
"Ada apa? duduk disini," ucap David sembari menepuk kursi yang kosong di sebelah nya.
Kedua nya terdiam setelah Quela duduk tepat bersama dengan Daddy nya itu.
"Apa yang ingin kau katakan? apa kita hanya akan diam seperti ini?" tanya David saat tak mendengar Quela berbicara sejak tadi.
Terlebih lagi, Quela mengatakan jika dia akan marah jika mengetahui hal apa yang akan dikatakan oleh Quela pada saat ini.
"Em begini dad, ini tentang Elena," cicit Quela seraya memelankan suara nya di akhir kalimat.
"Ada apa dengan Elena? apa dia sedang memiliki masalah?" tanya David yang diangguki oleh Quela.
"Jika memang begitu, kamu harus mengatakan nya pada Daddy sekarang. Daddy tidak akan tau apa yang terjadi jika kamu hanya diam-diam seperti ini Quela," tegas David dengan suara berat nya.
Saat hendak ingin mengatakan sesuatu, suara langkah kaki yang ternyata adalah Elena mengetrupsi pembicaraan mereka.
Quela mengehela nafas nya dalam, padahal dia sudah mempersiapkan diri untuk menceritakan semua nya pada David dan sekarang kata-kata yang sedari tadi di susun nya langsung hilang saat itu juga.
"Aku sudah menghubungi mom dan dad, astaga aku sangat merindukan mereka," ucap Elena yang kini ikut duduk bersama kedua orang itu.
"Sudah? apa yang dikatakan oleh mereka? apa mereka akan pulang dalam waktu dekat ini?" tanya David pada Elena.
"Em seperti nya tidak om, pekerja Mereka tidak bisa ditinggal," ucap nya dengan lesu.
Dia sangat merindukan kedua orang tua nya, dan dia ingi. ekaku mengunjungi mereka namun mereka masih belum libur.
"Bersabar lah, nanti pas libur semester kamu mau ke London kan?"
"Iya om, Elena udah gak sabar," ucap Elena dengan riang.
"Ekhm, Quela. Nanti kita lanjutkan obrolan kita, Daddy tunggu nanti di ruangan dad, Daddy mau mandi dulu," ucap pria paruh baya itu beranjak dari duduk nya dan meninggalkan kedua sahabat itu.
Elena menaikkan alis nya. " obrolan apa?" tanya nya.
"Ada deh, kepo," balas Quela.
Elena mengedikkan bahu nya acuh, gadis itu bernajak dan mengambil sebungkus coklat yang dibawakan oleh David dan juga Naina dari luar kota.
Mengambil remot untuk memilih film yang akan di tonton oleh nya.
"Bagi dong," ucap Quela sembari mendekat ke arah Elena dan duduk tepat di samping wanita itu.
"Itu aja tuh El, yang unlocked, kata temen ku bagus film nya. Coba deh kita tonton, aku jadi penasaran dengan film nya," tunjuk Quela pada sebuah film yang menarik perhatian nya.
"Yang ini, ini tentang handphone itu gak si, yang hacker," ucap Elena yang seingat nya pernah menonton film itu juga meski tidak sampai selesai.
"Nah iya, kok kamu tau?" tanya Quela
"Aku pernah menonton nya, tapi tidak sampai selesai," balas Elena yang membuat Quela mengangguk - anggukan kepala nya.
Elena akhirnya memutar film yang di tunjuk oleh Quela, dan mereka berdua kemudian menonton nya bersama.
Hingga 1 jam lebih, film yang mereka tonton akhir nya selesai juga.
"Gila, kau jadi parno tau, gimana kalo semisal handphone aku di hack juga.Ih serem banget sumpah El," ucap Quela bergidik negeri.
"Yaelah, cuma film aja," ucap Elena yang tidak memusingkan film tersebut.
"Ish tapi kan kudu waspada juga tau, kan banyak yang kayak gitu El. Kayak kemarin tuh ortunya temen ku mencet link yang dikirim orang lain ke WhatsApp nya dia, eh uang yang ada di rekening nya habis El, gila gak tuh," terang Quela.
"Iya makanya kita gak boleh asal mencet link sembarangan apalagi dari orang yang sama sekali tidak kita kenali," lanjut Elena yang disetujui oleh Quela.
"Yaudah, aku mandi dulu deh, santai banget lagi aku nonton, padahal tugas kuliah ku lagi numpuk," ringis Elena seraya bangkit dari duduk nya dan membereskan bungkus coklat yang berserakan di meja yang berada di depan mereka.
"Minggu, aku kayaknya pulang ke apartemen aku, seperti nya sudah aman. Pria itu juga tidak mencariku lagi," ucap Elena.
"Yah, kenapa gak tinggal disini aja sih El, Daddy sama mommy juga gak bakal masalah ko," ucap Quela.
"Tidak, aku tidak ingin terlalu merepotkan mu, om dan juga Tante. Kalian udah baik sama aku selama ini. Lagi pula tuh apartemen kan udah aku bayar setahun, sayang gak ditempatin,"
"Lagian kan bisa main, kayak biasa. Orang kita masih satu negara," lanjut Elena.
Quela bukan pertama kali nya mengajak Elena untuk tinggal bersama dengan keluarga sahabat nya itu. Bahkan Sania dan Naina juga pernah mengajak nya.
"Yaudah deh," ucap Quela yang tidak ingin memaksa kehendak nya sendiri.
"Aku keatas dulu," pamit Elena yang diangguki oleh Quela.
