Bara & Ruby

Bara & Ruby
#19.



Saat Rico keluar kamar Ruby lalu menghampiri teman temannya.


"bagaimana apa ada kabar lagi dari Bara?" tanya Rico.


Teman temannya pun menggeleng.


"apa dia sudah hilang rasa pedulinya?" batin Rico.


"sepertinya memang ingatannya benar benar hilang" ujar Kavin.


"kasihan aku melihat Ruby yang semakin tertekan dengan perasaannya" ujar Rico.


"aku yakin Bara akan segera mengingat semua nantinya" ujar Deff.


Tak lama Ruby keluar kamar.


"apa barusan kalian membicarakan soal Bara?" tanya Ruby.


"ehh, sejak kapan kau disana?" tanya Rico.


"aku mendengar semua yang kalian bicarakan" ujar Ruby.


Lalu Rico pun merangkul pundak Ruby dengan lembut.


"aku akan menemanimu melewati ini semua" ujar Rico


Deff dan Kavin pun saling berpandangan satu sama lain lalu saling tersenyum satu sama lain.


"ada apa dengan kalian?" ketus Rico yang melihat temannya sedang menggodanya.


"tidak" sahut Kavin.


"lihatlah tingkahnya sudah menyerupai Bara saja" ujar Deff.


"tutup mulutmu..." bentak Rico.


Mereka berdua pun tertawa lalu pergi meninggalkan Rico dan Ruby.


"heykalian mau kemanaaa?" tanya Rco.


Namun temannya hanya hanya tertawa lalu melambaikan tangan mereka tanpa menoleh ke arah Rico.


"maafkan mereka yang suka bercanda ya" ujar Rico pada Ruby.


Ruby hanya mengangguk.


"maaf selalu merepotkan mu terus" ujar Ruby.


"tidak masalah" ujar Rico sambil mengusap rambut Ruby.


**


Malam hari saat di Cafe milik Kavin, seperti biasa anggota F4 berkumpul tapi malam itu yang berbeda adalah Bara yang membawa Milly bersamanya.


"lihat siapa yang datang" ujar Deff menunjuk ke arah Bara dan Milly.


"kenapa dia harus mengajak gadis itu" gumam Rico.


"aku pun sedikit tak menyukainya" sahut Kavin.


Lalu Bara pun melambaikan tangannya ke arah mereka bertiga, dan berjalan menghampiri ketiga temannya.


"apa kalian sudah lama?" tanya Bara.


"tidak, kami pun baru saja datang" sahut Deff.


"hai gais, boleh kan akut dengan kalian" ujar Milly yang berusaha bergaul dengan teman temannya Bara.


Mereka bertiga hanya tersenyum menanggapin ucapan Milly.


"ayo pesan saja, malam ini aku yang teraktir" ujar Bara.


"baiklah... Pelayannnn" panggil Deff.


Malam itu pun mereka berpesta hingga mabuk dan berbuat rusuh di Cafe Kavin, sampai menyenggol seorang Pria tak di kenal pelanggan di Cafe tersebut juga.


"hey, jika kau mabuk masih rusuh lebih baik di rumah saja" ujar Pria itu.


Bara yang mudah terpancing Emosi mendengar ucapan itu pun langsung berbalik lalu menghampiri Pria asing itu dan langgung mencengkram kerah baju Pria itu.


"apa yang barusan kau ucapkan hah..." bentak Bara.


"mabukmu murahan.." ujar Pria asing itu di hadapan Bara.


Tanpa ragu Bara yang sudah di kuasai oleh amarahnya langsung menghajar muka Pria itu.


"brukkk..."


Semua wanita yang ada di sana pun histeris teriak melihat ada kekerasan yang terjadi. Dengan cepat Deff dan Kavin datang menisahkan, namun Emosi Bara yang sudah tak bisa di kendalikan pun melawan temannya juga.


Keributan pun semakin memanas, lalu Pria asing itu pun mengambil Botol Bir dan langsung memukul kepala Bara hingga botol itu pecah.


"argghhh... Siall pria ini benar benar membuatku emosi" batin Bara.


Saat Bara ingin menghabisi Pria itu, tiba tiba...


"HENTIKAANNNN...." teriak Ruby.


Mereka pun menghentikan perkelahian itu lalu menoleh ke arah suara Ruby.


Ruby pun berjalan perlahan ke arah Bara dan Pria asing yang sedang berkelahi.


