadamu yang selama ini telah menyebarkan berita tentangku meskipun dengan versimu sendiri. Yah, meskipun sebenarnya versimu saat ini juga tidak sepenuhnya salah sih. Aku memang sedikit menggodanya.” Roxa tersenyum cerah dan membuat murid-murid yang mendengarnya terkesiap. Pun Cathie yang tidak bisa mengedipkan mata saat menatap Roxa. Sebenarnya apa yang ingin Roxa katakan?
“Apa maksudmu?” Deborah kembali membuka suara dengan raut wajah terkejut bukan main.
“Dia milikku. Guru tampan dan seksi itu adalah milikku.” Bagai petir membelah bumi, Roxa kembali tersenyum cerah dan balik melemparkan bom atom kepada mereka semua.
Sementara para murid yang bisa mendengarnya kembali dibuat terkejut untuk yang kedua kali. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang tersedak hingga mendelik. Astaga! Sepertinya Roxa justru sengaja menyulut api dan semakin memanas-manasi. Betapa gilanya pemeran utama kita!
“Omong kosong macam apa yang kau katakan, Roxa? Sepertinya karena hilang ingatan, kau tidak hanya kehilangan kekuatanmu, tetapi juga akal sehatmu.”
Roxa tetap tersenyum manis kemudian meletakkan sendok dan garpu dengan posisi tertelungkup, pertanda ia telah selesai menikmati makanan. “Terserah apa katamu, yang jelas aku sudah mengatakan yang sebenarnya.”
“Bagaimana bisa kau mengakui sesuatu itu milikmu tanpa persetujuan orang itu sendiri? Kau pikir Guru Axe mau denganmu, heh?” Deborah menautkan kedua alis dengan jari telunjuk mengarah kepada Roxa. “Bahkan dengan mata tertutup pun aku jauh lebih baik,” imbuhnya sembari tertawa angkuh dan melipat kedua tangan di bawah dada.
Roxa mengangkat kedua alis, “Memang ada apa denganku? Apa yang kurang dariku? Bukankah kekuranganku hanya rumor-rumor buruk yang kau ciptakan sendiri?”
Terdiam. Deborah sontak mengatupkan bibir rapat-rapat lengkap dengan dahi berlipat dalam.
“Hm, jika dibandingkan denganmu … bukankah aku jauh lebih cantik? Maaf, jidatmu terlalu lebar tak selebar hatimu. Kedudukanku juga jauh lebih tinggi. Aku adalah putri dari Perdana Menteri.” Roxa tersenyum miring dan balas berujar narsistik. Ayolah, sejak awal bersikap narsis adalah hal yang mudah baginya. Dan, mereka semua juga tidak bisa membantah ucapannya. Selain memiliki kecantikan yang tak terbantahkan, posisi Duke juga tidak bisa diabaikan.
Beranjak berdiri, Roxa berjalan menghampiri Deborah kemudian berbisik lirih di telinganya, “Jika kau begitu terobsesi dengan guru itu, maka berusahalah lebih keras lagi. Karena sepertinya aku selangkah lebih maju darimu. Uhh … kau tahu … gerakan lidahnya sangat lihai, hohoho\~”
Di detik itu juga, Roxa melenggang pergi sebelum berpamitan kepada Cathie, “Aku akan beristirahat di kamar dulu, Cath.”
Sedangkan Deborah yang usai mendapat bisikan dari Roxa masih terdiam di tempat. Kedua tangannya gemetar lengkap dengan pupil matanya yang mengecil, “Dasar sinting! Sepertinya dia memang benar-benar sudah gila!”
\~\~\~