
Mata Quela mengerjap melihat pemandangan di depan nya sekarang. Dia speechless melihat apa yang telah di persiapkan oleh Aldrich untuk nya.
Terdapat banyak lilin dan bunga di sepanjang jalan dan terdapat sebuah meja dengan dua kursi di tengah meja yang dikelilingi bunga mawar berbentuk love di sana.
Lampu-lampu juga menerangi serta kerlap kerlip menemani mereka.
Dan yang lebih indah nya adalah bisa melihat keindahan kota karena mereka dinner di rooftof restoran yang sudah di pesan oleh Aldrich.
Melihat sunset yang begitu inda dari rooftof tersebut dengan bonus pemandangan gedung-gedung ibu kota.
Angin malam juga menepati wajah kedua nya.
Dan lagi hanya mereka berdua sekarang yang berada di rooftof tersebut.
Quela menyipit kan mata nya saat menyadari sesuatu.
Dia kemudian membalik kan badan agar mengahadap ke arah Aldrich.
"Jangan bilang jika kamu juga menyewa nya," ucap Quela dengan telak yang hanya di balas cengiran oleh Aldrich.
"That's okeyy, bukan masalah yang besar," ucap Adlrich yang kini menarik kursi dan mempersilahkan Quela untuk segera duduk.
Setelah Quela sudah duduk, Aldrich pun akhirnya ikut duduk tepat di depan Quela.
"Sunset nya sangat bagus," ucap Quela seraya menopang kedua tangan nya di dagu.
Karena terlarut dalam apa yang dia lihat, Quela sampai tidak menyadari jika sedari tadi Aldrich sudah mengambil banyak foto gadis itu.
Quela mengalihkan pandangan nya saat Indra pendengar nya mendengarkan suara melodi yang indah.
Dan ternyata di dekat mereka ada beberapa pemain biola yang memainkan nad dengan indah.
Quela menatap Aldrich yang tersenyum pada nya, Quela amat begitu senang, dia heran bagaimana Aldrich bisa mempersiapkan semua ini dengan sedemikian rupa.
Setelah memainkan beberapa lagu, pemain biola tersebut akhirnya pamit dan pelayan datang untuk mempersiapkan makanan untuk mereka.
"Thank you," ucap Aldrich setelah semua hidangan yang telah dia pesan dipersiapkan semua nya.
Aldrich memotong daging untuk Quela dan juga untuk nya.
Hari itu mereka habiskan dengan bahagia, Quela bahkan tidak akan melupakan hari ini.
***
"****, dia ini kemana sih?" kesal Juan menggeram dan meremas ponsel nya karena panggilan nya tidak di jawab dan nomor orang yang sedang di tuju nya sekarang tidak aktif.
"Maaf bos, rapat nya sebentar lagi dimulai, ini tidak bisa di batalkan karena sangat penting bos,"
"****, baiklah, ayo segera kesana. Awas saja Aldrich itu, akan ku beri pelajaran dia nanti," desis Juan kesal.
Dia jadi tidak bisa mencari Elena karena harus menyelesaikan pekerjaan nya.
Padahal dia sudah menyuruh Aldrich namun sekretaris nya itu malah tidak menghiraukan perintah nya. Mentang-mentang mereka menjalin persahabatan.
Tapi tetap saja, Juan tidak suka. Seharusnya Aldrich bisa profesional, mengutamakan tugas nya terlebih dahulu seharusnya.
"Aku ingin meeting kali ini selesai dengan cepat Alvin," ucap Juan.
Klien nya memilih tempat meeting di sebuah restoran dan Juan akhirnya menyanggupi.
Juan dengan serius memberikan ide dan penjelasan tentang kerja sama mereka.
Untung saja kerja sama diantara mereka terjalin dan berjalan dengan lancar.
Juan meneguk air putih di gelas nya dengan cepat karena kerongkongan nya kering karena terlalu banyak bicara.
"Aku akan pergi sekarang, Terimakasih sudah membantu Alvin, kau bisa kerjakan tugas mu sekarang," ucap Juan kepada karyawan nya tersebut.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan anda yang sedang menumpuk di meja bos?" tanya Alvin.
