
Kekaisaran Deltora, sebuah wilayah yang dikenal begitu makmur dengan kekayaan melimpah. Monopoli perdangan yang jenius serta kekuatan militer yang kuat menghasilkan keunggulan pada wilayah tersebut.
Semua itu karena sosok Putra Mahkota sekaligus Dewa Perang yang berhasil memperluas daerah kekuasan dari banyaknya perang yang telah dimenangkan. Sosok itu … tentu saja adalah Liam Demente de Dias yang juga dikenal sebagai Pangeran Neraka.
Meskipun berbagai rumor buruk beredar, para penduduk yang membenci, dan perangai kejam kepada setiap musuh yang nyata, tetapi tidak dapat dipungkiri jika Pangeran itu memiliki konstribusi besar dalam Kekaisaran.
Segala berita tentang Pangeran Neraka memang telah tersebar luas hingga ke seluruh benua. Mereka bahkan termakan rumor yang mengatakan jika wajahnya buruk rupa lantaran terkena kutukan.
Dan kini, di dalam Istana Kekaisaran, terdapat sosok Pangeran itu yang tengah mengisap sebatang cerutu sembari duduk santai di peraduan, di dalam ruangan bergaya gotic yang didominasi warna hitam dan emas.
Ruangan itu memang didesain khusus untuknya. Ruangan yang hampir setiap hari dipenuhi jeritan kematian dan para pelayan yang sibuk membersihkan genangan darah segar dan tubuh mayat yang berserakan di lantai.
Gelap!
Mungkin hanya kesan itu yang dapat menggambarkan sosok Pangeran tersebut. Namun, meskipun memiliki aura dipenuhi kegelapan, tetapi ia masih memiliki sesuatu yang begitu terang benderang. Ya, apalagi jika bukan parasnya? Paras yang sangat tampan dan menawan. Sungguh berkebalikan dengan auranya yang suram.
“Corbis, apa kau sudah menyelidiki semuanya?” Suara rendah Liam membuat suasana di dalam ruangan itu semakin terasa dingin.
Corbis, sosok penyihir agung yang telah diberi tugas untuk mencari tahu semua hal yang berkaitan dengan trauma yang diderita Liam kini tengah menunduk, memberikan penghormatan, “Saya telah mendapat jawaban, My Lord.”
Di detik berikutnya, jemari keriput pria itu merogoh sesuatu di dalam saku jubah putihnya kemudian mengulurkannya kepada Liam.
Itu adalah sebuah bola kristal berukuran segenggam tangan manusia yang tampak berkilauan dan berwarna merah. Sebuah benda suci yang langka dan hanya disimpan di kuil agung. Benda itu dipercaya sebagai sumber jawaban dari semua solusi yang selama ini sedang berusaha mereka cari.
Liam sejenak menatap dalam-dalam bola kristal berwarna merah tersebut, “Sejak kapan dia berwarna merah? Bukankah sebelumnya berwarna seputih susu?”
Corbis mengangguk, “Benar, My Lord. Warna merah pada bola ini berarti permohonan kepada sang Dewi Hena yang selama ini saya panjatkan telah mendapat jawaban. Dan, sebuah simbol yang terlihat di dalamnya merupakan simbol yang akan datang secara bertahap, membentuk jawaban yang akan tersusun sempurna.”
Liam mengernyit dengan netra biru yang tertuju kepada simbol yang dikatakan Corbis. Ya, di bagian dalam bola itu memang terdapat sebuah simbol yang terlihat samar—bulatan dengan tanah salib yang menuju selatan. “Jadi, apa arti simbol itu?” tanyanya dengan netra biru tidak terputus kepada bola kristal di hadapannya.
“Menurut buku besar, simbol yang ada di dalam bola saat ini merupakan Simbol Venus yang melambangkan jenis kelamin wanita. Itu adalah petunjuk pertama yang kita dapatkan.” Corbis menjelaskan dengan seraut wajah serius.
Liam mengangkat sebelah alis dan menatap Corbis penuh tanda tanya, “Apakah ada hubungannya dengan wanita aneh itu? Wanita yang tidak memberikanku trauma saat menyentuhnya,” terkanya yang sedang membicarakan tentang Roxana.
“Saya rasa itu memang benar. Sepertinya simbol ini memang ada hubungannya dengan Lady Roxana. Saya menduga jika Lady itu bisa saja menjadi kunci untuk menyembuhkan trauma dan kutukan Anda.”
“Lalu apakah kau memiliki rencana untuk wanita itu? Bunuh saja jika kau mau menggunakannya sebagai bahan eksperimen.” Liam berujar datar, tanpa perubahan di wajahnya sedikit pun. Bisa-bisanya ia menganggap nyawa manusia sama seperti nyawa seekor kodok atau tikus yang cocok digunakan sebagai objek penelitian Biologi.
