Baby Girll

Baby Girll
part 7



Juan datang dengan kotak obat P3K di tangan nya.


Mendekat ke arah Elena dan duduk di samping wanitanya tersebut.


"Jangan memberontak kali ini, kau tau, kau tak bisa kabur sekarang," peringat Juan seraya mengambil salep serta perban untuk luka di leher Elena.


Elena diam, benar kata Juan, sulit untuk nya sekarang apalagi dengan pria itu yang masih satu ruangan dengan nya.


kekuatan Juan lebih besar darinya, jadi hanya akan sia-sia seperti tadi jika dia kembali nekat.


Elena harus memikirkan cara lain agar bisa keluar dari jeratan Juan, dia tentu saja tidak bisa harus bersama dengan pria pemaksa seperti Juan.


"Apa yang kau pikirkan Hem, cara kabur ya?Juan tertawa meremehkan sambil mengelap darah Elena dengan lembut.


"Pikirkanlah, yang jelas aku tak akan membiarkan nya," ucap Juan.


"Shhh," Elena meringis saat Juan menuangkan cairan entah apa pada leher nya.


"Tahanlah sebentar baby, itu alkohol," ucap Juan dengan telaten membalut luka Elena.


Elena memiringkan kepala nya untuk mempermudah Juan dalam kegiatan nya, sungguh rasa nya begitu perih.


"Done, lain kali jangan melakukan hal aneh baby, aku sangat takut melihat mu yang nekat tadi," ucap Juan mengelus leher Elena pelan yang membuat wanita itu meremang.


Kedua nya terdiam selama beberapa menit hingga suara perut Elena mengetrupsi keterdiaman mereka.


"Kau kelaparan ternyata, tunggu sebentar," Juan menghubungi pelayan agar membawa makanan Elena ke kamar nya.


"Em Juan," panggil pria itu.


"Kau mengatakan apa baby, tolong ulangi," pinta Juan dengan begitu semangat nya.


Elena mengernyit apa yang membuat pria itu senang. Namun Elena hanya menurut saja. "Em Juan," cicit nya.


Juan semakin mengembangkan senyum nya, baru kali ini Elena menyebut nama nya secara langsung. Entahlah, mendengar suara Elena yang memanggil nama nya membuat darah Juan berdesir.


"Ada apa baby,kamu ingin menanyakan sesuatu?" tanya nya.


"Bisa tolong lepaskan ikatan ini," pinta Elena yang membuat senyum Juan sirna diganti dengan tatapan tajam pria itu.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan nya. Kau ingin mencoba kabur dari ku ya!" tuduh Juan.


"Tolong, ini sakit. Aku tidak akan kabur. Seperti katamu tadi aku tidak bisa," lirih Elena sembari menatap tangan nya yang masih terikat.


Juan menjadi merasa bersalah, apalagi saat mendengar wanita nya meminta tolong dengan nada yang begitu lirih.


"Apa sangat sakit?" tanya Juan.


"Hanya perih," ucap Elena dengan jujur. Dia tidak bisa membayangkan apabila tangan nya akan dibiarkan seperti ini sampai besok, pasti akan lebih perih dari itu.


Karena tidak tega dan melihat Elena nya yang seperti nya jujur, membuat Juan akhirnya melepaskan tangan wanita itu.


Juan meringis dalam hati, benar saja tangan wanita itu menjadi memerah dan terlihat sedikit tanda kebiruan yang tercetak di pergelangan tangan Elena.


Semua itu adalah karena ulah nya. Sungguh Juan menjadi merasa bersalah karena menyakiti Elena.


"Maaf kan aku baby," ucap Elena mengecup kedua tangan Elena bekas yang dia ikat tadi.


Elena sedikit risih dengan tingkah Juan yang tak pernah dia duga. Pria itu sangat berani dan seenaknya saja ada dirinya.


"Tunggu sebentar Hem, akan segera kuminta Mereka membawa makanan nya untuk mu," ucap Juan lagi.


