
Bara yang sedang menyantap sarapannya pun kaget saat Ruby melemlarkan Kertas Merah di hadapannya.
"apaaa? apaa lagiii yang kau inginkan hah!" bentak Ruby.
"kau ini kenapa?" ujar Bara bingung.
"aku tak takut dengan ancamanmu ini..!" bentak Ruby.
lalu Ruby pergi meninggalkan Bara.
setelah itu Bara melihat kertas yang di lempar Ruby kepadanya barusan..
"Kertu Merah?" batin Bara melihat kertas itu.
Bara lalu langsung berdiri dari duduknya dan berusaha mengejar Ruby.
"hey baraa.. kau mau kemanaa..?" tanya Deff.
"Ruby dalam bahayaa..." sahut Bara sambil berlari meninggalkan Cafe.
Kavin mengambil kertas yang baru saja Bara lihat.
"gawat.. siapa yang memberikan ini padanya" ujar Kavin.
"kartu merah? hah.. kok bisaa.." sahut Daff melihat Kavin.
mereka pun menyusul Bara..
**
di halaman Kampus semua Mahasiswa sedang melempari Mobil Ruby dengan kotoran dan mencoret2 dengan pilok di Body Mobil.
"heeyyyy... apaa yang kalian lakukaann...!!" bentak Ruby melihat Mobilnya hampir hancur.
lalu ada 3 orang Brandalan memegangi Ruby agar tidak mendekati Mobilnya.
"sudahlah cantik kau disini saja bersama kami" rayu salah satu brandal itu.
"lepaskaannn... menyingkir dari ku..." Ruby berusaha memberontak.
lalu salah satu brandal itu ingin melecehkan Ruby di hadapan para Mahasiswa.
"cantik juga rupanya.. wanita secantik kau saja masih bisa mendapatkan kartu merah.. lebih baik kau layani aku sajaa.." ucap brandal itu lalu ingin mencium paksa Ruby.
"hentikaaannn.... lepaskaann akuu.... tolooonngggg..." teriak Ruby.
namun Mahasiswa yang ada di sana hanya bisa diam menyaksikan Ruby di Lecehkan.
"teriaklah cantik, itu akan membuatku semakin bergairah dengan mu.." bisik brandal itu.
"percuma kau berteriak minta tolong.. mereka tidak akan ada yang menolong mu.." ujar salah satu brandal itu.
lalu tiba-tiba...
dari belakang Brandal itu ada yang menarik mereka lalu memberikan satu pukulan..
"lepaskan dia...!" bentak Bara.
"ba.. baraa..." ujar brandal yang lain saat melihat ke arah Bara.
"bara.." batin Ruby saat melihat Bara.
"apa yang kalian lakukan hah!! pergiii atau ku habisi kalian.." bentak Bara.
Para brandal itu pun pergi meninggalkan Ruby.
"kalian liat apa hah... bubarrrr..." bentak Bara pada para Mahasiswa yang menyaksikan itu.
semua Mahasiswa pun pergi meninggalkan Bara.
lalu tak lama Ruby pun jatuh pingsan karna tubuhnya yang sedang sehat.
Bara yang melihat itu segera menangkap tubuh Ruby.
"Ruby... apa kau.baik baik sajaaa?" ujar Bara saat melihat Ruby pingsan.
Bara segera menggendong tubuh Ruby lalu membawanya pulang ke Rumahnya.
"Deff.. Kavin.. buka pintu mobilku.." ucap Bara pada ke dua temannya.
"kau mau membawanya kemana?" tanya Deff.
"pulang ke rumah ku.. kau ijinkan aku ke dosen.. dan jangan lupa Ruby juga.." ujar Bara lalu pergi meninggalkan kampus.
"menurutmu siapa yang melakukan ini?" tanya Kavin menatap.Deff.
"kita akan cari tau itu.. siapa yang berani menyalahgunakan kartu merah F4..." ujar Deff.
"lalu dimana Rico?" tanya Kavin.
"ahh.. iyaa, dimana Rico? aku belum melihatnya.." sahut Deff
tak lama Mobil Hitam denga suara Kenalpot yang tak asing pun memasuki Halaman Kampus.
"sepertinya aku mengenali suara Mobil ini.." ujar.Kavin.
Deff dan Kavin lalu menoleh ke arah suara itu, dan ternyata itu Rico yang baru saja sampai di Kampus.
Rico keluar dari Mobil lalu menghampiri ke dua temannya.
"kalian sedang apa.disini?" tanya Rico.
"kau kemana saja baru datang?" tanya Kavin.
"ada apa memang? kok muka kalian terlihat serius seperti itu?" Rico menatap muka ke dua temannya.
"ada yang berani menyalah gunakan kartu merah F4 milik kita kepada Ruby.." ujar Deff.
"hah.. apaa?? lalu bagaimana?" ujar Rico kaget mendengar itu.
"kau lihat saja Mobil Ruby.." Kavin menunjuk ke arah Mobil Ruby.
"Ruby sedang di bawa oleh Bara karna tadi dia pingsan saat di kerjai oleh 3 brandal kita.." jelas Deff.
