
Setelah Gadis itu memeriksa identitas Bara dari isi dompetnya, Gadis itu segera menghubungi Keluarga Bara.
Dan setelah menghubungi Keluarga Liam, Ibunda Bara pun datang ke Rumah Sakit saat mendapatkan kabar tentang anaknya itu.
"sus, dimana ruangan Bara Liam?" tanya Ibunda Bara.
Belum sempat suster menjawab, Gadis itu pun datang menghampiri Ibunda Bara yang sedang berada di meja suster.
"maaf Bibi, apa benar Bibi Ibundanya Bara Liam?" tanya Gadis itu.
Ibunda Bara pun mengangguk pertanda iya.
"apa ku tau yang menelpon ku?" tanya Ibunda Bara.
"yak, betul Bibi.. Aku yang menyelamatkan anak Bibi dan yang menelpon Bibi barusan" jelas Gadis itu.
"aahhh... Terimakasih sudah menyelamatkan anak saya... Jadi dimana Bara sekarang?" ujar Ibunda Bara.
"mari ikut dengan ku" ujar Gadis itu mengarahkan ke ruang rawat Bara.
Setelah sampai di kamar rawat inap Bara, Ibundanya langsung menghampiri ranjang tempat Bara terbaring tak sadarkan diri.
"sayang, ini mami datang.. Ku mohon sadarlah sayang" ujar Ibunda Bara sambil menggenggam tangan anaknya.
Gadis itu pun mengusap lembut pundak Ibunda Bara.
"Bibi, kita doakan saja semoga Bara cepat sadarkan diri" ujar Gadis itu berusaha menenangkan.
"ah iya, ngomong ngomong siapa namamu Gadis cantik?" tanya Ibunda Bara.
"perkenalkan Bi, aku Milly Liaw" memperkenalkan dirinya.
"apa kau anak dari Keluarga Thyme Liaw?" tanya Ibunda Bara.
Milly pun mengangguk lalu tersenyum.
"aahhh.. Syukurlah, Bibi dan ayahmu sudah merencanakan untuk menyatukan kalian, eh ternyata takdir yang mempertemukan kalian" ujar Ibunda Bara.
"hah.. Apa? Aku dan Bara ingin di jodohkan? Kenapa ayah tak pernah membicarakannya dengan ku" batin Milly
"hey, kenapa kau malah melamun?" ucap Ibunda Bara membuyarkan lamunan Milly.
"eh.. Maaf Bibi, aku hanya kaget dengan yang Bibi katakan.. Karna ayahku tak pernah memberi tahuku soal itu" ujar Milly
"aahhh... Mungkin belum saatnya ayahmu membicarakan soal itu, tapi Bibi sangat beruntung karna kalian di pertemukan dengan sendirinya" ujar Ibunda Bara sambil memeluk Milly.
"setelah Bara siuman, kita akan percepat pernikahan kalian berdua" lanjut Ibunda Bara.
"a.. Apaa? Pernikahan? Aku pun masih belum selesai dengan pendidikanku" ujar Milly kaget.
""tidak masalah dengan pendidikan kaian berdua, asalkan kalian sudah bersama itu akan lebih mudah bukan menyelesaikan pendidikan berdua" jelas Ibunda Bara.
"ahh.. Begitu ya.. Baiklah aku ikut saja" ujar Milly yang pasrah.
***
3 Minggu kemudian..
Bara pun mulai sadar dan teman temannya yang mengetahui ini pun bingung harus beri tahu Ruby atau tidak.
Karna Bara tak ingat dengan Ruby, yang dia tau hanya Milly yang ada di ingatannya terlebih setelah Bara sadarkan diri Milly sellu ada di samping Bara.
"jadi? Apa kita harus beri tahu Ruby atau tidak?" tanya Kavin
Rico pun menggeleng.
"tapi kan, Ruby harus tau kondisi Bara sat ini agar saat Ruby kembali dia tidak lebih hancur" jelas Deff.
"memberi tahu dia saat ini pun percuma, Bara tak ingat sama sekali dengan Ruby" ujar Rico.
"tapi setidaknya Ruby mungkin bisa membuat ingatan Bara kembali saat dia ada disini" ucap Deff.
Rico pun menggeleng lagi.
"tidak perlu, aku tak ingin membuat Ruby hancur" ujar Rico
"tapi jika Ruby telat mengetahui soal ini, sama saja kau lebih menghancurkannya" ujar Kavin.
"biarkan Ruby menjadi urusan ku" ujar Rico lalu pergi meninggalkan kedua temannya.
Disisi lain ternyata Milly yang sedari tadi menguping pembicaan mereka bertiga.
"siapa Ruby? Akan ku cari tau dan tak akan ku biarkan ingatan tentang gadis itu hadir lagi dalam pikiran Bara" batin Milly
Milly pun mulai mencari tau soal Ruby gadis yang di bicarakan oleh teman Bara.
