Baby Girll

Baby Girll
Part 11



"Hei ada apa dengan mu?" tanya Elena saat wajah sahabat nya itu menjadi murung setelah mengangkat telpon.


Quela menghela nafasnya pelan. "Daddy dan mommy pulang nya diundur karena pekerjaan Daddy di sana belum kelar," Quela mencebikkan bibir nya sebal.


Padahal dia sudah sangat menunggu kepulangan orang tua nya itu dan Daddy nya sudah menjanjikan akan membawa oleh-oleh untuk nya. Quela sudah sangat menantikan nya.


"Berapa lagi memang nya mereka akan pulang?" tanya Elena.


"Minggu depan," jawab nya dengan lesu. Padahal dia sudah menandai tanggal kepulangan orang tua nya di kalender dan selalu menghitung nya setiap hari. Yang aturan nya kedua orang tuanya sudah akan pulang 2 hari lagi sekarang malah menjadi Minggu depan.


"Aku mengerti kau sudah menunggu mereka, menunggu sebentar lagi tak apa kan? pasti mereka juga ingin pulang Quela. Bersabarlah," ucap Elena.


"Aku tau," balas Quela. Dia juga tak mau memaksa ke dua orang tuanya pulang jika memang pekerjaan mereka disana belum selesai.


Lagi pula orang tua nya bekerja untuk dirinya juga.


"Ah iya, aku ada janji dengan Adlrich nanti, em kamu tak apa kan dirumah sendiri, ada bibi juga sih," ucap Quela memberitahu rencana kan.


Ah benarkah, yaudah kalo gitu aku pulang deh," ucap Elena yang membuat Quela mendesah kecewa mendengar penuturan sahabat nya itu.


"Yah,jangan gitu dong Elena, aku kan sendiri jadi nya nanti, mom dan dad kan bekum pulang. Kamu disini aja," ucap Quela agar dia memiliki teman.


"Bukan begitu, aku hanya kerumah buat ngambil baju ku," ucap Elena.


"Ck, buat apa? Disni kan baju mu juga banyak," ucap Quela.


Bagiamana tidak, Elena kan sudah sering menginap dan terkadang baju nya banyak yang tertinggal karena Elena memang kadang malas membawa pulang.


"Sekalian ngambil ponsel ku dan dompet, aku seperti orang gila saja karena tidak tau apa yang akan ku kerjakan nanti jika kau sudah pergi," ucap Elena yang membutuhkan ponsel nya.


Quela akhirnya mengangguk mengerti. "Ya baguslah jika begitu, nah sekarang kita maskeran aja yuk, aku gak sabar deh ketemu Aldrich," ucap Quela.


"Aku akan membantu mu bersiap jika begitu," tawar Elena yang disambut antusias oleh Quela.


Kedua gadis itu akhirnya maskeran bersama dengan menggunakan masker milik Quela.


Quela menahan tawa nya melihat Elena yang menggunakan masker nya tidak rata dan ada yang ketebalan.


"Hahaha Elena liat kah wajah mu," Quela akhirnya menyemburkan tawa nya.


"Kau juga, lihat lah masker mu sudah retak," ucap Elena.


Kedua nya akhirnya malah tertawa bersama dan mengakibatkan masker mereka berdua retak dan gagal.


"Aishh Quela, ini karena mu. Jadi gagal kan," ucap Elena dengan sebal.


"Kau juga tertawa, bukan salah ku lah," ucap Quela yang tidak terima.


"Aku ingin mengulangi nya lagi, kamu disini dan aku akan disana. Aku tak mau di dekat mu jika ingin masker mu tetap bagus," ucap Elena yang menjauh dari Quela.


"Yaya baiklah, semoga berhasil," seru Quela.


Tak beberapa lama kedua nya akhirnya membersihkan wajah mereka dan bergantian untuk mandi.


Elena lah yang terlebih dahulu karena merasa badan nya sudah lengket, bayangkan saja di rumah Juan dia sama sekali tidak mandi.