"siapa yang berani melakukan ini... akan ku habisi orang itu.." batin Rico.
"kita cari tau siapa dalang dari ini semua.." ujar Kavin.
"iya kau benar, akan ku habisi orang itu.." gumam Rico sambil mengepalkan tangannya.
**
Saat di Rumah Bara..
"selamat datang Tuan Muda Bara.." sambut para pelayan.
lalu tak lama Kepala Pelayan Bara menghampiri..
"Tuan, siapa gadis itu?" ujarnya.
"cepat bawakan air untuk mengompres gadis ini.." pinta Bara.
lalu Bara segera membawa Ruby ke dalam kamarnya.
tak lama Pelayan membawakan air untuk mengompres sesuai yang di pinta oleh Bara.
Bara segera mengompres Ruby dengan air itu lalu menyelimuti tubuhnya.
"siapa gadis ini Tuan?" tanya Kepala Pelaya.
"dia adalah gadisku.. ada tugas untukmu.." ujarnya.
"apa itu Tuan Muda" tanya Kepala Pelayan.
"cari tau di Kampus siapa yang menyalah gunakan kartu merah milik F4.." jelas Bara.
"baik Tuan Muda, saya akan mencari tau soal itu.." sahut Kepala Pelayan.
*baiklah, ku ingin besok sudah kau dapatkan datanya.. sekarang tinggalkan kami.." ujar Bara.
"baik Tuan Muda, jika oerlu sesuatu panggil saja.." ucap Kepala Pelayan lalu pergi meninggalkan kamar Bara.
Saat Bara dan Ruby hanya berdua saja di kamar, Bara memperhatikan wajah Ruby yang manis saat tertidur.
"kau memang cantik, tak heran banyak pria yang terpikat dengan pesonamu.. termasuk aku.." batin Bara menatap wajah Ruby.
"tidakk.. Bara.. tidakk.. kau hanya ingin menang taruhan bukan jatuh cinta pada gadis kecil ini.." batinya menolak.
Bara pun tertidur di samping ranjang menunggu Ruby tersadar.
Namun saat Bara mengganti waslap kompresaannya, Bara memegang kening Ruby dan tubuhnya semakin demam.
"gawat.. tubuhnysa semakin demam.. bagaimana iniii..." batin Bara bingung.
karna khawatir takut terjadi sesuatu pada Ruby, Bara segera menelpon Dokter Pribadi Keluarganya.
setelah di telpon tak lama Dokter itu pun segera datang dan menemui Bara.
"dok, tolong periksa kekasihku.. tubuhnya tak kunjung membaik setelah ku kompres malah semakin demam.." jelas Bara.
"tunggu yaa Tuan Muda, coba saya periksa dulu" ujar Dokter yang segera mengeluarkan stestoskopnya untuk memeriksa Ruby.
"pasien tidak apa apa, dia hanya demam karna mungkin ke capean atau sebelumnya merasa strees.." jelas Dokter.
"lalu harus bagaimana dok?" tanya Bara khawatir.
"mungkin saya akan pasang infus untuk memasukan obat penurun panas.. agar suhu tubuh pasien kembali normal.." jelas Dokter.
"baik dok, tolong berikan yang terbaik untuk kekasih ku.." ucap Bara.
lalu Dokter pun memasangkan infus pada Ruby untuk memasukan obat penurut panas agar demamnya segera membaik.
"baiklah obatnya sudah masuk, tinggal di tunggu aja sampai habis.." ujar Dokter selesai memasangkan infus dan memasukan obat penurun panas.
"baik dok, terimakasih.." ucap Bara sedikit tenang.
"baiklah, saya tunggu di luar nanti jika obatnya sudah habus Tuan Muda bisa memanggil saya" ujar Dokter lalu meninggalkan kamar Bara.
"baik dok" sahut Bara.
Bara lalu memperhatikan wajah Ruby lagi..
"ku mohon cepat kembali membaik.. aku sangat mengkhawatirkan mu.." batin Bara.
Setelah 30 menit berlalu, obat yang masuk lewat infus pun habis.
segera Bara memanggil.Dokter.
"bagaimana dok?" tanya Bara.
"obatnya sudah masuk, infusnya bisa di lepas nanti demamnya akan kembali membaik" jelas Dokter sambil melepaskan infus dari tanya Ruby.
"benarkah dia akan kembali membaik dok? aku sangat mengkhawatirkannya.." ujar Bara.
"Tuan Muda jangan khawatir, kekasihmu akan baik baik saja.." ucap Dokter.
"nah, sekarang biarkan dia istirahat.. nanti setelah membaik dia akan sadar.dengan sendirinya.." jelas Dokter.
"terimakasih dok.." ujar Bara.
"baiklah, saya tinggal kalau gitu.. jika terjadi sesuatu bisa Tuan segera bawa ke Rumah sakit saja.." ujar.Dokter.
"baik dok, terimakasih" ujar Bara.
Lalu Dokter pun pergi meninggalkan Rumah Bara.
Bara hanya bisa memandangi wajah Ruby yang sedang tertidur.
"cepatlah sadar.. aku sangat mengkhawatirkanmu" batin Bara.
***