
Setelah Bara mengumumkan bahwa dirinya sudah menjadi kekasih Ruby.
"kau ini apa apaan si Bara? Selalu saja bertindak semau mu" gumam Ruby.
"jangan banyak protes, kini kau adalah milikku.. Paham sayang" ujar Bara sambil mengelus lembut rambut Ruby.
Ruby menuju atap kampus untuk menuangkan segala ke kesalannya yang tak bisa dia lampiaskan pada Bara.
"aaarrgghhh.... Aku benci kau Baraaa..." teriaknya/
Lalu setelah Ruby berteriak tiba tiba ada yang bicara di belakangnya.
"aahhh... Berisik sekali suara mu itu" ujar Rico.
Ruby langsung menoleh ke arah suara tersebut.
"Rico? Sedang apa kau disini?" tanya Ruby.
"harusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kau berteriak disini? Menganggu jam tidur siang ku saja" gumam Rico
"ma.. Maafkan aku" ujar Ruby sedikit merasa bersalah.
"kenapa kau kesal dengan Bara? Bukan kah kalian baru saja jadian?" tanya Rico.
"yakk... Aku kesal karna Bara selalu saja bertindak semaunya..." gumam Ruby
"jika kau tak suka kenapa tak menolaknya?" ujar Rico
"a.. Aku tak mampu menolaknya.. Kau tau bukan jika Bara benci penolakan" ujar Ruby
"lalu apa kau mencintainya?" tanya Rico dengan tatapan yang serius.
"kenapa kau bertanya soal itu?"
"jika kau tak mencintainya, tinggalkan dia lalu bersama ku" ujar Rico
"hah.. Apa kau sedang bercanda?"
Rico menggelengkan kepala lalu memegang ke dua pipi Ruby dan menatap matanya dengan tatapan yang serius.
"aku serius, aku mencintaimu Ruby" ujar Rico.
Belum sempat Ruby menjawab ucapan Rico, tiba tiba dari belakang Bara muncul lalu menarik Rico menjauh dari Ruby dan memberikan satu tonjokan tepat di wajah Rico.
"br*ngsek... Beraninya kau menggoda milikku...' bentak Bara.
"Bara... Sudah hentikan.. Dia ini temanmu" ujar Ruby menahan amarah Bara.
"teman? Apa orang sepertinya masih pantas ku panggil teman?" ketus Bara.
Rico pun tersenyum dengan memegangi pipinya yang sudah kena tinju oleh Bara.
"cihh.. Kau yang munafik Bara.. Kau menjadikannya kekasih agar kau memenangkan taruhan ini bukan?" ujar Rico
Ruby pun kaget dengan ucapan Rico.
"tu.. Tunggu dulu... Taruhan katamu? Apa yang Rico maksud itu Bara? Apa itu benar kau menjadikan ku kekasih hanya demi sebuah taruhan?" tanya Ruby yang sedikit tak percaya.
"dengarkan aku Ruby, aku bisa jelaskan ini" ujar Bara.
"ohh.. Jadi benar, kau menjadikan aku kekasihmu hanya dei sebuah taruhan?" tanya Ruby lagi.
"i.. Iya, aku dan Rico membuat taruhan untuk mendapatkan mu.." ujar Bara.
"plakk"
Satu tamparan tepat di wajah Bara.
"Ruby aku bisa jelaskan semuanya" ujar Bara ingin memegang pundak Ruby
"jangan sentuh aku... Menjauh dari ku... Kalian memang baj*ngan..." bentak Ruby
"dengar dulu penjelasanku Ruby" Bara memaksa untuk memeluk Ruby agar tenang.
"menyingkir dari ku... Aku benci kalian..." Ruby mendorong Bara lalu pergi meninggalkn atap kampus.
"Ruby... Tunggu... aku bisa jelaskan" ujar Bara.
"jangan dekati aku" teriak Ruby yang semakin berlari menjauh dari Bara.
Bara yang kesal lalu menghampiri Rico lagi dan langsung mencengkram kerah baju Rico.
"puas kau hah... Puas kan dari kita tak ada yang mendapatkannya" bentak Bara.
"apa yang lucu?"
"siapa bilang salah satu dari kita tak ada yang bisa mendapatkannya?" ujar Rico.
