Bara & Ruby

Bara & Ruby
#16.



6 bulan kemudian..


Ruby pun kembali dari Swiss karna pekerjaannya sudah selesai dan perasaannya pun sudah membaik.


Namun apa yang terjadi jika Ruby tau bahwa Bara sudah tak lagi sama seperti yang dia kenal.


Saat Ruby kembali ke Agency Modelingnya, dia bertemu dengan Rico.


"hai Ruby, lama tak jumpa?" sapa Rico.


Ruby pun menoleh ke arah Rico.


"eh Rico, iya lama tak jumpa" sahutnya.


"bagaimana dengan karirmu?" tanya Rico


"hmm... Baik, bagaimna denganmu?" tanyanya balik.


"yak, beginilah" singkatnya


"Rico, apa kau dan Bara masih bertengkar?" tanyanyaragu.


"Bara yak? Hmm.. Dia sepertinya tak mengingatnya lagi"ujar Rico.


"syukurlah jika kalian sudah baik baik saja" ucap Ruby.


"maksudku, dia bukan hanya melupakan tentang masalah itu.. Tapi dia juga melupakan soal dirimu" jelasnya.


Seketika nafas Ruby terhenti mendengar ucapan Rico.


"a..apa yang kau maksud?" tanyanya gugup


"sebaiknya kau ikut dengan ku, tak enak jika bercerita disini" ujar Rico menggandeng tangan Ruby.


Rico pun mengajak Ruby ke sebuah Cafe.


"jadi, ceritakan apa yang kau maksud barusan?" tanya Ruby.


Rico pun menceritakan yang telah terjadi selama Ruby tak ada bersama Bara.


"hah.. Apa kau bilang? Bara mengalami kecelakaan dan gegar otak?" ucap Ruby yang masih tak percaya.


Rico hanya bisa mengangguk.


"tapi kenapa hanya aku yang dia lupakan?" ujar Ruby.


"aku pun tak mengerti"


"dan asal kau tau Bara sudah bertunangan dengan Putri semata wayang Keluarga Liaw" jelas Rico


"Milly Liaw?" ujar Ruby.


"yak, apa kau mengenalnya?" ujar Rico


Ruby un mengangguk pelan.


"dia adalah pesaing beratku dalam dunia Modeling, dan kini dia mendapatkan Bara begitu mudahnya" ujr Ruby.


"boleh aku bertanya?"


"yak, tanyakan saja" sahut Ruby.


"apa kau mencintai Bara?" tanya Rico dengan tatapan serius.


"pertanyaan macam apa itu?" gumam Ruby.


"jawab saja, apa kau mencintai Bara?" tanya Rico sekali lagi.


"yakk.. Aku mencintainya" ucapnya dengan nada yang bergetar.


"lalu kenapa kau pergi meninggalkannya?"


"aku hanya butuh waktu menenangkan hati ku, memastikan perasaan yang sebenarnya sedang ku rasakan" jelas Ruby.


"lalu bagaimana sekarang? Dia sudah bertunangan dengan wanita lain" tanya Rico.


"ntahlah aku pun tak tau' ucapnya lemas.


"jangan menyerah dulu, aku yakin jika Bara memang mencintaimu dia akan mengingatmu kembali.. Semua hanya butuh waktu" jelas Rico.


Ruby hanya terdiam mendengar ucapan Rico.


"sebaiknya kau bersiap, kita akan melakukan pemotretan sebentar lagi" ujar Rico mengelus pundak Ruby dengan lembut.


Sebelum Rico pergi dia pun berbisik pada Ruby.


"ku harap kau bisa kondikan perasaan mu dengan profesional dalam bekerja" bisik Rico lalu pergi meninggalkan Ruby.


**


Selesai pemotretan..


"yakk.. Ruby kau selalu bagus dalam melakukan sesi pemotretan.. Aku tak pernah kecewa dengan kinerjamu cantik" ujar Photografer.


Ruby hanya membalas dengan senyumannya.


Disaat Ruby hendak pergi ke ruang ganti tiba tiba ada keributan yang membuatnya penasaran.


"ada apa disana ramai sekali?" batin Ruby.


Saat Ruby menghampiri keramaian tersebut ternyata disana ada Milly dan Bara yang sedang membagikan undangan.


"kaiian jangan lupa datang yaa..." ujar Milly.


"ada apa ini?" tanya Ruby pada Mora.


"ini, Milly mengudang kami ke pesta ulang tahunnya" ujar Mora.


Tak lama Milly pun melihat Ruby lalu menghampirinya.


"wah.. Wah.. Wahh.. Rupanya putri modeling terkenal kita sudah kembali yak" ujar Milly.


"kenapa kau tidak menetap saja di Swiss" sindirnya.


"bukan urusanmu juga kan?" sahutnya kesal.


Tak lama Bara datang menghampiri Milly sambil merangkulkan tangannya di pinggang Milly.


