Bara & Ruby

Bara & Ruby
#17.



Keesokan Harinya, dimana hari pesta Ulang Tahun Milly...


Selesai Pemotretan seperti biasa Ruby pun segera ke ruang ganti untuk bersiap mengganti pakaiannya.


Tiba tiba Rico yang sudah berada tepat di depan ruang ganti Ruby pun menahan tangan Ruby.


"malam ini kau harus datang bersama ku" ujar Rico.


"lepaskan tangan mu" ketus Ruby.


"nanti malam berdandan yang cantik, aku akan datang menjemputmu" ujarnya lalu pergi meninggalkan Ruby.


"huh.. Batin ku belum siap menerima kenyataan ini" gumamnya.


**


Malam harinya..


"huh.. Aku harus mengenakan baju yang mana?" gerutunya sambil memandangi lemari bajunya yang penuh dengan Dress.


"pelayan..." panggilnya


tak lama para pelayan pun datang menghampiri kamar Ruby..


"yak Nona Muda, ada yang bisa kami bantu?" sahut para pelayan.


"bantu aku untuk berdandan, karna aku ingin pergi ke pesta ulang tahun teman ku" jelasnya.


"baik Nona" sahut para pelayan serentak.


Para pelayan pun mulai merias wajah Ruby lebih dulu, dan di barengi sambil memilih Dress yang akan di pakai malam itu.


Selesai bersiap, Ruby segera turun ke bawah karna Rico sudah menunggunya.



"apa kau sudah siap untuk berangkat?" ucapnya sambil melirik Ruby yag menuruni anak tangga.



"yak, tentu saja" sahut Ruby menatap Rico.


Lalu Rico pun mengulurkan tangannya, dan di sambut baik dengan Ruby.


Merek berdua pun pergi menuju pesta Milly.


Dalam perjalanan, Ruby terlihat sangat tegang dan gelisah, melihat itu Rico langsung menggenggam tangan Ruby lalu menatapnya.


"semua akan baik baik saja, aku akan bersamamu tenang saja oke" ujar Rico menenangkan Ruby dengan memegang tangannya.


Mendengar itu Ruby pun menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan.


"terimakasih sudah menemaniku" sahut Ruby.


**


Sesampainya di psta Milly..


Ruby dan Rico pun memasuki gedung pesta, melihat mereka berdua datang bersamaan semua mata pun tertuju pada mereka berdua.


"lihat itu, bukankah mereka pasangan modeling yang serasi itu?" bisik para tamu yang meliha mereka bersama.


"wahhh.. Iya benar itu mereka.. Ternyata mereka memang pasangan yang serasi ya meski di luar profesi mereka" bisik para tamu yang lain.


Tak lama Milly pun melihat ke arah mereka.


"sayang, sepertinya temanmu sudah datang" ucapnya sambil melirik ke arah Ruby.


"ahh.. Iya itu mereka" sahut Bara lalu menghampiri Rico.


"Bara menuju kesini, ku harap tenangkan dirimu" bisik Rico yang masih menggenggam tangan Ruby.


"haiii... ku kira kau tak akan datang" sapa Bara pada Rico.


"tentu saja tidak mungkin aku tidak datang" sahut Rico.


"oh ya, hai Ruby kau terlihat cantik malam ini" puji Bara.


"ehh.. Te.. Terima kasih" sahut Ruby sedikit gugup.


Tak lama Milly pun datang langsung merangkul pinggang Bara.


"sayang, ayo ku kenalkan denga teman papah" ujar Milly.


"iya sayang" sahut Bara lembut.


"ku tinggal dulu ya, nikmati saja pestanya" sambung Bara sebelum pergi meninggalkan Rico.


Setelah Bara dan Milly pergi tak lama Deff dan Kavin pun menghampiri mereka berdua.


"hai pasangan serasi kita malam ini kenapa terlihat sangat tegang" ujar Deff.


"apa maksudmu hah?" bentak Ruby dengan tatapan sinisnya.


"santai cantik, aku hanya bercanda" ujar Deff.


"sebaiknya kalian ikut dengan ku ke meja Bar, kita nikmati malam ini" ajak Kavin.


"sepertinya ide bagus" sahut Ruby yang langsung jalan menuju meja Bar.


Melihat it pun mereka bertiga saling bertatapan melihat tingkah Ruby yang tak biasanya.


"sepertinya ada yang berbeda darinya" ucap Deff.


"sudah ayo kita temani dia saja malam ini" ujar Kavin.


Dari meja Bar Ruby pun memanggil ke tiga pria itu.


"apa kalian mau diam saja di sana?" tanya Ruby sambil memegang segelas minuman.


Mendengar ucapan itu mereka bertiga pun langsung menghampiri Ruby di meja Bar.


Gelas demi gelas sudah di tenggak habis oleh Ruby, hampir dirinya pun tak sadarkan diri.


"ayooo minum lagiiii" ujar Ruby dengan nada yang sudah melantur.


"tidak.. Kau sudah terlalu banyak minum malam ini" tahan Rico.


"aahhh... Ayolahhh.. Nikmati pestanya bukan" gumam Ruby.


Tak lama mereka pun mendengar suara panggilan dari Milly yang meminta par tamu kumpul di depan panggung.


"sepertinya Milly akan memberi pengumuman, ayo kita ke san" ajak Deff.


Deff dan Kavin pun berjalan lebih awal ke depan panggung.


