Baby Girll

Baby Girll
Part 9



"Anda siapa?"


Wanita paruh baya yang sedang ditanyai itu tersenyum kecil sambil berjalan mendekati wanita yang sudah sadar akan kehadiran nya.


"Kau mau menambah?" tanya Rahel yang dijawab gelengan oleh Elena.


"Tidak usah takut, aku tidak akan menyakiti mu. Aku adalah mommy nya Juan, orang yang membawa mu kemari," ucap Rahel.


"Tente bisa bantu aku keluar dari sini gak?" cicit Elena dengan pelan.


Rahel diam sebentar, melihat keadaan Elena yang terlihat tertekan itu membuat nya merasa iba.


Tapi putranya pasti tidak akan senang jika dia membantu wanita yang dicintai oleh putra nya itu.


Mata Rahel beralih kearah tangan Elena yang memerah dan terlihat bekas kebiruan.


"Ini kenapa?" tanya Rahel sembari memegang tangan Elena dengan lembut.


"Jangan bilang jika Juan yang melakukan ini," ucap Rahel dengan wajah datar.


Melihat keterdiaman Elena, sekarang Rahel yakin pasti putranya itu yang melakukan nya. Tidak mungkin jika wanita yang di hadapan nya ini melakukan nya sendiri.


"Anak itu," desis Rahel.


"Tante aku mau pergi dari sini," lirih Elena mengeluarkan unek-unek nya.


Rahel terlihat baik tidak seperti Juan, oleh sebab itu dia berani mengatakan nya.


"Kamu gak mau stay disini aja, Tante bakalan bilang sama anak Tante buat lebih baik sama kamu," ucap Rahel dengan hati-hati.


"Tidak Tan, aku mau pulang," pinta Elena kekeuh.


"Tante tau kau sangat ingin pergi em siapa namamu?" tanya Rahel.


"Elena," jawab nya.


"Ah nama yang bagus. Elena, Tante sangat menyayangkan kelakuan Juan terhadap mu, maaf karena anak Tante sudah sebrengsek itu padamu," Ucap Rahel meminta maaf.


Sungguh dia menjadi tidak enak hati tentu saja, masa depan Elena masih panjang dan dia masih terlihat muda untuk ini.


"Berapa umur kamu sekarang?" tanya Rahel.


"22 Tan,"


Sesuai dugaan Rahel, Elena masih muda dan seperti nya masih mahasiswi. Berbeda dengan Juan yang sudah akan kepala tiga untuk tahun depan.


"Tante sudah tau semua nya, Tante mohon maaf sebesar-besarnya Elena. Tapi.. kalian sudah melakukan nya, Tante takut ada kehidupan lain dalam perut mu dan Tante tidak mungkin membiarkan Juan lepas tanggung jawab untuk itu," jelas Rahel.


"Aku tau, tapi setelah aku keluar dari sini aku akan langsung meminum pil pencegah kehamilan tan, pleasee help me. Aku akan menganggap kejadian ini adalah sebuah kesalahan antara aku dan Juan. Aku tidak akan mengungkit nya bahkan akan menganggap nya tidak pernah terjadi. Aku hanya ingin hidup ku Kemabli seperti dulu, i wanna Free," ungkap Elena.


"Apa kamu yakin?" tanya Rahel dengan ragu.


"Sangat yakin," ucap Elena.


Itu lebih baik daripada harus tinggal dengan orang yang sama sekali tidak diinginkan nya. Apalagi menjalin hubungan yang lebih dari ini. Elena tidak ingin, dia ingin memilih sesuai dengan hati nya.


"Baiklah, jika itu mau mu. Jika kamu membutuhkan sesuatu nanti kamu bisa menemui Tante," ucap Rahel.


"Tunggu sebentar," ucap Rahel ke luar sebentar.


Wanita paruh baya itu merogoh ponsel nya untuk segera menghubungi putra nya.


Setelah diangkat Rahel langsung saja mengutarakan apa niat nya menghubungi Juan.


"Mom mau ajak Elena untuk jalan - jalan," ucap Rahel.


"Jalan-jalan? sekarang? No mom, aku tidak mengijinkan nya!" ucap Juan dari seberang sana.