"apa maksudmu hah?"ketus Bara
"yang buruk di matanya hanya kau tidak dengan aku" ujar Rico dengan pedenya.
Mendengar itu Bara pun semakin emosi lalu menghajar Rico lagi.
Tak lama ke dua temannya pun datang ke atap kampus dan memisahkan mereka berdua sebelum Rico habis babak belur oleh Bara.
"sudah hentikan Bara..." ujar Deff menahan Bara.
"kau bisa membunuhnya jika terus menghajarnya" ujar Kavin menahan Rico.
"hahaha... Biarkan dia puas menghajarku.. Karna yang akan mendapatkan hati Ruby hanya aku" ujar Rico yang masih saja memancing emosi Bara.
"tutup mulumu... Dasar baj*ngan..." bentak Bara yang tak terima ucapan Rico.
Namun Bara tidak bisa menghajar Rico karna Deff menahannya.
"sudahlah.. Kalian ini hanya saling melukai satu sama lain..." ujar Deff.
"kau pun Rico, sudah cukup memacing emosi Bara.. Kau akan mati di buatnya" ujar Kavin.
Bara yang kesal lalu meninju tembk hingga melukai tangannya.
"aarrgghhh...." teriak Bara meluapkan emosinya.
"sebaiknya kau ikut dengan ku, kita tenangkan pikiranmu itu yang sudah tak bisa kau kendalikan" ajk Deff yang membawa Bara pergi meninggalkan atap kampus dan menjauhi Bara dengan Rico sampai emosi Bara reda.
Setelah Deff membawa Bara pergi meninggalkan Ric, lalu Kavin pun membawa Rico untuk ke ruang kesehatan mengobati lukanya.
"sebaiknya kita ke ruang kesehatan, agar lukamu segera di obati" ujar Kavin
"tidak perlu, aku baik baik saja" ujar Rico yang berusaha kuat untuk berdiri namun tak lama tubuhnya pun lunglai hingga hampir jatuh.
"kau ini sama saja dengan Bara, sama sama keras kepala" ujar Kavin membantu Rico untuk berjalan.
**
Di sisi lain Ruby yang pulang dengan derai air matanya yang tak henti hentinya.
Sesampainya di rumah Ruby segera berlari ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
Kepala pelayan pun bingung melihat Ruby pulang dengan dalam keadaan menangis.
"apa yang sudah terjadi pada Nona Muda" ujar kepala pelayan.
Kepala pelayan pun berusaha untuk menenangkan Ruby dengan menemuinya di kamarnya.
"tokk... Tokk.. Tokk.." kepala pelayan pun mengetuk pintu kamar Ruby.
"jangan ganggu aku... Tinggalkan aku sendiri..." teriak Ruby dari dalam kamarnya.
"Nona Muda, jika ada sesuatu yang mengganggumu ceritakan pada ku, jangan kau simpan sendiri" ujar kepala pelayan dari depan pintu kamar Ruby.
"pergilah... Aku tak mau di ganggu...' bentak Ruby dari dalam kamarnya.
"baiklah Nona Muda, jika kau perlu sesuatu bisa panggil aku" jelas kepala pelayan.
Ruby pun tak menjawab namun terdengar tangisan dan teriakan dari dalam kamar Ruby.
"aarrgghhh... Aku benci kalian..." teriak Ruby sambil menutup mukanya dengan bantal.
Tanpa di sadari ternyata kepala pelayan tidak pergi dari depan pintu kamar Ruby, dia mendengar semua teriakan dan tangisan Ruby yang tak biasanya Ruby lakukan.
"sepertinya Nona Muda sedang tidak baik baik saja.. Baru kali ini aku mengetahui Nona menangis sampai berteriak seperti ini..." batin kepala pelayan.
"apakah ini ada hubungannya dengan Tuan Muda Bara dan Tuan Muda Rico?" batin kepala pelayan.
Kepala pelayan hanya bisa menunggu sampai Ruby tenang dan siap untuk menceritakan semua keluh kesahnya.
Semalaman Ruby hanya menangis dan tak keluar kamar, apa lagi untuk makan sesuatu Ruby pun tak ingin.
"tak pernah aku melihat Nona sehancur ini.. Apa yang telah membuatnya jadi sehancur ini?" batin kepala pelayan bingung.
***