"ayo biar ku bantu" ucap Rico.


"tidak perlu, aku masih kuat untuk berjalan sendiri" sahut Ruby.


Ruby pun berjalan sendiri menuju panggung, di dampingi oleh Rico dari belang.


"berhubung para tamu sudah kumpul di hadapan kami berdua, kami ingin memberi kabar baik untuk kalian para tamu yang sudah datang malam ini" ujar Milly.


"bulan depan kami aan menikah" sambung Milly.


Para tamu yang mendengar berita baik itu pun bertepuk tangan bahagia.


"a.. Apaa? Menikahh?" batin Ruby.


Mendengar berita itu hati Ruby seakan tersayat pisau yang tajam namun tak berdarah.


Tubuh Ruby pun seakan melemas mendengar berita itu, hampir tak dapat memopang tubuhnya sendiri.


"apa kau bik baik saja?" ujar Rico yang segera menangkap tubuh Ruby agar tak jatuh.


"i.. Iya aku baik baik saja, sepertinya aku terlalu banyak minum hingga tubuh ku terasa lemas" ujar Ruby yang masih saja berbohong menutupi perasaannya.


Selesai memberikan pengumuman, Milly dan Bara pun menghampiri Rico dan Ruby.


"apa kalian menikmati pestanya?" tanya Milly.


"iya tentu saja" sahut Rico.


"jadi kalian kapan menikah?" tanya Bara.


"bukan urusanmu" sahut Ruby ketus.


"hahaha.. Sepertinya gadismu terlalu banyak minum" ucap Bara.


"yak, begitulah" ucap Rico tersenyum.


"oh iya, Ruby bisa kita bicara?" ajak Milly.


"hmm.. Yak bisa" sahut Ruby.


"oke cowok cowok kami tinggal dulu, ini urusan wanita" ujar Milly.


Dan mereka berdua pun pergi meninggalkan pasangan mereka berdua.


"huh, dasar para gadis" gumam Bara.


Saat di pinngir kolam renang.


"jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ruby.


"hmm.. Sepertinya kau pun tau apa yang ingin ku katakan" ujar Milly.


"lagsung saja jangan banyak basabasi" ujar Ruby.


"sekarang aku akan menjadi nyonya Tuan Liam, dan aku seikit maju di depan dari dirimu bukan" bisik Milly.


"hahahaa... Lalu peduli ku apa hah?"


"kau tau kan, yang namanya pecundang akan selalu menjadi pecundang" ketus Milly.


"siapa bilang? Ka hanya mengambilnya dari ku tapi kau tak bisa lebih unggul dari ku di bidang karir bukan" sahut Ruby sinis.


"sialll... Tutup mulutmu..." bentak Milly sambil mendorong tubuh Ruby hingga terjatuh ke dalam kolam renang.


"lihat itu, ada yang terjatuh ke dalam kolam renang" gumam para tamu.


"rasakan itu" batin Milly.


"to.. Tolongggg" ujar Ruby berusaha bertahan di dalam air.


Mendengar banyak yang membicarakan ada yang terjatuh ke kolam renang, Rico segera berlari ke arah kolam renang karna ingat Ruby dan Milly baru saja disana.


Sesampainya di tepi kolam renang, Rico melihat Ruby yang sedang bertahan di dalam kolam renang.


"sialll.... Ruby bertahanlah" batin Rico lalu langsung terjum ke dalam kolam renang menyelamatkan Ruby.


Lalu Rico pun membopong tubuh Ruby ke permukaan di bantu Deff dan Kavin.


"apa yang kau lakukan padanya" bentak Rico pada Milly di hadapan Bara.


"jaga nada bicaramu Rico, dia kekasihku" bentak Bara membela Milly.


"sayang, aku tidak tau apa apa, dia tergelincir hingga terjatuh ke dalam kolam renang" berusaha terlihat tak bersalah.


"bulshit... Tidak mungkin" bentak Rico.


"ricooo.... Cukup... Ucapan mu sudah menyakiti perasaan kekasihku" bentak Bara.


"oh jadi sekarang kau lebih memilih mendengarkan gadis ini... Okeee" ketus Rico lalu membopog tubuh Ruby yag sudah tak sadarkan diri pergi dari sana.


"aku tak menyangka jika kau akan seperti ini" ujar Deff melihat Bara.


"apa? Kalian juga tak terima? Kalian bisa pergi tinggalkan tempat ini aku tak perlu kalian" bentak Bara.


"sebaiknya kita pergi saja, Bara sudah berbeda dari yang kita kenal" ajak Kavin.


"sayang tenangkan dirimu, nanti kepalamu sakit lgi" berusaha menenangkan Bara.


Deff dan Kavin pun pergi menyusul Rico.


Disaat yang bersamaan Bara pun merasakan sakit yang amat sangat di kepalanya, dan sekilas mengingat kejadian yang hampir sama seperti yang dia lihat barusan.


"aarrgghhh... Kepala ku" ujar Bara kesakitan.


"sudah ku bilang kan sayang jangan terlalu emosi nanti kepalamu sakit lagi, benr kan.. Ayo ikut dengan ku kau harus minum obat pereda sakitnya" ujar Milly membantu Bara.


"yang barusan itu apa? Kenapa aku merasa seperti pernah mengalami itu" batin Bara.


"sayang di minum dulu ini obatnya" ujar Milly memberikan obat pereda neri milik Bara.


***