Bara & Ruby

Bara & Ruby
#18.



Saat Rico membawa Ruby ke dalam mobil, tiba tiba Ruby pun memanggil nama Bara.


"Ba... Bara..." gumam Ruby.


Mendengar Ruby yang mengigau memanggil nama Bara, Rico pun sedikit sakit bahwa dalam kondisi tak sadar pun Ruby masih mengingat Bara.


"apa kau sangat mencintainya?" batin Rico.


Lau Rico membawa Ruby pulang, sesampainya di Rumah Ruby..


Kepala pelayan yang menyambut ke datangan Rico yang sambil menggendong tubuh Ruby pun kaget dan bingung.


"a..apa yang telah terjadi pada Nona?" tany kepala pelayan.


"siapkan kamar Ruby lalu bawakan air hangat untuk mengompresnya lalu gantikan pakaiannya yang basah ini" ujar Rico.


"baik Tuan Muda" ujar kepala pelayan, lalu mengerahkan semua pelayan untuk mengerjakan yang di bilang oleh Rico.


Setelah selesai menggantikan baju Ruby yang basah dengan baju yang baru, lalu mengompres tubuh Ruby agar tidak demam.


"sebenarnya apa yang telah terjadi Tuan Muda Rico?"tanya kepala pelayan.


Rico pun mulai menceritakan yang terjadi di pesta itu.


"kasihan sekali Nona Muda, dulu memang setiap Nona Muda demam seperti ini Tuan Muda Bara yang selalu ada di sampingnya" jelas kepala pelayan.


"hmmm... Pantas saja dalam tidurnya pun Ruby masih memanggil nama Bara" batin Rico.


"baiklah, kalau begitu Tuan Muda saya tinggal dulu.. Jika butuh sesuatu panggil saja" ujar kepala pelayan sebelum meninggalkan kamar Ruby.


"yak.. Tentu saja.. Biar aku yang akan menjaga Ruby sampai dia sadarkan diri" ujar Rico.


Kepala pelayan pun meninggalkan kamar Ruby.


Lalu Rico duduk di tepi ranjang Ruby sambil memandangi wajah Ruby saat tertidur.


"ku harap kau akn baik baik saja esok pagi" batin Rico.


Rico pun tertidur di samping ranjang Ruby, demi menjaga Ruby sampai tersadar dia pun sampai terlelap di samping Ruby.


**


Pagi hari..


Ruby masih saja belum sadarkan diri, yang ada tubuhnya semakin demam tinggi.


"Ruby, apa kau sudah membaik?" ujar Rico yang bau saja terbangun.


Saat Rico beranjak bangun dan memegang kening Ruby, betapa kagetnya mengetahui Ruby yang semakin demam.


"tidak.. Ruby, sadarlah.." ucap Rico yang semakin khawatir.


Rico pun lekas berlari keluar kamar Ruby untuk memanggil pelayan.


"pelayaannnn...." panggilnya.


Semuapelayan pun bergegas menuju kamar Ruby.


"ada apa Tuan? Apa yang terjadi?" tanya kepala pelayan.


"demamnya tidak kunjung reda, apa yang harus ku lakukan?" ujar Rico panik.


"Tuan tenang dulu, saya akan menghubungi dokter pribadi Nona Muda" ucap kepala pelayan.


kepala pelayan punsegera menghubungi Dokter Pribadi Keluarga Jung Lim.


Setelah menghubungi Dokter Pribadi Keluarga Ruby, kepala pelayan pun kembali ke kamar Ruby.


"Tuan tenang dulu, Dokter akan segera datang" ujar kepala pelayan.


"aku minta bawakan air hangat untuk mengompresnya selama menunggu Dokter datang" ujar Rico.


Para pelayan pun bergegas mengambilkan air hangat seperti yang di pinta oleh Rico.


Selama menunggu Dokter datang, Rico pun berusaha mengompres tubuh Ruby untuk menurunkan demamnya.


Tak lama Dokter pun datang.


"apa yang terjadi pada Nona?" tanya Dokter yang langsung menuju kamar Ruby.


Rico pun menjelaskan yang terjadi pada Ruby semalam.


"ya tuhan, Nona Ruby memang memiliki kelemahan pada imunnya yang membuat tubuhnya mudah terjangkit demam tinggi" jelas Dokter.