Nada bicara nya terdengar jelas jika tidak setuju dengan rencana Rahel ini.


"Kau ini! kau bilang tidak akan membuat nya terluka, tapi tadi apa hah! tangan nya Sampai berbekas seperti itu!!" marah Rahel.


"Kau tidak lihat dia, wajah nya tertekan, seperti nya dia membutuhkan hiburan. Kamu tidak boleh mengurung nya seperti itu," ucap Rahel.


"No mom, aku tidak sejahat itu. Jika ingin berjalan-jalan bisa dengan ku. Akan ku bawa dia liburan kemana pun dia mau tapi tidak untuk sekarang," ucap Juan.


"Ck, terserah," ucap Rahel langsung mematikan sambungan nya.


Rahel kembali masuk ke dalam kamar milik Juan.


"Kita bisa pergi sekarang. Tante akan mengantarmu ke rumah mu," ucap Rahel.


"Serius tan," ucap Elena senang bahkan dia sampai berdiri dari duduk nya.


Ini yang dia tunggu sejak kemarin, bisa keluar dari rumah besar yang mengikat nya sekarang.


"Iya, tapi Tante minta nomor kamu bisa ya? siapatau nanti ada apa-apa. Dan Tante mau tetap berhubungan dengan mu," ucap Rahel memberikan ponsel nya.


Dia akan mengawasi Elena, bagaimana pun juga, Elena seperti ini karena ulah anak lelaki nya.


Dia hanya takut nanti Elena benar-benar mengandung cucu nya. Maka Rahel tentu saja tidak akan membiarkan Elena mengurus nya sendirian. Putranya harus tetap bertanggung jawab.


Sebenernya Rahel tidak yakin jika Elena meminum obat pencegah hamil saat sudah melakukan nya akan berpengaruh.


Setau nya harus meminum nya terlebih dahulu agar aman dan tidak bocor.


"Tentu," Elena meraih handphone milik Rahel dan menuliskan nomor nya di sana.


"Ini tan," Elena memberikan kembali ponsel milik Rahel.


"Terimakasih," ucap Rahel lalu mengajak Elena untuk keluar.


"Maaf nyonya, nyonya mau kemana bersama dengan nyonya Elena?" tanya Bodyguard.


"Saya ingin mengajak nya untuk jalan-jalan, saya sudah menghubungi Juan tadi," ucap Rahel menunjukkan riwayat panggilan nya bersama Juan tadi.


"Apa tuan Juan sudah benar-benar mengijinkan nyonya?"


"Kau tidak percaya padaku!" ucap Rahel dengan mengintimidasi Bodyguard tersebut.


"Saya tidak bermaksud begitu nyonya, Jika benar begitu maka kami akan menemani jalan-jalan nyonya," ucap Bodyguard tersebut.


"Tidak perlu, Elena keluar bersama ku. Aku akan menjaga nya," ucap Rahel menolak.


"Tapi.."


"Aku sudah mengatakan pada Juan," ucap Rahel berbohong.


"Baik nyonya, jika ada sesuatu anda bisa menghubungi," ucap Bodyguard itu pada akhirnya.


Dia mau menjawab apalagi, jika tuan nya yang memberikan perintah secara langsung.


"Hem baiklah, ayo sayang kita pergi," ucap Rahel.


"Hati-hati nyonya," ucap Bodyguard tersebut.


Rahel memanggil supir nya untuk segera menyiapkan mobil.


"Terimakasih Tan," ucap Elena tersenyum setelah mobil tersebut sudah meninggal kan pekarangan rumah Juan.


"Jangan mengatakan seperti itu, Tante menjadi tidak enak hati," ungkap Rahel.


"Em rumah kamu dimana?" tanya Rahel.


"Aku tinggal di daerah xx," ucap Elena.


Rahel mengangguk mengerti. Di sepanjang perjalanan keduanya bercerita - cerita seperti sudah lama saling mengenal.


Elena akui jika Rahel begitu humble, tadi dia sudah berpikir jika Rahel akan memarahinya atau memakai nya ataupun semacam nya, menyebut nya wnaita penggoda dll. Ternyata pikiran buruk nya itu sama sekali tidak terjadi.


TBC