"Quela, aku udah, sekarang giliran mu!"" seru Elena sembari mengeringkan rambut nya.


"Em tunggu sebentar," balas Quela yang sedang mencatok rambut nya.


Sembari menunggu Quela selesai, Elena menonton drama di tv yang berada di kamar milik Quela.


"Elen, bantuin aku please," Quela menunjukkan kancing dress yang berada di punggung nya.


"Kau memakai dress? kalian mau kencan kemana?" tanya Elena karena biasanya Quela selalu memakai baju santai dan casual jika pergi bersama dnegan Aldrich.


"Oke Done," ucap Elena.


"Thanks," ucap Quela mencium pipi Elena.


"Ck, anak ini kebiasaan sekali," ucap Elena yang mengusap wajah nya karena geli.


"Em El, bagusan yang mana? tas yang ini apa yang ini?" tanya nya menunjukkan tas yang berada di kedua tangan nya.


Elena berpikir sejenak," i think yang warna hitam saja, lebih cocok ke warna dress mu," saran Elena.


"Okey, aku akan memakai yang ini," ucap Quela yang memilih tas berwarna hitam itu.


"Sudah? kemari. Aku akan mendadani mu," ucap Elena menarik Quela ke kursi rias Quela.


Dia sangat menyukai yang namanya make up, oleh karena itu Elena selalu bersemangat jika merias wajah Quela.


Ada kepuasan tersendiri bagi nya jika merias wajah orang lain.


Elena dengan telaten mulai merias wajah Quela dengan Quela yang diam sambil sesekali melirik ke arah Elena yang terlihat sekali serius.


"Kau sudah cocok untuk jadi makeup artist Elena, bagiamana jika kamu membuka salon saja," ucap Quela.


Dirinya sudah tak meragukan lagi kemampuan make up milik Elena.


Elena sudah banyak sekali belajar dan bahkan setiap hari gadis itu menonton make over di YouTube. Quela mengetahui itu karena sudah sering melihat nya .


"Aku masih belum yakin, aku perlu banyak belajar lagi," ungkap Elena.


"Eih, tak ada Masalah nya. Lumayan kan mengisi kekosongan mu saat pulang kuliah. Ayolah El, jangan terlalu negatif thinking. Aku yakin kau bisa, lihat lah kemampuan make up mu ini, " ucap Quela.


"Benarkah? bagiamana menurut mu?" tanya Elena.


"Good, i like it. Aku selalu suka hasil yang kau buat El, udah kamu coba aja dulu," ucap Quela.


"Hem kau benar, aku tidak akan tau hasil nya bagaimana jika aku tidak mencoba nya," balas Elena.


Tak ada salah nya juga, jadi dia memiliki kegiatan lain selain kuliah.


"Not bad," ucap Elena.


"Thank you Elena, mau yang terbaik, aku akan membayar untuk ini " ucap Quela.


Dia tak mungkin selalu mendapatkan make up gratis dari Elna terlebih jika gadis itu akan memulai usaha nya nanti.


"Tidak perlu, kau ini seperti sama siapa saja," ucap Elena.


"Mana bisa begitu, ini sudah berbeda. Kau kan nanti akan membuka salon tentu saja aku harus membayar meskipun kau ini sahabatku," ungkap Quela.


"Terserah mu sajalah," ucap Elena.


"Aku akan menjadi pelanggan setia mu," ucap Quela tersenyum senang.


Senyum Quela menular pada Elena, lagi- lagi dia bersyukur memiliki sahabat seperti Quela yang selalu mensupport nya.


"Baiklah Elena, Seperti nya aku ini harus meninggalkan mu sekarang, aku takut membuat Alrdrich menunggu," ucap Quela.


"Dia tidak menjemput mu?" tanya Elena menaikkan alis nya.


"Tidak, dia meminta ku langsung ke tempat saja, tidak apa sih," ucap Quela.


TBC