Ingin mengatakan tidak, tapi tentu saja tidak mungkin. Perut Elena telah membuktikan nya.


Tok tok tok


Juan segera bangkit dari duduk nya dan mengambil makanan untuk Elena.


Mendorong troli makanan yang cukup banyak untuk Elena.


"Em aku bisa sendiri," ucap Elena hendak meraih piring dari tangan Juan namun tak Juan biarkan.


"Aaaa baby," ucap nya yang akhirnya Elena turuti saja karena dia memang sudah kelaparan sejak tadi.


Setelah Elena, Juan yang kini makan.


"Aku juga belum makan baby," ucap Juan yang mengerti akan raut wajah wanita nya.


"Aku tidak mau satu sendok dengan mu," ucap Elena menutup mulut nya.


Juan menatap datar ke arah Elena, tatapan pria itu mengintimidasi Elena.


Entah mengapa Elena menjadi takut dengan tatapan tajam pria itu, seakan memperingati nya habis - habisan.


"Baiklah, jika kamu memang tidak mau," ucap Juan yang kini memakan makanan teraneh lagi tanpa memberikan pada Elena.


Elena meneguk ludah nya saat melihat Juan yang begitu lahap dalam mengunyah makanan nya.


Elena menjadi semakin lapar melihat nya, sungguh. Elena hanya makan sesuap saja.


Tapi Elena malu untuk meminta pada pria itu, dia yang tadi menolak.


Tapi melihat Juan yang sama sekali tidak menghiraukan nya lagi membuat Elena sedikit kesal.


Elena langsung saja merebut Piring dan sendok dari tangan Juan dan memakan makanan nya tanpa memperdulikan reaksi Juan.


Juan tersenyum tipis, gemas rasanya kepada Elena.


"Pelan-pelan saja, tidak akan ada yang mengambil nya darimu," ucap Juan mengelus rambut Elena.


Elena terpaku sebentar, pria itu suka sekali mengelus rambut nya han entah mengapa Elena begitu sukai.


Elena merasa jadi disayangi jika diperlakukan dengan lembut seperti itu.


Baru kali ini dia seintens ini bersama pria, bahkan kini dengan pria asing yang tidak sengaja dia kenal.


Tok tok tok


"Siapa?" tanya Juan.


"Maaf tuan, nyonya Pierce ada di bawah dan ingin menemui anda," ucap pelayan dari luar.


"Huft, baiklah aku akan segera kesana,"


Juan menatap Elena yang masih menyantap makanan nya.


"Tetap disini Sampai aku datang, jangan mencoba untuk kabur!" tekan Juan yang membuat Elena memutar bola mata nya malas.


"Bagiamana bisa aku kabur, kau pasti akan mengunci ku kan?" tebak nya.


"Tentu saja," ucap Juan. Dia tidak ingin mengambil resiko.


"Yasudah kalo begitu, kamu pergilah jangan mengganggu ku makan, " ucap Elena yang tetap melanjutkan acara makan nya.


"Baiklah, aku hanya sebentar." ucap Juan yang akhirnya keluar dari kamar nya meninggal kan Elena dan tentu nya dia tak lupa untuk mengunci pintu itu kembali.


"Astaga ini sangat enak, aku jarang sekali memakan makanan seperti ini. Ini pasti mahal kan, " ucap Elena yang hampir menghabiskan seluruh lauk dan sayuran yang dibawa untuk nya.


Elena lebih sering memakan makanan instan jika di apartemen nya. Kadang dia malas masak dan pilihan akhirnya jatuh pada makanan istan.


Jika saja mommy nya tau pola makan nya yang tidak sehat, pasti dia akan langsung disuruh untuk ke London.


"Wah aku sangat kenyang," ucap nya seraya mengelus perut nya.


Elena cukup puas dengan makanan nya. Elena bahkan melupakan jika pria yang me memberi nya makan adalah orang yang sudah menculik nya kesini.


TBC