
Hari mulai Gelap, tapi Ruby masih saja belum sadarkan diri..
Bara yang awalnya tertidur di samping ranjang untuk.menjaga Ruby, akhirnya terbangun untuk memastikan Ruby baik baik saja..
"dia masih belum juga sadar?" batin Bara.
tak lama Ruby pun akhirnya sadar juga.
"Ruby.." ujar Bara melihat Ruby mulai menggerakan tangannya.
Ruby membuka matanya, melihat sekeliling.
"dimana aku ini?" tanya Ruby.
"kau pingsan saat di kampus, makanya aku membawamu ke rumah ku.." jelas Bara.
"apaa..? rumaahhh kauuu.." Ruby pun kaget lalu langsung duduk.
"kau tenang aja, aku tidak macem macem dengan mu.." ujar.Bara.
Ruby pun menatap Bara bingung.
"kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Bara.
"kau ini aneh.atau gimana? kau yang memberikan ku kartu merah tapi kau juga yang menolongku.." ujar Ruby.
"itu bukan kerjaan F4.." jelasnya.
"lalu siapa lagi jika bukan F4 yang memiliki kartu merah itu?" tanya.Ruby.
"akan ku cari tau siapa yang menyalah gunakan kartu merah itu" ujar.Bara.
"kenapa kau menolongku?" tanya Ruby.
"yaa karna aku gak terima jika kau di permainkan begitu saja menggunakan kartu merah milik F4.." jelas Bara.
"sekarang gimana keadaanmu? apa lebih baik?" tanya Bara.
Ruby mengangguk pelan.
"syukurlah, apa kau ingin ku antar pulang?" tanya Bara.
"aku bisa pulang sendiri.." Ruby beranjak bangun dari ranjang.
tiba-tiba tubuh Ruby pun melemas dan hampir jatuh.
dengan cepat Bara pun menangkap tubuh Ruby yang hampir jatuh.
mata mereka pun mulai beradu tatap untuk beberapa saat.
"ehh.. maaf.. " ujar Ruby lalu berusaha berdiri dan menjauhi tubuhnya dari Bara.
"apa kau baik baik saja?" tanya Bara.
"yakk.. aku baik baik saja.." Ruby berusaha menguatkan tubuhnya.
"tidak tidak.. aku akan mengantarmu.." ujar Bara.
"tidak perlu, aku bisa sendiri.. aku tidak ingin merepotkanmu.." ujar Ruby.
"tidak terima penolakan.. aku tidak.suka penolakan.." ketus Bara.
"ada apa dengannya.. kenapa dia bersikap begitu baik padaku.." batin Ruby.
"ayo ku antar kau pulang.." ujar Bara.
"baiklah.." Ruby hanya bisa menuruti perkataan Bara.
**
sesampainya di Rumah Ruby.
semua Pelayan di Rumah Ruby pun menyambutnya.
"selamat datang Nona Muda.." ujar para Pelayan.
lalu Kepala Pelayan pun menghampiri Ruby.
"Nona Muda kenapa baru pulang? Nyonya besar menanyakan Nona Muda.." ujar Kepala Pelayan.
tak lama Ibunya Ruby pun nenghampiri.
"sayaanggg... ya tuhan kemana saja kamu? kenapa selarut ini baru pulang?" ujar Ibunya Ruby.
"aku baik baik saja.. lagi pula sejak kapan Ibu peduli dengan ku?" tanya Ruby ketus.
"biar gimana pun kau ini anak ku juga.." ujar Ibu Ruby.
"lalu siapa pria itu.." tanya Ibunya Ruby saat melihat Bara.
"kenalkan aku Bara, teman kampusnya Ruby" Bara memperkenalkan diri.
"apa kau ini kekasihnya Ruby?" tanya Ibunya Ruby.
"mom sudahlah.. pertanyaan macam apa itu?" ujar Ruby.
Bara hanya tersenyum mendengar perkataan Ibunya Ruby.
"Bara terimakasih sudah mengantarkan Ruby pulang yaa.." ujar Ibunya Ruby.
"iya bibi, sama sama.." sahut Bara.
"sebaiknya kau pulang, sudah larut malam.." ujar Ruby.
"ya, baiklah.. bibi saya pamit pulang duluan.. sudah semakin malam.." ujar Bara.
Bara pun pergi setelah berpamitan.
setelah itu Ruby pun meninggalkan Ibunya.
"mau kemana kau? tidak sopan meninggalkan ibumu begitu saja.." ujar Ibunya.
Ruby pun mengabaikan ucapan Ibunya tetap berjalan ke arah kamarnya.
"dasar tidak sopan.. setiap di ajak bicara selalu menghindar.." gumam Ibunya Ruby.
"permisi nyonya, saya tinggal dulu.." ujar Kepala Pelayan.
**
saat di Kamar Ruby..
Ruby merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit langit kamarnya.
"kenapa Bara seperti itu? sikapnya berubah ubah.. aahhh.. sudahlah.." gumam Ruby.
Ruby pun memejamkan matanya, tapi tiba tiba wajah Bara yang terlintas di pikirannya.
sontak Ruby langsung membuka matanya.
"kenapa jadi wajahnya yang terlintas di pikiran ku.." gumam Ruby sambil memukul wajahnya sendiri.
***