Beautiful Villaines

Beautiful Villaines
Bab 19. Ketulusan Cathie?



Senja telah tiba dan membawa cahaya jingga yang melesap di cakrawala. Meskipun sebentar lagi petang akan datang, suasana di halaman akademi yang biasanya sepi kini mendadak ramai. Keramaian itu diisi oleh para murid yang sedang berkumpul setelah melakukan pencarian terhadap Roxa yang tiba-tiba menghilang.


Ya, para murid itu ikut mencari karena perintah dari guru mereka, Piter. Namun, sebenarnya tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar merasa khawatir akan hilangnya Roxa. Alih-alih berduka, mereka justru terus mengeluh karena kelelahan dan membicarakan Roxa di belakang.


Hingga tiba-tiba … sosok yang sejak tadi mereka cari terlihat di pintu gerbang asrama dengan seraut wajah tanpa rasa berdosa. Roxa telah kembali dan kini sedang berjalan melewati para murid yang praktis memusatkan perhatian kepadanya.


“Lihat! Dia sudah kembali dengan sendirinya.”


“Oh astaga! Menyusahkan sekali.”


“Benar! Aku sampai melewatkan jam makan siangku hanya karena mencarinya.”


“Mengapa Putri Duke sombong itu tidak menghilang saja selamanya?”


Suara-suara sumbang tanpa empati itu mulai mengudara dan berdengung di telinga. Tatapan sinis dan tidak suka secara serempak ditujukan kepada Roxa. Bisa-bisanya tidak ada satu pun dari mereka yang merasa lega saat melihat Roxa yang kembali tanpa ada yang terluka.


Sedangkan Roxa yang menyadari itu semua hanya menghela napas panjang dan tetap memperlihatkan seraut wajah datar. ‘Sebenarnya apa yang selama ini Roxana lakukan hingga mereka begitu membenciku?’ benaknya sambil terus berjalan.


Namun, di balik ekspresi datar dan tidak acuh yang terlihat di wajah Roxa saat ini, sebenarnya gadis itu sedang menyembunyikan rasa frustrasi dan kegetiran yang merasuk di dada. Sungguh tidak ada satu pun dari mereka yang memedulikan apalagi mengkhawatirkannya.


Bukankah berpura-pura terlihat baik-baik saja, tetapi nyatanya merasa hampa adalah hal yang amat menyesakkan? Roxa benar-benar merasa sendiri di dunia asing ini. Ya, sendirian memang begitu melelahkan dan itulah yang Roxa rasakan.


Setelah berjalan cukup jauh dan hendak memasuki kamar asrama, Roxa kembali mendengar beberapa murid perempuan yang masih saja sibuk berkasak-kusuk di belakang. Well, suasana di penjuru Hoover saat ini memang sedang kacau karena kejadian yang telah menimpanya tadi siang.


‘Ugh! Bisa-bisanya dia kembali sementara orang-orang yang mencarinya masih ada yang belum kembali.’


‘Astaga! Aku jadi semakin merasa kasihan pada Cathie dan Felix.’


Di detik itu juga, Roxa seketika menghentikan langkah lengkap dengan bola mata membeliak. Tubuhnya berbalik dan menatap tajam pada sekumpulan murid perempuan yang berdiri tidak jauh darinya.


“Apa yang baru saja kalian katakan?” Roxa bertanya dengan sepasang alis mata hampir menyatu.


Sekumpulan murid perempuan itu hanya terdiam dan memalingkan wajah secara bersamaan.


Sementara Roxa tidak tinggal diam dan segera melangkah menghampiri Penelope, seorang murid berambut pendek yang terakhir kali berbicara, “Bisakah kau mengulangi ucapanmu?” desis Roxa dengan seraut wajah serius.


Penelope memutar bola mata sambil menghela napas jengah, “Apa kau sungguh tidak tahu? Cathie dan Felix. Mereka masih ada di hutan untuk mencarimu,” ujarnya dengan nada ketus yang begitu kentara.


Tanpa banyak bicara, Roxa langsung melenggang pergi sambil menabrak bahu Penelope yang seketika mengumpat dan memaki, tidak terima. Roxa tidak memedulikannya dan semakin berderap cepat berhiaskan wajah gusar.


Beberapa menit kemudian.


Roxa berlari dengan membawa lentera yang menjadi sumber penerangan selain cahaya rembulan di langit malam. Hawa dingin yang menusuk ke tulang serta kesunyian yang menyergap sebenarnya membuatnya merasa ragu untuk kembali ke dalam hutan.


Ayolah, di kehidupan sebelumnya Roxa tidak pernah menginjakkan kaki di hutan belantara terlebih di malam hari. Ia adalah seorang aktris papan atas yang tidak mungkin melakukan hal gila dan berbahaya seperti saat ini.


Bagaimana jika Roxa justru berakhir tersesat atau bahkan menjadi santapan serigala? Haruskah ia kembali saja? Namun, di dalam hutan itu … ada dua orang yang sedang mencarinya. Ia tidak mungkin bisa beristirahat dengan tenang di tempat tidur asrama tanpa memikirkan mereka.


“Cath! Felix!” Roxa berteriak dengan kepala berkeliling masih dengan menggenggam erat lampu lentera.


