Bara & Ruby

Bara & Ruby
#14. See U



Keesokan Paginya..


Ruby terbangun dengan matanya yang bengkak akibat menangis semalaman.


"sepertinya aku harus pindah dari kampus itu" gumam Ruby sambil beranjak bangun dari tempat tidurnya.


Ruby langsung memanggil kepala pelayan untuk memanggil asistennya.


Kepala pelan pun mendatangi kamar Ruby setelah di panggil.


'apa Nona memanggilku?" tanya kepala pelayan mengetuk pintu kamar Ruby.


"yakk.. Masuk saja" ujar Ruby dari dalam kamar.


Kepala pelayan pun masuk setelah dapat ijin dari Ruby.


"ada apa ya Nona memanggil saya?" tanya kepala pelayan


"siapkan barang barang ku, aku akan pindah ke swiss" ujar Ruby.


"loh mendadak sekali Nona?"


"jangan banyak bertanya, siapka saja barang barang ku.. Aku akn bicara pada asisten ku?" ujar Ruby lalu meninggalkan kamarnya.


"baik Nona" sahut kepala pelayan yang hanya bisa mengikuti perintah Ruby.


Ruby lalu menelpon Mora Asisten pribadinya.


"Mora, bisa kau urus kepindahan ku hari ini?" tanya Ruby dari balik ponselnya


"hah.. Apa kau bilang? Mengurus kepindahanmu? Kenapa mendadak sekali?" tanya Mora yang terkejut mendengar ucapan Ruby.


"jangan banyak bertanya, kau bisa mengurusnya atau tidak?" ketus Ruby.


"ba.. Baiklah, akan ku urus semua surat kepindahanmu" sahut Mora yang hanya bisa menuruti perkataan Ruby.


Setelah itu telpon pun di putus oleh Ruby.


"ah.. Aku lupa menanyakan padanya mau pindah kemana?" gumam Mora.


Lalu Mora hanya menanyakan lewat pesan singkat yang di kirimkan ke Ruby.


Setelah mendapatkan jawaban dari Ruby, Mora segera mengurus segala surat ke pindahannya.


"apa yang telah terjadi padanya? Kenapa dia mendadak ingin pindh?" batin Mora sambil mempersiapkan surat ke pindahan Ruby.


Lalu Mora pun membuat surat perpindahan Ruby untuk di berikan ke kampusnya.


**


Saat di Kampus..


Bara dan Rico pun saling diam tak menyapa semenjak kejadian kemarin.


"ayolah guys... Sampai kapan kalian akan diam diam seperti ini?" ujar Def melihat Bara dan Rico saling tak menyapa.


"kalian ini sudah dewasa masih saja seperti anak kecil" gumam Kavin.


Lalu Bara pun beranjak meninggalkan mereka bertiga tanpa bicara sepatah kata pun.


"kan, lihat saja selalu seperti itu jika di beri tau" gumam Kavin melihat Bara beranjak pergi.


Saat Bara berjalan melewati ruang Dosen, dia melihat Mora sedang bicara pada Dosen.


"bukan kah itu asisten Ruby? Sedang apa dia bicara dengan Dosen" batin Bara.


Setelah Mora selesai bicara dengan Dosen, dia pun berjalan meninggalkan Kampus tapi tiba tiba.


Bara menarik tangannya,


"apa yang kau lakukan disini? Dan ada urusan ap kau bicara dengan Dosen Ruby?" tanya Bara.


"lepaskan tangan ku.. Itu bukan urusan mu" ketus Mora menepis tangan Bara.


"katakan pada ku, kenaakau bicara dengan Dosen Ruby? Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Bara.


"aku harus segera pergi, waktu ku tak banyak.. Maaf" ujar Mora lalu pergi meninggalkan Bara.


"sepertinya ada yang tidak beres" gumam Bara.


Tak lama Deff menepuk pundak Bara membuyarkan lamunannya.


"hoyy.. Sedang apa kau disini?" tanya Deff


"kau ini selalu saja mengagetkan ku.." ujar Bara kesal.


"lagian kau melamun disini ngapain?" tanya Deff


"tidak, sudahlah aku ingin pergi ke kelas" ujar Bara meninggalkan Deff


"hey, tunggu akuuu..." Deff mengikuti Bara.


**


Sepulang Kuliah..


Bara segera pergi meninggalkan kampus tanpa menunggu temannya.


Dengan mengendarai motor sportnya Bara pun pergi melewati ketiga temannya.


"mau kemana dia? Buru buru sekali?" tanya Kavin


"ntahlah" sahut Deff singkat.


Rico hanya diam melihat Bara pergi meninggalka kampus dengan terburu buru.


Bara pun segera datang ke rumah Ruby untuk memastikan Ruby baik baik saja.


Namun sesampainya di Rumah Ruby, Bara pun terkejut saat mendengar ucapan kepala pelayan.


"selamat datang Tuan Muda Bara" sambut para pelayan lalu di ikuti oleh kepala pelayan.


"dimana Ruby?" tanya Bara


"tau apa?"


"Nona Muda baru saja pergi ke Airpots untuk pindah ke swiss" jelas kepala pelayan.


"hah apa? Swiss?" ujar Bara kaget yang mendengar ucapan dari kepala pelayan.


"siall... Ternyata benr dugaan ku ada yang tak beres" gumam Bara lalu segera pergi meninggalkan rumah Ruby lalu menyusul Ruby selagi sempat.


Di daam perjalanan Bara hanya berhaap agar dia sampai Airpots dengan waktu yang tepat untuk bertemu dengan Ruby.


