
"Elena, kita main dulu yuk baru abis itu pulang, aku malas banget pulang sekarang, lagian kita gak ngapa-ngapain di rumah kan," ucap Quela.
Kedua nya baru saja pulang kuliah dan kebetulan jadwal pulang mereka kali ini sama.
Elena dan Quela berkuliah di universitas yang sama namun berbeda fakultas.
"Mau kemana? aku mager," balas Elena yang membuat Quela memutar bola mata nya malas.
Karena setiap Quela mengajak gadis itu, sering kali kata itu yang keluar dari mulut Elena.
"Ayolah El, kemana kek gitu kita, Juan masih kerja, aku gak mungkin ngajak dia," bujuk Quela lagi berharap Elena mau ikut bersama nya.
"Kemana emang nya, mending tidur di rumah," balas Elena.
"Tidur mulu, Udah ah pokok nya kita harus pergi sekarang," Quela menarik tangan Elena dengan pelan dan alhasil Elena hanya pasrah saja mengikuti Quela yang entah mau membawa nya kemana.
Quela ternyata mengajak nya ke tempat karoke.
"Kita karoke dulu Kuy, lagu KPop gapapa deh," ucap Quela karena sangat tau apa yang di sukai Elena.
Elena langsung mengembangkan senyum nya mendengar hal itu.
Elena yang tadinya malas dan ingin pulang dan segera tidur kini begitu antusias.
Keduanya akhirnya bernyanyi bersama, meski suara mereka tidak bagus-bagus amat.
Setelah lelah, Elena dan Quela akhirnya kemudian memilih untuk makan terlebih dahulu lalu setelah nya memutari mall untuk cuci mata dan selepas nya mereka pun pulang.
"Loh, kok pintu nya terbuka sih," ucap Quela melihat pintu rumah nya yang sudah terbuka lebar, seingat nya dia sudah mengunci pintu itu sebelum pergi keluar rumah.
Di tengah kebingungan nya, Elena dan Quela di kagetkan oleh wanita paruh baya dan pria paruh baya yang tengah berdiri sambil merenggangkan tangan nya.
"Mom, dad, really?" Quela langsung berlari menuju ke arah orang tua nya dan memeluk ke duanya dengan erat.
Quela benar-benar merindukan kedua nya, sangat. Rumah benar-benar terasa sepi jika tidak ada tuan dan nyonya rumah itu.
"Elena, kemarilah sayang, jangan hanya berdiri di sana," ucap Naina sambil tersenyum lembut ke arah Elena.
"Ayo El,cepat kemari," seru Quela kembali saat melihat Elena yang berdiam diri saja.
Elena mengangguk kecil dan akhirnya menuju ke arah keluarga itu dan ikut berpelukan bersama mereka.
Dia jadi merindukan orang tua nya yang begitu jauh dari nya. Elena bahkan jarang menghubungi mereka karena perbedaan waktu dan juga orang tua nya di luar negeri sana pun harus bekerja.
"Aku ingat kalian mengatakan akan pulang beberapa hari lagi, mengapa sekarang jadi berubah?" tanya Quela sembari melepas kan pelukan nya.
"Eum, jadi putri ayah ini tidak senang ya, jika kita pulang dengan cepat jadi nya. Sayang, seperti nya kita harus pergi lagi," ucap David pada istrinya.
"Kau benar," ucap Naina yang ikut-ikutan mendukung suami nya yang tengah menggoda Quela.
"Bukan begitu, aku sangat senang sekali, aku hanya kaget saja dad," Quela menggembung kan pipi nya.
"Haha baiklah, baiklah, gitu aja langsung ngambek, " kekeh David.
Putrinya itu begitu sama dengan Naina, kedua nya hampir memiliki sifat yang sama.
"Mengapa kamu jadi tersenyum begitu, pasti ada maunya ini," ucap David yang melihat senyum Quela yang begitu aneh.
"Iyalah, Aku mau menagih janji Daddy, oleh-oleh untuk ku mana?" tagih nya.
"Astaga anak ini, untuk itu kau tak pernah lupa ya," ucap Naina menggeleng - geleng kan kepala nya.
"Iya dong, soal nya aku juga menunggu itu pulang," ucap Quela menampilkan seret gigi nya.
"Ada tuh, liat aja di koper. Asa untuk elena juga. Kalian buka sekarang aja," ucap David sembari menujuk koper yang dia bawa.