Senyap. Roxa terus berjalan dengan salah satu tangan yang memeluk tubuhnya sendiri, tidak tahan dengan hawa dingin yang begitu tajam. Pun bulu romanya bergidik ngeri saat lusinan kelelawar dan burung gagak yang berkoak-koak dan berterbangan di pohon cemara berlapis salju.


“Oh ya ampun! Di mana kalian? Cath! Felix!” Roxa kembali berteriak masih dengan kepala berkeliling.


Tak lama, Roxa melihat dua titik cahaya di balik sebuah pohon. Cahaya apa itu? Apakah itu adalah cahaya kunang-kunang? Ehm, tapi cahaya itu tidak bergerak sedikit pun.


Tiba-tiba terdengar suara erangan yang begitu mengejutkan. Ternyata cahaya itu berasal dari sepasang mata Serigala Arktik, serigala putih yang terganggu dengan suara teriakan Roxa.


Roxa sontak terkesiap hingga tubuhnya memaku di tempat. Bagaimana mungkin firasat buruknya menjadi nyata. Alih-alih tersesat, saat ini justru ada seekor serigala yang sedang mengintai dan siap menyantap!


Kesialan Roxa bertambah saat dirinya jatuh terduduk karena terlalu terkejut hingga lentera yang dibawa ikut terjatuh di permukaan salju. Ekspresi wajahnya menjadi kaku dengan bola mata terbelalak lebar.


Namun, mengapa serigala itu tidak segera menyerang Roxa dan justru berjalan pelan sambil mengitari tubuh gadis tersebut? Apakah dia takut dengan cahaya lentera yang jatuh di samping tubuhnya?


Dengan sigap jemari Roxa mengambil lentera itu kemudian mengulurkannya ke depan, menakut-nakuti dan berharap serigala itu menjauh.


‘Mantra! Ya, aku harus mengucapkan mantra!’


“Galleggiare lasaviro morire!” Roxa tiba-tiba merapalkan mantra yang sebelumnya diajarkan Felix dengan lantang.


Hening. Tidak ada yang terjadi.


“Galleggiare lasaviro morire!” Roxa mengulanginya dengan ekspresi sedikit panik.


Hening. Masih tidak ada yang terjadi. Apakah mantra itu sudah tidak berfungsi lagi?


“Galleggiare lasaviro morire!” Roxa pantang menyerah meskipun kedua tangannya sudah mulai gemetar.


Hening. Serigala itu tetap berjalan pelan dan mengitari tubuh Roxa. Di detik itu juga, ia semakin dibuat panik dan frustrasi.


“Avadra Kavadra!” Lidah Roxa tergelincir dan justru merapalkan mantra yang sering diucapkan Voldemort di dalam seri Harry Potter. Oh God! Sepertinya gadis itu sudah merasa terpojok dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.


Ya, bagaimana lagi! Roxa hanya pernah melihat adegan sihir-menyihir dari film garapan penulis Inggris J.K. Rowling tersebut. Ia tidak mengetahui apapun yang berkaitan dengan dunia sihir dan mantra kecuali yang pernah dia lihat di televisi. Sekadar informasi, Daniel Radcliffe adalah aktor favoritnya kala itu.


“RAWWWRR!” Serigala itu kembali meraung dan membuyarkan lamunan Roxa tentang Daniel Radcliffe yang tentu saja kini masih belum dilahirkan.


‘Tamatlah tiwayatku! Apa yang harus kulakukan?’


DORR!


Sebuah peluru dari senapan angin laras panjang mendarat di kepala serigala tersebut.


Roxa berjungkit terkesiap dan sontak mengarahkan pandangan kepada seseorang yang baru saja menembakkan peluru. Ternyata sosok itu adalah Cathie yang langsung berlari menghampiri.


Cathie meluruh di samping Roxa hingga senapannya terjatuh. Itu adalah senapan yang dipinjamkan oleh kenalan Felix saat mereka beristirahat sebentar untuk menghangat. Ya, saat itu Cathie sudah begitu kedinginan hingga akhirnya Felix menyerah untuk menghentikan pencarian sebelum mereka kembali mencari Roxa.


“Syukurlah. Apa kau baik-baik saja?” Air mata Cathie berderai dengan kepala menunduk lemas.


Sementara Roxa terdiam sejenak dan menatap Cathie dalam-dalam. Entah mengapa, jantungnya mencelus. Hatinya menghangat. Ini adalah reaksi penuh kekhawatiran yang pertama kali Roxa dapatkan.


Kalian ingat, sebelumnya tidak ada satupun dari para murid yang merasa senang saat melihat Roxa kembali tanpa ada yang terluka. Namun, Cathie berbeda. Gadis itu bahkan telah menyelamatkan nyawanya. Bagaimana mungkin ia sempat mencurigainya?


Diulurkan kedua tangan Roxa untuk memeluk tubuh Cathie dengan erat, “Terima kasih, Cathie. Aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu khawatir (sekaligus sudah meragukanmu).”


Cathie membalas pelukan Roxa dengan kedua sudut bibir terangkat, tersenyum haru, “Keselamatanmu sudah sangat cukup bagiku. Aku akan memanggil Felix agar kita bisa segera kembali. Kau tunggulah di sini.”