"nah, ketemu" gumam Milly saat mencari data soal Ruby.
"hmm.. Jadi gadis itu seorang Model terkenal.. Ruby Jung Lim? " gumam Milly sambil membaca data tentang Ruby.
"tak akan ku biarkan Bara mengingat gadis itu lagi" batin Milly.
tak lama Bara memanggil Milly.
"eh, tidak sayang.. Oh iya kamu sudah membaik?" tanya Milly menghampiri Bara.
"aku sudah bosan disini sayang" gumam Bara.
"tapi kan kau baru membaik" ujar Milly.
"aku ingin cepat keluar dari sini, disini sangat membosankan" gumam Bara.
Tak lama Ibunda Bara pun memasuki kamar rawat Bara.
"sebaiknya kau bersaba sebentar saja, karna kau baru saja siuman jadi Mami tidak mau kau kenapa kenapa" sahut Ibunda Bara.
"tapi aku sudah lebih baik Mami" keluh Bara.
"dasar anak keras kepala, kau ini baru saja membaik" ketus Ibunda Bara.
Milly yang melihat perdebatan antara ibu dan anak itu hanya tersenyum saja.
"pokoknya aku ingin pulang besok..." ujar Bara yang bersikeras untuk pulang.
"baiklah.. Mami mengalah, kau memang persis sekli dengan Papimu.. Sama sama keras kepala" gumam Ibunda Bara.
Milly pun tersenyum mendengar ucapan Ibunda BARA ITU.
"Yak.. Pokoknya besok aku mau segera pulang, karna sudah lama aku tertinggal mata kuliah ku" ujar Bara.
"yaaa... Besok Mami akan bicara dengan Dokter untuk mengijinkan mu pulang, sekarang kau lebih baik beristirahat jika besok mau pulang" jelas Ibundanya.
***
Keesokan Harinya..
Dokter pun datang ke ruangan rawat Bara untuk memeriksa keadaannya.
"selamat pagi, bagaimana hari ini? Apa sudah lebih baik?" tanya Dokter menyapa.
"sudah sangat baik dok, saya ingin seger pulang dari sini" gumam Bara.
Milly yang selalu mendampingi Bara pun hanya tersenyum mendengar keluhan Bara.
"hahaha.. Sepertinya kau sudah bosan berada disini yak?" ujar Dokter
"baiklah, sepertinya keadaanmu memang sudah sangat membaik.. Jadi saya ijinkan untuk pulang hari ini... Jdi bisa di urus nanti surat pulangnya dengan suster ruangan yak" jelas Dokter
"yeay.. Akhirnya aku pulang juga" ujar Bara senang.
"baiklah kalu begitu saya permisi dulu" ujar Dokter lalu pergi meninggalkan ruang rawat itu.
"baik, ada perwakilan dari keluarganya yang bisa ikut dengan saya ke meja suster untuk menguruss berkas pulang pasien?" tanya suster.
"baik sus, biar sama saya saja yang mengurus ke pulangan pasien" sahut Milly.
"ehh, gak usah sayang.. Nanti Mami saja yang mengurusnya.. Aku gak mau merepotkan kamu" tahan Bara.
"jika menunggu Mami, kau akan lebih lama untuk pulang" ujar Milly
"aahhh... Benr juga yang kau bilang" gumam Bara.
"ya sudah ayo sus, saya yang akan membantu mengurus surat kepulangan pasien" ujar Milly lalu pergi bersaman dengan suster itu.
"Mami memang tidak salah memilih Milly untuk menjadi pasangan ku.. Dia gadis yang sangat baik dan juga cukup cantik" batin Bara.
***
Akhirnya Bara pun pulang ke rumahnya kembali..
"aahhh... Aku sangat merindukan rumah" ujar Bara saat memasuki Rumah.
"selamat datang kembali Tuan Muda Bara..." sambut para pelaan.
"sebaiknya kau istirahat dulu, biar besok bisa pergi ke kampus lagi" ujar Ibundanya
"tapi aku masih ingin bersama dengan Milly" gerutunya.
"ayolah Bara.. Kau ini jangan egois, biarkan Milly juga beristirahat sudah sekian lama dia hanya menemanimu di rumah sakit.." jelas Ibundanya.
Milly pun tersenyum.
"aku tidak masalah Mami, asalkan bersama dengan Bara waktu tak akan terasa buat ku" sahut Milly.
"nah, Mami dengar kan?" gerutu Bara.
"dasar aak ini memang mirip sekali dengan Papinya" batin Ibundanya
"baiklah jika Milly tidak keberatan" sahut Ibundanya.
Mendengar jawaban itu dari Ibundanya, Bara langsung menarik tangan Milly lalu mengajaknya ke dalam kamar.
"dasar anak itu.. Benar benar persis seperti Papinya" batin Ibundanya melihat kelakuan Bara yang tak biasanya manja dengan seorang gadis.
***