"Biarkan saja, aku akan meminta Aldrich uang mengerjakan nya. Kau bisa kembali sekarang," suruh Juan.
Dia benar-benar akan membuat Aldrich menyesali perbuatannya yang telah mengabaikan Juan.
"Baik bos, saya pergi dulu," ucap Alvin yang diangguki oleh Juan.
Membuat Juan lagi dan lagi harus mengurung kan niat nya untuk mencari keberadaan Elena sekarang. Bahkan anak buah yang dia suruh juga masih belum memberikan kabar pada nya.
Juan melepas dasi nya asal karena membuat nya sedikit tercekik .
Juan akhirnya segera meninggalkan restoran dan menuju ke rumah orang tua nya.
Dia memang sudah lama pisah rumah dengan kedua orang tuannya. Sejak kuliah pun dia lebih memilih untuk tinggal di apartemen.
Hal itu karena dia ingin mandiri dan terbiasa saja. Di rumah besar orang tua nya dia juga bosan ingin melakukan apa
Dia hanya akan sesekali pulang untuk melihat Daddy dan mommy nya seperti sekarang ini.
Juan mengemudi kan mobil nya dengan kecepatan sedang.
Matanya menyipit setelah sampai di kawasan rumah orang tua nya.
Mobil milik ibu nya sudah terparkir di rumah tersebut.
"Apa mommy membawa Elena setelah dari mall kerumah ini?" tanya nya pada dirinya sendiri.
Memikirkan hak itu saja membuat Juan dengan cepat langsung saja bergegas dan masuk ke dalam rumah tersebut dengan semangat.
"Mom," panggil nya dengan menggema.
"Son," sapa Daddy nya yang tengah berdiri di depan sana.
"Dad," Juan menghampiri pria paruh baya tersebut.
"Dimana mommy?" tanya nya.
"Ada apa?" tanya Bian.
"Aku ingin menanyakan satu hal pada nya," ucap Juan.
"Duduklah dulu, Daddy dan mommy juga memiliki pertanyaan untuk mu, lelah sebab itu aku memanggilmu kemari. Mommy lagi mandi," ucap Bian.
Kedua nya akhirnya duduk di ruang keluarga.
"Tumben, apa ada hal yang penting?" tanya Juan karena jarang sekali Daddy nya tersebut ingin berbicara serius sekarang.
"Hell, apa kah harus penting dulu baru aku bisa berbicara dengan putraku sendiri?" tanya Bian yang tersirat nada kesal di sana.
"Mau sangat jarang berada di rumah, apa kau tak tau bagaimana mommy selalu protes dan menyuruh ku agar meminta mu untuk kembali tinggal di rumah ini," lanjut Bian.
"Aku kan sudah besar dad, ayolah. Aku bisa mengurus diriku sendiri,"
"Ya kau bisa, bahkan karena kebebasan mu itu kau bisa memperawani anak orang lain," sembur Bian.
Juan tidka terkejut sama sekali karena pasti mommy nya sudah menceritakan semua nya pada Daddy nya itu.
"Baguslah jika mommy sudah cerita pada dad, jadi aku tidak perlu repot-repot bercerita lagi pada Daddy, " enteng Juan.
"Dasar anak ini," geram Bian. Entah mengapa dia memiliki anak seperti Juan ini.
"So bagaimana selanjutnya? jangan menjadi pria yang brengsek dan hanya mau enak nya doang, Daddy tidka menyukai nya son," ucap Bian.
"Tentu saja menikahinya dad, aku tau apa yang harus kulakukan, dan aku sudah mengabulkan keinginan kalian kan."
"Apa?"
"Ya tentu saja mencari pasangan, kalian berdua selalu saja ribut masalah itu kepadaku," ingat Juan.
Karena umur nya yang hampir menginjak kepala tiga, kedua nya memang selalu menyuruh Juan untuk segera menikah sampai kepala nya pusing .
"Tidak dengan seperti itu bodoh,"
"Aku hanya mempercepat proses nya saja dad, bukan kah kau ingin segera memiliki cucu," Juan mengedipkan sebelah mata nya yang malah membuat Bian ingin sekali memukul kepala Juan yang tak merasa bersalah sama sekali.
"Lalu kapan kau akan membawa nya kemari?"
TBC