Corbis terbalalak. Pangeran di hadapannya saat ini memang sangat suka menghabisi nyawa manusia, tetapi sebagai penyihir agung sekaligus pemimpin menara sihir ia tidak mungkin menggunakan nyawa manusia sebagai kelinci percobaan. “Kita tidak bisa sembarangan membunuh seorang gadis bangsawan, My Lord. Duke Shancez adalah Perdana Menteri yang cukup berpengaruh.”
“Hm, lalu apa rencanamu?” Liam menggedikan bahu tak acuh.
“Alangkah baiknya jika kita membiarkannya tetap hidup untuk terus menyelidikinya. Dan, lebih baik lagi jika Anda ….” Corbis tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Liam hanya menatap Corbis dengan seraut wajah datar.
Corbis yang ditatap lekat Pangeran itu seketika bergidik ngeri dan mau tidak mau melanjutkan kalimatnya, “Saya rasa, alangkah baiknya jika Anda berada di dekat Lady itu, My Lord.”
Tampak kernyitan di dahi Liam, “Kau menyuruhku mendekati wanita aneh itu? Apa kau sedang minta dibunuh saat ini?” geramnya sedikit terkejut dengan ide gila yang baru saja dilontarkan penyihir tua di hadapannya.
“Mak-maksud saya, agar kita lebih mudah mengamati setiap reaksi dari trauma Anda jika bersentuhan dengan Lady itu. Di sisi lain, saya akan tetap berdoa kepada Dewi Hena dan menunggu simbol-simbol lain bermunculan hingga menjawab semua yang terjadi kepada Anda.” Buru-buru Corbis memperbaiki kalimatnya sebelum suasana hati Pangeran itu memburuk. Ia tidak ingin mata kakinya bertemu dengan mata di kepalanya.
Terjadi keheningan untuk sesaat.
Liam menghirup dalam-dalam batang cerutunya kemudian mengembuskannya secara perlahan, “Lalu apa ada pergerakan mencurigakan darinya akhir-akhir ini?”
“Sejauh ini tidak ada kejanggalan yang terlihat, My Lord. Dan, musim dingin ini kemungkinan dia telah kembali ke akademi.”
Liam kembali menautkan kedua alis, terlihat sedikit penasaran.
Corbis yang dapat menangkap raut penasaran di wajah Pangeran itu lantas kembali membuka suara, “Akademi Hoover. Dia juga seorang penyihir dan tahun ini adalah tahun keduanya.”
Liam kembali menghirup cerutu, menikmati sensasi tembakau yang membuatnya tenang dari hawa ingin membunuh yang terus menggeroti pikirannya dan menjeratnya bagai bisikan iblis. Di detik berikutnya, seringai miring tergelincir di sudut bibir Pangeran tersebut, “Akademi Hoover … sepertinya akan cukup menarik.”
\~\~\~
“Felix, apakah Hoover cukup jauh dari sini?” Roxa bertanya kepada Felix saat mereka berdua telah turun dari kereta.
“Tidak jauh. Kita hanya perlu berjalan kurang lebih lima belas menit dan melewati gang sempit,” jawab Felix sembari berjalan di depan Roxa.
Hingar bingar penduduk yang ada di stasiun disertai asap hitam yang mengepul di atas cerobong asap kereta menjadi pemandangan klasik yang terjadi saat ini. Mereka berdua melewati kerumunan orang yang berlalu-lalang dan keluar dari stasiun tersebut.
BRUKH!
Roxa tanpa sadar terbentur punggung Felix yang kekar karena sibuk melamun, “Ah, maaf!”
“Tidak masalah.” Felix mengulas senyum.
“Aku sedikit gugup memikirkan sebentar lagi kita sampai di Hoover. Kau tahu ‘kan jika aku sedang hilang ingatan? Aku takut melakukan kesalahan,” aku Roxa sembari tersenyum kikuk dengan langkah kembali berjalan.
“Apa kau melupakan keberadaanku? Tenanglah karena semuanya akan baik-baik saja.”
“Ya, kuharap juga begitu.”
Well, Hoover adalah akademi sihir yang biasa dimasuki oleh keturunan bangsawan atau anggota keluarga kerajaan. Namun, setelah memasuki akademi itu, semua murid akan diperlakukan sama. Dalam artian, semua kasta akan menjadi setara. Entah Duke, Marquess, Count, Viscount, hingga Baron—semua sama.
Setelah berjalan melewati jalanan bersalju kurang lebih lima belas menit, Roxa dan Felix kini berdiri tepat di depan sebuah castle yang tinggi menjulang. Bulu mata lentik Roxa mengerjap-ngerjap kala menatap bangunan yang membuatnya begitu takjub. Sebuah bangunan yang begitu mirip dengan castle yang ada di negeri dongeng.
“Kita akan segera masuk.” Felix memandu dan diikuti oleh Roxa dengan anggukan.