"mau apa gadis itu?" gumam Bara melihat Ruby berjalan ke arahnya.


Ruby yang sedang berdiri di antara Bara dan Pria asing itu lalu berjongkok di hadapan Bara yang baru saja ingin menghabisi Pria itu.


"lepaskan dia Bara, jangan kau ikuti emosmu" ujar Ruby.


Bara yang kesal karna ada gadis yang berani menahan emosinya, langsung mendorong tubuh Ruby hingga terjatuh.


"pergi.. Jangan kau halangi aku" bentak Bara.


Rico yang melihat Bara kasar dengan Ruby, langsung menghamiri Ruby.


"apa kau baik baik saja?" tanya Rico.


"aku baik baik saja kok" ujar Ruby lalu beranjak berdiri.


Lalu Bara pun melanjutkan menghajar Pria asing tersebut sampai babak belur.


"HENTIKAANNNN BARAAA...." teriak Ruby sambil meneteskan air matanya.


Mereka yang mendengar pun langsung terdiam dan menatap Ruby sambil terdiam.


"Ruby..." batin Rico yang melihat Ruby.


Bara yang terdiam menatap Ruby yang menangis meliha kelakuan Bara, tiba tiba Bara seakan mengingat sesuatu kejadian di masa lalunya sampai kepalanya terasa sakit.


"argghh... Siapa gadis itu? Kenapa aku seperti mengenalnya" batin Bara yang sambil memegang kepalanya.


Willy pun menghampiri Bara.


"apa kau baik-baik Saja sayang?" tanya Willy.


Bara pun berdiri dan menatap Ruby.


" Siapa Kau?" tanya Bara sambil menatap Ruby.


Ruby hanya diam tak dapat berkata kata dihadapan Bara, dengan mata yang mulai berkaca kaca Ruby menahan airmatanya dihadapan Bara.


"aku bukan siapa siapa, lupakan saja" ujar Ruby yang lekas pergi meninggalkan tempat itu sambil menahan air matanya.


Rico pun berlari mengejar Ruby.


"Ruby tunggu..." ujar Rico.


Ruby pun berhenti dan menoleh kearah Rico.


"ada apa?" tanya Ruby.


"apa kau baik - baik saja?" tanya Rico.


"aku baik-baik saja" ujar Ruby sedikit berbohong.


"jangan berbohong denganku" ujar Rico.


Lalu Bara pun menghampiri Ruby dan Rico.


"Siapa Kamu sebenarnya? Kenapa bayanganmu selalu muncul dalam pikiranku" ujar Bara.


Ruby pun terdiam mendengar pertanyaan Bara.


"Kenapa hanya diam saja" tanya Bara sambil menatap Ruby yang seakan mengetahui sesuatu.


"Dia adalah wanita yang pernah mengisi harimu sebelum Kau melupakannya" sahut Rico.


Sontak membuat Ruby Kaget dan menatap Rico dengan tatapan kesaI.


"apa yang kau katakan Rico?" bisik Ruby.


"benarkah yang dikatakan oleh Rico?" tanya Bara dengan tatapannya Mengarah pada Ruby.


Belum sempat Ruby menjawab tiba tiba Willy datang menghampiri Bara yang langsung menggandeng tangan Bara.


"Sayang, kamu kenapa pergi meninggalkan aku begitu saja?" ujar Willy dengan Manja menggandeng tangan Bara.


"aku permisi dulu ya" ujar Ruby langsung meninggalkan Bara dan Willy.


Namun tangan Ruby pun ditahan oleh Bara saat ingin pergi meninggalkannya.


"jawab dulu pertanyaanku barusan? Jangan seenaknya kau pergi begitu saja tanpa memberiku jawaban" ujar Bara.


"gawat... Sepertinya Bara mulai mengingat tentang Ruby? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" batin Willy.


"lupakan saja, mungkin kau Salah orang" ujar Ruby yang tak sanggup mengatakan dihadapan Willy.


Ruby pun lekas meninggalkan Bara Supaya tidak terlalu lama melihat Willy bermesraan dihadapannya.


"Ruby.... Tunggu" ujar Rico yang mengejar Ruby.


"sudahlah Sayang,Ruby itu Kekasih Rico... Tidak ada urusannya dengan semua pemikiranmu, mungkin kamu hanya sedang Kecapean saja." jelas Willy mencoba menenangkan Bara agar tidak memikirkan Ruby dan penasaran dengannya.


Bara pun mengangguk.


***