"ku harap aku bisa bertemu dengan mu terlebih dulu sebelum kau pergi Ruby" batin Bara.


Ruby yang sudah di Airpots pun masih ragu untuk meninggalkan Thailand.


Ruby pun diam sesaat sebelum memasuki Airpot, lalu menoleh ke belakang seakan menunggu seseorang.


"apa lagi yang kau tunggu?" tanya Mora


Ruby menggeleng.


"ayo kita pergi" ajak Ruby lalu berjalan memasuki Airpots.


Namun tiba tiba..


"Ruby Jung Lim..." teriak Bara saat melihat Ruby yang sedang berjalan memasuki Airpots.


Mendengan suara yag tak asing di telinganya, Ruby pun menoleh ke belakang melihat siapa yang memanggil namanya.


"Bara?" batinnya saat melihat Bara yang sedang berlari ke arahnya.


Tanpa bicara apa pun Bara langsung menghampiri Ruby lalu memeluknya dengan erat.


"Bara apa yang kau lakukan disini? Kenapa ku tau aku disini?" taya Ruby yang sedang di dalam pelukan Bara.


"dasar bodoh.. Hausnya aku yang bertanya.. Mau pergi keman kau hah...?" ketus Bara sambil melepas pelukannya lalu menatap Ruby dengan tatapan serius.


"a.. Aku harus kembali ke swiss, karna urusan bisnis ayahku" ucap Ruby berbohong.


"tak usah berbohong dengan ku, aku tak suka di bohongi" ujar Bara


"ti.. Tidak, aku tidak berbohong" ujar Ruby.


"maaf Bara, tapi pesawat kami akan segera berangkat" potong Mora.


Mendengar Itu Bara segera memeluk Ruby dengan erat lalu berbisik padanya.


"ku mohon jangan pergi dari ku, aku sungguh mencintaimu.. Terlepas dari taruhan itu.. Jujur kini aku telah mencintaimu" bisik Bara sambil memeluk Ruby.


"maafkan aku Bara, tapi aku haris pergi" ujar Ruby berusaha kuat melepaskan Bara.


Dengan berat hati Ruby pun pergi meningalkan Bara.


"maafkan aku Bara, tapi ini yang harus ku lakukan" batin Ruby.


Mor yang melihat wajah Ruby sedih pun lantas bertanya padanya.


"apa kau yakin melakukan ini?" tanya Mora.


Ruby dengan mantap menganggukan kepalanya dan menjawab dengan nada pelan.


"yak, aku yakin dengan ke putusanku" ujar Ruby berusaha menahan air matanya.


Dan akhirnya pesawat Ruby pun lepas landas pergi meninggalkan Thailand.


Bara yang memperhatikan pesawat itu terbang meninggalkan Thailand pun sangat terpukul dengan ke pergian Ruby.


"kenapa? Kenapa kau meninggalka ku?" batin Bara menatap langit.


Setelah itu Bara pun pulang dengan hati yang hancur karna wanita yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta kini pun pergi meninggalkannya karna ulahnya sendiri.


Dalam perjalanan, Bra hanya bisa menancap gasnya dan melintasi jalanan dengan pikiran kacau.


Tanpa di sadari dari arah berlawanan ada Mobil yang melintas dengan kecepatan full.


Karna posisi Bara sedang tak stabil, akhirnya terjailah tabrakan hebat yang membuat Bara harus jatuh terlempar jauh karna benturan hebat itu.


Kecelakaan itu pun mengakibatkan Bara di larikan ke Rumah Sakit terdekat oleh warga setempat yang menolongnya.


Dan yang menolong Bara itu adalah seorang Gadis yang tak sengaja ada di tempat kejadian.


"tolong bantu aku membawa pria ini ke Rumah Sakit segera, karna pendarannya cukup parah" ujar Gadis itu meminta tolong pada warga setempat.


Setelah itu Bara pun di larikan ke Rumah Sakit untuk menangani pengobatan karna mengalami pendarahan yang cukup banyak.


Dokter pun memanggil Gadis itu untuk meminta tolong menghubungi keluarga pasien, karna pasien membutuhkan darah akibat pendarahan yang cukup menguras habis darahnya.


"memang pasien membutuhkan golongan darah apa ya dok kalo saya boleh tau?" tanya Gadis itu.


"pasien membutuhkan golonga darah AB" ujar Dokter.


"kalau begitu saya yang akan mendonorkan darah untuk pasien, kebetulan golongan darah saya pun AB" jelas Gadis itu.


Dokter pun segera mengarahkan Gadis itu pada suster untuk di ambil darahnya.


Setelah selesai mendonorkan darahnya Gadis itu pun di berikan dompet dan ponsel milik Bara yang ada di kantong celananta.


"maaf Nona, ini barang barang pasien yang masih ada di kantong celananya" ujr suster memberikan barang Bara padanya.


"eh.. Iya sus.. Makasih" sahut Gadis itu.


Setelah menerima barang barang Bara, Gadis itu pun melihat identitas Bara dari isi dompetnya.


"maafkan aku yang lancang membuka isi dompetmu, tapi ini untuk mengabari keluargamu" batin Gadis itu membuka isi dompet Bara.


Sat membuka isi dompet Bara, Gadis itu pun kaget saat melihat kartu identitas yang ada di dalamnya.


"Bara Liam?" batin Gadis itu.


"jadi yang sudah ku selamatkan adalah anak tunggal dari Keluarga Liam yang sangat terkenal itu" gumam Gadis itu menatap kartu identitas milik Bara.


***