Setelah kepergian Elena, Quela akhirnya memutuskan ikut ke kamar nya dan mandi juga.
Setelah mandi, Quela berniat untuk ke kamar yang ditempati oleh Elena karena dia ingin tidur dengan Elena.
Namun handphone nya berdering membuat Quela mengurung kan niat nya itu.
"Waduh Daddy, aku jadi bilang apa enggak yah," gumam Quela melihat panggilan dari David.
Entah mengapa sekarang, jantung Quela berdetak kencang dan malah jadi ragu untuk memberitahu kebenaran nya pada David.
Hingga David kembali menelpon nya, dan pada akhirnya Quela mengangkat Panggilan dari David karena sudah terlanjur juga.
Dia tidak bisa mengelak lagi sekarang, dia hanya berharap David bisa membantu masalah Elena. Mau di sembunyikan nanti pasti kan ketahuan juga bukan.
Jadi daripada David tau dari orang lain, Quela akan memberitahu nya sendiri.
Quela hanya berharap ini bukan lah ide yang buruk dan malah menjadi Boomerang nanti nya.
"Halo dad,"
"Mengapa lama sekali angkat telpon nya. Keruangan Daddy sekarang," ucap pria paruh baya itu dan langsung mematikan sambungan nya.
Tanpa berlama-lama lagi Quela akhirnya melangkah kan kaki nya untuk ke ruangan Daddy nya tersebut.
Saat sudah di depan pintu, Quela mengetuk pintu nya terlebih dahulu. Meskipun itu adalah Daddy nya sendiri dia tak ingin langsung menyelonong masuk ke dalam karena David tidak akan suka hal itu.
Karena pernah Quela melakukan nya saat masih SMP dan dia diceramahi habis-habisan dengan sangat tegas oleh David.
"Masuk saja, pintu nya tidak Daddy kunci," ucap David dalam sana.
Dengan perlahan, Quela membuka pintu ruangan David dan di selama sana David sudah duduk dengan tenang sembari menunggu ke hadiran nya.
Ruangan ini merupakan ruangan kerja Daddy nya, dia sangat jarang sekali kemari.
"Duduklah," ucap David sembari menunjuk kursi yang sudah berada tepat di hadapan David.
Quela merasa jadi seperti di sidang sekarang.
"Jadi?" tanya David to the point.
Quela menarik nafas nya dalam terlebih dahulu.
"Jadi, em Daddy jangan marah tapi ya," Pinta Elena, padahal dia sangat tau jika David tau tidak mungkin pria paruh baya itu tidak akan marah.
David menaikkan sebelah alis nya dan memainkan jari nya di meja kerjanya sembari menatap telak ke arah putri nya itu.
"Tergantung," ucap nya.
"So, saat dad dan mom di luar kota, aku dan Aldrich ada sedikit kesalahpahaman,"
David mendengar kan dengan seksama, dia tidak mengatakan apapun.
"Jadi saat itu aku marah sma Aldrich jadi Quela, em Quela pergi ke club malam," cicit Quela pelan di akhir kalimat nya.
Mata David melotot lebar mendengar pertanyaan dari Quela. Club? sungguh, dia tidak menyangka Quela akan bermain masuk ke dalam sana.
Mata David yang tadi nya serius kini menatap tajam ke arah Quela membuat Quela menjadi ciut.
"Sejak kapan kamu kesana Hem? apa dad pernah menyuruh mu untuk pergi ketempat seperti itu?" tanya David dengan dingin.
Sungguh Quela takut sekarang, Apalagi melihat tatapan David yang sangat tidak bersahabat ke padanya.
Tatapan lembut yang sering di tunjukkan oleh David kepadanya hilang gitu saja sekarang.
"Maaf dad, itu pertama kali nya, saat itu ku sedang kalut," sesal Quela.
"Itu akan menjadi yang terakhir untuk mu! kau mengerti!" ucap David dengan sedikit keras yang diangguki oleh Quela.
"Aku berjanji dad, tidak akan lagi," ucap Quela.
"Daddy pegang janjimu,"
"Darimana kau tau tempat itu? apa Aldrich tau tentang ini?" tanya David masih dengan pandangan datar.
Quela menggeleng, " Adlrich udah tahu hal ini dad," ucap Quela yang membuat David menghela nafas nya dengan kasar.
"Lalu bagaimana sekarang? hubungan kalian baik-baik saja?" tanya David.
"Sudah tidak ada masalah lagi dad, aku hanya salah paham dan dengan bodoh nya langsung pergi ke club," ringis Quela.
"Untuk hukuman mu, Daddy tidak akan memberikan uang jajan mu selama 3 bulan ke depan," ucap David yang membuat Quela ingin melayang kan protes namun tatapan David menyiratkan tidak ingin di bantah sama sekali membuat Quela pasrah saja.
"Sekarang kamu bisa pergi ke kamarmu, kerjakan tugasmu, besok kau kuliah bukan?"
Quela tidak beranjak sama sekali, karena dia belum menceritakan bagian terpenting nya.
Melihat tidak ada pergerakan dari putri nya membuat David mengerut gadis itu.
"Mengapa masih disini, kamu mau Daddy tambahin jadi 6 bulan Daddy gak kaish jajan?" ancam David yang di balas gelengan brutal oleh Quela.
"Bukan begitu dad, itu hanya sebagian yang aku ceritakan, masih ada lagi?"
"Lagi? kau membuat Maslaah apa lagi? jangan sampai mommy tau jika kau masuk ke club dan sekarang ada masalah lagi?"
"Maaf dad,"