"Yey, aku sayang dad sama mommy, ayo El kita lihat apa yang dibawa oleh mommy dad," Quela menarik tangan Elena dengan pelan untuk ikut bersama nya.
"Lihatlah, putri kita sudah besar namun masih seperti anak kecil," David tak memudarkan senyum nya melihat itu.
"Kau mau mandi dulu atau bagiamana?" tanya Naina.
"Tolong buatkan aku teh sayang, sehabis itu aku akan mandi," pinta David pada istrinya itu.
"Baiklah, tunggu sebentar," Naina beralih menuju ke dapur untuk membuat kopi yang diminta oleh sang suami.
Sedang kan David, langsung segera menghampiri kedua sahabat yang tengah antusias dengan oleh - oleh yang mereka bawa.
David ikut senang melihat kedua nya juga begitu senang, tidak sia-sia dirinya membawa oleh-oleh tersebut dari luar kota sana.
Ada kesenangan tersendiri bagi nya saat melihat momen ini. Oleh karena itu, setiap dia melakukan perjalanan ke luar kota maupun keluar negeri, David tak pernah lupa sekali pun untuk membawakan sesuatu untuk Putri nya dan kadangkala juga membawa untuk Elena.
"Ini kopi nya," ucap Naina meletakkan nya di meja yang berada di depan David.
"Terimakasih sayang," ucap David.
"Aku mau mandi dulu, badan ku rasanya lengket semua," ucap Naina meminta izin untuk mandi terlebih dahulu.
Karena memang biasanya ke dua nya memang selalu mandi bersama.
"Ya kau duluan saja sayang, kau harus beristirahat juga. Kau pasti lelah," ucap David yang diangguki oleh Naina.
"Bagiamana kuliah kalian berdua?" tanya David memulai pembicaraan di tengah kesibukan kedua nya.
"Baik dad, seperti biasa," balas Quela.
"Bagiamana dengan mu Elena?"
"Lancar om, meski kadang ada yang gak ngerti sih hehe," ucap Elena.
"Tidak papa,nitu wajar. Yang penting kau mau belajar pasti akan bisa, jika ada apa-apa kamu bisa bilang sama om,"
"Iya om," balas Elena.
"Kamu tidak ingin mengunjungi orang tua mu nanti setelah libur semester? Daddy mu menelpon ku kemarin, kata nya kau sulit dihubungi dan tidak mengangkat telpon dari mereka," ucap David yang membuat Elena meringis kecil.
"Ah iya, aku lupa menghubungi mereka kembali," ucap Quela.
Saat itu mood nya memang sedang tidak bagus, dan lagi dia dikurung di rumah Juan dan handphone nya tidak ada saat itu.
"Kamu harus menghubungi mereka, mereka pasti menghawatirkan mu Elena,"
David sangat tau bagaimana rasanya karena diri nya sudah pernah merasakan nya.
Kalang kabut dan cemas di saat yang bersamaan, sungguh perasaan yang tidak menyenangkan sama sekali.
"Aku akan menghubungi mereka sekarang," ucap Elena akhirnya beranjak dari duduk nya dan menuju ke arah kamar Quela karena ponsel tertinggal di sana.
Setelah melihat kepergian Elena, Quela akhirnya mendekati David dengan tampang nya yang begitu serius.
"Ada apa sayang? apa ada sesuatu?" tanya David saat melihat perubahan raut wajah Quela yang begitu amat drastis.
"Aku ingin membicarakan sesuatu pada Daddy, ini tentang Elena dad dan ini salah ku juga. Aku merasa harus menceritakan semua ini pada Daddy, dan dad pasti akan marah kepadaku," ucap Quela dengan pelan.
Dia tidak bisa membiarkan Maslaah Eks begitu saja yang mana dia terlibat disini.
Mungkin dengan memberi tahu pada David bisa membantunya.
Karena pada akhir nya pasti akan ketahuan juga dan lebih baik David tau dari nya daripada dari orang lain ataupun tau sendiri.
"Ada apa memang nya? kalian membuat masalah apa sampai Daddy akan marah Quela!" David kini berbicara dengan serius dan wajah datar membuat Quela menelan Saliva nya dengan kasar.
Namun dia harus tetap memberi tahu ini, dia tak ingin menyembunyikan masalah yang tidak biasa pada ayah nya
TBC
TBC