"ada apa ini sayang?" tanya Bara.


"tidak sayang, aku hanya menyapa rekan kerja ku saat di Swiss" ujar Milly.


"oh, bagaimana jika kau undang juga rekanmu itu sayang" ujar Bara.


"ah.. Iya tentu saja sayang" sahut Milly


Mendengar dan melihat Bara bermesraan dengan wanita lain di hadapannya, Ruby hanya bisa menahan rasa sakit yang tak bisa dia ungkapkan.


Namun tiba tiba dari belakang, Rico datang dengan langsung merangkul pundak Ruby dengan hangat.


"tentu saja kami akan datang, benar kan sayang?" ujar Rico dengan menatap Ruby.


"ehh.. I.. Iya, tentu kami akan datang" sahut Ruby yang sedikit bingung dengan perlakuan Rico.


"oh ternyata partner kau ini adalah kekasih mu yak Rico" ujar Bara


"tentu saja, kami adalah sepasang kekasih yang sangat profesional dalam pekerjaan" jelas Rico.


"mereka berdua sangat serasi ya sayang" ujar Milly.


"selera teman ku memang tak pernah salah" ucap Bara sambil tersenyum.


"baiklah, sayang ayo kita harus membagikan undangan ini ke tempat papah ku" ajak Milly.


"iya sayang" ucap Bara sambil mengecup kening Milly dengan lembut.


"rico, ku tinggal dulu yak.. Jangan lupa datang yaa" sambung Bara sebelum mereka pergi.


Setelah mereka pergi, Ruby langsung pergi ke ruang ganti meninggalkan Rico.


"Rubyy..." panggil Rico, namun Ruby tak menjawabnya.


Saat di ruang ganti, Ruby pun tak sanggup lagi menahan air matanya yang akhirnya pun tumpah juga.


"Rubyy..." ujar Mora mengelus lembut pundak Ruby.


Dan akhirnya Ruby pun menangis di pundak Mora tanpa bisa berkata apa pun.


"luapkan semua air mata mu jika itu akan membuatmu lebih tenang" ujar Mora.


Ruby hanya bisa menangis tanpa berkata kata, karna rasa sakit yang dia rasakan tak dapat di ungkapkan oleh kata kata.


Setelah Ruby merasa lebih tenang, dia segera mengusap air matanya lalu berganti pakaian sebelum pulang.


"bagaimana? Apa lebih baik?" tanya Mora.


Ruby hanya mengangguk.


"baiklah, segera usap air mata mu.. Agar yang lain tak akan tau soa ini" ucap Mora memberikan tissue.


"ya sudah, ku tunggu di luar.. Bersihkan dirimu" sambung Mora.


"yak.. Terimakasih kau selalu menemaniku.. Jangan sampai hal ini ada yang tau" ujar Ruby.


Mora pun keluar meninggalkan ruang ganti, saat Mora keluar ternyata ada Rico yang sedari tadi di sana.


"apa yang kau lakukan?" tanya Mora.


"bagaimana keadaanya?" tanya Rico.


"dia sedikit lebih baik" sahut Mora.


"syukurlah" ucap Rico.


Tak lama Ruby pun keluar dari ruang ganti.


"Rico? Sedang apa disini?" tanya Ruby.


"menunggumu, ayo pulang bersamaku" ujar Rico beranjak dari duduknya.


"aku bisa pulang sendiri, kau tenang saja aku baik baik saja Rico" sahut Ruby dengan senyumnya.


"aku tidak yakin soal itu" gumam Rico.


"kau tenang saja aku sudah lebih baik.. Sebaiknya kau pulang.. Aku pun membawa mobil sendiri" jelas Ruby.


"tidak.. Sangat berahaya kau menyetir dalam keadaan yang seperti itu" gumam Rico.


"aku baik baik saja Rico..." Ruby meyakinkan Rico.


"baiklah kalau begitu aku akan mengawal mobilmu dari belakang.. Karna aku tak ingin kau kenapa kenapa" jelas Rico.


"baiklah jika itu mau mu.." Ruby pun menyerah dan mengikuti ke mauan Rico.


Dan akhirnya Rico pun mengawal mobil Ruby dari belakang tepat sampai di rumah.


Sesampainya di Rumah Ruby..


Ruby pun keluar dari mobil lalu menghampiri mobil Rico.


"terimakasih sudah menemani ku sampai ke rumah.. Kau hati hati yak" ujar Ruby.


"yak.. Sama sama.. Kau istirahat dan tenangkan dirimu, jika perlu bantuan ku tak usah sungkan menghubungi ku kapan saja" ujar Rico.


"yak.. Sekai lagi terimakasih" ujar Ruby.


Dan mobil Rico pun pergi melaju meninggalkan Rumah Ruby.


"kau kuat Ruby" batinnya.


***