Baby Girll

Baby Girll
Part 16



"Terimakasih untuk hari ini, aku sangat-sangat senang sekarang. Sungguh," ucap Quela saat sudah di depan rumah nya sekarang.


Setelah dinner romantis mereka yang berhasil membuat Quela berbunga-bunga, Aldrich segera mengantarkan gadis nya itu ke rumah nya dengan aman dan selamat.


"Sama-sama sayang," ucap Aldrich tersenyum hangat dan mengelus rambut gadis nya itu.


Quela meminta Aldrich untuk sedikit menunduk karena perbedaan tinggi mereka.


"Kenapa sayang?" tanya Aldrich penasaran.


"Lakukan saja," ucap Quela dengan cepat yang akhirnya di turuti oleh Aldrich.


Dia tak ingin membuat gadis nya itu menjadi marah dan merajuk ke pada nya nanti.


Setelah Aldrich sudah menunduk, perlahan Quela sedikit berjinjit dan mengecup bibir Aldrich dengan cepat.


Hal itu sangat cepat hingga membuat Aldrich mengerjapkan mata nya tak percaya.


Setelah nya dia merasakan kecupan di kedua pipi nya.


"See you sayang, i love you," teriak Quela yang terlihat menjauh seraya berlari.


Gadis itu bahkan dengan terburu-buru untuk menutup pintu rumah nya.


Aldrich masih menunduk kaki seperti tadi. Dia akhirnya membenarkan posisi nya dan menyentuh bibir nya lama.


Astaga, itu adalah ciuman pertama nya dan bahkan untuk Quela juga.


Dan malah gadis nya itu yang pertama kali melakukan nya.


"Gadis yang nakal," gumam Aldrich mengulum bibir nya, namun tak ayal dia juga merasa senang, itu berarti Quela sudah benar-benar jatuh kepada nya sekarang.


"Hari yang begitu indah sekali," ucap Aldrich memejamkan mata nya.


Dan tiba-tiba dia membuka mata nya karena teringat akan pekerjaan nya di kantor.


"****, aku tak akan tidur malam ini bahkan besok," ucap nya syok saat melihat pesan dari Juan yang melimpah kan semua pekerjaan Juan pada nya.


"Arghhh," Aldrich mengacak rambut nya acak, seperti nya Juan sedang balas dendam pada nya sekarang.


"Okey Aldrich, semangat," ucap nya pada diri nya sendiri.


Namun sikap nya sama sekali tidak menunjukkan semangat, wajah nya begitu lesu dan masam sekali.


Sangat berbeda saat dia bersama dengan Quela nya tadi.


Dia sudah bisa membayangkan akan menghabiskan malam ini dengan membosankan karena harus berurusan dengan tumpukan kertas yang pasti sudah menanti-nanti dirinya di kantor.


Sedangkan Quela, gadis itu tengah memegang dada nya di balik pintu.


Dia juga tidak menduga dirinya akan seberani itu tadi kepada Aldrich. Sungguh, Quela benar-benar malu sekarang.


Quela benar-benar tidak tau apa yang sedang dipikirkan oleh Aldrich tentang nya sekarang. Dia hanya berharap Aldrich tidak berpikir yang macam-macam dan marah pada nya.


Pipi nya terasa panas, Quela mengetuk kepala nya karena mencium Aldrich tanpa pikir panjang terlebih dahulu.


"Aish, mengapa aku bertingkah seperti ini, Aldrich kan pacar ku, jadi tidak mengapa bukan. Kecuali jika Aldrich adalah pacar orang lain," ucap nya lagi.


Tak ingin memikirkan hal itu lagi, Quela akhirnya segera masuk ke dalam kamar nya.


Dan dia menemukan Elena yang tengah berbaring di kasur nya seraya menatap pada layar laptop di depan nya.


"Hey apa yang kau lakukan El?" tanya nya


"Menonton drama, kau sudah pulang? mandilah dulu baru ke sini," ucap Elena.


Quela baru saja keluar, dan covid kan masih ada, Elena hanya ingin berjaga saja.


Ya sebentar. Kau tau tidak apa yang di persiapkan oleh Aldrich untuk ku?"


"Tidak tau, emang nya apa?" tanya Elena yang kini memepause film nya dan duduk karena ingin mendengar kan cerita dari Quela.


Quela ikut duduk di kasur di samping Elena setelah membuka sepatu nya terlebih dahulu.


Dan dengan semangat empat lima Quela menceritakan semua yang telah dia lewati bersama dengan Aldrich.