Memasuki aula Hoover yang luas, Roxa disambut dengan cahaya lilin bergelantungan di tempat lilin bercabang tiga dan berwarna keemasan, patung-patung berseni tinggi, serta arsitektur yang kental dengan gaya Romawi Kuno.
Berbagai spanduk besar juga terlihat menempel di dinding dan berbunyi SELAMAT DATANG DI HOOVER SCHOOL, HOOVER MEMANG BAGUS, KITA SEMUA ADALAH KELUARGA, dan aneka slogan bahagia lain yang digunakan untuk menyambut para murid baru sekaligus semester ajaran baru.
Setelah masuk lebih dalam, Roxa melihat para murid berseragam akademi yang berlalu lalang penuh suka cita. Mereka terlihat antusias dan penuh semangat ketika berkumpul dengan teman-teman yang dirindukan. Sedangkan di kerumunan murid-murid itu, hanya Roxa yang terlihat seperti setangkai bayam yang berjalan karena jubah hijau botol yang ia kenakan.
“Sepertinya kita harus berpisah di sini.” Felix tiba-tiba berhenti di sebuah lorong pertigaan castle.
“Hah?” Roxa tampak kebingungan.
“Kau harus beristirahat di asrama wanita. Hm, atau kau terus ingin bersamaku?” Felix mengerling jenaka.
“Jangan bercanda. Di mana aku harus pergi?”
“Di sana, di setiap pintu sudah tertulis masing-masing nama murid dan kau tinggal mencari namamu di sana.” Felix menunjuk lorong sebelah kanan, “Dan di sebelah sana adalah asrama pria. Kau bisa mencariku di sana jika membutuhkanku,” imbuhnya yang tentu saja menunjuk ke lorong sebelah kiri.
“Ah, baiklah. Terima kasih, Felix.” Roxa mengangguk dan memaksakan senyum. Ia merasa begitu gugup.
Wajar saja! Berada di tempat asing tanpa seorangpun yang dikenali pasti terasa sangat tidak nyaman. Terlebih, saat ini Roxa melihat para murid yang secara terang-terangan menatap ke arahnya saat mereka berjalan.
Tidak hanya itu! Mereka juga berbisik-bisik tetangga dan masih tetap mencuri pandang ke arahnya. Sangat jelas apa yang mereka lakukan saat ini, yaitu bergosip ria. Mengetahui ketidaksukaan mereka, mendadak Roxa merasakan jadi pemeran antagonis yang sesungguhnya. Beginikah Roxana Adelaide diperlakukan?
“Aku akan menunggumu di acara orientasi besok.” Felix berujar penuh senyuman. “Tidak usah gugup karena ada aku, sahabatmu.” Dikepalkan sebelah tangannya dengan wajah ceria. Pemuda tampan itu berusaha menenangkan sahabatnya yang terlihat sedang gugup.
“Ya, sampai jumpa. Aku pergi.” Roxa mengangguk kemudian berbalik dan benar-benar berderap pergi.
Menghela napas dalam, Roxa berusaha mengenyahkan kegugupan. Ia kini berjalan menyusuri lorong yang ditunjukkan oleh Felix. Kepalanya mengedar dan netra emeraldnya berkeliling, mencari tulisan namanya di setiap pintu kamar yang dilewati.
Roxa juga berpapasan dengan beberapa kelompok murid perempuan yang sedang berkerumun. Lagi dan lagi terlihat jelas jika mereka sibuk membicarakannya di belakang.
‘Ck! Sebenarnya apa yang telah Roxana lakukan? Meskipun aku hanya diam saja, tetapi mereka melihatku seperti seorang penyihir jahat,’ benaknya tanpa menghiraukan tatapan tidak suka mereka dan terus berjalan.
Namun, tiba-tiba terdengar suara melengking yang memanggilnya dari belakang, “Roxa!”
Berbalik, netra emerald Roxa kini bersirobok kepada sosok gadis bergaun putih yang sangat cantik. Dengan tubuh mungil, rambut pirang keemasan, dan wajah menggemaskan, gadis itu berlari ke arahnya.
“Ternyata kau sudah sembuh. Ah! Aku senang sekali.” Gadis itu tiba-tiba memeluk erat tubuh Roxa sembari menggosok-gosokkan kepalanya seperti seekor kucing manis yang menggemaskan.
Sedangkan Roxa yang tiba-tiba dipeluk hanya mematung di tempat, tidak bergerak sedikit pun, “Maaf, apakah kita saling mengenal?” lirihnya karena memang tidak tahu siapa gerangan gadis mungil nan menggemaskan tersebut.
Bola mata karamel gadis itu seketika membulat dilengkapi dengan pupil mata bergetar. Tiba-tiba matanya yang indah itu berkaca-kaca. “Roxa, kau tidak mengenalku? Kau sungguh melupakanku? Aku Catherine. Catherine de Jolla, sahabatmu.”
\~\~\~