"lalu harus bagaimana dok? Tolong lalukan yang terbaik untuk Ruby" ujar Rico yang sudah sangat khawatir dengan keadaan aRuby.


"baiklah, saya akan memasukan obat penurun demamnya melalui infus agar demamnya segera reda" jelas Dokter.


Dokter pun segera memasangkan alat infus pada tangan Ruby untuk memasukan obat menurun demamnya.


"infusnya sudah terpasang dan obatnya pun baru saja masuk, kita akan tunggu 30 menit sampai obatnya habis" jelas Dokter.


"baik dok, terimakasih" ujar Rico.


Lalu Dokter pun menunggu di luar kamar Ruby.


**


Setelah obatnya habis Rico pun memanggil Dokter.


"dok, obatnya sudah habis.. Lalu apa yang selanjutnya harus di lkukan?" tanya Rico.


"kita akan menunggu Nona Ruby sadarkan diri, karna obat itu akan membuat Nona tertidur untuk memulihkan imunnya kembali" jelas Dokter.


"bailah Dok, terimakasih" ujar Rico.


"jika tak ada lagi saya pamit untuk pergi, karna saya masih ada pasien yang menunggu" ujar Dokter.


"yak, terimakasih dok"


"jika kondisi Nona Ruby semakin memburuk segera bawa ke Rumah Sakit untuk penanganan lebih lanjut" jelas Dokter sebelum pergi.


Rico pun mengangguk mengerti.


Setelah Dokter pergi, Rico pun selalu berada di samping Ruby sambil mengenggam tangannya berharap R uby cepat membaik.


"Ruby, ku mohon buka matamu.. Aku harap kau cepat kembali membaik" batin Rico.


Di saat Rico menggenggam tangan Rubby, tiba tiba Ruby pun mengigau memanggil nama Bara kembali.


"Ba... Bara.." gumam Ruby.


"Ruby, Ruby apa kau sudah sadar?" ujar Rico melihat ke arah Ruby.


"Ba.. Bara.. Bara..." gumamnya


"hanya nama Bara yang selalu kau ucap dalam keadaan tak sadar sekali pun" batin Rico.


Tak lama Deff dan Kavin datang ke Rumah Ruby, lalu di antar ke kamar Ruby oleh pelayan Rumah Ruby.


"silahkan Tuan" ujar pelayan mengantarka Deff dan Kavin.


Rico pun menoleh ke belakang mendengar suara pelayan barusan.


"kalian?" bingung melihat ke dua temannya.


"bagimana keadaannya? Tanya Kavin.


Rico pun menggeleng dengan raut wajah yang sedih melihat Ruby belum juga sadarkan diri.


"tenanglah, dia akan baik baik saja" ujar Def mengusap pundak Rico untuk menenangkannya.


"dia selalu memanggil nama Bara saat dia mengigau" ujr Rico.


"apa kita harus memanggil Bara kesini?" tanya Kavin.


Rico menggeleng.


"tidak, itu sangat mustahil" ujar Rico.


Tak lama Ruby pun membuka mata secara perlahan, dan Deff yang melihat itu.


"lihat, dia membuka matanya" ujar Deff.


Rico langsung menggenggam tangan Ruby.


"Ruby... Apa kau mendengarku?" tanya Rico yang memegang lembut tangan Ruby.


"ka.. Kalian" ucapnya lirih.


"sudah kau jangan banyak bicara dulu, sekarang aku sudah tenang melihatmu sudah siuman" ujar Rico.


"baiklah, kami tunggu di luar yak" ujar Deff mengajak Kavin meninggalkan Rico dan Ruby untuk berdua saja.


"Rico" gumam Ruby pelan.


"yaa cantik, ada apa?"


"maaf sudah merepotkan mu dan membuat mu khawatir" ujar Ruby.


"ssttt... Sudah janga pikirkan soal itu, yang terpenting saat ini kau baik baik saja" ujar Rico mengusap lembut rambut Ruby.


"terimaksih ku sudah menemaniku" ujar Ruby.


"sebaiknya kau istirahat, aku akan menemui yang lain di luar" ucap Rico.


Ruby pun mengangguk pelan.


sebelum Rico meninggalkan Ruby dia pun mengcup kening Ruby dengan lembut.


"istirahatlah, jangan pikirkan yang lain dulu.. Kesehaanmu yang penting saat ini" bisik Rico.


"terimakasih" ucap Ruby.


Rico pun meninggalkan Ruby.


***