"Kau tau El, hatur ini i'm so happy," ucap nya dengan bahagia.


Elena ikut tersenyum merasa senang, energi kebahagiaan Quela juga ikut terbagi pada nya.


"Baguslah jika memang begitu," ucap Elena.


"Aha, aku mau mandi dulu,em kau sudah makan kan?" Yahya Quela yang diangguki oleh Elena.


Elena melanjutkan Drakor yang sempat dia pause tadi sembari menunggu Quela selesai.


Aldrich yang sudah sampai di kantor, duduk dengan lesu dan meregangkan tangan nya setelah melihat banyak nya pekerjaan yang harus dia lakukan.


Dug


Pintu ruangan nya terbuka dengan keras membuat Aldrich berjangkit kaget , awalnya Aldrich sempat ingin marah namun saat melihat siapa yang datang dia mengurung kan niat nya itu.


"Kau baru datang sekarang? kemana saja kau?" tanya Juan menatap Aldrich dengan tajam.


"Kencan dengan kekasih ku, bukan nya kau sudah mengatakan nya," ucap Aldrich.


"Sangat tidak bertanggung jawab, kerjakan semua itu, aku tak mau tau besok semua nya sudah harus ada di meja kerjaku," ucap Juan.


"Really, kau ini mau membunuh ku secara perlahan atau bagaimana?"


"Siapa suruh kau lebih mementingkan gadis mu itu," ucap Juan tidak perduli..


"Kau saja yang tak memiliki kekasih, jika kau sudah punya orang kau sayang, aku yakin kau akan memprioritaskan nya," ucap Aldrich.


"Ofcourse, aku akan punya sebentar lagi dan itu bukan alasan Adlrich. Jika kau Memang sudah tak menginginkan pekerjaan ini. Aku akan dengan senang hati menerima surat resign darimu, dan kau bisa setiap waktu dengan gadis yang kau bilang sebagai prioritas mu itu!" ucap Juan panjang lebar.


Aldrich meneguk ludah nya kasar, jika sudah seperti ini Juan sudah serius. Dia masih mencintai pekerjaan nya karena bekerja di tempat sahabat nya itu memiliki gaji yang lumayan besar.


"Ekhm, maaf aku tak akan mengulangi nya," ucap Aldrich pada akhir nya.


"Dengar, aku bukan lah orang yang kuno, kita ini sudah berteman sejak lama. Aku sama sekali tidak akan mencampuri urusan pribadi mu Aldrich but satu hal pekerjaan adalah pekerjaan. Kuharap kau bisa mengerti akan hal itu. Selesaikan pekerjaan mu lalu kau bisa pergi, aku tidak mungkin melarang mu,"


"Sorry bro," balas Adlrich yang diangguki oleh pria itu.


"Tapi mengapa kau terlihat stres begitu," ucap Aldrich melihat wajah Juan yang terlihat lelah.


"Huh, wanita ku kabur dariku,'


"Hah, wanita mu? sejak kapan?"


Juan ingat jika belum menceritakan semua nya pada Aldrich alhasil dia menceritakan semua nya.


"You' re crazy. Jika aku jadi wanita itu, aku pasti akan melakukan hal yang sama," balas Adlrich.


Bagiamana bisa dia bertahan dengan pria seperti itu.


"Mengapa bisa begitu? aku memiliki segalanya, uang, dan aku juga tampan," balas Juan dengan pede nya.


Aldrich memutar bola mata nya dengan malas tapi apa yang dikatakan oleh Juan memang benar ada nya.


Banyak wanita yang menginginkan agar bisa bersama dengan Juan.


"Wanita itu menyukai kelembutan, dan seharusnya kau itu memperjuangkan nya dengan benar, kau harus mengambil hati nya dulu," ucap Aldrich.


"Begitukah?" Juan agak tertarik mengingat Aldrich sudah berpengalaman dengan hal itu.


"Yes, buat dia jatuh cinta padamu sampai tak ingin kehilangan mu. Percayalah wanita itu jika sudah mencintai seorang pria dia akan sangat menyayangi nya bahkan mungkin akan melakukan semua hal hanya untuk bersama mu,"


"Berikan dia waktu, dia pasti merasa terguncang karena kelakuan mu."


"****, aku tidak bisa hanya mengawasi nya dari jauh," tolak Juan.


"Hanya sebentar, dia pasti butuh waktu. Dan aku penasaran siapa wanita yang berhasil membuat mu gila seperti ini,' ucap Aldrich.


"Yang pasti, dia adalah wanita yang cantik yang pernah aku lihat," balas Juan tersenyum.


TBC